BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Aksi heroik Belda, mantan jebolan ajang pencarian bakat Indonesia Mencari Bakat (IMB), menjadi viral di media sosial. Pria yang dikenal dengan keahlian menarikan api dan latar belakang sebagai pelatih bela diri ini, dengan sigap memiting seorang pria bule yang sedang dalam pengaruh minuman keras di kawasan Uluwatu, Bali. Tindakan tegas ini diambilnya karena Belda tidak bisa tinggal diam melihat bule tersebut bertingkah tidak pantas dan mengganggu perempuan serta pengguna jalan lainnya.

Kejadian bermula pada Sabtu, 4 April 2026, sekitar pukul 12.30 WITA. Belda baru saja pulang dari acara Uluwatu Fight Night ketika melihat insiden tersebut. Pria bule yang diduga warga negara Rusia itu diketahui telah beberapa kali melakukan tindakan tidak sopan terhadap perempuan yang melintas. Belda menyaksikan langsung bagaimana bule tersebut meraba bagian sensitif perempuan dan mengganggu kelancaran lalu lintas. Melihat situasi yang semakin meresahkan, naluri Belda sebagai pelindung segera terpicu. Tanpa ragu, ia mendekati bule tersebut dan melakukan gerakan memiting untuk menghentikannya.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat bule tersebut tidak berdaya setelah dipiting oleh Belda. Aksi Belda ini menuai banyak pujian dari warganet yang menganggapnya sebagai pahlawan. Belda sendiri menjelaskan dalam video klarifikasi yang diunggah ke akun Instagram pribadinya, bahwa ia sadar sepenuhnya saat kejadian berlangsung. Ia tidak berniat untuk menyakiti bule tersebut, melainkan hanya ingin menghentikan perilakunya yang keterlaluan dan memberikan pelajaran.

"Aku hanya manusia biasa. Aku sangat menyesal tentang apa yang terjadi," ujar Belda dalam video tersebut, menunjukkan sisi kemanusiaan dan penyesalannya atas tindakan yang terpaksa dilakukannya. Ia menekankan bahwa kesadarannya penuh pada saat itu, sehingga ia mampu mengendalikan situasi tanpa menimbulkan luka serius pada bule tersebut. Belda menegaskan bahwa tujuannya adalah untuk menghentikan perbuatan tidak senonoh itu dan memberikan efek jera, bukan untuk melakukan kekerasan berlebihan.
Lebih lanjut, Belda menceritakan bahwa setelah berhasil menghentikan bule tersebut, ia membantunya untuk bangun. Momen tersebut juga menjadi kesempatan bagi keduanya untuk berkomunikasi. Belda dan bule tersebut saling meminta maaf. "Sesudahnya ia dibangunkan. lalu begitu pula aku bisa mengatakan maaf. Ia mengatakan maaf padaku dan tentu saja aku minta maaf padanya," ungkap Belda. Kejadian ini menunjukkan bahwa meskipun bertindak tegas, Belda tetap mengedepankan penyelesaian secara damai dan penuh pengertian.

Belda, yang kini berusia 37 tahun, memang dikenal memiliki rekam jejak yang kuat dalam dunia bela diri. Selain dikenal lewat tarian api saat mengikuti IMB, ia juga aktif sebagai pelatih bela diri dan pesilat Mixed Martial Arts (MMA) di Indonesia. Latar belakang ini tentu saja membantunya dalam mengambil tindakan yang cepat dan efektif dalam situasi genting seperti ini. Kemampuannya dalam mengendalikan diri dan teknik bela diri yang dimilikinya memungkinkan ia untuk menghadapi ancaman tanpa harus menggunakan kekerasan yang tidak perlu.
Insiden ini juga menyoroti pentingnya kesadaran dan keberanian untuk bertindak ketika melihat ketidakadilan, terutama yang menimpa perempuan. Banyak pihak mengapresiasi keberanian Belda yang mau turun tangan meskipun berisiko. Di sisi lain, kejadian ini juga menjadi pengingat bagi para wisatawan asing, khususnya yang berada di Bali, untuk selalu menghormati budaya lokal, norma, dan hukum yang berlaku di Indonesia. Perilaku mabuk dan pelecehan seksual tidak dapat ditoleransi dalam kondisi apapun.

Keberanian Belda dalam membela perempuan yang dilecehkan telah menginspirasi banyak orang. Ia membuktikan bahwa terkadang, tindakan tegas diperlukan untuk menegakkan keadilan dan melindungi mereka yang rentan. Kisah Belda ini menjadi bukti bahwa di balik penampilan seorang seniman, tersembunyi jiwa seorang pelindung yang siap membela kebenaran. Ia tidak hanya menampilkan bakat seni dan bela diri, tetapi juga menunjukkan kepedulian sosial yang tinggi.
Kisah ini juga menunjukkan bahwa meskipun telah meraih popularitas, Belda tetap membumi dan memiliki rasa tanggung jawab sosial. Ia tidak sungkan untuk turun tangan langsung dalam menyelesaikan masalah di lingkungan sekitarnya. Pengalaman ini, meskipun mungkin menimbulkan sedikit kontroversi, pada akhirnya lebih banyak dilihat sebagai tindakan heroik yang patut dicontoh. Belda telah memberikan contoh nyata bagaimana seorang individu dapat membuat perbedaan positif dalam masyarakat dengan keberanian dan kepeduliannya.

Dampak dari aksinya ini tidak hanya dirasakan oleh korban langsung, tetapi juga memberikan pesan kuat kepada pelaku dan masyarakat luas tentang pentingnya menjaga ketertiban dan menghormati sesama. Belda telah menjadi simbol keberanian dan keadilan di Bali, mengingatkan semua orang bahwa tindakan pelecehan seksual tidak akan dibiarkan begitu saja. Ia menunjukkan bahwa di balik ketenangan Bali sebagai destinasi wisata dunia, terdapat nilai-nilai luhur yang dijaga oleh warganya.
Belda, dengan latar belakangnya yang unik sebagai seniman bela diri, telah berhasil menggabungkan keindahan seni pertunjukan dengan ketangguhan seorang pejuang. Tindakannya di Uluwatu membuktikan bahwa ia tidak hanya ahli dalam seni pertunjukan api, tetapi juga memiliki keberanian dan kemampuan untuk bertindak sebagai pelindung. Ia adalah bukti nyata bahwa keahlian fisik dapat disalurkan untuk tujuan yang mulia, yaitu menjaga keamanan dan kenyamanan orang lain, terutama perempuan.

Sebagai penutup, aksi Belda ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk tidak ragu bertindak ketika melihat ketidakadilan. Keberaniannya untuk menghadapi bule mabuk yang bertindak semena-mena menunjukkan bahwa setiap individu memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua orang. Belda telah membuktikan bahwa ia bukan hanya seorang penghibur, tetapi juga seorang pahlawan yang siap membela kebenaran.

