0

Bawa Banyak Titipan Doa, Enno Lerian Blank Saat di Depan Ka’bah: Momen Spiritual Tak Terduga di Tanah Suci

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Artis Enno Lerian baru-baru ini membagikan sebuah pengalaman spiritual yang sangat mendalam dan tak terduga saat menjalani ibadah umrah. Perjalanan umrah yang dijalaninya kali ini terasa istimewa karena dilakukan tanpa kehadiran suami dan anak-anaknya, menjadikannya sebuah momen healing yang luar biasa. Namun, di tengah kekhusyukan ibadah, Enno justru dihadapkan pada sebuah kejadian yang membuatnya terdiam, bahkan sempat merasa ‘blank’ ketika berhadapan langsung dengan keagungan Ka’bah.

Enno Lerian, yang dikenal sebagai mantan penyanyi cilik, mengungkapkan bahwa sebelum berangkat dari Jakarta, ia telah mempersiapkan daftar doa yang sangat panjang. Doa-doa tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari kelancaran karier, keberlangsungan usaha, hingga permohonan terbaik untuk orang tua tercinta. "Sebenarnya gini, kalau dari Jakarta tuh aku udah punya banyak list doa-doa yang pengin aku sampaikan. Masalah karier, usaha, terus banyaklah tentang orang tua," ungkap Enno Lerian dalam sebuah wawancara eksklusif di Studio Rumpi: No Secret, TransTV, yang berlokasi di Jalan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, pada hari ini.

Namun, realitas di Tanah Suci ternyata memberikan pelajaran yang berbeda. Ketika momen khusyuk itu tiba, tepatnya saat berada di depan Ka’bah, Enno mengaku benar-benar kehilangan fokus dan lupa akan semua daftar doa yang telah ia siapkan. "Tapi pas begitu lagi ibadah umrahnya, benar-benar blank. Benar-benar nge-blank banget. Maksudnya kayak aduh aku tuh lupa, aku tuh sampai gak kepikiran mau banyak doa apa," lanjutnya, menggambarkan kebingungannya yang mendalam.

Kejadian ‘blank’ ini terjadi saat Enno tengah menjalani ibadah tawaf. Suasana Masjidil Haram yang sangat padat pada saat itu menjadi salah satu faktor yang memengaruhi konsentrasinya. Berdesakan dengan ribuan jemaah lain dari berbagai penjuru dunia, Enno menyadari bahwa ini adalah ujian kesabaran yang sesungguhnya. Kepadatan tersebut membuat konsentrasinya buyar, dan bahkan doa-doa titipan dari teman-teman serta kerabat yang ia bawa dari tanah air sempat terlupakan begitu saja. "Aku jadi gak bisa fokus sama doa-doa, titipan orang yang ada di aku. Jadi aku fokus sama gimana caranya aku bisa berjalan, ibadah lancar, terus desak-desakan," tuturnya, menjelaskan betapa sulitnya menjaga kekhusyukan di tengah keramaian.

Dalam momen ‘kosong’ yang dialaminya tersebut, doa Enno akhirnya berubah menjadi sangat sederhana, namun memiliki kedalaman makna yang luar biasa. Ia tidak lagi memikirkan daftar doa yang panjang, melainkan hanya mampu memohon satu hal yang paling mendasar: agar ia diberikan kesempatan untuk kembali ke Baitullah, kali ini bersama dengan orang-orang yang paling dicintainya. "Aku cuman bisa doain supaya aku bisa ke sini (Baitullah) lagi sama orang tua aku, suami, anak-anak, dan keluarga aku dalam keadaan sehat," kata Enno, mengungkapkan harapannya yang tulus.

Baru pada hari keempat dan kelima pelaksanaan ibadah umrahnya, ketika suasana di Masjidil Haram mulai terasa lebih tenang dan tidak sepadat sebelumnya, Enno Lerian akhirnya mampu memanjatkan kembali doa-doa titipan dari orang lain. Momen ini menjadi bukti bahwa terkadang, dalam kesederhanaan dan ketulusan hati, doa yang terucap bisa menjadi lebih bermakna. Pengalaman ini juga memberikan gambaran bahwa ibadah umrah bukan hanya sekadar ritual, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang penuh dengan pelajaran, ujian, dan momen-momen pencerahan yang tak terduga.

Perjalanan Enno Lerian ke Tanah Suci ini memberikan inspirasi bagi banyak orang. Ia menunjukkan bahwa bahkan dalam situasi yang penuh tantangan, seperti berhadapan dengan keramaian yang luar biasa, ketenangan hati dan doa yang tulus tetap dapat ditemukan. Pengalaman ‘blank’ di depan Ka’bah, yang mungkin bagi sebagian orang terdengar aneh, justru menjadi momen paling berharga bagi Enno. Ini adalah pengingat bahwa terkadang, rencana Tuhan jauh lebih indah dari apa yang kita persiapkan.

Lebih lanjut, pengalaman Enno ini dapat diperkaya dengan konteks umum mengenai ibadah umrah. Umrah, sebagai salah satu bentuk ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dalam agama Islam, memiliki makna spiritual yang mendalam bagi setiap muslim. Perjalanan ini seringkali dianggap sebagai kesempatan untuk membersihkan diri dari dosa, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan memohon segala hajat. Jemaah umrah biasanya mempersiapkan diri secara lahir dan batin, termasuk dalam hal doa.

Daftar doa yang dibawa jemaah umrah biasanya sangat beragam, mencakup permohonan pribadi, keluarga, hingga kebaikan umat secara umum. Ada doa untuk kesembuhan, kelancaran rezeki, keberhasilan dalam studi atau karier, keharmonisan rumah tangga, hingga keselamatan dunia akhirat. Titipan doa dari kerabat dan teman adalah hal yang lumrah, karena Ka’bah dianggap sebagai tempat mustajab untuk berdoa.

Namun, situasi di Masjidil Haram, terutama saat musim umrah atau haji, memang bisa sangat padat. Berdesakan, antrean panjang, dan keramaian dapat memengaruhi konsentrasi jemaah. Kondisi ini seringkali menjadi ujian kesabaran dan ketawakalan. Dalam situasi seperti inilah, banyak jemaah yang mengalami hal serupa dengan Enno, yaitu sulit untuk fokus pada doa-doa yang telah disiapkan.

Fenomena ‘blank’ saat berdoa di depan Ka’bah dapat dijelaskan dari beberapa sudut pandang. Pertama, secara psikologis, tekanan dari lingkungan yang sangat ramai dan penuh haru dapat memicu respons emosional yang kuat, sehingga pikiran menjadi teralihkan. Kedua, mungkin ini adalah cara Allah SWT untuk mengingatkan jemaah bahwa doa yang paling tulus adalah doa yang datang dari hati yang paling dalam, tanpa perlu terlalu terpaku pada kata-kata yang telah direncanakan.

Ketika Enno hanya bisa memohon untuk kembali ke Baitullah bersama keluarga dalam keadaan sehat, ini menunjukkan kedalaman rasa syukurnya atas kesempatan yang diberikan dan kesadaran akan pentingnya kebersamaan dengan orang-orang terkasih. Doa sederhana namun mendalam ini mencerminkan nilai-nilai keluarga yang sangat dijunjung tinggi.

Kisah Enno Lerian ini juga dapat menjadi pengingat bagi para jemaah umrah untuk tidak terlalu terbebani dengan daftar doa yang panjang. Meskipun penting untuk mempersiapkan doa, yang terpenting adalah kekhusyukan, ketulusan, dan keyakinan saat berdoa. Kadang-kadang, momen-momen ‘kosong’ justru menjadi wadah bagi doa-doa yang paling murni dan paling dibutuhkan.

Perjalanan spiritual Enno ini juga menggarisbawahi bahwa ibadah umrah tidak selalu berjalan sesuai rencana yang telah disusun. Ada kalanya kita dihadapkan pada hal-hal yang tak terduga, yang justru membentuk pengalaman spiritual kita menjadi lebih kaya dan lebih bermakna. Pengalaman Enno yang mampu memanjatkan doa titipan di hari-hari berikutnya menunjukkan ketekunan dan usahanya untuk tetap menjalankan amanah yang telah diberikan kepadanya.

Secara keseluruhan, berita mengenai Enno Lerian ini memberikan gambaran yang menarik tentang sisi lain dari ibadah umrah. Ia tidak hanya berbagi tentang keindahan spiritual, tetapi juga tentang tantangan dan pelajaran yang didapatkan di Tanah Suci. Kisahnya ini dapat menjadi inspirasi dan bahan refleksi bagi siapa saja yang akan atau pernah menjalani ibadah umrah, mengingatkan bahwa setiap perjalanan spiritual adalah unik dan penuh dengan kejutan ilahi.