0

Baru Juga Punya KTP, Remaja Ini Langsung Bikin Akun di Website Dewasa

Share

Jakarta – Kisah transformasi Piper Rockelle, seorang YouTuber cilik yang tumbuh menjadi remaja berusia 18 tahun, telah memicu gelombang perdebatan sengit di dunia maya. Hanya beberapa saat setelah secara resmi menginjak usia dewasa dan memegang kartu identitas, Piper Rockelle mengejutkan publik dengan keputusannya untuk membuat akun di sebuah platform berlangganan konten yang diasosiasikan dengan hiburan orang dewasa. Keputusan ini, yang diumumkannya secara gamblang, segera menjadi sorotan utama, memunculkan kekhawatiran mendalam sekaligus dukungan dari berbagai kalangan, serta membuka diskusi yang lebih luas tentang eksploitasi anak di bawah umur di ranah digital dan kebebasan berekspresi di usia dewasa.

Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-18, yang dikabarkan terjadi pada awal Januari lalu, Piper Rockelle tidak membuang waktu. Dalam hitungan jam, ia telah menciptakan akun di situs kontroversial tersebut, dan yang lebih mengejutkan lagi, ia berhasil meraup pendapatan fantastis sebesar USD 3 juta atau setara dengan sekitar Rp 50 miliar hanya dalam 24 jam pertama. Keberhasilan finansial yang instan ini diumumkan oleh Piper sendiri melalui akun X (sebelumnya Twitter), di mana ia menulis, "Hari pertamaku! Selamanya bersyukur. Tidak pernah aku sangka ini akan terjadi, kalian semua mengubah hidupku." Ungkapan rasa syukur dan keterkejutannya ini justru semakin memperuncing polemik yang sudah ada.

Perjalanan Piper Rockelle di dunia hiburan digital bukanlah hal baru. Ia memulai kariernya lebih dari satu dekade silam, jauh sebelum istilah "influencer" menjadi tren seperti sekarang. Ibunya, Tiffany Smith, adalah sosok di balik layar yang secara aktif mengunggah berbagai momen kehidupan sehari-hari putrinya ke saluran YouTube miliknya. Dengan cepat, Piper Rockelle menjelma menjadi apa yang kini dikenal sebagai ‘kidfluencer’, seorang influencer anak-anak yang memiliki jutaan pengikut dan pengaruh besar di kalangan teman sebayanya. Kontennya yang ceria dan kehidupannya yang seolah tanpa cela menjadikannya idola bagi banyak anak dan remaja, sekaligus aset berharga bagi para pengiklan. Namun, di balik gemerlap popularitas itu, tersimpan pertanyaan-pertanyaan etis tentang bagaimana anak-anak dikelola dan dipasarkan di ranah digital.

Puncak dari kontroversi yang mengiringi transisi Piper terjadi pada Februari 2025, saat ia masih berusia 17 tahun. Di usia yang masih di bawah umur, Rockelle mulai muncul di Bop House, sebuah kolektif konten yang anggotanya dikenal luas karena karya mereka di platform berlangganan dewasa. Kehadiran seorang remaja di bawah umur di lingkungan yang kental dengan konten dewasa ini sontak memicu gelombang kritik pedas. Foto-foto dan kolaborasi yang muncul secara daring dengan cepat menyebar, dan banyak pihak mempertanyakan mengapa seorang anak di bawah umur diizinkan berinteraksi begitu dekat dengan kreator konten dewasa. Ini bukan hanya tentang konten yang diproduksi, melainkan juga tentang lingkungan dan potensi dampak psikologis terhadap seorang minor.

Sebagai tanggapan atas gelombang kritik tersebut, Rockelle mengeluarkan pernyataan kepada Majalah People, mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan untuk berkolaborasi dengan kreator Bop House. Beberapa bulan kemudian, ia juga menyampaikan kepada Rolling Stone bahwa waktunya di sana sangat positif. "Saya mengalami masa terbaik dalam hidup saya," katanya, mencoba menepis kekhawatiran publik. Namun, bagi banyak pengamat dan netizen, penjelasan tersebut tidak cukup untuk meredakan kecemasan. Mereka melihat ada pola yang mengkhawatirkan, di mana seorang anak yang tumbuh di bawah sorotan publik secara bertahap ditarik ke dalam industri yang lebih dewasa, bahkan sebelum ia mencapai usia legal.

Kekhawatiran tersebut semakin menjadi kenyataan hanya dua minggu sebelum ulang tahunnya yang ke-18. Melalui akun TikTok-nya, Rockelle mengumumkan secara resmi bahwa ia telah bergabung dengan Bop House. Pengumuman ini menjadi semacam konfirmasi bagi para netizen yang sudah lama menduga ke arah sana, dan respons yang muncul pun didominasi oleh kekecewaan dan penyesalan. Komentar-komentar pedas membanjiri media sosialnya. "Dia dibentuk oleh algoritma, lingkungannya, dan orang dewasa yang melihatnya sebagai produk. Di mana orang tuanya?" keluh seorang netizen, menyoroti peran ekosistem digital dan pengawasan orang tua yang dipertanyakan. Netizen lain menambahkan, "Seram banget gimana orang-orang sudah menginginkan dia ketika dia masih minor dan menunggu hingga dia berusia 18 tahun," sebuah pernyataan yang menggarisbawahi aspek predatori dari beberapa segmen industri hiburan digital.

Debat yang mengiringi keputusan Piper Rockelle tidak hanya berkisar pada kasusnya secara spesifik, tetapi juga membuka kotak pandora tentang fenomena ‘kidfluencer’ dan etika di balik monetisasi kehidupan anak-anak di media sosial. Sejak awal kemunculannya, dunia ‘kidfluencer’ telah menjadi lahan subur sekaligus medan pertempuran etis. Anak-anak yang terpapar kamera sejak dini, hidup mereka didokumentasikan dan dikomersialkan, seringkali tanpa pemahaman penuh tentang konsekuensi jangka panjangnya. Ketika anak-anak ini tumbuh dewasa, mereka dihadapkan pada pilihan yang sulit: apakah melanjutkan jalan yang sudah dibentuk oleh orang tua dan lingkungan, atau mencoba mendefinisikan identitas mereka sendiri di luar bayang-bayang ketenaran masa kecil.

Kasus Piper Rockelle menyoroti tekanan ekstrem yang dihadapi oleh mantan bintang cilik. Banyak dari mereka yang merasa terdorong untuk terus relevan dan menghasilkan uang dari basis penggemar yang sudah ada, bahkan jika itu berarti beralih ke konten yang lebih berani atau kontroversial. Pendapatan USD 3 juta dalam sehari menunjukkan potensi finansial yang sangat menggiurkan, yang bisa menjadi insentif kuat bagi siapa pun, terutama bagi mereka yang telah terbiasa dengan gaya hidup mewah dan sorotan publik. Ini adalah gambaran nyata tentang bagaimana algoritma media sosial dan ekonomi kreator dapat membentuk pilihan hidup seseorang, bahkan sebelum mereka sepenuhnya siap menghadapi implikasinya.

Di sisi lain, ada juga suara-suara yang membela keputusan Piper Rockelle, menganggapnya sebagai hak prerogatif pribadi yang tidak dapat dicampuri oleh orang lain. "Kejar aja, kalau itu yang dia mau," seru seorang warganet, menegaskan prinsip kebebasan individu. Pendapat lain menyatakan, "Dia nggak butuh orang tua. Dia 18 tahun," sebuah argumen yang menekankan bahwa di usia legal, seseorang memiliki hak untuk membuat keputusan sendiri, termasuk dalam hal karier dan bagaimana mereka memilih untuk memonetisasi diri. Argumen ini berakar pada konsep otonomi pribadi dan hak seorang individu dewasa untuk menentukan nasibnya sendiri, terlepas dari latar belakang atau harapan publik.

Namun, perdebatan ini lebih kompleks dari sekadar pilihan pribadi versus pengawasan publik. Ini menyentuh inti dari bagaimana masyarakat memandang eksploitasi dan agensi dalam era digital. Apakah seseorang yang tumbuh dalam sorotan publik sejak kecil benar-benar memiliki "pilihan bebas" ketika seluruh identitas dan basis penggemarnya telah dibangun di sekitar citra tertentu? Apakah tekanan finansial dan keinginan untuk mempertahankan relevansi membatasi kebebasan memilih tersebut? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak memiliki jawaban mudah dan terus menjadi bahan diskusi hangat di tengah pesatnya perkembangan industri konten digital.

Kasus Piper Rockelle, seperti yang dilansir dari Bored Panda, adalah cerminan dari tantangan modern dalam mengelola transisi dari bintang cilik menjadi kreator konten dewasa. Ini adalah kisah tentang bagaimana media sosial, algoritma, tekanan finansial, dan ekspektasi publik berpadu membentuk perjalanan hidup seorang individu. Ini juga merupakan pengingat bagi orang tua, pembuat kebijakan, dan publik secara umum tentang perlunya perlindungan yang lebih kuat bagi anak-anak di dunia maya, serta pemahaman yang lebih mendalam tentang kompleksitas pilihan yang dihadapi oleh mereka yang tumbuh di bawah sorotan jutaan pasang mata. Keputusan Piper Rockelle mungkin akan menjadi preseden, atau setidaknya studi kasus yang menarik, tentang bagaimana generasi digital mendefinisikan ulang batas-batas antara privasi, karier, dan identitas di abad ke-21.