0

Barcelona Juara Piala Super Spanyol, Fans Madrid Justru Bela Xabi Alonso

Share

Jakarta – Gelaran Piala Super Spanyol 2026 kembali menjadi panggung dominasi Barcelona. Raksasa Catalan ini sukses mempertahankan gelar juara mereka setelah mengalahkan rival abadi, Real Madrid, dalam sebuah laga final yang berlangsung sengit dan penuh drama. Bertanding di King Abdullah Sports City Stadium, Jeddah, Arab Saudi, pada Minggu (11/1/2026) malam waktu setempat atau Senin (12/1/2026) dini hari WIB, Barcelona berhasil menumbangkan Los Blancos dengan skor tipis 3-2.

Kemenangan ini bukan hanya sekadar trofi bagi Barcelona, tetapi juga penegasan superioritas mereka di kompetisi ini dalam dua musim terakhir. Bagi Real Madrid, kekalahan ini terasa sangat pahit, mengingat ini adalah kali kedua secara beruntun mereka harus mengakui keunggulan Blaugrana di final Piala Super Spanyol. Tahun lalu, Madrid juga takluk dengan skor yang lebih telak, 2-5. Kali ini, meskipun pertandingan berjalan jauh lebih ketat, menampilkan jual beli serangan dan ketegangan hingga menit akhir, Los Blancos tetap harus mengakui keunggulan Blaugrana yang tampil lebih klinis dan efektif di momen-momen krusial.

Sejak peluit kick-off dibunyikan, atmosfer Clasico yang khas langsung terasa. Barcelona, dengan filosofi penguasaan bola dan serangan cepat, berhasil membuka keunggulan di menit ke-17 melalui skema serangan balik yang apik. Umpan terobosan brilian dari lini tengah berhasil dimaksimalkan oleh penyerang sayap mereka yang melesatkan bola ke pojok gawang kiper Madrid. Real Madrid tidak tinggal diam. Mereka merespons dengan meningkatkan intensitas serangan, dan kerja keras mereka membuahkan hasil di menit ke-35. Sebuah tendangan jarak jauh yang keras dan terarah berhasil menembus jala gawang Barcelona, menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Namun, euforia Madrid tidak berlangsung lama. Menjelang akhir babak pertama, Barcelona kembali unggul berkat gol dari titik putih setelah salah satu pemain mereka dijatuhkan di kotak terlarang. Skor 2-1 untuk Barcelona bertahan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, Real Madrid tampil lebih agresif. Pelatih Xabi Alonso melakukan beberapa perubahan taktik untuk menambah daya gedor tim. Tekanan Madrid membuahkan hasil di menit ke-60, ketika sebuah umpan silang akurat dari sisi lapangan berhasil disundul masuk oleh striker mereka, membuat skor kembali imbang 2-2. Pertandingan semakin memanas, kedua tim saling berbalas serangan dengan intensitas tinggi. Namun, di menit ke-78, Barcelona menunjukkan mental juara mereka. Sebuah kelengahan di lini pertahanan Madrid berhasil dimanfaatkan oleh gelandang serang Barcelona yang dengan tenang menceploskan bola ke gawang, mengubah skor menjadi 3-2. Meskipun Madrid berusaha keras untuk menyamakan kedudukan di sisa waktu pertandingan, termasuk beberapa peluang emas dan tendangan spekulatif, pertahanan Barcelona tampil solid dan berhasil mengamankan kemenangan berharga tersebut.

Kekalahan ini, di panggung yang sangat kompetitif dan melawan rival abadi, secara otomatis menambah tekanan bagi pelatih Real Madrid, Xabi Alonso. Sejak ditunjuk menggantikan Carlo Ancelotti di pertengahan tahun 2025 lalu, Alonso memang kerap menjadi sasaran kritik dari berbagai pihak. Performa tim yang cenderung naik-turun, hasil yang tidak konsisten di La Liga, dan kini dua kekalahan beruntun di final Piala Super Spanyol dari Barcelona, membuat posisinya di kursi kepelatihan El Real semakin disorot. Ekspektasi terhadap Real Madrid selalu tinggi, dan kekalahan di El Clasico, apalagi di final, selalu menjadi pil pahit yang sulit diterima para penggemar dan manajemen.

Namun, menariknya, di tengah badai kritik yang menerpa Alonso, warganet dan sebagian besar pendukung Real Madrid justru ramai-ramai membela sang pelatih asal Spanyol tersebut. Melalui berbagai platform media sosial, banyak pendukung setia Los Blancos menilai bahwa kekalahan ini bukanlah sepenuhnya kesalahan taktik atau manajemen Alonso. Mereka melihat masalah yang lebih dalam dan kompleks di tubuh tim, yang melampaui kemampuan seorang pelatih untuk menyelesaikannya dalam waktu singkat. Berikut adalah rangkuman berbagai pandangan yang ramai diperbincangkan di jagat maya:

Salah satu argumen yang paling menonjol datang dari akun @nobody_oz, yang secara tegas menyatakan, "Yang masih nyalahin Xabi aneh sih. Ini tim sebetulnya kesalahannya kompleks dari pemain sampai board tapi pada tutup mata. Yang seharusnya pertama kali dievaluasi adalah sanitas. Kita udah beberapa musim banyak badai cidera. Percuma ganti pelatih kalo kejadian kayak gini berulang." Komentar ini menyoroti akar masalah yang lebih fundamental: kondisi fisik dan kesehatan pemain. "Sanitas" atau kesehatan tim, menjadi sorotan utama. Dalam beberapa musim terakhir, Real Madrid memang kerap dilanda badai cedera parah yang menimpa pemain-pemain kunci. Cedera panjang yang dialami pilar-pilar penting seperti kiper utama, bek tengah andalan, hingga gelandang kreatif, secara signifikan memengaruhi kedalaman skuad dan konsistensi performa. Alonso, menurut pandangan ini, harus bekerja dengan opsi terbatas dan seringkali terpaksa memainkan pemain di luar posisi terbaik mereka, atau mengandalkan pemain muda yang belum berpengalaman. Hal ini tentu saja membatasi ruang gerak taktis dan strategi yang bisa ia terapkan. Mengganti pelatih tanpa menyelesaikan masalah cedera yang berulang, dianggap hanya akan memindahkan masalah tanpa menemukan solusi.

Di sisi lain, ada juga suara yang sedikit berbeda, meskipun masih mengarah pada masalah non-taktis Alonso. Akun @tadanohitoo_ menyuarakan kritik terhadap performa pemain itu sendiri: "Apanya yang tampil habis-habisan? Fighting spirit nggak ada, ketika ketinggalan nggak ada semangat mau push, defensive awarenessnya jelek semua, emosian, pressing nggak niat. Emang lagi jelek aja pemainnya, nggak usah terlalu dibela-belaian Pak Xabi." Komentar ini menyoroti aspek mentalitas dan komitmen para pemain. Menurutnya, meskipun Alonso adalah pelatihnya, semangat juang dan determinasi di lapangan menjadi tanggung jawab pemain. Kurangnya "fighting spirit" ketika tertinggal, kesadaran defensif yang buruk, dan kecenderungan untuk mudah emosi, menunjukkan masalah internal di antara para pemain yang mungkin sudah terlalu lama bersama atau kurangnya motivasi intrinsik. Pandangan ini mengimplikasikan bahwa sehebat apapun taktik seorang pelatih, jika pemain tidak memiliki kemauan dan disiplin untuk menjalankannya secara maksimal, hasilnya akan tetap mengecewakan. Ini menunjukkan adanya keretakan dalam persepsi antara kerja keras yang dituntut dan yang benar-benar ditunjukkan di lapangan.

Namun, kritik paling tajam dan mendalam justru diarahkan kepada manajemen klub, atau yang sering disebut "board." Akun @mhdaliffffff dengan nada frustrasi mengungkapkan, "Tek pantek gw bener-bener gedek sama board ketimbang pemain, bisa-bisanya baru sadar pas permintaan Xabi buat beli pemain gelandang disaat tim lagi badai cidera gini. Lu selama jadi board nggak punya pemikiran jangka panjang kah apa gimana sih?" Ini adalah poin krusial yang banyak disuarakan pendukung Madrid. Manajemen klub dituding gagal dalam perencanaan jangka panjang dan tidak mendukung penuh pelatih di bursa transfer. Permintaan Alonso untuk mendatangkan gelandang baru, terutama di tengah krisis cedera yang melanda lini tengah, ternyata tidak segera ditanggapi atau bahkan diabaikan oleh dewan direksi. Keterlambatan dalam mendatangkan pemain yang dibutuhkan menciptakan lubang di skuad yang tidak bisa ditutupi hanya dengan taktik. Ini menunjukkan adanya ketidakselarasan antara visi pelatih dan kebijakan transfer klub, yang pada akhirnya merugikan performa tim secara keseluruhan. Kegagalan "board" dalam melihat kebutuhan tim secara proaktif dan reaktif dianggap sebagai salah satu biang kerok utama masalah Real Madrid.

Lebih lanjut, @mhdaliffffff juga menambahkan perspektif tentang kapan seorang pelatih layak dipecat: "Yang minta Xabi out adalah orang-orang yang nggak melihat dari sisi yang lain emang, dan nggak mikir efek jangka panjangnya gimana. Pelatih layak dipecat saat situasi udah belanja pemain sesuai keinginan tapi tetep nggak menunjukkan hasil positif." Pernyataan ini menegaskan kembali bahwa Alonso harus diberikan kesempatan penuh, yang berarti didukung dengan pemain-pemain yang sesuai dengan keinginannya. Baru setelah ia memiliki skuad yang dibentuk berdasarkan visinya sendiri, dan jika hasil positif tetap tidak datang, barulah evaluasi terhadap posisinya menjadi relevan. Ini adalah argumen untuk "trust the process" dan memberikan waktu kepada pelatih untuk membangun tim sesuai filosofinya, tanpa intervensi yang merugikan dari manajemen. Mengganti pelatih secara prematur, sebelum ia memiliki kesempatan untuk membentuk timnya sendiri, dianggap sebagai tindakan reaksioner yang tidak akan menyelesaikan masalah jangka panjang.

Sentiment positif dan harapan terhadap Xabi Alonso juga terlihat jelas dari komentar-komentar lain. Akun @imanrachman86 optimis, "Trust in Xabi sih… kasih dia waktu, tim ini udah di jalur yang benar sih. Tinggal sedikit improvement dan kasih waktu ama kepercayaan." Pandangan ini mencerminkan keyakinan bahwa Alonso adalah sosok yang tepat untuk memimpin Real Madrid, namun ia memerlukan waktu, kesabaran, dan dukungan penuh. Mereka melihat adanya fondasi yang kuat yang sedang dibangun oleh Alonso, dan bahwa tim ini hanya memerlukan sedikit perbaikan di sana-sini serta kepercayaan penuh dari semua pihak.

Secara keseluruhan, kekalahan Real Madrid di final Piala Super Spanyol ini telah membuka kotak pandora perdebatan yang kompleks di kalangan penggemar. Alih-alih menyalahkan Xabi Alonso secara langsung, banyak yang melihat masalah ini sebagai hasil dari kombinasi faktor: mulai dari krisis cedera yang parah dan berulang, kebijakan transfer manajemen yang dianggap kurang visioner dan tidak mendukung pelatih, hingga mentalitas dan performa beberapa pemain di lapangan. Ini adalah krisis multi-dimensi yang memerlukan pendekatan komprehensif, bukan hanya sekadar pergantian pelatih.

Bagi Barcelona, kemenangan ini adalah suntikan moral yang luar biasa. Mereka tidak hanya mempertahankan trofi, tetapi juga menegaskan kembali dominasi mereka atas rival abadi di kompetisi ini. Ini menjadi bukti bahwa proyek yang sedang mereka bangun berada di jalur yang benar, dan memberikan kepercayaan diri tambahan untuk menghadapi sisa musim di La Liga dan Liga Champions.

Sementara itu, bagi Real Madrid, kekalahan ini adalah panggilan darurat. Masa depan Xabi Alonso memang berada di bawah pengawasan ketat, namun suara dari akar rumput menunjukkan bahwa masalah di Santiago Bernabeu jauh lebih dalam daripada sekadar taktik pelatih. Manajemen klub mungkin harus melakukan introspeksi serius terhadap kebijakan mereka, terutama dalam hal pengelolaan cedera pemain dan dukungan di bursa transfer. Pertanyaan "Menurut detikers sendiri bagaimana?" menjadi semakin relevan, mengingat kompleksitas masalah yang dihadapi salah satu klub terbesar di dunia ini. Apakah Madrid akan memberikan waktu dan dukungan penuh kepada Alonso, atau justru memilih jalan pintas dengan pergantian pelatih yang mungkin tidak menyelesaikan akar masalah? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

(afr/afr)