BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Pasangan selebritas yang tengah hangat diperbincangkan, Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid, kini tengah diliputi kebahagiaan yang luar biasa. Putra pertama mereka yang menggemaskan, Ahmad Arash Omara Thariq, baru saja merayakan pencapaian penting dalam tumbuh kembangnya dengan menjalani prosesi adat Jawa yang penuh makna, yaitu Tedak Siten. Upacara sakral ini diselenggarakan tepat ketika sang buah hati menginjak usianya yang ketujuh bulan, menandai sebuah fase krusial dalam perkembangannya. Dalam momen yang begitu berharga dan penuh haru ini, Thariq Halilintar tak henti-hentinya mengungkapkan rasa syukur yang mendalam. Ia takjub melihat pesatnya perkembangan sang putra yang kini semakin aktif dan menunjukkan berbagai kemampuan baru setiap harinya. Bagi Thariq, menyaksikan Arash tumbuh dan berkembang dari hari ke hari adalah sebuah anugerah yang tak ternilai harganya, sebuah pengalaman yang membuat hidupnya semakin berwarna dan penuh makna. Ia merasa beruntung bisa menjadi saksi langsung setiap tahapan pertumbuhan sang anak.
"Perkembangannya sekarang sudah bisa merangkak, dan merangkaknya lumayan cepat. Terus sudah bisa duduk, sudah mulai makan MPASI," ujar Thariq Halilintar dengan penuh kehangatan saat ditemui awak media di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, pada kemarin. Pernyataan ini mencerminkan betapa Thariq begitu memperhatikan dan mengapresiasi setiap kemajuan kecil yang ditunjukkan oleh Arash. Kemampuan merangkak yang cepat menandakan perkembangan motorik kasar yang baik, sebuah pencapaian yang disambut gembira oleh orang tuanya. Kemampuan duduk yang sudah dikuasai juga merupakan fondasi penting untuk aktivitas selanjutnya, seperti mulai mengeksplorasi lingkungan sekitar. Dimulainya fase makan MPASI juga menjadi tonggak penting, di mana Arash mulai diperkenalkan dengan variasi rasa dan tekstur makanan, yang tentunya akan mendukung pertumbuhannya secara keseluruhan. Thariq sangat antusias dalam memperkenalkan berbagai jenis makanan sehat kepada Arash, memastikan asupan nutrisi yang optimal untuk mendukung perkembangan otaknya yang pesat.
Memasuki masa yang dikenal sebagai "golden age" atau periode emas perkembangan anak, Thariq mengaku semakin meningkatkan proteksinya terhadap waktu yang dihabiskan bersama sang anak. Ia menyadari betul bahwa periode ini adalah masa krusial di mana otak anak berkembang dengan sangat pesat dan fondasi perkembangan fisik serta kognitif diletakkan. Di tengah kesibukan pekerjaan yang padat dan berbagai agenda profesional yang harus dijalani, Thariq berusaha keras untuk selalu hadir di setiap fase penting tumbuh kembang Arash. Ia tak ingin melewatkan satu momen pun yang bisa membentuk karakter dan perkembangan sang buah hati. Komitmennya untuk hadir ini menunjukkan betapa besar perannya sebagai ayah yang suportif dan aktif dalam pengasuhan Arash. Ia percaya bahwa kehadiran orang tua secara langsung sangat berpengaruh pada perkembangan emosional dan psikologis anak.
"Aku enggak mau ketinggalan setiap momennya dia, soalnya selalu ada saja fitur-fitur barunya," tutur Thariq dengan senyum lebar yang terpancar dari wajahnya. Ungkapan ini menegaskan betapa Thariq melihat setiap hari sebagai sebuah petualangan baru dalam menyaksikan Arash tumbuh. Ia selalu menantikan kejutan-kejutan kecil yang akan dihadirkan oleh sang putra, seperti gestur baru, suara baru, atau bahkan kemampuan motorik yang lebih canggih. Frasa "fitur-fitur baru" yang digunakan Thariq secara cerdas menggambarkan betapa ia melihat Arash sebagai sebuah entitas yang terus berkembang dan menampilkan hal-hal menarik yang selalu mengejutkan. Hal ini menunjukkan bahwa Thariq memiliki pandangan yang segar dan positif terhadap fase perkembangan anak. Ia tidak hanya melihatnya sebagai tanggung jawab, tetapi juga sebagai sumber kebahagiaan dan rasa ingin tahu yang tak terbatas.
Tingkah lucu Arash pun kini semakin beragam dan menghibur. Thariq dengan antusias bercerita bahwa putranya kini sudah mampu mengekspresikan perasaan dengan sangat jelas, sebuah kemampuan yang sangat penting dalam komunikasi awal. Ia bisa menunjukkan dengan ekspresi wajahnya ketika sedang merasa bosan, kesal, atau bahkan senang. Kemampuan ini menjadi indikator perkembangan sosial dan emosional yang baik. Kemampuan untuk mengkomunikasikan perasaan, meskipun belum verbal, adalah langkah awal yang krusial dalam membangun interaksi sosial yang sehat. Thariq senang ketika Arash bisa menunjukkan apa yang ia rasakan, karena ini memudahkan Thariq dan Aaliyah untuk merespons kebutuhan Arash dengan tepat dan cepat. Hal ini juga membantu mereka untuk lebih memahami dunia Arash dari sudut pandang Arash sendiri.
"Sekarang kalau dia sudah bete, ekspresinya sudah kelihatan banget. Sudah bisa nunjukin wajah kayak gitu," beber Thariq sambil tersenyum, menggambarkan momen-momen ketika Arash menunjukkan rasa tidak sukanya melalui mimik wajah. Senyum Thariq saat menceritakan hal ini menunjukkan betapa ia menikmati setiap ekspresi Arash, bahkan ketika itu adalah ekspresi kebosanan atau kekesalan. Ini menunjukkan kedewasaan Thariq dalam melihat sisi positif dari setiap perkembangan anaknya. Ia tidak hanya fokus pada pencapaian yang "positif" seperti tawa atau gerakan, tetapi juga menerima dan memahami emosi negatif yang dialami Arash sebagai bagian dari proses belajar dan beradaptasi. Kemampuan Arash untuk menunjukkan ekspresi wajah yang jelas ini juga merupakan hasil dari interaksi yang intens dengan orang tuanya, di mana mereka seringkali menirukan dan merespons ekspresi Arash, sehingga Arash belajar bahwa ekspresi wajah adalah alat komunikasi yang efektif.
Lebih lanjut, Thariq juga merasa sangat bersyukur karena Arash termasuk dalam kategori bayi yang mudah dirawat. Ia menjelaskan bahwa sang putra tidak rewel, memiliki pola makan yang baik dan teratur, serta jam tidur yang konsisten. Hal ini tentu saja menjadi kabar gembira bagi Thariq dan Aaliyah, karena memudahkan mereka dalam menjalani rutinitas sehari-hari dan memberikan waktu yang berkualitas untuk Arash. Bayi yang tidak rewel dan memiliki pola makan serta tidur yang baik adalah dambaan setiap orang tua, karena hal ini memberikan kesempatan bagi orang tua untuk beristirahat dan memiliki energi yang cukup untuk merawat anak.
"Alhamdulillah dia bayi yang baik. Enggak rewel, makannya banyak, susunya juga banyak. Dia happy baby banget," pungkas Thariq Halilintar dengan nada penuh rasa syukur. Ungkapan "happy baby banget" ini merupakan kesimpulan yang paling membahagiakan bagi Thariq dan Aaliyah. Ini menandakan bahwa Arash tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan kebahagiaan, yang tercermin dari sikapnya yang ceria dan tidak rewel. Kebahagiaan Arash adalah prioritas utama bagi Thariq dan Aaliyah, dan segala upaya mereka curahkan untuk menciptakan lingkungan yang optimal bagi tumbuh kembang sang buah hati.
Di samping itu, momen Tedak Siten ini juga memiliki makna budaya yang mendalam. Tradisi ini merupakan salah satu upacara adat Jawa yang dilakukan ketika bayi berusia tujuh bulan. Tujuannya adalah untuk mengenalkan bayi kepada bumi dan alam semesta, serta memohon doa keselamatan dan keberkahan bagi sang anak. Melalui prosesi ini, Arash diperkenalkan pada tujuh macam biji-bijian dan makanan, serta berbagai perlengkapan bayi seperti mainan dan alat tulis, yang diyakini melambangkan berbagai aspek kehidupan dan masa depan. Thariq dan Aaliyah dengan bangga menjalani tradisi ini, menunjukkan komitmen mereka untuk melestarikan budaya leluhur sekaligus memberikan dasar spiritual yang kuat bagi putra mereka. Mereka berharap agar Arash tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, cerdas, dan sukses di masa depan, dengan bekal nilai-nilai luhur yang ditanamkan sejak dini.
Keterlibatan Thariq dalam setiap aspek perkembangan Arash, mulai dari pengasuhan sehari-hari hingga partisipasi dalam upacara adat, menunjukkan dedikasinya yang luar biasa sebagai seorang ayah muda. Ia tidak hanya memenuhi kewajibannya, tetapi juga menikmati setiap momen kebersamaan dengan penuh cinta dan antusiasme. Semangatnya untuk tidak ketinggalan setiap fase perkembangan Arash adalah bukti nyata dari betapa ia menghargai pentingnya kehadiran orang tua dalam membentuk karakter dan masa depan anak. Dengan dukungan penuh dari Aaliyah, Thariq siap menghadapi setiap tantangan dan merayakan setiap kebahagiaan dalam perjalanan mereka sebagai keluarga muda yang penuh cinta. Kisah mereka menjadi inspirasi bagi banyak pasangan muda yang sedang menantikan atau baru saja dikaruniai buah hati, menunjukkan bahwa dengan cinta, kesabaran, dan komitmen, pengasuhan anak bisa menjadi pengalaman yang paling membahagiakan dan bermakna dalam hidup. Perhatian Thariq terhadap detail perkembangan Arash, mulai dari kemampuan motorik hingga ekspresi emosional, mencerminkan pendekatan pengasuhan yang holistik dan penuh kasih sayang. Ia tidak hanya fokus pada aspek fisik, tetapi juga pada perkembangan kognitif, emosional, dan sosial sang buah hati. Hal ini sangat penting mengingat Arash sedang berada dalam masa "golden age" di mana fondasi penting untuk masa depannya sedang dibentuk.

