BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Tren minor wakil-wakil Inggris di pentas Liga Champions Eropa musim 2025/2026 semakin mengkhawatirkan. Setelah enam tim yang awalnya berjuang di fase grup, kini hanya tersisa dua wakil Premier League yang berhasil menembus perempat final: Arsenal dan Liverpool. Nasib nahas menimpa empat tim Inggris lainnya, yakni Chelsea, Tottenham Hotspur, Newcastle United, dan Manchester City, yang semuanya tersingkir di babak 16 besar. Lebih memprihatinkan lagi, keempat tim ini harus menelan pil pahit dengan statistik kebobolan yang sangat tinggi, total mencatatkan 28 kali gawang mereka dijebol lawan.
Rentetan kekalahan ini tidak hanya menyisakan kekecewaan bagi para penggemar, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius mengenai performa tim-tim elite Inggris di kancah Eropa. Chelsea menjadi salah satu tim yang paling menderita. Mereka dibekuk telak oleh Paris Saint-Germain (PSG) dengan agregat 2-8. Dalam dua leg pertandingan, pertahanan The Blues terlihat rapuh dan mudah ditembus oleh serangan mematikan PSG. Kekalahan ini mencerminkan kedalaman masalah yang dihadapi tim asuhan Mauricio Pochettino, yang tampaknya masih berjuang untuk menemukan konsistensi.

Newcastle United juga mengalami nasib serupa, bahkan bisa dibilang lebih buruk dalam hal kebobolan. Tim berjuluk The Magpies ini takluk dari Barcelona dengan agregat 3-8. Laga melawan raksasa Spanyol tersebut menjadi bukti bahwa pertahanan Newcastle belum cukup kuat untuk menahan gempuran tim-tim top Eropa. Kekalahan ini tentu menjadi pukulan telak bagi ambisi Newcastle untuk berprestasi di Liga Champions, setelah musim sebelumnya mereka menunjukkan performa yang menjanjikan.
Tottenham Hotspur, yang musim ini berambisi untuk bangkit di bawah asuhan Ange Postecoglou, juga harus mengakhiri petualangannya lebih awal. Mereka tersingkir oleh Atletico Madrid dengan agregat 5-7. Meskipun agregat gol menunjukkan pertandingan yang cukup ketat, namun jumlah gol yang bersarang di gawang Spurs tetap menjadi catatan yang mengkhawatirkan. Pertahanan yang tidak kokoh menjadi salah satu faktor utama kegagalan mereka melangkah lebih jauh.
Manchester City, yang selama beberapa musim terakhir menjadi favorit kuat di Liga Champions, secara mengejutkan juga harus angkat koper lebih awal. Tim asuhan Pep Guardiola ini dicukur oleh Real Madrid dengan agregat 1-5. Kekalahan ini menjadi anomali mengingat status City sebagai salah satu tim terbaik di dunia. Pertandingan melawan Real Madrid menunjukkan bahwa Los Blancos memiliki catatan apik dalam menghadapi tim Inggris, dan pertahanan City kali ini tidak mampu membendung serangan balik cepat dan efektivitas tim asal Spanyol tersebut.

Total 28 gol yang bersarang di gawang keempat tim Inggris ini merupakan statistik yang sangat buruk dan menjadi sorotan utama. Angka ini mencerminkan kerapuhan lini pertahanan, kurangnya organisasi permainan, atau mungkin kelelahan pemain akibat jadwal kompetisi domestik yang padat. Dilansir dari BBC, faktor jadwal kompetisi domestik yang padat diduga kuat menjadi penyebab utama badai cedera yang melanda banyak tim Premier League. Cedera yang beruntun membuat performa pemain kunci menurun drastis, dan hal ini berimbas pada performa tim secara keseluruhan di panggung Eropa.
Kondisi ini sangat kontras dengan performa Arsenal dan Liverpool. Kedua tim ini menunjukkan ketahanan dan kedalaman skuad yang lebih baik, mampu mengatasi tekanan jadwal padat dan badai cedera. Arsenal, di bawah asuhan Mikel Arteta, terus menunjukkan perkembangan positif dan konsistensi, sementara Liverpool di bawah Jurgen Klopp, meskipun mungkin mengalami pasang surut, tetap mampu mengamankan tiket ke perempat final. Menariknya, kedua tim Premier League yang tersisa ini berada di jalur yang berbeda menuju semifinal, membuka kemungkinan keduanya untuk saling berhadapan di partai puncak.
Fenomena tersingkirnya mayoritas wakil Inggris ini menimbulkan berbagai analisis. Beberapa pakar berpendapat bahwa intensitas dan gaya bermain Liga Premier League yang sangat tinggi membuat pemain lebih rentan terhadap cedera dan kelelahan saat harus bertanding di kompetisi Eropa dengan jadwal yang tidak kalah padat. Selain itu, kualitas tim-tim Eropa lainnya juga semakin meningkat, membuat persaingan di Liga Champions semakin ketat.

Tim-tim seperti Real Madrid, Barcelona, PSG, dan Atletico Madrid menunjukkan bahwa mereka memiliki kedalaman skuad, taktik yang matang, dan kemampuan untuk tampil maksimal di momen-momen krusial. Kekalahan telak yang dialami Chelsea dan Newcastle, misalnya, bisa menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Inggris lainnya untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap kekuatan skuad dan strategi permainan mereka.
Manchester City, yang biasanya menjadi kekuatan dominan, tersingkir karena kurangnya ketajaman dalam menyerang dan pertahanan yang rentan. Kekalahan dari Real Madrid juga menjadi pengingat bahwa tidak ada tim yang kebal dari kekalahan, terutama di fase gugur Liga Champions yang selalu penuh kejutan.
Bagi Tottenham Hotspur, kegagalan ini menunjukkan bahwa mereka masih perlu berbenah di lini pertahanan. Meskipun lini serang mereka terkadang tajam, namun pertahanan yang kokoh adalah kunci untuk bisa bersaing di level tertinggi.

Secara keseluruhan, musim 2025/2026 menjadi musim yang mengecewakan bagi mayoritas wakil Inggris di Liga Champions. Empat tim harus tersingkir dengan catatan kebobolan yang memalukan, meninggalkan Arsenal dan Liverpool sebagai satu-satunya harapan untuk membawa pulang trofi bergengsi ini. Nasib kedua tim ini di sisa kompetisi akan menjadi sorotan utama, dan bagaimana mereka mampu mengatasi tekanan dan ekspektasi akan menentukan apakah Inggris masih bisa berbangga hati di kancah sepak bola Eropa. Kegagalan ini juga menjadi bahan introspeksi bagi seluruh klub Premier League untuk mempersiapkan diri lebih baik dalam menghadapi tantangan di masa depan, baik di kompetisi domestik maupun Eropa.

