BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Diva ternama Kris Dayanti kini tengah menikmati fase kehidupan yang berbeda, sepenuhnya terbuai oleh pesona dua cucunya tercinta, Ameena Hanna Nur Atta dan Azura Humaira Nur Atta. Kehadiran dua bidadari kecil dari pasangan putri sulungnya, Aurel Hermansyah, dan menantunya, Atta Halilintar, telah menghadirkan nuansa baru yang begitu menyegarkan dalam setiap helaan napasnya. Tidak dapat dipungkiri, perhatian dan kasih sayang yang ia curahkan kini lebih terarah pada kedua cucunya, bahkan melebihi perhatian yang ia berikan kepada anak-anaknya sendiri yang kini telah tumbuh menjadi individu dewasa dengan kesibukan masing-masing. Pengakuan ini dilontarkan langsung oleh Kris Dayanti, yang tak ragu mengungkapkan betapa bahagianya ia dikelilingi oleh tawa riang dan celoteh polos sang cucu.
Fenomena "mimi" yang lebih memprioritaskan cucu ini ternyata tidak luput dari pengamatan Aurel Hermansyah. Sang putri sulung, yang kerap kali menjadi saksi bisu interaksi hangat antara ibunya dan kedua buah hatinya, tak jarang merasakan sedikit kecemburuan yang menggemaskan. Kris Dayanti sendiri mengakui hal tersebut dengan senyum simpul. "Emang iya sih sebenarnya itu, makanya kadang Aurel-nya yang jealous. ‘Mimi mah nggak apa-apa yang penting cucunya’, katanya," ujar Kris Dayanti saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada suatu kesempatan. Ungkapan Aurel yang penuh pengertian namun terselip nada kecemburuan itu menjadi bukti betapa Kris Dayanti telah begitu tenggelam dalam peran barunya sebagai seorang nenek.
Bagi Kris Dayanti, istri dari Raul Lemos, interaksi dengan cucu menghadirkan sebuah kepuasan tersendiri yang berbeda dengan dinamika saat bersama anak-anaknya. Ia merasakan adanya kebebasan waktu yang signifikan. Berbeda dengan anak-anaknya yang telah memiliki jadwal padat dan tuntutan profesional yang tinggi, waktu yang dihabiskan bersama Ameena dan Azura terasa jauh lebih fleksibel dan tanpa tekanan. Hal ini memungkinkan Kris Dayanti untuk benar-benar menikmati setiap momen kebersamaan tersebut, larut dalam kehangatan pelukan mungil dan senyuman polos sang cucu tanpa merasa terburu-buru atau terbebani oleh komitmen waktu. "Ya sih, karena memang kalau main sama cucu kan bebas, mereka kan gak ada limit waktu gitu ya. Paling waktunya untuk tidur siang. Kan kalau anak-anak kan sibuk semua, jadi ya cucu aja deh dulu, nggak apa-apa," jelasnya. Fleksibilitas inilah yang menjadi salah satu alasan utama mengapa Kris Dayanti begitu antusias menghabiskan waktu berkualitas bersama cucu-cucunya. Ia bisa dengan leluasa bermain, bernyanyi, membaca cerita, atau sekadar memeluk mereka tanpa harus khawatir melanggar jadwal penting.
Selain aspek waktu, Kris Dayanti juga menunjukkan perhatian mendalam terhadap pola asuh yang diterapkan oleh Aurel dan Atta, terutama terkait penggunaan gadget. Ia sangat sadar akan pentingnya membatasi paparan anak di bawah umur terhadap dunia digital yang penuh dengan informasi dan potensi dampak negatif. Kris Dayanti berupaya keras untuk menjadi teman bermain yang aktif dan inspiratif bagi cucu-cucunya, mendorong mereka untuk mengeksplorasi dunia nyata di luar layar gadget. "Anak-anak ini juga sudah mulai rewel kan, bahwa pembatasan mereka di media sosial dan lain-lain di bawah umur 16 kan sudah gak boleh. Jadi kita kan musti banyakin main outdoor," terang Kris Dayanti. Ia menekankan pentingnya kegiatan di luar ruangan sebagai alternatif yang lebih sehat dan mendidik bagi tumbuh kembang anak.
Untuk menjauhkan cucunya dari potensi kecanduan gadget, Kris Dayanti secara aktif memperkenalkan berbagai macam permainan, baik yang bersifat tradisional maupun modern yang merangsang motorik dan kreativitas. Ia sering mengajak cucunya untuk beraktivitas di luar ruangan, menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan tak terlupakan. Baginya, permainan dan aktivitas fisik jauh lebih efektif dalam merangsang perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. "Banyak permainan-permainan yang bisa, entah itu gaming atau permainan-permainan tradisional, baik itu olahraga yang bisa kita lakukan di indoor, outdoor, bisa juga gitu," pungkasnya. Pendekatan ini menunjukkan komitmen Kris Dayanti untuk memberikan yang terbaik bagi cucu-cucunya, tidak hanya dalam hal kasih sayang, tetapi juga dalam memberikan pondasi tumbuh kembang yang sehat dan seimbang.
Lebih jauh, Kris Dayanti mengungkapkan bahwa peran sebagai nenek memberikannya keleluasaan untuk menjadi sosok yang lebih santai dan menyenangkan. Ia tidak lagi dibebani oleh tanggung jawab utama dalam mendidik dan mengasuh anak secara intensif seperti saat membesarkan Aurel dan adiknya. Kini, ia bisa lebih fokus pada memberikan cinta, perhatian, dan kegembiraan tanpa harus khawatir tentang aspek-aspek disiplin atau pendidikan formal yang menjadi domain orang tua. Hal ini memungkinkannya untuk menikmati setiap momen bersama cucu dengan lebih lepas dan penuh kebahagiaan. "Kalau dulu kan kita harus mikirin sekolahnya, kesehatannya, segala macam. Sekarang kan lebih ke refreshing aja ya, nemenin mereka main, ketawa-ketawa. Jadi lebih ringan," ujarnya sambil tersenyum.
Perhatiannya yang mendalam terhadap perkembangan anak juga tercermin dari upayanya untuk menjadi contoh positif bagi cucu-cucunya. Kris Dayanti selalu berusaha menampilkan citra yang baik, aktif, dan peduli lingkungan. Ia berharap, melalui interaksi sehari-hari, cucu-cucunya dapat belajar tentang pentingnya kebaikan, kasih sayang, dan tanggung jawab. Ia percaya bahwa anak-anak belajar paling efektif melalui observasi dan peniruan, sehingga ia berusaha untuk menjadi teladan yang dapat mereka banggakan kelak. "Saya ingin mereka tumbuh menjadi anak-anak yang ceria, sehat, dan berakhlak mulia. Dan saya percaya, dengan memberikan contoh yang baik, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan," tuturnya dengan penuh keyakinan.
Meskipun terkadang Aurel merasa cemburu, Kris Dayanti selalu meyakinkan putrinya bahwa cintanya tidak pernah berkurang. Ia menjelaskan bahwa kecintaannya pada Aurel dan anak-anaknya yang lain tetap sama besarnya. Perhatian yang lebih tercurah pada cucu saat ini lebih dikarenakan fase kehidupan cucu yang masih membutuhkan banyak perhatian dan interaksi langsung, sementara Aurel dan adik-adiknya sudah mandiri. "Aurel kan tahu, Mimi sayang banget sama dia. Ini kan cuma fase aja, nanti kalau anak-anak sudah besar lagi, kita juga bisa lebih banyak waktu bareng lagi," katanya. Ia selalu berusaha menjaga komunikasi terbuka dengan Aurel, menjelaskan perasaannya dan membagi kebahagiaannya dalam peran barunya sebagai nenek.
Kris Dayanti juga menekankan bahwa perannya sebagai nenek tidak menggantikan perannya sebagai ibu. Ia tetap menjadi sosok ibu yang suportif dan selalu ada untuk Aurel dan anak-anaknya yang lain. Ia memberikan ruang bagi Aurel untuk menjalankan perannya sebagai ibu muda dengan caranya sendiri, sambil tetap siap sedia memberikan dukungan dan saran jika dibutuhkan. "Saya percaya Aurel bisa jadi ibu yang hebat. Saya di sini untuk mendukungnya, bukan untuk menggantikannya," tegasnya. Hubungan yang harmonis antara ibu dan anak ini menjadi bukti betapa kuatnya ikatan keluarga mereka, bahkan di tengah perubahan peran dan dinamika kehidupan.
Kehadiran cucu-cucu tercinta telah memberikan energi baru dan kebahagiaan yang melimpah bagi Kris Dayanti. Ia merasa hidupnya semakin berwarna dan penuh makna. Senyum dan tawa cucu menjadi penawar segala lelah dan penat. Ia berjanji akan terus memberikan cinta dan perhatian yang tak terhingga bagi Ameena dan Azura, serta senantiasa menjadi nenek yang terbaik bagi mereka. "Pokoknya, cucu adalah kebahagiaan dunia akhirat buat Mimi. Saya akan selalu ada untuk mereka," tutupnya dengan penuh haru. Pengalaman ini menjadi babak baru yang begitu indah dalam kehidupan Kris Dayanti, mengisi hari-harinya dengan kehangatan, tawa, dan cinta yang tak terhingga.

