0

Asus Setop Produksi RTX 5070 Ti Gegara Krisis RAM

Share

Jakarta – Sebuah kabar mengejutkan mengguncang pasar kartu grafis global, khususnya bagi para penggemar PC gaming dan enthusiast. Raksasa teknologi asal Taiwan, Asus, dilaporkan telah memulai proses penghentian produksi untuk salah satu model kartu grafis terbarunya, GeForce RTX 5070 Ti. Pengumuman ini, yang pertama kali diungkap oleh kanal YouTube terkemuka di dunia teknologi, Hardware Unboxed, secara langsung mengindikasikan adanya kendala serius dalam rantai pasok yang membuat model ini kini berstatus end-of-life (EOL) untuk lini produksi Asus. Implikasi dari keputusan ini tidak hanya terbatas pada ketersediaan produk di pasaran, tetapi juga menyoroti kerentanan industri teknologi terhadap gejolak pasokan komponen vital.

Menurut laporan yang diungkap oleh Hardware Unboxed, masalah pasokan yang sama juga menimpa model lain dari Asus, yaitu RTX 5060 Ti versi 16GB. Kedua produk ini, yang seharusnya menjadi andalan di segmen menengah ke atas, kini menghadapi tantangan besar. Sejumlah ritel terkemuka di Australia, sebagai salah satu pasar awal yang merasakan dampaknya, telah melaporkan kesulitan signifikan dalam mendapatkan stok kedua produk tersebut selama beberapa waktu terakhir. Kondisi ini memicu spekulasi luas mengenai stabilitas pasokan komponen di industri semikonduktor, khususnya memori yang merupakan jantung dari setiap kartu grafis modern.

Menanggapi laporan yang berkembang cepat di komunitas teknologi, Nvidia, perusahaan di balik arsitektur GPU GeForce RTX, segera memberikan klarifikasi. Melalui Direktur Global Public Relations GeForce Nvidia, Ben Berraondo, perusahaan menegaskan bahwa produksi chip GPU yang dimaksud, yaitu unit pemrosesan grafis inti, masih berjalan sesuai rencana dan tidak mengalami kendala. Namun, Berraondo tidak menampik adanya tekanan signifikan pada pasokan memori, komponen krusial yang digunakan bersama chip GPU. "Permintaan GeForce RTX sangat kuat dan pasokan memori sedang tertekan. Kami tetap mengirim seluruh SKU GeForce dan bekerja sama dengan pemasok untuk memaksimalkan ketersediaan memori," ujar Berraondo, sebagaimana dikutip detikINET dari The Verge pada Jumat, 18 Januari 2026. Pernyataan ini secara implisit membenarkan bahwa inti permasalahan bukan pada chip GPU Nvidia itu sendiri, melainkan pada memori yang disuplai oleh pihak ketiga.

Pernyataan Nvidia ini menjadi kunci untuk memahami dinamika di balik keputusan Asus. Hardware Unboxed kemudian menegaskan bahwa penghentian produksi ini secara spesifik hanya berlaku untuk Asus, bukan seluruh mitra manufaktur Nvidia yang dikenal sebagai AIB (Add-in-Board) partner. Ini menunjukkan adanya perbedaan dalam kapasitas atau perjanjian pasokan antara Asus dan AIB partner lainnya. Mereka menambahkan bahwa ketersediaan pasokan memori bagi mitra AIB menjadi faktor penentu kelanjutan produksi. Dalam konteks ini, Asus tampaknya tidak mendapatkan suplai memori yang cukup memadai untuk mempertahankan lini produksi RTX 5070 Ti dan RTX 5060 Ti 16GB mereka, memaksa perusahaan untuk mengambil langkah drastis dengan menghentikan produksinya.

Krisis memori bukanlah fenomena baru dalam industri teknologi, namun dampaknya pada segmen kartu grafis high-end seperti RTX 50-series menunjukkan skala dan kompleksitas tantangan yang dihadapi. Kartu grafis modern, terutama untuk gaming resolusi tinggi dan aplikasi profesional, sangat bergantung pada jenis memori berkecepatan tinggi seperti GDDR6 atau GDDR6X. Memori jenis ini diproduksi oleh segelintir perusahaan besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron. Permintaan yang melonjak dari berbagai sektor lain, termasuk pusat data yang didorong oleh pertumbuhan kecerdasan buatan (AI), otomotif, dan perangkat mobile, telah menciptakan persaingan ketat untuk mendapatkan alokasi pasokan memori.

Di sisi lain, kondisi sulit yang dialami Asus tidak serta-merta berlaku untuk semua produsen. PNY, salah satu AIB partner Nvidia lainnya, justru memastikan bahwa model RTX 5070 Ti versi Dual-Slot Slim (DSS) mereka tetap sesuai jadwal dan akan mulai dikirim pada Februari. Kartu grafis PNY ini dijadwalkan akan tersedia di berbagai peritel besar seperti Best Buy, Micro Center, dan Amazon. Kontras ini menyoroti bagaimana strategi pengadaan, skala perjanjian pasokan, dan mungkin juga desain produk yang berbeda (misalnya, versi DSS mungkin memiliki kebutuhan memori yang sedikit berbeda atau PNY memiliki perjanjian jangka panjang yang lebih baik) dapat menghasilkan hasil yang sangat berbeda di tengah krisis pasokan global.

Tekanan pasokan ini disebut tidak terlepas dari krisis memori global yang lebih luas. Christopher Moore, Wakil Presiden Micron untuk pemasaran bisnis mobile dan klien, menjelaskan bahwa produsen kini berupaya keras untuk menyederhanakan variasi produk demi memaksimalkan output produksi secara keseluruhan. Pernyataan Moore menggarisbawahi tantangan teknis dan logistik dalam memproduksi berbagai konfigurasi memori. Perubahan kapasitas memori, seperti dari 12GB ke 16GB atau 24GB, meskipun terlihat sebagai peningkatan sederhana bagi konsumen, justru dapat menurunkan volume produksi secara keseluruhan. Hal ini karena setiap kapasitas membutuhkan die memori yang berbeda, proses pengujian yang disesuaikan, dan potensi yield rate (tingkat keberhasilan produksi) yang berbeda, yang pada akhirnya memperlambat alur produksi massal.

Fenomena ini juga menyoroti kerapuhan rantai pasokan semikonduktor global yang telah menjadi perhatian utama sejak pandemi COVID-19. Meskipun banyak sektor telah pulih, ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan masih terus berlanjut di segmen-segmen tertentu, seperti memori berkecepatan tinggi. Bagi konsumen, penghentian produksi oleh Asus dapat berarti ketersediaan yang lebih terbatas untuk model RTX 5070 Ti dan 5060 Ti 16GB, potensi kenaikan harga di pasar sekunder, dan ketergantungan yang lebih besar pada merek-merek lain yang masih mampu mempertahankan produksi. Ini juga bisa menjadi pendorong bagi konsumen untuk mempertimbangkan model GPU dari generasi sebelumnya atau merek lain yang menawarkan nilai dan ketersediaan yang lebih baik.

Di pasar gaming, ketersediaan kartu grafis yang konsisten adalah krusial. Penghentian produksi oleh salah satu pemain besar seperti Asus dapat mengganggu siklus peningkatan perangkat keras bagi para gamer. Hal ini juga dapat memengaruhi strategi penjualan peritel dan distributor yang harus menyesuaikan inventaris mereka dengan kondisi pasar yang bergejolak. Dalam jangka panjang, insiden ini mungkin mendorong produsen GPU dan AIB partner untuk lebih mendiversifikasi sumber pasokan memori mereka dan membangun cadangan yang lebih besar untuk menghadapi gejolak pasar di masa depan.

Perusahaan seperti Nvidia, yang berada di puncak rantai pasokan GPU, memiliki peran penting dalam memitigasi risiko ini. Komitmen mereka untuk "bekerja sama dengan pemasok untuk memaksimalkan ketersediaan memori" menunjukkan upaya proaktif untuk menstabilkan pasar. Namun, ketergantungan pada pemasok memori pihak ketiga berarti bahwa mereka juga terikat pada dinamika pasar yang lebih luas di luar kendali langsung mereka. Krisis memori yang memengaruhi Asus ini adalah pengingat nyata bahwa inovasi teknologi yang pesat selalu diiringi oleh tantangan kompleks dalam produksi dan rantai pasokan global.

Bagi Asus sendiri, keputusan ini mungkin memaksa mereka untuk mengalihkan fokus dan sumber daya ke model GPU lain yang memiliki pasokan memori yang lebih stabil, atau menunggu hingga krisis pasokan memori mereda. Ini juga bisa menjadi pelajaran berharga dalam manajemen risiko rantai pasokan dan pentingnya menjalin hubungan yang kuat dengan pemasok komponen kunci. Dampak jangka panjang pada reputasi merek Asus di segmen kartu grafis masih harus dilihat, tetapi langkah cepat untuk mengkomunikasikan status end-of-life setidaknya memberikan kejelasan bagi konsumen dan mitra bisnis mereka.

Secara keseluruhan, penghentian produksi Asus untuk RTX 5070 Ti dan RTX 5060 Ti 16GB adalah cerminan dari tantangan global yang lebih besar dalam industri semikonduktor. Meskipun chip GPU Nvidia masih melimpah, keterbatasan pasokan memori yang sangat spesifik dan berkecepatan tinggi dapat menghentikan lini produksi bahkan dari produsen kartu grafis terbesar sekalipun. Insiden ini menegaskan kembali betapa saling terhubungnya dunia teknologi modern, di mana masalah di satu segmen dapat memicu efek domino yang luas, memengaruhi ketersediaan produk, harga, dan strategi bisnis di seluruh ekosistem. Industri akan terus beradaptasi, mencari solusi inovatif untuk memperkuat rantai pasokan dan memastikan ketersediaan teknologi bagi konsumen di seluruh dunia.