0

Arsenal Bukan Lemah Mental, Cuma Payah di Depan

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Mentalitas Arsenal dalam perburuan gelar juara kembali menjadi sorotan tajam menyusul kekalahan mengejutkan dari Manchester United di Emirates Stadium. Namun, pandangan berbeda justru diutarakan oleh mantan bek legendaris Liverpool, Jamie Carragher. Menurutnya, akar permasalahan Arsenal bukanlah pada aspek mentalitas, melainkan pada kelemahan yang signifikan di lini serang mereka. Kekalahan 2-3 dari Setan Merah pada Minggu, 25 Januari 2025, kembali membuka luka lama bagi para pendukung The Gunners, yang menyaksikan tim kesayangan mereka tampil kurang greget dan tumpul di depan gawang lawan.

Ironisnya, dua gol yang berhasil dicetak Arsenal dalam pertandingan tersebut bukanlah hasil dari kreasi serangan terbuka yang memukau. Gol pertama tercipta melalui gol bunuh diri pemain Manchester United, Lisandro Martinez, dan gol kedua datang dari sepakan sudut yang berhasil dikonversi oleh Mikel Merino. Situasi ini semakin memperkuat dugaan bahwa lini serang Arsenal, yang menjadi andalan tim dalam mencetak gol, justru mengalami kebuntuan dalam permainan terbuka. Hingga saat ini, pasukan asuhan Mikel Arteta baru mampu mencetak 22 gol dari skema permainan terbuka, sebuah catatan yang menempatkan mereka di peringkat kedelapan liga dalam urusan ketajaman di lini depan. Bahkan, rekrutan ambisius di bursa transfer musim panas lalu, Viktor Gyokeres, tampaknya belum mampu memberikan dampak signifikan dalam mendongkrak daya gedor tim secara keseluruhan.

Menanggapi keraguan publik dan para penggemar Arsenal yang mulai mempertanyakan mentalitas tim dalam persaingan gelar juara, terutama setelah kegagalan meraih kemenangan dalam tiga pertandingan terakhir Liga Inggris, Jamie Carragher dengan tegas menyatakan bahwa problem utama Arsenal bukanlah mental. Ia berpendapat, "Menurut saya Arsenal tidak kurang kekuatan mental, mereka itu kekurangan kualitas di lini serang. Apakah mereka punya superstar sungguhan di depan?" Pernyataan ini mencerminkan keyakinannya bahwa untuk bisa bersaing di level tertinggi dan meraih gelar juara, sebuah tim membutuhkan individu-individu penyerang kelas dunia yang mampu menciptakan perbedaan di saat-saat krusial.

Carragher melanjutkan analisisnya dengan mengungkapkan pandangan yang telah lama dimilikinya mengenai Arsenal. "Saya sudah selalu punya perasaan ini selama beberapa tahun terkait Arsenal dan saya merasa itu adalah alasan mereka tidak berhasil memenangi Premier League," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan Sky Sports. Ia membandingkan Arsenal dengan tim-tim elit lainnya di Premier League, seperti Liverpool dan Manchester City, yang memiliki pemain-pemain penyerang yang mampu secara konsisten mendatangkan gol dan memenangkan pertandingan. "Anda memikirkan apa yang Mo Salah lakukan buat Liverpool musim lalu, yang Erling Haaland atau Kevin de Bruyne lakukan di Manchester City. Arsenal kekurangan pemain tipe itu," tegasnya.

Lebih lanjut, Carragher menyentil persepsi mengenai perkembangan Arsenal dalam beberapa musim terakhir. Ia berargumen bahwa peningkatan performa Arsenal mungkin tidak sebesar yang dibayangkan banyak orang, melainkan justru tim-tim pesaing kuat seperti Manchester City dan Liverpool yang mengalami sedikit penurunan performa. "Saya tidak serta merta berpikir Arsenal telah jauh membaik dalam beberapa tahun terakhir, saya justru berpikir Manchester City dan Liverpool yang mengalami penurunan," ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam konteks persaingan liga yang ketat, sedikit saja penurunan dari tim-tim mapan dapat membuka peluang bagi tim lain untuk mendekat.

Meskipun demikian, Carragher tetap memberikan apresiasi terhadap kualitas tim Arsenal secara keseluruhan. Ia mengakui bahwa Arsenal masih merupakan tim yang kuat dan memiliki potensi besar. "Saya masih berpikir Arsenal akan memenangkan liga dan merupakan tim terbaik, tetapi mereka memang kekurangan kualitas kelas dunia sejati di lini depan," imbuhnya, menutup pandangannya sebagai seorang komentator yang tajam dan objektif. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa dengan sedikit perbaikan pada lini serang, Arsenal memiliki peluang yang sangat besar untuk mengakhiri dahaga gelar Premier League mereka. Fokus pada penguatan sektor penyerangan, baik melalui rekrutmen pemain baru yang berkualitas maupun pengembangan talenta yang sudah ada, akan menjadi kunci utama bagi Mikel Arteta dan jajaran manajemen Arsenal untuk mewujudkan ambisi juara mereka di masa mendatang.

Analisis Jamie Carragher ini memberikan perspektif yang berbeda mengenai kesulitan Arsenal. Alih-alih menyalahkan mentalitas yang rapuh, ia menyoroti kelemahan fundamental dalam skuad, yaitu kurangnya pemain penyerang yang memiliki kemampuan individu luar biasa. Dalam sepak bola modern, di mana pertandingan seringkali ditentukan oleh momen-momen magis dari pemain bintang, kehadiran striker atau penyerang sayap yang mampu menciptakan gol dari situasi sulit menjadi sangat krusial. Tanpa pemain semacam itu, bahkan tim yang bermain apik secara kolektif dan memiliki mentalitas yang kuat pun akan kesulitan untuk mengungguli lawan-lawannya, terutama dalam liga yang sangat kompetitif seperti Premier League.

Kekalahan dari Manchester United ini menjadi pengingat yang keras bagi Arsenal. Meskipun performa mereka secara keseluruhan seringkali memukau dan mereka mampu mendominasi penguasaan bola, efektivitas dalam penyelesaian akhir tetap menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan. Mikel Arteta, yang dikenal sebagai pelatih yang detail dan berorientasi pada taktik, perlu mencari solusi inovatif untuk mengatasi kebuntuan di lini serang. Hal ini bisa berarti mencari penyerang baru yang memiliki rekam jejak terbukti di level tertinggi, atau mencoba pendekatan taktis yang berbeda untuk memaksimalkan potensi pemain-pemain yang sudah ada.

Pentingnya seorang penyerang kelas dunia dalam perburuan gelar juara tidak bisa diremehkan. Mo Salah di Liverpool, Erling Haaland dan Kevin De Bruyne di Manchester City, adalah contoh nyata bagaimana seorang individu dapat mengangkat performa tim secara keseluruhan dan menjadi pembeda dalam pertandingan-pertandingan penting. Mereka bukan hanya mencetak gol, tetapi juga memberikan inspirasi, kepercayaan diri, dan ketenangan bagi rekan-rekan setimnya. Arsenal, dengan ambisi besar mereka, perlu berinvestasi pada pemain yang memiliki kualitas serupa jika mereka benar-benar ingin bersaing secara konsisten di puncak klasemen dan mengakhiri penantian panjang gelar Premier League.

Selain itu, penting juga untuk dicatat bahwa persaingan di Premier League semakin ketat. Tim-tim lain terus berbenah dan meningkatkan kualitas skuad mereka. Pernyataan Carragher bahwa Manchester City dan Liverpool mungkin mengalami sedikit penurunan justru membuka peluang bagi tim-tim lain, termasuk Arsenal, untuk merebut tahta. Namun, peluang ini hanya akan menjadi kenyataan jika Arsenal mampu mengatasi kelemahan mereka sendiri. Fokus pada penguatan lini serang, tanpa mengabaikan aspek pertahanan dan lini tengah, akan menjadi kunci untuk meraih kesuksesan jangka panjang.

Perlu diingat bahwa analisis Jamie Carragher, meskipun tajam, adalah sebuah opini dari seorang pengamat sepak bola. Keputusan strategis dan operasional tetap berada di tangan manajemen Arsenal dan staf pelatih. Namun, pandangan dari figur seperti Carragher patut dijadikan bahan pertimbangan serius. Kegagalan Arsenal untuk meraih kemenangan dalam tiga laga terakhir Premier League, ditambah dengan pola permainan yang kurang efektif di lini depan, menunjukkan adanya masalah yang perlu segera diatasi.

Pertanyaan mengenai "apakah Arsenal punya superstar sungguhan di depan?" akan terus menghantui klub jika tidak ada langkah konkret yang diambil. Para penggemar berhak menuntut lebih, dan manajemen Arsenal memiliki tanggung jawab untuk memenuhi ekspektasi tersebut. Apakah ini berarti pembelian besar di jendela transfer berikutnya, atau pengembangan pemain muda yang berpotensi menjadi bintang masa depan, waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal yang pasti, Arsenal perlu membuktikan bahwa mereka bukan hanya tim yang bermain baik, tetapi juga tim yang mampu memenangkan pertandingan secara konsisten, terutama ketika kesempatan untuk meraih gelar juara sudah di depan mata.

Dengan semakin dalamnya analisis, terlihat bahwa kelemahan Arsenal di lini depan adalah sebuah isu multifaset yang memerlukan perhatian serius. Ini bukan hanya soal statistik gol, tetapi juga soal kemampuan menciptakan peluang, efektivitas dalam penyelesaian akhir, dan kehadiran pemain yang mampu menjadi pembeda. Jika Arsenal mampu mengatasi tantangan ini, maka mimpi mereka untuk kembali menjadi juara Premier League akan semakin mendekati kenyataan.