0

Ariyo Wahab Tak Tuntut Istri Kerja Keras Demi Punya Barang Mewah

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di tengah maraknya perbincangan di media sosial mengenai dinamika pengelolaan keuangan rumah tangga, terutama isu suami yang menuntut istri untuk bekerja demi memenuhi keinginan pribadi, musisi dan aktor Ariyo Wahab angkat bicara. Vokalis kenamaan dari band The Dance Company ini menegaskan prinsip ‘satu kantong’ yang dianutnya dalam berumah tangga. Baginya, seluruh penghasilan yang diperoleh baik oleh suami maupun istri merupakan rezeki bersama yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga tanpa terkotak-kotak.

"Kalau aku lebih melihat rezeki yang kita dapetin, suami sama istriku itu ya rezeki kita sama-sama. Jadi kalau memang mau dipakai untuk kebutuhan apa pun ya monggo," ungkap Ariyo Wahab saat ditemui di kawasan Studio Pagi-Pagi Ambyar TTV, Kapten P Tendean, pada Kamis (8/1/2026). Pernyataan ini secara tegas menolak gagasan bahwa istri harus berjuang keras mencari penghasilan sendiri untuk dapat menikmati barang-barang mewah atau memenuhi keinginan pribadinya. Sebaliknya, Ariyo justru sepenuhnya mempercayakan pengelolaan keuangan rumah tangga kepada sang istri, bahkan memberinya julukan ‘Menteri Keuangan’ di rumah.

Ariyo Wahab dengan santai menjelaskan bahwa perannya dalam urusan keuangan rumah tangga sebatas bekerja dan mentransfer penghasilannya. Ia tidak terlalu ambil pusing mengenai detail pengeluaran, asalkan jatah uang jajannya sebagai suami tetap terpenuhi. "Kan yang ngatur keuangan, menteri keuangannya istri. Aku cuma kerja, transfer. Aku cuma yang penting kasih aku uang jajan, ya selebihnya istri yang ngatur sudah," tuturnya dengan raut wajah lega. Filosofi ini mencerminkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap pasangannya dalam mengelola sumber daya finansial keluarga secara bijak dan efektif.

Perubahan prioritas dalam hal keuangan ini, menurut pengakuan Ariyo, menjadi semakin signifikan setelah kehadiran anak-anak dalam keluarganya. Jika di masa lalu ia mungkin masih memiliki ketertarikan pada barang-barang bermerek atau barang mahal, kini fokusnya telah bergeser secara drastis. Pendidikan dan berbagai kebutuhan anak-anak telah menjadi prioritas utama yang menempati urutan teratas dalam daftar alokasi dana keluarga. "Kalau sekarang kan sudah punya anak kayaknya prioritasnya sudah lebih beda ya. Mendingan lebih untuk anak-anak, sekolahnya, terus segala macam," pungkasnya, menunjukkan kedewasaan dan tanggung jawab yang semakin matang sebagai seorang ayah.

Pandangan Ariyo Wahab ini sejalan dengan konsep keuangan rumah tangga yang menekankan kemitraan dan transparansi. Dalam sebuah hubungan pernikahan, kesepakatan mengenai pengelolaan keuangan sangatlah krusial. Ada berbagai model yang dapat diterapkan, mulai dari menggabungkan seluruh penghasilan menjadi satu rekening bersama, memisahkan penghasilan namun dengan kesepakatan pembagian tugas dan tanggung jawab, hingga model campuran yang disesuaikan dengan dinamika dan kesepakatan kedua belah pihak. Prinsip ‘satu kantong’ yang dianut Ariyo ini merupakan salah satu pendekatan yang paling umum dan seringkali efektif dalam membangun fondasi keuangan yang kokoh dalam pernikahan.

Model ‘satu kantong’ ini didasarkan pada asumsi bahwa suami dan istri adalah satu unit keluarga yang memiliki tujuan finansial bersama. Penghasilan yang diperoleh oleh masing-masing individu dianggap sebagai kontribusi untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian, keputusan mengenai pengeluaran, tabungan, investasi, dan bahkan pengadaan barang mewah, akan dibahas dan diputuskan bersama. Hal ini meminimalisir potensi konflik yang timbul akibat perbedaan prioritas atau rasa ketidakadilan dalam penggunaan dana.

Kepercayaan Ariyo Wahab kepada istrinya sebagai ‘Menteri Keuangan’ juga menunjukkan adanya pembagian peran yang jelas dalam rumah tangga. Meskipun ia menyerahkan kendali operasional pengelolaan keuangan kepada istrinya, bukan berarti ia lepas tangan sepenuhnya. Tanggung jawab utamanya adalah bekerja untuk menghasilkan pendapatan, dan ia memastikan bahwa aliran dana tersebut tersalurkan. Sementara itu, istrinya memiliki otoritas untuk merencanakan, mengalokasikan, dan mengelola dana tersebut sesuai dengan kebutuhan dan tujuan keluarga. Pembagian peran yang sehat seperti ini dapat mengurangi beban mental bagi kedua belah pihak dan meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan keuangan.

Pergeseran prioritas Ariyo Wahab pasca memiliki anak juga merupakan fenomena yang umum terjadi pada banyak orang tua. Kehadiran anak membawa tanggung jawab yang lebih besar dan kesadaran akan pentingnya masa depan mereka. Pendidikan anak, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya seringkali ditempatkan di atas keinginan pribadi untuk memiliki barang-barang mewah. Hal ini bukan berarti keinginan pribadi sepenuhnya diabaikan, melainkan disesuaikan dengan kemampuan finansial dan prioritas keluarga.

Dalam konteks perbincangan viral mengenai suami yang menuntut istri bekerja demi barang mewah, pandangan Ariyo Wahab memberikan perspektif yang kontras dan positif. Ia menunjukkan bahwa kesuksesan finansial dalam pernikahan tidak selalu diukur dari seberapa keras seorang istri bekerja untuk memenuhi keinginan suaminya atau sebaliknya. Melainkan, dari bagaimana kedua belah pihak dapat bekerja sama, saling percaya, dan mengelola sumber daya yang ada secara bijak demi kesejahteraan keluarga secara keseluruhan.

Menyikapi isu tersebut, penting bagi setiap pasangan untuk berkomunikasi secara terbuka mengenai keuangan mereka. Diskusi mengenai tujuan finansial, cara mengelola uang, dan pembagian tanggung jawab adalah langkah awal yang krusial. Jika ada perbedaan pandangan, mencari titik temu dan kesepakatan bersama adalah kunci. Jika kesulitan dalam mengelola keuangan atau menyelesaikan konflik, berkonsultasi dengan penasihat keuangan atau konselor pernikahan bisa menjadi solusi.

Penting juga untuk diingat bahwa definisi ‘barang mewah’ dapat bervariasi bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, barang mewah mungkin berupa mobil sport atau perhiasan mahal. Namun, bagi yang lain, barang mewah bisa jadi adalah liburan keluarga yang berkesan, investasi pendidikan anak yang berkualitas, atau bahkan sekadar waktu berkualitas bersama keluarga tanpa beban finansial. Kuncinya adalah kesepakatan dan pemahaman bersama mengenai apa yang dianggap berharga oleh keluarga.

Kasus seperti yang diungkapkan Ariyo Wahab ini memberikan gambaran bahwa ada banyak cara untuk membangun rumah tangga yang harmonis dan sejahtera secara finansial. Kuncinya terletak pada komunikasi, kepercayaan, saling pengertian, dan tujuan bersama. Dengan prinsip ‘satu kantong’ dan pembagian peran yang jelas, serta prioritas yang disesuaikan dengan tahap kehidupan, sebuah keluarga dapat mengelola keuangan mereka dengan lebih efektif dan bahagia, tanpa perlu ada tuntutan berlebihan yang dapat merusak keharmonisan hubungan.

Pada akhirnya, pengelolaan keuangan rumah tangga yang sehat adalah cerminan dari kekuatan hubungan pernikahan itu sendiri. Ketika suami dan istri dapat bekerja sama sebagai tim, saling mendukung, dan berkomitmen pada tujuan bersama, mereka akan lebih mampu menghadapi tantangan finansial dan mencapai kesejahteraan yang berkelanjutan. Ariyo Wahab, dengan prinsipnya yang sederhana namun mendalam, telah memberikan contoh nyata bagaimana kemitraan finansial yang sehat dapat dibangun, yang mengutamakan kebersamaan dan kesejahteraan keluarga di atas segala-galanya. Ini adalah pesan penting yang dapat dipelajari dan diterapkan oleh banyak pasangan di luar sana.