BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Debut Alvaro Arbeloa sebagai pelatih Real Madrid U-19 harus berakhir dengan noda memalukan. Sang mantan bek legendaris Los Blancos ini harus menelan pil pahit kekalahan 2-3 dari tim divisi dua, Albacete, dalam laga babak 16 besar Copa del Rey yang digelar di Stadium Carlos Belmonte pada Kamis (15/1/2026) dini hari WIB. Kekalahan ini tidak hanya mengakhiri langkah Madrid di kompetisi tersebut, tetapi juga mengulang catatan buruk yang pernah dialami oleh Julen Lopetegui, pelatih yang juga merasakan kekalahan di laga debutnya memimpin tim utama Real Madrid.
Perjalanan Arbeloa di bangku kepelatihan Madrid dimulai dengan harapan tinggi, menggantikan Xabi Alonso yang sebelumnya memegang tongkat estafet. Namun, realitas lapangan ternyata lebih kejam. Sejak awal pertandingan, Madrid terlihat kesulitan menembus pertahanan solid Albacete. Tuan rumah berhasil unggul lebih dulu melalui gol Javi Villar pada menit ke-42, membuat para pendukung Madrid di tribun menahan napas. Skor 1-0 untuk Albacete bertahan hingga jeda babak pertama.
Memasuki babak kedua, Real Madrid mencoba bangkit. Franco Mastantuono berhasil menyamakan kedudukan di menit ke-48, memberikan secercah harapan bagi tim tamu. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Albacete, yang tampil tanpa beban dan dengan semangat juang tinggi, kembali memberikan kejutan. Jefte Betancor mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-82, membawa Albacete kembali unggul 2-1.
Saat pertandingan seolah akan berakhir dengan kemenangan tipis tuan rumah, Real Madrid kembali menunjukkan taringnya. Gonzalo Garcia berhasil menyamakan skor menjadi 2-2 di menit 90+1, seolah memaksa pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Namun, takdir berkata lain. Di menit-menit akhir yang menegangkan, Jefte Betancor tampil sebagai pahlawan bagi Albacete. Gol keduanya tercipta pada menit ke-90+4, memastikan kemenangan dramatis 3-2 bagi Albacete dan membuat Real Madrid tersingkir secara menyakitkan dari Copa del Rey.
Kekalahan ini menjadi sorotan utama, tidak hanya karena Madrid tersingkir dari tim yang secara kasta lebih rendah, tetapi juga karena momen debut Arbeloa yang begitu kontras dengan harapan. Ia harus masuk dalam daftar pelatih yang mengalami kekalahan di laga perdana mereka bersama Real Madrid. Sejarah mencatat, Julen Lopetegui adalah sosok terakhir yang merasakan hal serupa. Pada tahun 2018, Lopetegui memulai debutnya bersama tim utama Real Madrid dengan kekalahan 2-4 dari Atletico Madrid dalam ajang Piala Super Spanyol.
Analisis lebih mendalam menunjukkan betapa sulitnya mengawali karier kepelatihan di klub sebesar Real Madrid. Dari sepuluh pelatih terakhir yang memimpin Los Blancos, hanya Arbeloa dan Lopetegui yang langsung menelan kekalahan di pertandingan debut mereka. Dibandingkan dengan nama-nama besar seperti Jose Mourinho dan Xabi Alonso yang mampu meraih hasil imbang, serta Rafael Benitez, Zinedine Zidane, Santiago Solari, dan Carlo Ancelotti yang berhasil meraih kemenangan, catatan Arbeloa jelas sangat memprihatinkan.
Hasil yang mengecewakan ini semakin menambah tekanan pada Real Madrid. Setelah sebelumnya menelan kekalahan di final Piala Super Spanyol dari rival abadi mereka, Barcelona, tersingkirnya Madrid dari Copa del Rey ini menyisakan dua kompetisi utama yang harus mereka perjuangkan: LaLiga dan Liga Champions. Kegagalan di Copa del Rey ini tentu menjadi pukulan telak bagi mental tim dan para penggemar, yang berharap banyak pada skuad asuhan Arbeloa untuk setidaknya memberikan perlawanan lebih baik.
Perlu diingat bahwa Arbeloa sendiri adalah sosok yang sangat dicintai oleh para penggemar Real Madrid. Sebagai mantan pemain yang telah memberikan kontribusi besar bagi klub, ekspektasi terhadapnya cukup tinggi. Namun, sepak bola seringkali tidak mengenal sentimen. Kemampuan taktis dan manajemen tim di lapangan adalah kunci utama. Kekalahan ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi Arbeloa dalam perjalanannya sebagai seorang pelatih. Ia harus segera mengevaluasi performa tim, menemukan kelemahan, dan memotivasi para pemainnya untuk bangkit dari keterpurukan ini.
Kekalahan di Copa del Rey ini juga dapat dilihat sebagai cerminan dari tantangan yang dihadapi oleh Madrid di awal tahun 2026. Kehilangan pemain kunci atau performa yang belum stabil bisa menjadi faktor penentu. Namun, sebagai klub sebesar Real Madrid, selalu ada tekanan untuk meraih kemenangan di setiap pertandingan. Momen-momen seperti ini seringkali menjadi ujian sesungguhnya bagi sebuah tim dan pelatihnya.
Para analis sepak bola akan terus membedah jalannya pertandingan, mencari tahu faktor-faktor apa saja yang menyebabkan Madrid tampil kurang maksimal. Apakah ada kesalahan dalam pemilihan strategi, ataukah kualitas permainan individu pemain yang belum sesuai harapan? Pertanyaan-pertanyaan ini akan terus mengemuka seiring dengan berjalannya waktu.
Bagi Arbeloa, debut yang memalukan ini harus menjadi cambuk untuk berbenah. Pengalaman pahit ini setidaknya memberinya pelajaran berharga tentang kerasnya dunia kepelatihan di level tertinggi. Ia perlu membuktikan bahwa kekalahan ini hanyalah sebuah insiden dan bukan gambaran dari kemampuannya secara keseluruhan. Dukungan dari klub dan para penggemar akan sangat krusial baginya untuk bisa bangkit dan memberikan yang terbaik di sisa musim ini.
Perjalanan Real Madrid di musim 2026 masih panjang, dan mereka harus segera menunjukkan reaksi positif pasca-kekalahan ini. Fokus harus dialihkan sepenuhnya ke LaLiga dan Liga Champions, dua kompetisi yang akan menentukan keberhasilan mereka di akhir musim. Arbeloa memiliki tugas berat untuk mengembalikan kepercayaan diri tim dan mengembalikan performa Real Madrid ke jalur yang seharusnya. Kekalahan ini memang memalukan, tetapi justru dari momen-momen sulit inilah sebuah tim dan pelatih bisa membuktikan diri mereka.
Pertandingan melawan Albacete ini menjadi catatan kelam dalam sejarah debut kepelatihan Arbeloa di Real Madrid. Namun, seperti pepatah yang mengatakan, "Setelah badai pasti berlalu." Arbeloa harus belajar dari kesalahan ini dan menjadikan pengalaman pahit ini sebagai batu loncatan untuk meraih kesuksesan di masa depan. Real Madrid, sebagai klub raksasa, tidak pernah berhenti berjuang, dan Arbeloa kini dituntut untuk memimpin perjuangan tersebut.
Kisah kekalahan debut Arbeloa ini akan menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar sepak bola. Perbandingan dengan debut Lopetegui akan terus menghiasi pemberitaan, seolah menjadi pengingat bahwa perjalanan di dunia kepelatihan selalu penuh dengan tantangan yang tak terduga. Namun, di balik semua itu, ada harapan besar bahwa Arbeloa dapat bangkit dan membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih yang mampu membawa Real Madrid meraih kejayaan. (yna/mrp)

