0

Apriyani Rahayu Sambut Positif Tantangan Main Rangkap di Usia Senior: "Usia Hanya Angka, Selagi Bisa Kenapa Tidak?"

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – PBSI kembali menggebrak strategi dengan menerapkan sistem pemain rangkap, kali ini menyasar dua nama senior yang telah malang melintang di dunia bulu tangkis Indonesia, yaitu Apriyani Rahayu dan Lanny Tria Mayasari. Keputusan ini bukan sekadar eksperimen biasa, melainkan sebuah langkah strategis yang bertujuan untuk menggali potensi tersembunyi dan memberikan pengalaman berharga bagi para atlet. Apriyani Rahayu, yang notabene telah meraih puncak karier sebagai peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020, menunjukkan sikap terbuka dan antusiasme yang tinggi terhadap kesempatan ini, meski usianya kini telah memasuki kategori senior. Ia tidak melihat batasan usia sebagai penghalang, melainkan sebagai motivasi tambahan untuk terus berkontribusi dan mengembangkan kemampuannya.

Dalam ajang BWF Tour Super 100 China Masters 2026 yang akan diselenggarakan pada 10-15 Maret mendatang, Apriyani dan Lanny akan turun di dua sektor berbeda. Apriyani akan dipasangkan dengan Taufik Aderya di sektor ganda campuran, sementara Lanny akan berpasangan dengan Daniel Edgar Marvino, juga di sektor ganda campuran. Pembagian ini tentu menarik perhatian, terutama bagi Apriyani yang telah lama dikenal sebagai spesialis ganda putri. Namun, dengan tegas ia menyatakan kesiapannya. "Usia hanya angka. Tidak ada sih. Saya cukup mau menikmati saja. Dan tidak mau berpatokan dengan umur saya sih. Maksudnya selagi saya bisa, ya kenapa enggak? Selagi saya dikasih kepercayaan, ya kenapa enggak? Jadi ya sudah, so happy," ungkap Apriyani dengan penuh keyakinan kepada awak media di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur. Pernyataan ini mencerminkan mentalitas juara yang tidak pernah padam, bahkan ketika dihadapkan pada tantangan baru yang mungkin dianggap di luar zona nyaman.

Bagi Apriyani, gagasan untuk bermain di dua sektor sekaligus bukanlah hal yang mustahil untuk dijalani secara seimbang. Ia bertekad untuk memberikan fokus penuh pada kedua pasangan dan kedua sektor yang akan diikutinya. "Ya pasti selagi saya dikasih main dua, saya akan fokus ke dua-duanya juga. Enggak ada yang kayak pas ini, lepas ini. Jadi kayak memang sudah dari pelatih juga ngomong kayak gitu," jelasnya, menegaskan komitmennya untuk menjalankan instruksi pelatih dengan sebaik-baiknya. Ini menunjukkan kedewasaannya sebagai atlet, di mana ia mampu menempatkan kepentingan tim dan program pembinaan di atas ambisi pribadi semata. Kemampuannya untuk beradaptasi dan tetap berprestasi di berbagai situasi akan menjadi kunci keberhasilan dalam program ini.

Sementara itu, Kabid Binpres PBSI, Eng Hian, memberikan penjelasan mendalam mengenai alasan di balik penerapan strategi pemain rangkap ini, khususnya untuk Apriyani dan Lanny di Ruichang China Masters Super 100. Menurutnya, langkah ini merupakan bagian integral dari program penjajakan potensi atlet untuk masa depan. "Dengan bermain rangkap, kami bisa melihat potensi lain yang mungkin keluar dari atlet-atlet tersebut," ujar Eng Hian dalam keterangan tertulisnya melalui federasi. Ini adalah kesempatan emas bagi Apriyani dan Lanny untuk mengeksplorasi kemampuan mereka di sektor yang berbeda, yang mungkin selama ini belum terasah sepenuhnya. Eksplorasi ini tidak hanya bermanfaat bagi mereka secara individu, tetapi juga bagi tim nasional secara keseluruhan, karena dapat menciptakan opsi-opsi baru yang lebih kaya dalam komposisi pemain.

Lebih lanjut, Eng Hian menambahkan bahwa penerapan pemain rangkap ini juga memiliki tujuan untuk pengembangan atlet-atlet muda yang dipasangkan dengan Apriyani dan Lanny. Daniel Edgar Marvino dan Taufik Aderya, sebagai pemain yang lebih muda, akan memiliki kesempatan emas untuk menimba ilmu dan pengalaman langsung dari dua atlet senior yang sudah terbukti kualitasnya. "Selain itu, Daniel dan Taufik bisa menimba ilmu dan pengalaman dari Apri/Lanny yang sudah lebih senior," katanya. Interaksi langsung dengan pemain berpengalaman seperti Apriyani dan Lanny diharapkan dapat mempercepat proses pembelajaran mereka, baik dari segi teknik, taktik, maupun mental bertanding. Ini adalah bentuk regenerasi yang cerdas, di mana senioritas menjadi mentor bagi generasi penerus.

Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bermain kedua sektor bagi para atlet yang terlibat. Pengembangan kemampuan bermain di dua sektor yang berbeda akan membawa dampak positif yang signifikan bagi perkembangan mereka. "Pengembangan kemampuan bermain di dua sektor juga akan membawa dampak positif bagi mereka," tegas Eng Hian. Kemampuan bermain di ganda putri dan ganda campuran menuntut adaptasi yang berbeda, baik dari segi pola permainan, strategi, maupun kerjasama dengan pasangan. Dengan terbiasa bermain di kedua sektor, atlet akan menjadi lebih fleksibel dan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif tentang berbagai aspek permainan bulu tangkis. Fleksibilitas ini sangat penting dalam kompetisi tingkat internasional yang seringkali menuntut tim untuk memiliki opsi yang beragam.

Usia 27 tahun yang kini disandang oleh Apriyani Rahayu memang bisa dikategorikan sebagai usia matang bagi seorang atlet bulu tangkis. Namun, semangat juang dan determinasi yang ia tunjukkan justru membuktikan bahwa usia bukanlah batasan yang absolut untuk terus berprestasi dan bereksplorasi. Pengalaman yang telah ia kumpulkan selama bertahun-tahun, termasuk medali emas Olimpiade, menjadi modal berharga yang akan ia gunakan untuk menghadapi tantangan baru ini. Ia telah membuktikan bahwa dengan latihan yang tepat, mental yang kuat, dan dukungan dari federasi, atlet senior pun masih bisa memberikan kontribusi yang signifikan dan bahkan menemukan potensi baru dalam dirinya.

Keputusan PBSI untuk menerapkan pemain rangkap ini juga dapat dilihat sebagai upaya untuk menjaga intensitas kompetisi internal dan memberikan kesempatan yang lebih merata bagi para atlet untuk menunjukkan kemampuannya. Dengan adanya dinamika baru seperti ini, diharapkan para atlet akan terus termotivasi untuk berlatih lebih keras dan meningkatkan kualitas permainan mereka. Selain itu, strategi ini juga berpotensi menghasilkan kombinasi pasangan yang kuat dan tak terduga di masa depan, yang dapat membawa angin segar bagi performa tim nasional bulu tangkis Indonesia di kancah internasional.

Peran Apriyani dan Lanny sebagai pemain senior dalam program ini sangat krusial. Mereka tidak hanya dituntut untuk memberikan performa terbaik di lapangan, tetapi juga menjadi inspirasi dan panutan bagi para pemain yang lebih muda. Kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan cepat, menghadapi tekanan pertandingan, dan menjaga mentalitas positif akan menjadi pelajaran berharga bagi Taufik Aderya dan Daniel Edgar Marvino. Kolaborasi antara generasi senior dan junior ini diharapkan akan menciptakan sinergi yang kuat dan positif, yang akan membawa dampak jangka panjang bagi perkembangan bulu tangkis Indonesia.

Turnamen BWF Tour Super 100 China Masters 2026 menjadi ajang uji coba yang strategis untuk mengevaluasi efektivitas program ini. Keberhasilan Apriyani dan Lanny dalam menjalankan peran rangkap mereka akan menjadi tolok ukur penting bagi PBSI untuk merencanakan strategi serupa di masa mendatang. Dukungan penuh dari pelatih, ofisial, dan para penggemar bulu tangkis tentu akan menjadi suntikan semangat bagi mereka untuk memberikan yang terbaik.

Sebagai penutup, semangat Apriyani Rahayu yang menyatakan bahwa "usia hanya angka" patut diapresiasi. Ini adalah cerminan dari dedikasi dan kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Dengan keberaniannya menerima tantangan baru ini, Apriyani tidak hanya membuka peluang baru bagi dirinya sendiri, tetapi juga memberikan inspirasi bagi banyak atlet muda untuk tidak pernah berhenti bermimpi dan berjuang, terlepas dari usia atau keterbatasan yang mungkin mereka hadapi. Program pemain rangkap ini menjadi bukti komitmen PBSI untuk terus berinovasi dan mengembangkan potensi atletnya demi kejayaan bulu tangkis Indonesia di masa depan.