BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Selebritas dan pengusaha sukses, Apris Devita, baru-baru ini memberikan bantahan tegas terkait isu yang beredar mengenai status pernikahan suaminya, aktor Guntur Triyoga. Dalam sebuah klarifikasi yang disampaikan melalui media sosialnya, Apris Devita menegaskan bahwa suaminya tidak pernah memiliki ikatan pernikahan dengan Delia Yasmine, baik secara hukum maupun agama. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap beberapa komentar negatif dari warganet yang menuduhnya sebagai perusak rumah tangga orang lain. Salah satu komentar yang menarik perhatian Apris berbunyi, "Terkait dia perusak atau nggk nya biar itu urusan dia sama allah… tp aku suka sama kluarga mereka yg kompak gini," yang dilontarkan oleh seorang netizen di akun TikTok Apris Devita. Komentar tersebut mengindikasikan adanya kesalahpahaman atau informasi yang salah yang beredar di kalangan publik.
Menanggapi komentar tersebut, Apris Devita dengan sabar memberikan penjelasan. "Hai Yulinar, Salam Kenal. Pada saat saya menikah dengan suami saya, beliau tidak memiliki status pernikahan dengan siapa pun, bahkan belum pernah menikah baik secara hukum maupun agama. Semoga ke depannya kita semua bisa lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, agar tidak terjadi kesalahpahaman. Terima kasih," ujar Apris Devita, yang juga dikenal sebagai pemilik Alesha Global Group dan GA Corporation. Klarifikasi ini sangat penting untuk meluruskan narasi yang keliru dan melindungi reputasi dirinya serta keluarganya. Ia menekankan pentingnya verifikasi informasi sebelum menyebarkannya agar tidak menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan.
Lebih lanjut, Apris Devita menjelaskan bahwa ia tidak memiliki hubungan pertemanan atau bahkan mengenal Delia Yasmine, sosok yang sering dikaitkan dengan suaminya. Ia memaparkan kronologi bagaimana tuduhan tersebut bisa muncul. "Saya perlu meluruskan bahwa saya tidak mengenal dan tidak pernah memiliki hubungan pertemanan dengan pihak yang disebutkan. Undangan acara tersebut sepenuhnya melalui tim saya kepada Guntur Triyoga. Saya pribadi tidak memiliki komunikasi maupun kedekatan dengan yang bersangkutan. Pada saat itu, saya mendapat informasi bahwa beliau ingin turut hadir dan bahkan menyampaikan kepada pihak lain seolah-olah mengenal saya. Padahal faktanya, saya tidak pernah berinteraksi sebelumnya," urai Apris Devita. Penjelasan ini mengindikasikan adanya potensi kesalahpahaman yang dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menciptakan isu.
Apris Devita juga menyoroti kejadian di acara grand opening di mana Guntur Triyoga meminta berfoto bersamanya. "Di acara grand opening, yang bersangkutan meminta foto bersama. Sebagai tuan rumah, tentu saya menerima siapa pun yang ingin berfoto sebagai bentuk keramahan. Namun sangat disayangkan jika foto tersebut kemudian digunakan untuk membangun opini atau tuduhan yang tidak benar. Saya berharap setelah klarifikasi ini, tidak ada lagi asumsi yang diarahkan kepada saya. Mari kita sama-sama menjaga etika dan kedewasaan," tegasnya. Sikap ramah sebagai tuan rumah yang seharusnya diapresiasi justru disalahartikan dan dijadikan dasar untuk menyebarkan fitnah. Apris Devita berharap agar kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi informasi dan tidak mudah menghakimi orang lain berdasarkan rumor semata.
Sebagai informasi tambahan, Guntur Triyoga dan Apris Devita resmi menikah pada tanggal 1 Desember 2019. Pernikahan mereka telah dikaruniai empat orang anak, yang menunjukkan bahwa keluarga mereka telah terbentuk dan berjalan harmonis. Pernyataan Apris Devita ini bukan hanya sekadar bantahan, tetapi juga upaya untuk menjaga keutuhan rumah tangganya dari serangan isu-isu negatif yang tidak berdasar. Ia juga ingin memberikan edukasi kepada publik mengenai pentingnya literasi digital dan sikap kritis dalam menerima informasi. Di era digital yang serba cepat, penyebaran informasi yang akurat dan bertanggung jawab menjadi sebuah keharusan.
Dalam konteks ini, penting untuk memahami bahwa pernikahan Guntur Triyoga dan Apris Devita adalah sebuah fakta yang terverifikasi, terlepas dari rumor atau tuduhan yang dilontarkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Apris Devita, sebagai seorang pengusaha yang sukses dan figur publik, memiliki hak untuk membela diri dan keluarganya dari fitnah. Klarifikasinya ini menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam menghadapi situasi yang sulit, serta komitmennya untuk menjaga nama baik keluarga. Ia juga menggarisbawahi pentingnya membangun hubungan yang didasarkan pada kejujuran dan transparansi, bukan pada asumsi atau gosip.
Dampak dari penyebaran informasi yang salah bisa sangat merusak, tidak hanya bagi individu yang menjadi target, tetapi juga bagi tatanan sosial secara keseluruhan. Tuduhan tanpa dasar dapat menciptakan ketidakpercayaan, permusuhan, dan bahkan memicu perundungan siber. Oleh karena itu, sikap Apris Devita dalam mengklarifikasi isu ini patut diapresiasi. Ia tidak hanya membantah tuduhan tersebut, tetapi juga memberikan penjelasan yang logis dan terperinci, sehingga publik dapat memahami duduk perkara sebenarnya.
Lebih lanjut, Apris Devita mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga etika dan kedewasaan dalam berinteraksi di ruang publik, terutama di media sosial. Ini adalah seruan yang sangat relevan di tengah maraknya ujaran kebencian dan penyebaran hoaks. Dengan bersikap lebih bijak dan kritis, kita dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan konstruktif. Apris Devita telah memberikan contoh yang baik dalam hal ini, menunjukkan bahwa komunikasi yang terbuka dan jujur adalah kunci untuk menyelesaikan kesalahpahaman.
Pernikahan Guntur Triyoga dan Apris Devita yang telah dikaruniai empat orang anak adalah bukti nyata dari sebuah keluarga yang utuh dan bahagia. Pernyataan Apris Devita ini menjadi penegasan kembali atas fakta tersebut dan sekaligus menjadi penolak tegas terhadap segala bentuk narasi negatif yang mencoba merusak keharmonisan keluarganya. Melalui klarifikasi ini, Apris Devita berharap agar publik dapat melihat fakta yang sebenarnya dan berhenti menyebarkan informasi yang tidak benar. Ia juga menekankan bahwa setiap individu berhak mendapatkan privasi dan tidak menjadi korban dari fitnah yang tidak berdasar. Keberanian Apris Devita dalam menghadapi isu ini patut diapresiasi dan menjadi contoh bagi banyak orang yang mungkin mengalami situasi serupa. Ia telah menunjukkan bahwa dengan kejujuran, ketegasan, dan komunikasi yang baik, kesalahpahaman dapat diatasi dan kebenaran dapat ditegakkan.

