Laporan terbaru dari Counterpoint Research untuk pengapalan smartphone global tahun 2025 telah menggarisbawahi pergeseran signifikan dalam lanskap industri, dengan Apple secara mengejutkan muncul sebagai pemimpin pasar. Dominasi perusahaan teknologi asal Cupertino ini menandai era baru, di mana pertumbuhan penjualan iPhone yang mencapai 10% menjadi katalis utama, sekaligus mendorong pertumbuhan pasar ponsel global secara keseluruhan sebesar 2%. Hasil ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari strategi produk yang matang, daya tarik merek yang kuat, dan kemampuan adaptasi terhadap dinamika pasar global yang terus berubah.
Menurut data Counterpoint Research yang dirilis pada Rabu, 13 Januari 2026, Apple berhasil menguasai 20% pangsa pasar ponsel di tahun 2025, mengungguli para pesaingnya dengan margin yang tipis namun signifikan. Peningkatan pengapalan iPhone sebesar 10% dibandingkan tahun sebelumnya merupakan indikator kuat akan keberhasilan Apple dalam menarik konsumen. Analis Counterpoint menjelaskan bahwa lonjakan penjualan iPhone ini didorong oleh dua faktor utama: kombinasi produk yang lebih kuat dan permintaan yang lebih tinggi, terutama di pasar berkembang dan menengah. Ini menunjukkan bahwa strategi Apple untuk memperluas jangkauannya melampaui pasar premium tradisionalnya mulai membuahkan hasil.
Varun Mishra, Analis Senior Counterpoint, menyoroti peran krusial dari seri iPhone 17. "iPhone 17 series memiliki daya tarik yang signifikan pada Q4 setelah peluncurannya yang sukses," ujarnya. Keberhasilan peluncuran di kuartal terakhir tahun 2025 memberikan dorongan besar pada angka pengapalan keseluruhan. Namun, bukan hanya model terbaru yang berkontribusi; seri iPhone 16 yang diluncurkan setahun sebelumnya juga terus menunjukkan performa yang luar biasa di pasar-pasar strategis seperti Jepang, India, dan Asia Tenggara. Hal ini mengindikasikan bahwa Apple memiliki portofolio produk yang seimbang, mampu mempertahankan relevansi model sebelumnya sambil memperkenalkan inovasi terbaru.
Mishra menambahkan, "Momentum ganda ini semakin diperkuat dengan siklus upgrade dari era COVID yang mencapai titik puncaknya, karena jutaan pengguna ingin mengganti perangkat mereka." Penjelasan ini memberikan konteks penting mengenai perilaku konsumen pasca-pandemi. Selama periode krisis kesehatan global, banyak konsumen menunda pembelian perangkat baru karena ketidakpastian ekonomi atau prioritas lainnya. Kini, dengan kondisi ekonomi yang membaik dan perangkat lama yang semakin menua, gelombang besar pengguna mencari pembaruan. Apple, dengan citra merek yang premium dan inovasi yang konsisten, berhasil menangkap gelombang permintaan ini, mengubah kebutuhan menjadi penjualan yang signifikan. Siklus upgrade ini juga didukung oleh peningkatan kualitas dan fitur yang signifikan pada model-model iPhone terbaru, membuat pengguna merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk berinvestasi pada perangkat yang lebih canggih.
Di balik kesuksesan Apple, Samsung Electronics tetap menjadi pemain kunci di pasar global, menduduki peringkat kedua dengan pangsa pasar 19%. Perusahaan asal Korea Selatan ini mencatat pertumbuhan pengapalan sebesar 5% dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan resiliensi dan strategi pasar yang efektif. Pertumbuhan Samsung didorong oleh diversifikasi produk yang cerdas. Di segmen menengah, seri Galaxy A terus menjadi tulang punggung penjualan, menawarkan kombinasi fitur yang baik dengan harga yang kompetitif. Sementara itu, di pasar premium, inovasi Samsung melalui seri Galaxy Z Fold7 dan Galaxy S25 berhasil menarik perhatian konsumen yang mencari teknologi terdepan dan desain premium. Strategi "dua arah" ini memungkinkan Samsung untuk mempertahankan daya saing di berbagai segmen harga dan jenis konsumen.
Melengkapi posisi tiga besar, Xiaomi masih mampu bertahan di peringkat ketiga dengan pangsa pasar 13%. Meskipun menghadapi berbagai tantangan di industri, termasuk persaingan ketat dan fluktuasi rantai pasokan, permintaan yang tinggi di Amerika Latin dan Asia Tenggara membantu Xiaomi mempertahankan volume penjualannya. Xiaomi dikenal dengan strategi harga yang agresif dan penawaran fitur yang kaya, menjadikannya pilihan menarik bagi konsumen yang mencari nilai terbaik. Ekspansi yang kuat di pasar-pasar berkembang telah menjadi kunci keberlangsungan dan pertumbuhan mereka.

Di peringkat keempat, Vivo menguasai 8% pangsa pasar dengan pertumbuhan pengapalan sebesar 3%. Vivo, yang dikenal dengan inovasi dalam teknologi kamera dan desain yang stylish, terus memperkuat posisinya di pasar Asia dan secara bertahap memperluas jangkauannya. Sementara itu, Oppo, salah satu merek besar lainnya dari Tiongkok, mengalami penurunan pengapalan sebesar 4% dari tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh kombinasi permintaan yang lemah dan kompetisi yang semakin ketat, terutama di pasar-pasar utama seperti Tiongkok dan Asia Pasifik. Persaingan sengit dari sesama merek Tiongkok serta tekanan dari pemain global tampaknya menjadi tantangan signifikan bagi Oppo di tahun 2025.
Melihat ke depan, Counterpoint Research telah merilis proyeksi untuk tahun 2026 yang mengindikasikan adanya perlambatan pasar ponsel global. Proyeksi ini didasarkan pada beberapa faktor makroekonomi dan industri yang signifikan. Salah satu faktor utama adalah krisis memori global. Krisis ini merujuk pada ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan chip memori (seperti DRAM dan NAND flash) yang penting untuk smartphone, menyebabkan kenaikan harga komponen secara substansial. Selain itu, kenaikan biaya komponen secara umum, mulai dari chipset hingga layar dan baterai, memaksa sejumlah vendor untuk menaikkan harga perangkat mereka, yang pada gilirannya dapat menekan daya beli konsumen.
"Dengan latar belakang ini, kami telah merevisi perkiraan kami untuk tahun 2026 dengan menurunkan estimasi pengapalan sebesar 3%," ungkap Tarun Pathak, Direktur Riset Counterpoint. Revisi ini mencerminkan kekhawatiran yang mendalam tentang kondisi pasar yang akan datang. Pathak juga memberikan pandangan mengenai bagaimana para pemain utama akan menghadapi tantangan ini. "Meskipun krisis pasokan akan membebani pengapalan ponsel, Apple dan Samsung kemungkinan akan tetap tangguh, didukung oleh kemampuan rantai pasokan yang lebih kuat dan posisi pasar premium," jelasnya.
Kemampuan Apple dan Samsung untuk bertahan di tengah gejolak pasar ini dapat diatribusikan pada beberapa keunggulan strategis. Apple, dengan kontrol ketat atas ekosistem dan rantai pasokannya, serta basis pelanggan premium yang cenderung kurang sensitif terhadap kenaikan harga, memiliki bantalan yang lebih besar. Samsung, sebagai konglomerat teknologi yang memproduksi banyak komponennya sendiri, juga memiliki keunggulan dalam mengelola biaya dan pasokan. Posisi pasar premium kedua raksasa ini memungkinkan mereka untuk menyerap sebagian kenaikan biaya atau meneruskannya kepada konsumen yang bersedia membayar lebih untuk kualitas dan inovasi.
Sebaliknya, Pathak memprediksi bahwa "vendor China terpusat di segmen harga lebih rendah yang menghadapi tekanan lebih besar." Ini adalah poin krusial yang menyoroti kerentanan merek-merek seperti Xiaomi, Vivo, dan Oppo. Dengan model bisnis yang sangat bergantung pada volume penjualan dan margin keuntungan yang lebih tipis di segmen harga yang lebih rendah, mereka akan merasakan dampak lebih berat dari kenaikan biaya komponen. Konsumen di segmen ini cenderung sangat sensitif terhadap harga, sehingga kenaikan harga perangkat dapat dengan cepat mengikis permintaan dan menggeser loyalitas merek. Hal ini dapat memicu persaingan harga yang lebih intens atau bahkan konsolidasi pasar di antara merek-merek Tiongkok.
Kesuksesan Apple di tahun 2025, yang ditandai dengan penguasaan pangsa pasar dan pertumbuhan penjualan iPhone yang signifikan, merupakan bukti adaptasi dan strategi produk yang berhasil dalam menghadapi pasar yang dinamis. Sementara Samsung terus menunjukkan kekuatannya melalui portofolio produk yang beragam, merek-merek Tiongkok menghadapi tantangan yang berbeda di tengah persaingan ketat dan gejolak ekonomi global. Prospek untuk tahun 2026 memang menunjukkan perlambatan, namun ketahanan para pemimpin pasar dan kemampuan adaptasi industri secara keseluruhan akan menjadi kunci untuk menavigasi periode yang penuh tantangan ini. Inovasi berkelanjutan, efisiensi rantai pasokan, dan pemahaman mendalam tentang kebutuhan konsumen akan terus membentuk masa depan pasar smartphone global.

