0

Apple Hidupkan Lagi MacBook 12 Inch di 2026, Pakai Chip iPhone 16 Pro!

Share

Jakarta – Apple dikabarkan tengah menyiapkan kejutan besar bagi para penggemar setianya yang merindukan perangkat ultra-portabel dengan logo apel tergigit. Setelah secara resmi menghentikan lini MacBook 12 inci pada tahun 2019, raksasa teknologi asal Cupertino ini disebut-sebut bakal menghidupkan kembali laptop super ringkas tersebut pada musim semi tahun 2026. Kabar ini tentu saja menjadi angin segar bagi mereka yang mencari kombinasi portabilitas ekstrem, desain elegan, dan ekosistem Apple yang superior, namun dengan harga yang lebih terjangkau.

Menurut laporan terbaru yang beredar pada Minggu (4/1/2026) dari firma riset pasar terkemuka, TrendForce, perangkat ini akan mengisi segmen entry-level dalam jajaran laptop Apple. Dengan layar yang diperkirakan berukuran 12,9 inci, MacBook terbaru ini dirancang untuk menawarkan pengalaman komputasi yang sangat ringkas tanpa mengorbankan fungsionalitas inti. Langkah strategis ini diambil Apple untuk memperluas jangkauan pasarnya, menyediakan opsi bagi konsumen yang membutuhkan perangkat dengan mobilitas tinggi dan harga yang lebih bersahabat dibandingkan lini MacBook Air yang ada saat ini.

Salah satu poin paling mengejutkan dan menjadi sorotan utama adalah keputusan Apple untuk menggunakan chip A18 Pro sebagai "otak" utama MacBook 12 inci yang baru ini. Chip A18 Pro sendiri merupakan prosesor canggih yang juga dipercaya akan memperkuat seri iPhone 16 Pro, ponsel pintar andalan Apple di tahun-tahun mendatang. Ini menandai pergeseran paradigma yang signifikan. Berbeda dengan MacBook 12 inci model lama yang sering dikritik karena performa prosesor Intel Core M yang loyo, sering panas, dan tidak mampu menangani tugas-tugas menengah, transisi ke arsitektur ARM milik Apple ini menjanjikan lompatan performa yang luar biasa dan efisiensi daya yang tak tertandingi.

Chip A18 Pro, yang didesain untuk perangkat mobile dengan batasan termal yang ketat seperti iPhone, memiliki kemampuan luar biasa dalam manajemen daya dan performa per watt. Estimasi benchmark awal menunjukkan bahwa chip ini mampu memberikan hasil single-core yang jauh melampaui chip Intel lama yang digunakan pada MacBook 12 inci generasi pertama. Bahkan, performa multi-core-nya diprediksi akan mendekati atau bahkan menyamai performa chip M1 original, yang telah merevolusi lini Mac pada tahun 2020, namun dengan efisiensi daya yang jauh lebih baik. Karena dirancang untuk bodi iPhone yang sempit dan tanpa kipas, chip ini dapat bekerja secara optimal di dalam bodi MacBook yang lebih besar tanpa memerlukan kipas pendingin (fanless). Hal ini memastikan operasional laptop yang senyap total, sebuah fitur yang sangat dihargai oleh pengguna yang menginginkan pengalaman komputasi tanpa gangguan suara bising.

Meskipun memiliki bentang layar 12,9 inci, dimensi keseluruhan laptop ini diperkirakan akan tetap sangat ringkas dan ringan. Berkat kemajuan teknologi bezel tipis kekinian, yang telah diterapkan pada iPad Pro dan MacBook Air generasi terbaru, ukuran fisiknya kemungkinan besar tidak akan jauh berbeda dari ukuran keyboard standar. Ini berarti pengguna akan mendapatkan area pandang yang lebih luas tanpa menambah bobot atau jejak perangkat secara signifikan, menjadikannya pilihan ideal untuk mobilitas tinggi. Selain itu, diharapkan Apple akan menyematkan Magic Keyboard yang nyaman dan responsif, jauh meninggalkan kontroversi keyboard "butterfly" yang sempat melekat pada model-model MacBook sebelumnya, termasuk MacBook 12 inci generasi pertama.

Apple tampaknya memosisikan MacBook 12 inci terbaru ini secara spesifik untuk kebutuhan produktivitas sehari-hari yang ringan hingga menengah. Ini mencakup tugas-tugas seperti mengetik dokumen, browsing web, melakukan panggilan video, mengelola email, dan konsumsi konten multimedia. Perangkat ini tidak ditujukan untuk pekerjaan berat seperti editing video profesional resolusi tinggi, desain grafis 3D yang intensif, atau komputasi ilmiah yang memerlukan daya pemrosesan masif. Sebaliknya, target pasarnya adalah pelajar, mahasiswa, traveler yang membutuhkan laptop ringkas, pekerja kantoran dengan tugas-tugas administratif, dan pengguna entry-level yang baru beralih ke ekosistem Mac. Performa A18 Pro yang efisien akan memastikan pengalaman penggunaan yang lancar dan responsif untuk skenario-skenario tersebut.

Soal harga, Apple belum memberikan konfirmasi resmi. Namun, para analis pasar memperkirakan MacBook ini akan dipasarkan dengan harga yang lebih rendah dari MacBook Air, yang saat ini dibanderol mulai sekitar USD 799 di beberapa pasar global. Rentang harga yang diprediksi berada di kisaran USD 699 (sekitar Rp 11,6 juta, dengan asumsi kurs Rp 16.600/USD) hingga USD 899 (sekitar Rp 15 juta). Prediksi harga ini didasarkan pada potensi biaya produksi yang lebih rendah berkat penggunaan silikon kelas iPhone yang diproduksi dalam volume sangat besar, di tengah tren kenaikan harga komponen memori global. Keuntungan dari ekonomi skala produksi chip A-series yang masif memungkinkan Apple untuk menawarkan perangkat dengan harga yang lebih kompetitif.

Peluncuran MacBook murah ini juga dinilai sangat strategis mengingat kondisi pasar PC global pada tahun 2026. Menurut TrendForce, industri PC global diperkirakan akan menghadapi tantangan signifikan, termasuk kenaikan harga laptop secara keseluruhan akibat keterbatasan pasokan DRAM yang sebagian besar tersedot untuk memenuhi kebutuhan server AI yang sedang booming. TrendForce bahkan memproyeksikan pengiriman notebook global akan mengalami penurunan pada tahun tersebut. Di tengah tekanan pasar yang tidak menguntungkan ini, Apple dinilai berada dalam posisi yang jauh lebih kuat berkat rantai pasok terintegrasi dan kontrol ekosistem yang ketat. MacBook 12 inci berchip iPhone ini bisa menjadi senjata ampuh bagi Apple untuk menjaga daya saingnya di segmen laptop terjangkau, menarik konsumen yang mungkin beralih ke platform lain karena kenaikan harga.

Integrasi chip A-series juga membuka pintu bagi pengalaman pengguna yang lebih mulus antara iPhone dan Mac, memperkuat ekosistem Apple yang sudah kuat. Fitur-fitur Continuity seperti Handoff, Universal Clipboard, dan Sidecar akan bekerja lebih optimal, menciptakan pengalaman terpadu yang sulit ditandingi oleh kompetitor. Ini juga memungkinkan pengembang aplikasi untuk lebih mudah mengoptimalkan aplikasi iOS mereka untuk berjalan secara native di macOS, memperkaya pilihan aplikasi untuk MacBook 12 inci ini.

Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa seluruh informasi ini masih sebatas rumor dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh Apple. Sejarah menunjukkan bahwa rencana Apple bisa berubah sewaktu-waktu. Namun, jika laporan dari TrendForce terbukti akurat, Apple berpotensi besar untuk sukses merevitalisasi lini MacBook ringkas ini dengan kompromi yang jauh lebih minim dibandingkan pendahulunya. Performa yang lebih baik, efisiensi daya yang luar biasa, dan desain fanless akan mengatasi sebagian besar kritik yang ditujukan pada MacBook 12 inci generasi pertama.

Bagi konsumen yang selama ini mendambakan laptop Apple yang ringan, senyap, irit daya, dan lebih ramah di kantong, MacBook 12 inci ini bisa menjadi opsi yang sangat menarik dan mengubah permainan di segmen laptop ultra-portabel. Kehadirannya bisa menjadi pilihan sempurna untuk memenuhi kebutuhan komputasi dasar dengan sentuhan kemewahan dan fungsionalitas ekosistem Apple yang premium, saat resmi meluncur pada tahun 2026. Ini bukan hanya tentang menghidupkan kembali sebuah lini produk, tetapi juga tentang mendefinisikan ulang apa arti laptop entry-level di era Apple Silicon.

(afr/hps)