0

Anji Bisiki Saga Saat Pemakaman Ibu: Kalau Manji Pergi, Akan Ada di Sana

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di tengah duka mendalam atas berpulangnya ibunda tercinta, Siti Sundari, musisi Anji Witjaksono atau yang akrab disapa Anji, justru menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memberikan dukungan emosional kepada putranya, Saga. Momen haru itu terjadi di tengah prosesi pemakaman sang nenek, di mana Saga hadir menyaksikan langsung perpisahan terakhir. Anji menceritakan bahwa Saga telah berada di sisinya sejak kabar duka itu datang, bahkan saat keduanya tengah asyik merekam lagu baru di rumah. "Jadi ketika saya dibilangin mama tuh… bukan nggak ada, mama tuh nggak mau bangun, itu saya lagi rekaman sama Saga di rumah. Lagi ngetes lagu barunya Saga. Dan makanya saya langsung kabur, Saga ngikutin, ‘Kenapa Manji kenapa? Uti kenapa?’" ungkap Anji dengan suara lirih saat ditemui di TPU Mangun Jaya, Tambun, Kabupaten Bekasi, pada Jumat (27/3/2026).

Bagi Saga, pengalaman ini merupakan kali pertama baginya harus menghadapi kehilangan orang terdekat. Anji mengungkapkan fakta yang membuat kehilangan ini terasa semakin pahit. Ia, sang ibunda, dan Saga ternyata memiliki tanggal lahir yang sama, sebuah kebetulan yang selalu dirayakan bersama setiap tahunnya. Momen istimewa ini turut dibenarkan oleh Minda atau Wina Natalia, mantan istri Anji, yang menambahkan bahwa kehadiran Saga saat itu menjadi hadiah ulang tahun yang tak ternilai bagi Anji dan ibundanya. "Jadi waktu itu aku melahirkan kado buat mama sama Manji. Saga itu kadonya mereka," ujar Wina Natalia dengan mata berkaca-kaca. Kini, perayaan ulang tahun tersebut akan selalu mengingatkan Saga pada sosok nenek yang telah tiada. "Jadi yang diingat Saga adalah, bahwa mulai tahun ini kita merayakan ulang tahun hanya berdua Manji, nggak bertiga lagi," lanjut Anji, menatap putranya dengan penuh kasih sayang.

Di tengah kesedihan yang menyelimuti, Anji tak henti-hentinya berusaha menguatkan putranya. Ia bahkan sempat membisikkan pesan yang sangat menyentuh hati Saga saat prosesi pemakaman berlangsung, sebuah ungkapan cinta dan kepastian bahwa ikatan mereka tak akan pernah terputus. "Tapi dia merekam sih, dia merekam dan dia juga ngomong ya dia sad. Tapi harusnya dia belajar sesuatu. Maksudnya saya juga bilang bahwa ini juga pasti akan terjadi. Dan saya bilang juga ‘nanti Manji juga akan begini’," tuturnya, menahan gejolak emosi. Ia melanjutkan, "Dan kalau misalnya Manji memang nanti meninggalkan dunia ini, meninggalkan kamu, kalau Manji duluan, ya Manji akan ada di dalam sana’. Tadi itu yang aku bisikin." Meskipun demikian, Anji tetap melihat Saga berusaha tegar menghadapi situasi yang berat ini, walau ia mengakui tidak tahu persis apa yang ada di dalam hati sang buah hati.

Ketika ditanya langsung mengenai perasaannya, Saga menjawab dengan singkat namun penuh makna, "Sedih banget." Ia juga mengenang betapa dekatnya ia dengan sang nenek sejak kecil, sebuah ikatan yang terjalin erat melalui berbagai momen kebersamaan, termasuk perayaan ulang tahun yang selalu mereka rayakan bersama. "Kenangannya aku dari kecil udah cukup dekat sama Uti. Aku merayakan ulang tahun bareng, suka kunjung di Bekasi," kenang Saga dengan suara yang masih bergetar. Anji menambahkan bahwa kedekatan itu terlihat jelas dari berbagai potret kebersamaan mereka, termasuk momen-momen saat sang ibu masih mendampingi cucunya dalam aktivitas sehari-hari. "Suka dipijitin ya. Dan kemarin ketika Uti meninggal tuh lagi rekaman lagu barumu," pungkas Anji, mengakhiri keterangannya dengan rasa haru.

Kepergian Siti Sundari tentu meninggalkan luka yang mendalam bagi Anji dan keluarganya. Namun, di tengah kesedihan itu, terlihatlah kekuatan cinta dan dukungan keluarga yang luar biasa. Anji, dengan segala upayanya, berusaha menanamkan pemahaman kepada Saga mengenai siklus kehidupan dan pentingnya mengingat serta menghargai orang-orang terkasih yang telah tiada. Pesan Anji kepada Saga, bahwa cinta dan ingatan akan selalu hadir meskipun raga tak lagi bersama, adalah sebuah bentuk penguatan yang tak ternilai. Hal ini menunjukkan bahwa di balik sorotan publik, Anji adalah seorang ayah yang berusaha keras untuk mendidik dan melindungi anaknya dari rasa kehilangan yang begitu besar.

Momen ulang tahun yang seharusnya menjadi perayaan kebahagiaan, kini akan menjadi pengingat akan absennya sosok nenek tercinta. Saga harus belajar beradaptasi dengan realitas baru ini, di mana perayaan ulang tahunnya hanya akan dihadiri oleh ayah dan dirinya sendiri. Namun, dengan adanya dukungan dari Anji, diharapkan Saga dapat memproses kesedihannya dengan cara yang sehat dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan dewasa. Cerita ini bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang kekuatan cinta seorang ayah kepada anaknya, dan tentang bagaimana keluarga dapat saling menguatkan di saat-saat terberat.

Kehadiran Wina Natalia di sisi Anji dan Saga juga menjadi bukti bahwa di tengah perbedaan, rasa kekeluargaan tetap dapat terjaga. Ia hadir untuk memberikan dukungan moral, bukan hanya kepada Saga, tetapi juga kepada Anji, menunjukkan bahwa mereka tetaplah sebuah unit keluarga yang saling peduli. Momen ini mengajarkan bahwa kehilangan adalah bagian tak terhindarkan dari kehidupan, namun cara kita menghadapinya, dengan cinta, dukungan, dan penguatan, akan menentukan bagaimana kita bangkit kembali. Pesan Anji kepada Saga, "Kalau Manji pergi, akan ada di sana," adalah pengingat bahwa cinta sejati melampaui batas fisik dan waktu, sebuah janji yang menenangkan di tengah badai kesedihan.

Pengalaman Saga ini, meskipun pahit, akan menjadi pelajaran berharga bagi perkembangan emosionalnya. Ia akan belajar tentang arti kehilangan, tentang pentingnya menghargai setiap momen bersama orang terkasih, dan tentang bagaimana cinta dapat terus hidup dalam ingatan. Anji, sebagai orang tua, telah melakukan perannya dengan baik dalam menghadapi situasi ini, memberikan ruang bagi Saga untuk merasakan kesedihan, sekaligus memberikan harapan dan kepastian akan adanya cinta yang abadi.

Kisah ini juga menyoroti bagaimana publik figur menghadapi tragedi pribadi. Di tengah sorotan media, Anji memilih untuk berbagi momen emosional ini, bukan untuk sensasi, melainkan untuk menunjukkan sisi kemanusiaan dan perjuangannya dalam mendidik anaknya. Hal ini memberikan perspektif yang berbeda tentang kehidupan para selebriti, bahwa di balik gemerlap panggung, mereka juga manusia biasa yang merasakan duka dan kehilangan.

Perpisahan dengan Siti Sundari bukan hanya kehilangan bagi Anji dan Saga, tetapi juga bagi banyak orang yang mengenalnya. Namun, kenangan indah dan pelajaran hidup yang ditinggalkan akan terus hidup dan menjadi sumber kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan. Pesan Anji kepada Saga, yang diungkapkan dengan begitu tulus, adalah sebuah warisan cinta yang akan selalu menemani Saga dalam perjalanannya menghadapi kehidupan. Ini adalah kisah tentang bagaimana cinta keluarga dapat menjadi jangkar terkuat di tengah badai kehidupan, sebuah pengingat bahwa meskipun raga terpisah, ikatan hati tak akan pernah padam.