Elon Musk, seorang figur yang tak lekang dari sorotan, kini semakin menancapkan pengaruhnya di panggung geopolitik, khususnya dalam dinamika politik Iran. Dengan kepemilikannya atas platform media sosial X.com dan penyedia layanan internet satelit Starlink, Musk secara langsung terlibat dalam pusaran permasalahan Iran, memicu perdebatan sengit tentang peran aktor non-negara dalam urusan kedaulatan sebuah negara. Berbagai langkah yang dilakukannya tidak hanya membentuk opini publik tetapi juga memengaruhi arus informasi dan konektivitas di saat Iran diguncang gelombang unjuk rasa.
Menurut laporan Al Jazeera pada Senin, 12 Januari 2026, Elon Musk secara aktif berupaya membentuk opini, memengaruhi publik, serta mengatur informasi dan konektivitas di tengah gejolak unjuk rasa yang menggoyang Iran. Intervensinya ini mencerminkan ambisinya yang lebih besar untuk menjadi pemain global yang tak hanya terbatas pada ranah teknologi dan bisnis, melainkan juga merambah wilayah diplomasi digital dan aktivisme politik.
Salah satu insiden paling mencolok adalah respons Musk terhadap cuitan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Pada 4 Januari 2026, ketika Ali Khamenei menyatakan bahwa Iran tidak akan menyerah terhadap musuh-musuhnya, Elon Musk membalas dengan sindiran tajam, "Delusional." Respons singkat namun padat ini segera memicu gelombang reaksi. Di satu sisi, para kritikus rezim Iran menyambutnya sebagai bentuk dukungan moral dan keberanian dalam menantang retorika otoriter. Di sisi lain, pemerintah Iran dan para pendukungnya mungkin menganggapnya sebagai bentuk campur tangan asing yang provokatif, sebuah intervensi langsung dari seorang miliarder asing ke dalam urusan internal negara mereka. Tindakan Musk ini bukan sekadar balasan cuitan biasa; ia merupakan pernyataan politik yang kuat, menempatkan dirinya secara terbuka di kubu yang menentang narasi resmi Teheran.
Tidak berhenti di situ, pada Sabtu, 10 Januari 2026, X.com milik Musk melakukan perubahan signifikan yang memiliki makna simbolis mendalam: mengganti emoji bendera Iran versi Revolusi Islam 1979, menjadi versi rezim Shah Iran yang memakai logo singa dan matahari. Perubahan ini, yang hanya berlaku untuk X.com versi web, segera menjadi bahan perbincangan panas. Bendera dengan lambang singa dan matahari adalah simbol historis Iran yang diasosiasikan dengan era pra-revolusi, khususnya di bawah kekuasaan dinasti Pahlavi. Bagi banyak warga Iran di diaspora dan para penentang pemerintah saat ini, bendera tersebut melambangkan nostalgia akan masa lalu atau aspirasi untuk masa depan yang berbeda dari Republik Islam saat ini.
Langkah Elon Musk mengganti emoji bendera Iran segera mendapat dukungan luas dari para pengkritik pemerintah Iran. Kelompok oposisi dan aktivis anti-rezim telah lama menggunakan bendera berlogo singa sebagai simbol perlawanan dan identitas alternatif. Tindakan Musk ini memberikan platform global bagi simbol tersebut, memperkuat narasi oposisi dan secara implisit menantang legitimasi simbol-simbol resmi Republik Islam Iran. Namun, bagi pemerintah Iran dan para pendukungnya, tindakan ini kemungkinan besar dianggap sebagai pelecehan terhadap kedaulatan nasional dan upaya disinformasi yang didukung oleh kekuatan asing. Perubahan emoji bendera ini bukan hanya soal estetika digital; ia adalah pernyataan politik yang membelah, secara visual memihak satu faksi dalam konflik politik internal Iran.
Cawe-cawe Elon Musk terhadap Iran rupanya bukan kali ini saja terjadi. Negar Mortazavi, seorang peneliti dari Center for International Policy, mengingatkan bahwa Elon Musk juga menggunakan Starlink, layanan internet satelitnya, untuk memengaruhi kejadian politik di Iran. Ini menunjukkan pola intervensi yang lebih luas dan strategis, memanfaatkan teknologi canggih untuk tujuan politik.
Salah satu contoh paling menonjol adalah saat unjuk rasa ‘Women, Life, Freedom’ yang melanda Iran pada tahun 2022. Protes massal ini dipicu oleh kematian Mahsa Amini, seorang wanita muda yang ditahan oleh polisi moral karena diduga melanggar aturan jilbab. Dalam situasi di mana pemerintah Iran secara rutin membatasi atau memblokir akses internet untuk meredam mobilisasi pengunjuk rasa dan komunikasi di antara kelompok-kelompok yang protes, Elon Musk mengirimkan layanan Starlink. Tujuannya adalah agar rakyat Iran dapat memperoleh akses internet yang tidak disensor dan tetap terhubung dengan dunia luar serta satu sama lain. Pengiriman Starlink ini dianggap sebagai penyelamat digital bagi banyak aktivis dan warga biasa yang bergantung pada internet untuk berbagi informasi, mengorganisir diri, dan mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia.
Musk kembali mengirimkan Starlink saat Perang 12 Hari yang terjadi pada tahun 2025 antara Iran melawan Israel. Dalam konflik yang melibatkan kekuatan regional, akses internet seringkali menjadi salah satu target utama untuk mengisolasi populasi dan mengendalikan narasi. Dengan menyediakan Starlink, Musk sekali lagi berusaha memastikan bahwa warga Iran memiliki saluran komunikasi yang stabil, meskipun pemerintah berusaha keras untuk mencegah rakyat Iran mendapatkan koneksi internet lewat Starlink. Upaya pemerintah Iran untuk memblokir Starlink mencakup berbagai metode, mulai dari memburu terminal-terminal Starlink hingga mencoba mengganggu sinyalnya, sebuah tantangan teknis yang signifikan mengingat sifat satelit Starlink yang bergerak di orbit rendah.
Pemerintah Iran, seperti banyak rezim otoriter lainnya, sangat menyadari kekuatan internet sebagai alat mobilisasi dan diseminasi informasi. Oleh karena itu, mereka menggunakan disrupsi dan pemadaman internet sebagai strategi kunci untuk mencegah mobilisasi pengunjuk rasa dan komunikasi di antara kelompok-kelompok yang protes, serta untuk mencegah beredarnya pemberitaan yang tidak sesuai dengan narasi resmi. "Negara menggunakan disrupsi dan mematikan internet untuk mencegah mobilisasi pengunjuk rasa dan komunikasi di antara kelompok-kelompok yang protes dan untuk mencegah beredarnya pemberitaan," kata Mortazavi, menegaskan pentingnya akses internet dalam konteks politik represif. Dalam situasi seperti ini, Starlink tidak hanya menjadi penyedia layanan internet, tetapi juga sebuah alat perlawanan digital yang menantang monopoli informasi negara.
Namun, intervensi Elon Musk ini juga memicu pertanyaan dan kritik. Apakah tindakan ini murni altruistik ataukah ada motif lain, seperti promosi bisnis atau pencarian pengaruh politik? Sebagian kritikus berpendapat bahwa meskipun niatnya mungkin baik, tindakan Musk berpotensi melanggar kedaulatan nasional Iran dan dapat dianggap sebagai campur tangan asing dalam urusan internal. Kebijakan "free speech absolutist" yang dianut Musk di X.com, misalnya, sering kali dikritik karena kurangnya moderasi konten yang efektif, yang dapat memfasilitasi penyebaran disinformasi dan ujaran kebencian. Dalam konteks Iran, di mana tensi politik sangat tinggi, kebijakan semacam itu bisa memiliki konsekuensi yang tidak terduga.
Peran Musk sebagai "raja teknologi" yang secara pribadi memutuskan untuk campur tangan dalam politik negara lain juga menimbulkan kekhawatiran tentang konsentrasi kekuasaan. Satu individu dengan kendali atas platform komunikasi global dan infrastruktur internet dapat memengaruhi nasib jutaan orang, yang menimbulkan pertanyaan tentang akuntabilitas dan transparansi. Apakah tindakan Musk ini menetapkan preseden berbahaya di mana aktor non-negara dapat secara sepihak memengaruhi geopolitik tanpa batasan atau pengawasan internasional yang jelas?
Selain itu, tantangan praktis dalam mendistribusikan terminal Starlink di negara-negara yang disanksi dan diawasi ketat seperti Iran juga tidak sepele. Meskipun Starlink dapat menembus blokade internet, mendapatkan perangkat keras ke tangan warga biasa dalam jumlah besar tetap merupakan hambatan logistik yang signifikan. Siapa yang mendistribusikannya? Bagaimana mereka menghindari deteksi pemerintah? Pertanyaan-pertanyaan ini menyoroti kompleksitas implementasi dari visi "internet untuk semua" di tengah realitas politik yang keras.
Secara keseluruhan, "cawe-cawe" Elon Musk di Iran adalah fenomena multifaset yang mencerminkan era baru di mana teknologi dan aktor non-negara memainkan peran yang semakin sentral dalam hubungan internasional. Dari cuitan yang menantang pemimpin tertinggi hingga perubahan simbol bendera dan penyediaan akses internet di tengah protes dan konflik, Musk telah menunjukkan kemampuannya untuk mengganggu status quo dan secara langsung memengaruhi dinamika politik di negara lain. Tindakannya mungkin dipuji sebagai upaya untuk mempromosikan kebebasan dan akses informasi, tetapi juga dikritik sebagai campur tangan yang melanggar kedaulatan. Perdebatan seputar peran Elon Musk di Iran adalah cerminan dari tantangan yang lebih luas tentang kedaulatan digital, kebebasan informasi, dan batas-batas pengaruh aktor swasta dalam geopolitik abad ke-21.

