BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Mobil hybrid semakin menunjukkan potensinya sebagai solusi transportasi yang lebih ramah lingkungan di tengah meningkatnya kesadaran akan isu perubahan iklim dan polusi udara. Di Indonesia, pasar mobil hybrid terus berkembang dengan berbagai model yang telah diluncurkan oleh produsen otomotif terkemuka. Namun, terlepas dari keunggulannya dalam efisiensi bahan bakar dan emisi yang lebih rendah, mobil bermesin bakar konvensional (ICE/internal combustion engine) masih memegang dominasi pasar yang kuat. Fenomena ini mengundang pertanyaan, seberapa besar pengaruh harga terhadap adopsi teknologi mobil hybrid di kalangan konsumen Indonesia?
Sebuah studi mendalam yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memberikan gambaran yang menarik mengenai hal ini. Studi tersebut secara spesifik menggali respons konsumen terhadap potensi penurunan harga mobil hybrid. "Kita tanyakan kepada konsumen, apabila harga mobil hybrid itu turun 10 persen, berapa banyak dari mereka yang berencana atau berminat untuk shifting ke mobil jenis hybrid. Jadi dari mobil bensin pindah ke hybrid atau dari mobil listrik pindah ke hybrid," ungkap Syahda Sabrina, seorang peneliti di LPEM FEB UI, dalam sebuah kesempatan wawancara yang berlangsung di Bandung, Jawa Barat, baru-baru ini.
Temuan dari studi LPEM FEB UI ini secara konsisten menunjukkan adanya kecenderungan kuat bagi konsumen untuk beralih ke mobil hybrid apabila harganya menjadi lebih terjangkau. Yang paling mengejutkan adalah besarnya potensi perpindahan minat dari segmen pengguna mobil bensin konvensional. Data menunjukkan bahwa jika harga mobil hybrid mengalami penurunan sebesar 10 persen, maka akan terjadi peningkatan permintaan yang signifikan dari kalangan pengguna mobil bensin. "Jadi di sini kalau misalnya harga mobil hybrid itu turun 10 persen, ada kenaikan permintaan dari yang sebelumnya pengguna mobil bensin ke mobil hybrid sekitar 10,8 persen," jelas Syahda. Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa dari total 1.229 responden yang menyatakan minat untuk membeli mobil bensin, sebanyak 133 di antaranya akan mempertimbangkan mobil hybrid sebagai pilihan utama jika harganya lebih murah. Angka ini setara dengan sekitar 10,8% dari total responden yang awalnya berorientasi pada mobil bensin.
Namun, daya tarik mobil hybrid yang lebih murah tidak hanya terbatas pada pengguna mobil bensin. Menariknya, studi ini juga mengungkap bahwa penurunan harga 10 persen pada mobil hybrid berpotensi menarik minat para calon pembeli mobil listrik. Meskipun saat ini mobil listrik dianggap sebagai puncak dari teknologi ramah lingkungan, keunggulan harga dari mobil hybrid dapat menjadi faktor penentu. Menurut hasil studi LPEM FEB UI, sebanyak 21,3 persen dari total 108 responden yang awalnya menyatakan minat untuk membeli mobil listrik, akan beralih ke mobil hybrid jika harganya lebih kompetitif. Ini berarti, 23 responden dari kelompok ini akan mengubah keputusan pembelian mereka demi mendapatkan mobil hybrid yang lebih terjangkau. Angka ini menunjukkan bahwa segmen mobil listrik, meskipun memiliki kesadaran lingkungan yang tinggi, juga sangat sensitif terhadap faktor harga.
Kesimpulan utama yang dapat ditarik dari penelitian ini sangatlah jelas dan berimplikasi luas bagi industri otomotif dan kebijakan pemerintah. "Kesimpulan yang bisa kita dapatkan adalah dengan adanya penurunan harga hybrid, misalnya apabila diberikan insentif terkait dengan lokalisasi, yang akan berpindah itu adalah mereka yang selama ini menggunakan mobil bensin, tanpa menjadi kompetitor untuk mobil listrik," ujar Syahda. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa upaya untuk membuat mobil hybrid lebih terjangkau, misalnya melalui insentif pemerintah seperti keringanan pajak atau dukungan untuk lokalisasi produksi komponen, akan efektif dalam mendorong adopsi teknologi ini. Dampak utamanya adalah penarikan konsumen dari segmen mobil bensin, yang merupakan mayoritas pasar saat ini. Yang lebih penting, penurunan harga mobil hybrid tidak serta merta menggerus pasar mobil listrik. Justru, mobil hybrid yang lebih terjangkau dapat berperan sebagai jembatan transisi yang mulus bagi konsumen yang belum siap sepenuhnya beralih ke mobil listrik, baik dari segi infrastruktur pengisian daya maupun harga awal mobil listrik yang masih relatif tinggi.
Implikasi dari temuan ini sangat signifikan. Jika pemerintah atau produsen otomotif dapat menemukan cara untuk menurunkan harga mobil hybrid sebesar 10 persen, potensi pasar mobil hybrid di Indonesia dapat meningkat secara substansial. Penurunan harga ini bisa dicapai melalui berbagai mekanisme. Pertama, insentif fiskal dari pemerintah, seperti pengurangan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil hybrid, dapat secara langsung menurunkan harga jual akhir kepada konsumen. Kedua, kebijakan yang mendorong lokalisasi produksi komponen mobil hybrid di Indonesia. Dengan memproduksi komponen secara lokal, biaya logistik dan impor dapat dikurangi, yang pada akhirnya dapat diteruskan sebagai potongan harga kepada konsumen. Ketiga, inovasi teknologi dari produsen otomotif untuk menekan biaya produksi tanpa mengorbankan kualitas dan performa mobil hybrid.
Perluasan data lebih lanjut mengenai studi ini dapat mencakup analisis demografis dari responden yang menunjukkan minat beralih. Apakah ada perbedaan signifikan antara responden di perkotaan dan pedesaan? Bagaimana tingkat pendapatan memengaruhi keputusan mereka? Apakah usia dan tingkat pendidikan juga berperan dalam pengambilan keputusan pembelian mobil hybrid? Informasi ini dapat membantu produsen dan pembuat kebijakan untuk menargetkan kampanye pemasaran dan insentif secara lebih efektif.
Selain itu, studi ini juga bisa dikembangkan dengan mengeksplorasi faktor-faktor lain yang memengaruhi keputusan pembelian mobil hybrid selain harga. Misalnya, persepsi konsumen terhadap keandalan teknologi hybrid, ketersediaan infrastruktur bengkel dan suku cadang, serta kesadaran lingkungan yang sebenarnya. Memahami faktor-faktor ini secara komprehensif akan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang bagaimana mempercepat adopsi mobil hybrid di Indonesia.
Potensi peningkatan permintaan sebesar 10,8% dari segmen mobil bensin dan 21,3% dari segmen mobil listrik, meskipun angka persentasenya terlihat kecil, jika dikonversi ke dalam jumlah unit mobil yang terjual, akan menjadi angka yang sangat signifikan mengingat besarnya pasar otomotif Indonesia. Misalnya, jika pasar mobil bensin di Indonesia mencapai jutaan unit per tahun, peningkatan 10,8% saja sudah bisa berarti ratusan ribu unit tambahan yang beralih ke mobil hybrid. Ini akan berdampak positif pada pengurangan emisi gas buang secara keseluruhan, peningkatan efisiensi energi, dan pada akhirnya, perbaikan kualitas udara di kota-kota besar.
Lebih jauh lagi, studi ini memberikan pijakan yang kuat bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan kendaraan ramah lingkungan. Dengan mengetahui bahwa harga adalah hambatan utama bagi adopsi mobil hybrid, pemerintah dapat memprioritaskan kebijakan yang berfokus pada penurunan harga. Ini bisa berupa pemberian subsidi langsung, pengurangan tarif bea masuk untuk komponen mobil hybrid, atau dukungan untuk riset dan pengembangan teknologi hybrid yang lebih efisien dan terjangkau di dalam negeri.
Sementara itu, bagi produsen otomotif, temuan ini menjadi sinyal kuat untuk terus berinovasi dalam menekan biaya produksi mobil hybrid. Fokus pada lokalisasi komponen, peningkatan efisiensi lini produksi, dan pengembangan model hybrid yang lebih terjangkau akan menjadi strategi kunci untuk menangkap peluang pasar yang semakin besar ini. Komunikasi yang efektif mengenai manfaat jangka panjang dari kepemilikan mobil hybrid, seperti penghematan bahan bakar dan perawatan yang lebih rendah, juga perlu ditingkatkan untuk membangun kepercayaan konsumen.
Perlu dicatat bahwa angka-angka dalam studi ini adalah hasil dari survei dan simulasi. Dalam implementasi nyata, berbagai faktor eksternal seperti kondisi ekonomi makro, fluktuasi harga bahan bakar, serta tren global dalam industri otomotif dapat memengaruhi realisasi potensi tersebut. Namun demikian, studi LPEM FEB UI ini telah berhasil mengidentifikasi satu variabel krusial yang dapat menjadi kunci pembuka pintu pasar yang lebih luas bagi mobil hybrid di Indonesia. Dengan menurunkan harga sebesar 10 persen, bukan hanya minat konsumen yang akan melonjak, tetapi juga akan tercipta momentum yang kuat untuk transisi menuju mobilitas yang lebih berkelanjutan di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa, dalam banyak kasus, hambatan terbesar untuk mengadopsi teknologi yang lebih baik bukanlah kurangnya kesadaran atau minat, melainkan keterjangkauan finansial.
Dengan demikian, fokus pada strategi yang dapat menurunkan harga mobil hybrid adalah langkah yang paling strategis dan berpotensi memberikan dampak terbesar dalam mendorong adopsi teknologi ini. Hal ini sejalan dengan upaya global untuk mengurangi jejak karbon dan beralih ke sumber energi yang lebih bersih. Indonesia, dengan potensi pasar yang besar, memiliki peluang emas untuk menjadi pemimpin dalam transisi kendaraan ramah lingkungan jika kebijakan dan strategi industri dapat selaras dengan temuan-temuan seperti yang diungkapkan oleh studi LPEM FEB UI ini. Potensi peningkatan permintaan yang signifikan ini menjadi bukti bahwa solusi kendaraan ramah lingkungan yang efisien dan terjangkau dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia.

