0

Ambisi ‘Golden Dome’ di Balik Ngototnya Trump Caplok Greenland

Share

Langkah kontroversial Donald Trump untuk mencaplok Greenland, sebuah wilayah otonom milik Denmark, telah memicu gelombang perdebatan global dan menyoroti kompleksitas geopolitik di kawasan Arktik. Meskipun kekayaan mineral melimpah di pulau es raksasa ini sering disebut sebagai motivasi utama, pernyataan Trump sendiri di platform Truth Social mengindikasikan adanya agenda yang lebih besar dan ambisius: pembangunan sistem pertahanan rudal mutakhir yang ia juluki "Golden Dome". Klaim Trump bahwa AS membutuhkan Greenland untuk tujuan Keamanan Nasional, bahkan dengan menuduh Rusia dan China juga mengincarnya, membuka babak baru dalam persaingan kekuatan global di garis lintang utara.

"AS membutuhkan Greenland untuk tujuan Keamanan Nasional. Ini sangat vital bagi Golden Dome yang sedang kami bangun," cetus Trump dalam unggahannya, secara eksplisit mengaitkan akuisisi Greenland dengan proyek pertahanan strategisnya. Pernyataan ini sontak memicu pertanyaan: apa sebenarnya "Golden Dome" itu, dan mengapa Greenland dianggap begitu krusial untuk keberlangsungannya?

Mengungkap Misteri ‘Golden Dome’: Perisai Antariksa untuk Amerika

Golden Dome adalah sebuah usulan sistem pertahanan rudal berlapis yang dirancang untuk mendeteksi dan menghancurkan berbagai jenis rudal – balistik, hipersonik, dan jelajah – baik sebelum diluncurkan maupun selama penerbangannya. Konsepnya mengingatkan pada Iron Dome milik Israel yang telah terbukti efektif, namun dengan skala dan kompleksitas yang jauh melampaui. Jika Iron Dome Israel dirancang untuk melindungi wilayah geografis yang relatif kecil dari roket jarak pendek, Golden Dome envisioned oleh Trump adalah perisai pertahanan yang mencakup seluruh benua Amerika Serikat, sebuah ambisi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Rincian spesifik tentang Golden Dome masih minim dan seringkali bersifat spekulatif, namun gagasan intinya melibatkan konstelasi satelit yang dilengkapi sensor canggih dan penangkis berbasis luar angkasa. Ini berarti, jika diterapkan, Amerika Serikat akan menempatkan senjata di orbit untuk pertama kalinya, sebuah langkah yang dapat memicu perlombaan senjata luar angkasa dan mengubah dinamika keamanan global secara fundamental. Produsen senjata raksasa AS, Lockheed Martin, dilaporkan telah mengajukan konsep perisai pertahanan berlapis, menunjukkan bahwa ide ini, setidaknya dalam bentuk dasar, telah dipertimbangkan secara serius di tingkat industri pertahanan.

Visi Trump terhadap Golden Dome tidak hanya sebatas pertahanan. Pada tahun 2019, ia pernah menyatakan bahwa Golden Dome akan menjadi bagian yang sangat besar dari pertahanan maupun penyerangan AS. "Kami memiliki beberapa pemain yang sangat buruk di luar sana, tapi kami bisa jauh lebih buruk dari siapa pun jika perlu," katanya saat itu, mengisyaratkan potensi penggunaan ofensif atau kemampuan pencegahan yang agresif dari sistem tersebut. Lebih lanjut, pada 27 Januari 2025, sebagai Presiden, Trump bahkan menandatangani perintah eksekutif yang mengarahkan Angkatan Bersenjata AS untuk membangun "Iron Dome for America" sebelum akhir masa jabatannya, program yang kemudian berganti nama menjadi Golden Dome pada Mei 2025. Ini menunjukkan bahwa proyek ini bukan sekadar ide sesaat, melainkan sebuah inisiatif yang telah diresmikan dalam struktur pemerintahannya.

Namun, ambisi ini datang dengan label harga yang fantastis dan sangat bervariasi, mencerminkan ketidakpastian dan skala proyek yang belum pernah ada. Estimasi biaya Golden Dome berkisar dari USD 175 miliar (versi Gedung Putih) hingga USD 831 miliar (Kantor Anggaran Kongres), bahkan mencapai USD 3,6 triliun menurut American Enterprise Institute. Perbedaan mencolok dalam estimasi ini menunjukkan bahwa tidak ada konsensus tentang arsitektur akhir, cakupan, dan kompleksitas teknologi yang dibutuhkan, apalagi biaya pemeliharaan jangka panjang. Angka-angka ini menempatkan Golden Dome sebagai salah satu proyek pertahanan paling mahal dalam sejarah, yang berpotensi menguras anggaran negara dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Greenland: Jantung Geopolitik Arktik dan Rebutan Sumber Daya

Di balik ambisi Golden Dome, Greenland sendiri adalah permata geopolitik yang tak ternilai harganya. Luasnya mencapai 2,16 juta kilometer persegi, menjadikannya pulau terbesar di dunia, dengan sebagian besar wilayahnya tertutup es. Namun, di bawah lapisan es yang mencair akibat perubahan iklim, tersembunyi kekayaan mineral yang luar biasa. Greenland diyakini memiliki cadangan mineral langka yang signifikan, seperti tanah jarang (rare earths) yang vital untuk produksi teknologi tinggi seperti smartphone, kendaraan listrik, turbin angin, dan peralatan militer canggih. Selain itu, ada potensi besar untuk uranium, cryolite (digunakan dalam produksi aluminium), dan bahkan cadangan minyak serta gas alam yang belum dieksplorasi di lepas pantainya.

Akses terhadap sumber daya ini menjadi semakin penting di tengah persaingan global untuk mengamankan rantai pasokan dan mengurangi ketergantungan pada negara-negara tertentu. Dominasi China dalam produksi tanah jarang, misalnya, telah mendorong negara-negara Barat untuk mencari alternatif, dan Greenland menawarkan salah satu solusi paling menjanjikan.

Namun, nilai strategis Greenland jauh melampaui kekayaan mineralnya. Lokasinya yang unik di persimpangan Samudra Atlantik Utara dan Arktik menjadikannya pos terdepan yang sangat penting. Dengan mencairnya es di Kutub Utara, jalur pelayaran baru seperti Jalur Laut Utara (Northern Sea Route) menjadi lebih mudah diakses, membuka potensi rute perdagangan yang lebih pendek antara Asia dan Eropa. Ini juga mengubah lanskap militer di Arktik, menjadikannya arena persaingan baru antara kekuatan besar. Greenland, dengan posisinya yang strategis, dapat menjadi kunci untuk mengendalikan atau memantau jalur-jalur ini, serta memproyeksikan kekuatan militer di wilayah yang semakin terbuka ini.

Reaksi Para Pakar: Klaim Trump yang Tak Berpijak Realitas

Meskipun Trump bersikeras bahwa kendali AS atas Greenland sangat penting bagi Golden Dome, klaim ini secara luas ditolak oleh para pakar pertahanan dan hubungan internasional. Mereka berpendapat bahwa pernyataan Trump mengabaikan perjanjian diplomatik jangka panjang yang sudah ada dan kemungkinan besar akan langsung mengizinkan AS untuk membangun fasilitas Golden Dome tanpa perlu menginvasi atau mencaplok wilayah.

Amerika Serikat sudah memiliki kehadiran militer yang signifikan di Greenland melalui Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, yang dulunya dikenal sebagai Pangkalan Udara Thule. Pangkalan ini, yang terletak di bagian barat laut Greenland, telah beroperasi sejak 1951 menyusul perjanjian antara Denmark dan pemerintah AS. Berdasarkan perjanjian tersebut, pemerintah AS berhak memperbaiki dan menyesuaikan area tersebut untuk penggunaan militer, membangun, memasang, memelihara, dan mengoperasikan fasilitas dan peralatan, serta menyediakan perlindungan dan keamanan internal.

Secara historis, AS tidak pernah mengalami masalah dalam memanfaatkan perjanjian ini untuk kebutuhan pertahanannya. Pangkalan Pituffik telah menjadi aset vital bagi NORAD (Komando Pertahanan Dirgantara Amerika Utara), berfungsi sebagai stasiun peringatan dini rudal balistik, pelacakan satelit, dan pusat pengawasan luar angkasa yang krusial.

Todd Harrison, seorang ahli dari American Enterprise Institute, dengan tegas menyatakan, "Apa yang dia (Trump) katakan tak berpijak realitas. Seolah dia tak sadar bahwa selama beberapa dekade kita memiliki pangkalan besar di Greenland yang sangat penting bagi pertahanan rudal dalam negeri dan pengawasan luar angkasa." Pandangan ini diperkuat oleh Mikkel Runge Olesen, peneliti di Institut Studi Internasional Denmark, yang menjelaskan bahwa perjanjian tahun 1951 "sangat luas dalam hal mengizinkan AS mengurus kebutuhan keamanannya." Menurutnya, inisiatif Golden Dome terkait Greenland kemungkinan besar akan diterima oleh Denmark dalam kerangka perjanjian yang sudah ada, tanpa perlu adanya akuisisi wilayah.

Konsekuensi dan Implikasi Geopolitik

Ngototnya Trump untuk mencaplok Greenland, alih-alih memanfaatkan perjanjian yang sudah ada, menyoroti pendekatan "America First" dan transaksi ala bisnisnya dalam diplomasi. Langkah semacam itu akan memiliki implikasi geopolitik yang luas dan berbahaya. Pertama, hal itu akan melanggar kedaulatan Denmark, sekutu NATO yang telah lama, dan dapat merusak hubungan diplomatik yang penting. Denmark sendiri telah menolak tawaran Trump dengan tegas, menyebutnya "absurd" dan "tidak masuk akal."

Kedua, upaya akuisisi paksa akan menjadi preseden yang buruk dalam hukum internasional, berpotensi memicu ketidakstabilan dan klaim wilayah serupa di tempat lain. Ini juga akan mempercepat perlombaan senjata di Arktik, di mana Rusia telah meningkatkan kehadiran militernya secara signifikan, membangun kembali pangkalan-pangkalan era Soviet dan mengerahkan kapal pemecah es bersenjata. China juga telah menyatakan dirinya sebagai "negara dekat-Arktik" dan menunjukkan minat yang besar dalam investasi serta penelitian di wilayah tersebut, termasuk di Greenland.

Ambisi ‘Golden Dome’ di balik keinginan Trump untuk mencaplok Greenland adalah cerminan dari kompleksitas keamanan nasional modern yang melibatkan sumber daya alam, teknologi pertahanan mutakhir, dan persaingan geopolitik yang semakin intensif di wilayah-wilayah strategis seperti Arktik. Meskipun visi untuk membangun perisai pertahanan berlapis mungkin menarik, cara Trump berusaha mewujudkannya – melalui akuisisi wilayah daripada kerja sama diplomatik yang sudah mapan – menunjukkan kurangnya pemahaman tentang realitas geopolitik dan potensi untuk menciptakan lebih banyak masalah daripada solusi. Di tengah semua ini, Greenland dan rakyatnya menjadi bidak dalam permainan catur global yang besar, dengan masa depan yang tidak pasti di hadapan ambisi-ambisi raksasa.