Jakarta – Sebuah visi futuristik yang memukau sekaligus menimbulkan perdebatan sengit telah muncul dari Tiongkok: rencana untuk membangun kapal induk terbang raksasa bernama Luanniao, sebagai bagian integral dari sistem pertahanan udara dan antariksa terintegrasi yang dikenal sebagai Nantianmen, atau "Gerbang Surgawi". Proyek ambisius ini bukan sekadar penambahan kekuatan militer konvensional, melainkan lompatan imajinasi dan teknologi yang berpotensi mengubah lanskap pertahanan global dan perlombaan antariksa.
Pada intinya, Luanniao digambarkan sebagai kapal induk terbang dengan spesifikasi yang menakjubkan: panjang mencapai 242 meter, rentang sayap membentang hingga 684 meter, dan bobot lepas landas yang dilaporkan mencapai 120.000 ton. Angka ini, sebuah massa yang luar biasa besar, menempatkannya di luar kategori pesawat terbang yang dikenal saat ini dan bahkan melampaui kapal induk maritim terbesar di dunia. Dari geladak raksasanya, seperti yang dikutip detikINET dari Deutsche Welle, Luanniao akan menjadi platform peluncuran bagi jet tempur antariksa nirawak bernama Xuannu. Jet-jet ini dirancang untuk meluncurkan rudal hipersonik dan menyerang target baik di atmosfer maupun di orbit, menandakan kemampuan tempur yang belum pernah ada sebelumnya.
Konsep Nantianmen sendiri menunjukkan ambisi China yang lebih luas dalam mengintegrasikan pertahanan di udara dan di luar angkasa. Jika terwujud, sistem ini akan memberikan Tiongkok keunggulan strategis yang signifikan, mampu memproyeksikan kekuatan tidak hanya di wilayah udara Bumi tetapi juga di ruang angkasa dekat. Ini adalah langkah yang berani, mencerminkan keinginan China untuk tidak hanya menyamai tetapi melampaui kemampuan militer dan teknologi negara-negara adidaya lainnya. Dengan Luanniao sebagai jantungnya, Nantianmen akan menjadi perisai dan pedang di garis depan konflik masa depan, berpotensi mengubah definisi perang itu sendiri.
Bobot 120.000 ton adalah angka yang benar-benar mencengangkan. Sebagai perbandingan, kapal induk terbesar yang saat ini beroperasi di dunia, USS Gerald R. Ford milik Angkatan Laut Amerika Serikat, memiliki panjang sekitar 337 meter dan lebar 78 meter, dengan berat sekitar 100.000 ton termasuk bahan bakar, awak, dan peralatan tempur lengkap. Artinya, Luanniao akan melampaui kapal induk konvensional terbesar saat ini sekitar 20% dalam hal bobot, meskipun panjangnya lebih pendek. Namun, rentang sayapnya yang mencapai 684 meter jauh lebih lebar daripada kapal induk maritim manapun, menunjukkan desain aerodinamis yang radikal dan kompleks yang diperlukan untuk menjaga massa sebesar itu tetap mengudara. Membangun dan mengoperasikan struktur sebesar ini di atmosfer, apalagi di ambang batas antariksa, adalah tantangan rekayasa yang belum pernah dihadapi umat manusia.
Visi ini bukan muncul dari ruang hampa. China telah lama menjadi kekuatan nomor dua di luar angkasa, di belakang Amerika Serikat, namun jauh di depan Eropa, seperti yang diungkapkan oleh pakar keamanan antariksa Juliana Sub dari German Institute for International and Security Affairs (SWP). Dekade terakhir telah menyaksikan Tiongkok membuat kemajuan pesat dan mengesankan dalam program luar angkasanya. Dari stasiun luar angkasa Tiangong yang berhasil dibangun dan dioperasikan, misi eksplorasi Bulan yang ambisius (Chang’e series) termasuk pendaratan di sisi jauh Bulan, hingga misi Mars Tianwen-1 yang sukses mendaratkan rover di Planet Merah, China secara konsisten menunjukkan kemampuan teknologinya. Mereka juga telah mengembangkan sistem navigasi satelit Beidou yang canggih, menyaingi GPS Amerika Serikat, dan secara terbuka menunjukkan kemampuan anti-satelit. Semua pencapaian ini menegaskan ambisi China untuk menjadi pemain dominan di luar angkasa, baik untuk tujuan sipil maupun militer. Luanniao, jika terwujud, akan menjadi puncak dari ambisi ini, menandai era baru dalam dominasi antariksa.
Cuplikan visual dari proyek Luanniao ini pertama kali beredar luas setelah ditampilkan dalam laporan media pemerintah China, CCTV. Laporan tersebut menampilkan model 3D fotorealistik dari kapal induk terbang raksasa itu yang melayang anggun di atas Bumi, dengan mulus melepaskan jet-jet antariksa dan menembakkan senjata di luar angkasa. Gambar-gambar ini, yang dengan cepat menyebar secara daring, berfungsi sebagai alat propaganda yang kuat, memproyeksikan citra kemajuan teknologi dan kekuatan militer China kepada audiens domestik maupun internasional. Visualisasi yang jelas dan meyakinkan ini dirancang untuk menanamkan rasa kagum dan, mungkin, kecemasan di kalangan pengamat asing, sementara di dalam negeri, ia menumbuhkan kebanggaan nasional dan kepercayaan diri pada kemampuan negara.
Meskipun gambaran yang disajikan tampak mengagumkan, sebagian besar ahli di seluruh dunia menyambut rencana kapal induk antariksa raksasa tersebut dengan skeptisisme yang mendalam. Secara teknis, rencana ini dianggap jauh melampaui kemampuan roket saat ini untuk mengirim muatan ke orbit, apalagi membangun dan mengoperasikan struktur sebesar itu di lingkungan luar angkasa atau ambang atmosfer. Bahkan jika perakitan modular di luar angkasa suatu hari nanti memungkinkan, banyak masalah fundamental yang belum terpecahkan.
Masalah-masalah tersebut meliputi:
- Sistem Propulsi: Bagaimana kapal seberat 120.000 ton dapat mengangkat dirinya sendiri ke udara dan mempertahankan penerbangan berkelanjutan? Teknologi propulsi yang ada saat ini, baik jet maupun roket, tidak efisien atau cukup kuat untuk tugas semacam itu. Apakah ini akan memerlukan terobosan dalam teknologi fusi nuklir, antimateri, atau bahkan konsep yang lebih eksotis seperti penggerak medan gravitasi?
- Pasokan Daya: Mengoperasikan sistem sebesar Luanniao, dengan semua sistem tempur, dukungan kehidupan, dan propulsinya, akan membutuhkan sumber daya energi yang luar biasa besar dan berkelanjutan. Baterai konvensional tidak akan mencukupi, dan reaktor nuklir di kapal terbang akan menimbulkan risiko keamanan dan radiasi yang sangat besar.
- Pendinginan: Gesekan atmosfer pada kecepatan tinggi, panas yang dihasilkan oleh sistem propulsi dan senjata, serta radiasi matahari di luar angkasa akan memerlukan sistem pendingin yang sangat canggih dan masif.
- Perlindungan dari Puing Antariksa: Di orbit rendah Bumi, ancaman dari puing-puing antariksa yang bergerak dengan kecepatan hipersonik sangat nyata. Sebuah tabrakan dengan partikel sekecil cat saja bisa menimbulkan kerusakan fatal pada struktur sebesar Luanniao. Perlindungan yang memadai akan menambah bobot dan kerumitan.
- Biaya: Perkiraan biaya untuk proyek semacam ini akan sangat astronomis, bahkan melampaui proyek-proyek luar angkasa terbesar yang pernah ada. Apakah investasi sebesar itu dapat dibenarkan, dan apakah ada negara yang mampu menanggungnya?
Diplomat Jerman dan analis antariksa Heinrich Kreft secara lugas menyatakan bahwa dari perspektif hari ini, proyek tersebut "sepenuhnya tidak realistis," kecuali jika kita berbicara tentang jangka waktu yang sangat panjang. Namun, Kreft juga menambahkan nuansa penting: "Banyak hal yang merupakan fiksi ilmiah 20 atau 30 tahun lalu menjadi nyata hari ini." Pernyataan ini mencerminkan dilema yang sering terjadi dalam inovasi teknologi: apa yang dianggap mustahil hari ini bisa menjadi kenyataan esok hari dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan rekayasa. Penerbangan, roket, internet, dan perjalanan luar angkasa adalah contoh nyata dari apa yang dulunya hanya ada dalam imajinasi fiksi ilmiah.
Visi China ini juga menandai bergabungnya mereka dalam perlombaan yang dipicu oleh tokoh-tokoh seperti Elon Musk dari SpaceX atau Jeff Bezos dari Blue Origin, dengan visi mereka tentang kolonisasi Bulan dan Mars, serta pengembangan infrastruktur antariksa. Sementara Musk dan Bezos berfokus pada eksplorasi dan pemanfaatan antariksa komersial, proyek Luanniao Tiongkok menyoroti dimensi militer dari ambisi antariksa ini. Ini menunjukkan bahwa perlombaan antariksa modern tidak hanya tentang siapa yang bisa mencapai Bulan atau Mars lebih dulu, tetapi juga siapa yang bisa mendominasi dan mengendalikan ruang antariksa dekat Bumi untuk tujuan strategis.
Analisis dari Amerika Serikat, khususnya artikel di National Interest ber "Beijing Ingin Anda Percaya Mereka Membangun Kapal Induk Terbang," menafsirkan Luanniao sebagai propaganda yang cerdik. Penulis Brandon J. Weichert berpendapat bahwa visi tersebut adalah bagian dari propaganda yang dirancang untuk membuat Barat gugup, membuang waktu, dan mengalihkan sumber daya untuk menanggapi ancaman yang mungkin tidak realistis. Tujuan utamanya mungkin bukan untuk benar-benar membangun kapal tersebut dalam waktu dekat, melainkan untuk menciptakan efek psikologis, memproyeksikan kekuatan, dan mengganggu perencanaan strategis lawan.
Bagi Heinrich Kreft, pengumuman semacam ini sepertinya adalah pesan dalam permainan kekuasaan dengan AS, terutama dengan latar belakang konflik Taiwan yang semakin memanas. Kreft menunjuk pada beberapa pengumuman senjata super China yang spektakuler di masa lalu, mulai dari senjata pemburu kapal selam hingga sistem antariksa yang oleh para ahli Barat sering diklasifikasikan sebagai tidak realistis. Pola ini menunjukkan bahwa Tiongkok sering menggunakan pengumuman proyek-proyek militer futuristik sebagai alat diplomasi paksaan dan proyeksi kekuatan. Ini adalah cara untuk mengklaim superioritas teknologi, menantang hegemoni AS, dan memperkuat posisi tawar China di panggung global.
Pada akhirnya, proyek kapal induk terbang Luanniao Tiongkok, apakah itu visi yang benar-benar akan terwujud atau hanya strategi propaganda yang brilian, menyoroti ambisi luar biasa negara tersebut dalam mendominasi domain antariksa. Ini adalah cerminan dari keyakinan China akan masa depan yang terintegrasi antara Bumi dan luar angkasa, di mana kekuatan militer tidak lagi terbatas pada daratan dan lautan. Sementara skeptisisme teknis tetap tinggi, pengumuman ini memaksa dunia untuk merenungkan batas-batas teknologi dan implikasi geopolitik dari perlombaan antariksa yang semakin intens. Di era di mana fiksi ilmiah semakin sering menjadi kenyataan, visi "Gerbang Surgawi" Tiongkok mungkin merupakan indikator awal dari apa yang mungkin terjadi di masa depan yang tidak terlalu jauh.

