0

Alyssa Soebandono Bantah Terima LPDP: Biaya Pribadi dan Beasiswa Universitas

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di tengah sorotan yang semakin tajam terhadap para alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), menyusul pernyataan kontroversial dari Dwi Sasetyaningtyas yang menyatakan "Cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan," nama-nama alumni LPDP lainnya turut menjadi perhatian publik. Salah satu nama yang sempat ramai diperbincangkan dan dikaitkan sebagai penerima beasiswa LPDP adalah aktris kenamaan, Alyssa Soebandono. Namun, istri dari aktor Dude Harlino ini dengan tegas membantah kabar tersebut melalui unggahan di akun Instagram Story pribadinya. Ia mengklarifikasi bahwa dirinya tidak pernah menerima beasiswa dari LPDP, bahkan tidak pernah mendaftarkan diri.

"Faktanya, saya bukanlah penerima beasiswa LPDP dan tidak pernah mendaftarkan diri," tegas Alyssa Soebandono, sambil melampirkan tangkapan layar dari sebuah laman berita yang mencantumkan namanya sebagai salah satu penerima beasiswa LPDP. Klarifikasi ini disampaikan Alyssa pada Rabu (25/2/2026), sebagai upaya untuk meluruskan informasi yang beredar di masyarakat.

Alyssa memang membenarkan bahwa dirinya pernah menempuh pendidikan tinggi di Monash University, salah satu universitas bergengsi di Australia. Namun, ia menegaskan bahwa seluruh biaya pendidikannya di jenjang Sarjana (S1) ditanggung sepenuhnya oleh biaya pribadi. Ini berarti, ia tidak menggunakan dana beasiswa dari LPDP untuk studi S1-nya. Aktris yang mulai dikenal luas melalui sinetron "Inikah Rasanya" ini kemudian menjelaskan lebih lanjut mengenai pendidikannya di jenjang Magister (S2).

"Saya menempuh S1 di Monash University (biaya sendiri) dan S2 mendapatkan beasiswa penuh dari London School Of Public Relations," ungkap Alyssa Soebandono. Pernyataan ini menunjukkan bahwa untuk jenjang S2, ia berhasil mendapatkan beasiswa penuh, namun bukan dari LPDP, melainkan dari London School of Public Relations (LSPR). Beasiswa penuh dari LSPR ini mencakup seluruh biaya kuliahnya di jenjang magister.

Dengan demikian, Alyssa Soebandono secara eksplisit menyatakan bahwa narasi yang menyebutkan dirinya sebagai penerima beasiswa LPDP adalah keliru. Ia berharap dengan klarifikasi ini, berita yang simpang siur di publik dapat diluruskan. "Semoga ini bisa meluruskan berita yang ada. Terima kasih, yah," tutup Alyssa Soebandono. Klarifikasi ini penting mengingat LPDP merupakan program beasiswa bergengsi yang dikelola oleh pemerintah Indonesia untuk mendanai pendidikan tinggi bagi putra-putri terbaik bangsa, baik di dalam maupun luar negeri. Nama-nama penerima beasiswa ini seringkali menjadi inspirasi, namun juga bisa menjadi sasaran kritik apabila ada isu yang menyertainya.

Fenomena munculnya nama-nama selebritas sebagai penerima beasiswa LPDP memang bukan hal baru. Beberapa nama besar di dunia hiburan Indonesia lainnya juga tercatat pernah menerima fasilitas serupa, yang kemudian menjadi sorotan publik. Di antara deretan selebritas yang diketahui pernah menerima beasiswa LPDP adalah Tasya Kamila, yang mengambil studi di Columbia University; Maudy Ayunda, yang menempuh pendidikan di University of Oxford dan Stanford University; Gita Gutawa, yang melanjutkan studi di University of Birmingham; serta Isyana Sarasvati, yang belajar di Nanyang Academy of Fine Arts. Para alumni LPDP ini, setelah menyelesaikan studi mereka di luar negeri, umumnya kembali ke Indonesia dan melanjutkan karir mereka di bidang masing-masing, memberikan kontribusi yang beragam bagi tanah air.

Kasus Alyssa Soebandono ini menyoroti pentingnya verifikasi informasi, terutama ketika menyangkut program pemerintah yang sensitif seperti LPDP. Di era digital ini, informasi dapat menyebar dengan sangat cepat, namun tidak selalu akurat. Tanggung jawab untuk memastikan kebenaran informasi menjadi krusial, baik bagi media maupun bagi publik. Klarifikasi yang disampaikan Alyssa Soebandono menjadi contoh bagaimana individu dapat secara proaktif meluruskan kesalahpahaman publik mengenai pencapaian akademis mereka.

Pentingnya LPDP sebagai instrumen pengembangan sumber daya manusia Indonesia tidak bisa dipungkiri. Program ini bertujuan untuk mencetak pemimpin masa depan yang berkualitas, inovatif, dan memiliki integritas, yang nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan bangsa. Oleh karena itu, transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dan pemberian beasiswa LPDP menjadi sangat vital. Setiap informasi yang beredar terkait penerima beasiswa haruslah dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Isu yang muncul belakangan ini, termasuk pernyataan Dwi Sasetyaningtyas, telah memicu perdebatan mengenai berbagai aspek terkait kewarganegaraan dan pilihan hidup. Dalam konteks ini, klarifikasi dari Alyssa Soebandono menjadi penting untuk memisahkan fakta dari asumsi. Ia telah dengan jelas menyatakan bahwa pendidikannya di Monash University adalah murni biaya pribadi, sementara beasiswa S2 diperoleh dari institusi lain, yaitu LSPR. Pernyataan ini memberikan gambaran yang lebih akurat tentang perjalanan akademisnya.

Perbedaan latar belakang dalam memperoleh pendidikan tinggi, baik melalui biaya pribadi, beasiswa universitas, maupun beasiswa lembaga pemerintah seperti LPDP, merupakan hal yang lumrah terjadi. Masing-masing memiliki tantangan dan cerita tersendiri. Yang terpenting adalah kontribusi yang diberikan oleh individu setelah mereka menyelesaikan pendidikannya, terlepas dari bagaimana mereka membiayai studi mereka.

Klarifikasi Alyssa Soebandono ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi publik dan media dalam menyebarkan informasi, serta mendorong adanya verifikasi yang lebih cermat sebelum suatu berita dipublikasikan atau disebarluaskan. Kejujuran dan ketepatan informasi adalah fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik. Dengan adanya klarifikasi ini, diharapkan isu mengenai penerimaan beasiswa LPDP yang melibatkan namanya dapat segera terselesaikan dengan baik dan tidak menimbulkan spekulasi lebih lanjut. Ia telah memberikan penjelasan yang gamblang dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga publik dapat memahami realitas di balik sorotan yang sempat mengarah padanya.