BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Harry Kiss dan Besbarini, orang tua dari almarhum Vidi Aldiano, secara konsisten melakukan ziarah ke makam putra mereka di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Tindakan ini bukanlah sekadar rutinitas biasa, melainkan didasari oleh keyakinan mendalam yang berakar pada tradisi budaya serta keinginan untuk terus menjaga ikatan spiritual dengan Vidi, terutama dalam periode 40 hari setelah kepergiannya. Pada Selasa, 24 Maret 2026, pasangan ini kembali terlihat menapaki tanah pemakaman, sebuah ritual yang telah mereka jalani secara intensif menjelang genapnya 40 hari kepergian Vidi.
Harry Kiss secara lugas memaparkan kepercayaan yang dipegangnya terkait keberadaan energi arwah selama rentang waktu 40 hari pasca-meninggal dunia. "Ya, katanya arwahnya itu kalau 40 hari, kata orang Jawa ya, ternyata bukan orang Jawa saja lho. Saya kemarin baca ulasan dari media internasional ya, itu energinya itu masih ada ya, selama 40 hari," ungkap Harry Kiss dengan penuh keyakinan. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa keyakinan ini tidak terbatas pada satu kelompok budaya, melainkan memiliki resonansi yang lebih luas, bahkan terekam dalam kajian internasional. Beliau menambahkan bahwa setelah melewati masa 40 hari, energi tersebut diyakini mulai melemah, meskipun tidak sepenuhnya hilang. Oleh karena itu, ia dan sang istri merasa penting untuk setiap hari mendatangi makam Vidi, bukan hanya sebagai ziarah fisik, tetapi sebagai upaya untuk terus mengirimkan doa dan energi positif. "Tapi setelah 40 hari katanya energi itu mengecil, tapi tetap ada. Nah makanya kita selama 40 hari ini kita akan terus ke makam, ya kita doa," jelasnya lebih lanjut, menegaskan tujuan utama dari ziarah rutin tersebut.
Lebih dari sekadar kehadiran keluarga, ziarah ke makam Vidi Aldiano juga diwarnai oleh antusiasme dan dedikasi dari para penggemar yang tergabung dalam komunitas "Vidis". Kehadiran mereka dalam jumlah besar menunjukkan betapa Vidi telah menyentuh hati banyak orang. Harry Kiss menceritakan bahwa para penggemar ini tidak hanya datang untuk berziarah, tetapi juga memiliki rencana untuk mewujudkan aksi sosial yang terinspirasi dari semangat Vidi. "Kemarin juga fans club-nya Vidi itu, Vidis, itu juga ke sini banyak banget orang. Nah rencananya mereka itu mau bikin aksi sosial ke depan ya. Jadi aksi sosial itu ‘Vidi Akan Tetap Hidup’ atau apalah. Kemarin baru ide, ini mungkin ke depan kita akan bikin namanya ‘Vidi Tetap Hidup’," ujar Harry Kiss dengan nada bangga melihat inisiatif para penggemar.
Aksi sosial yang digagas oleh "Vidis" ini direncanakan akan berfokus pada kegiatan yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat yang membutuhkan. Harry Kiss menjelaskan bahwa fokusnya adalah membantu anak yatim, kaum dhuafa, serta mereka yang tengah berjuang melawan penyakit kanker. "Nanti mungkin mereka yang akan ngaturlah, kita memang nggak gitu paham kayak gitu-gitu, tapi mereka itu aktif sekali anak-anak Vidis itu. Itu ke depan mungkin itu. Jadi supaya sesuai dengan keinginan Vidi bahwa dia pengin ‘hidup’," tuturnya, menyiratkan bahwa Vidi memiliki keinginan kuat untuk terus memberikan dampak positif bagi dunia, bahkan setelah kepergiannya. Semangat "hidup" yang dimaksud Vidi di sini adalah bagaimana warisannya dapat terus berlanjut melalui tindakan-tindakan kebaikan.
Di tengah suasana haru dan doa, Besbarini, ibunda Vidi, berbagi pengalaman spiritual yang mengharukan. Ia mengaku sempat memimpikan almarhum putranya, sebuah pengalaman yang sangat ia nantikan. Dalam mimpi tersebut, Vidi datang dan memeluknya erat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Saya pernah, akhirnya sekali. Pengin sekali dimimpikan, yang waktu itu dalam mimpi itu si Vidi datang ke panggung, terus saya memang selalu kan dampingin, menonton bersama Bapak dari belakang panggung. Terus dia datang, terus peluk saya. Sudah, gitu saja. Tapi lega, rasanya lega. Saya sampaikan rasa kangennya almarhum," tutur Besbarini, menggambarkan betapa momen singkat itu memberinya kelegaan dan menjadi sarana untuk menyampaikan kerinduannya.
Harry Kiss kemudian menambahkan sebuah kepercayaan yang ia dengar terkait interpretasi mimpi bertemu dengan orang yang telah meninggal, sebuah keyakinan yang cukup umum dalam beberapa tradisi. "Katanya, katanya lagi nih, kalau kita didatangi Vidi tapi Vidinya nggak ngomong, itu benar. Tapi kalau dia ngomong begini, begini, begitu, itu jin tuh biasanya," ungkapnya, menjelaskan sebuah pandangan spiritual yang menekankan keaslian mimpi jika yang meninggal tidak berbicara. Hal ini senada dengan apa yang dialami Besbarini, di mana Vidi dalam mimpinya hanya memberikan pelukan. Besbarini pun menegaskan kembali bahwa dalam mimpinya tidak ada percakapan, hanya sebuah pelukan yang memberikan ketenangan luar biasa. "Masyaallah itu memang Vidi kalau habis nyanyi ya seperti itu sih. Jadi yang dia lakukan peluk, dan karena dia memang tahu saya tuh memang hanya butuh peluk dari anak-anak semuanya. Pelukmu sementara, tapi di hatiku selamanya," pungkasnya, menutup cerita dengan ungkapan kasih sayang yang mendalam dan abadi.
Ziarah rutin yang dilakukan oleh orang tua Vidi Aldiano selama 40 hari ini bukan hanya sekadar sebuah tradisi, melainkan cerminan dari cinta yang tak terputus, keyakinan spiritual yang kuat, serta upaya untuk menjaga memori dan semangat kebaikan yang telah Vidi tinggalkan. Kehadiran para penggemar yang turut berpartisipasi dalam ziarah dan rencana aksi sosial semakin mempertegas bahwa Vidi Aldiano akan terus hidup dalam hati banyak orang melalui karya, inspirasi, dan kebaikan yang ia tebarkan. Perjalanan spiritual ini menjadi pengingat bahwa ikatan antara keluarga dan orang terkasih tidak terputus oleh kematian, melainkan bertransformasi menjadi energi positif yang terus mengalir dan menginspirasi.
Dukungan dari keluarga dan komunitas penggemar seperti "Vidis" menunjukkan kekuatan sebuah ikatan yang melampaui batas fisik. Rencana aksi sosial yang diusung tidak hanya menjadi cara untuk mengenang Vidi, tetapi juga untuk meneruskan nilai-nilai positif yang ia anut selama hidupnya. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa semangat seorang individu dapat terus hidup dan memberikan dampak positif bagi masyarakat luas, bahkan setelah ia tiada. Ziarah yang dilakukan oleh Harry Kiss dan Besbarini menjadi simbol ketabahan, cinta, dan keyakinan akan adanya kehidupan setelah kematian, sebuah perjalanan spiritual yang penuh makna dan pengharapan.
Peristiwa ini juga menyoroti bagaimana tradisi dan kepercayaan budaya dapat menjadi sumber kekuatan dan penghiburan bagi keluarga yang sedang berduka. Keyakinan akan energi arwah selama 40 hari, yang diyakini tidak hanya oleh masyarakat Jawa tetapi juga terekam dalam kajian internasional, memberikan landasan spiritual bagi orang tua Vidi untuk terus menjaga koneksi dengan sang putra. Momen-momen seperti mimpi yang dialami Besbarini menjadi pengingat akan kehadiran Vidi yang mungkin tak kasat mata, namun terasa begitu nyata dalam hati.
Kehadiran para penggemar dalam jumlah besar di TPU Tanah Kusir menjadi saksi bisu betapa besar pengaruh Vidi Aldiano terhadap generasi muda. Inisiatif mereka untuk menggelar aksi sosial "Vidi Akan Tetap Hidup" atau "Vidi Tetap Hidup" adalah manifestasi dari rasa cinta dan kekaguman yang mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa warisan seorang seniman tidak hanya terletak pada karya-karyanya, tetapi juga pada inspirasi yang ia berikan kepada orang lain untuk berbuat kebaikan. Kolaborasi antara keluarga dan penggemar ini menciptakan sebuah sinergi yang kuat, memastikan bahwa semangat Vidi akan terus hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, ziarah rutin selama 40 hari ini menjadi sebuah narasi tentang cinta yang abadi, keyakinan yang teguh, dan semangat kebaikan yang terus berlanjut. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah kehilangan dapat diubah menjadi sumber kekuatan dan inspirasi, serta bagaimana ikatan spiritual dapat terus terjaga melalui doa, kenangan, dan tindakan nyata. Vidi Aldiano mungkin telah berpulang, namun semangatnya, karya-karyanya, dan kebaikan yang ia sebarkan akan terus hidup dan menginspirasi banyak orang, seperti yang tercermin dalam ziarah penuh makna ini.

