BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Aksi berbahaya drifting liar yang terekam dalam video viral di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, telah memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak, terutama para praktisi keselamatan berkendara. Polisi kini tengah gencar melakukan pencarian terhadap pengemudi yang nekat melakukan manuver ekstrem tersebut di ruang publik. Menurut Sony Susmana, seorang praktisi keselamatan berkendara dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), pelaku aksi berbahaya ini mayoritas adalah anak-anak muda yang memiliki jam terbang minim dan belum memahami sepenuhnya risiko dari tindakan mereka. Drifting, menurut Sony, adalah sebuah olahraga ekstrem yang membutuhkan keterampilan tinggi, kontrol presisi terhadap kendaraan, dan yang terpenting, harus dilakukan di tempat yang memang dirancang khusus untuk aktivitas semacam itu, bukan di jalan raya yang notabene adalah ruang publik yang dinamis dan penuh potensi bahaya.
"Drifting ini olahraga yang sifatnya ekstrem. Dia itu mengontrol slide, baik roda depan maupun roda belakang, dan itu hanya bisa dilakukan ketika ada tikungan, supaya ada satu gambaran mobil ini ngedrift atau ngepot," jelas Sony Susmana dalam wawancara dengan detikcom pada Rabu, 7 Januari 2026. Ia menekankan bahwa tujuan dari drifting adalah untuk mengendalikan pergerakan mobil yang meluncur atau tergelincir, yang umumnya terjadi saat melewati tikungan. Namun, di jalan raya, kondisi ini menjadi sangat berbeda dan jauh lebih berbahaya. Risiko kendaraan mengalami oversteer (bagian belakang mobil tergelincir keluar) atau understeer (bagian depan mobil kehilangan traksi dan meluncur lurus) akibat gaya yang diterapkan oleh pengemudi bisa berujung pada kecelakaan fatal. Berbeda dengan sirkuit balap yang dilengkapi dengan pembatas (barrier) dan area pengaman khusus untuk melindungi penonton maupun pengemudi, jalan raya tidak memiliki fasilitas serupa. Pohon, trotoar, tiang listrik, bahkan pengguna jalan lain bisa menjadi objek tabrakan yang berakibat fatal jika kendaraan kehilangan kendali saat melakukan drifting.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, mengapa fenomena anak muda gemar melakukan aksi drifting di jalan raya terus berulang? Sony Susmana mengidentifikasi dua faktor utama yang mendorong perilaku ini: faktor eksistensi dan keterbatasan fasilitas trek drifting yang memadai di Indonesia. Di jalan raya seperti Pondok Indah, yang memiliki pencahayaan lampu yang cukup dan seringkali menjadi tempat berkumpulnya para penggemar otomotif, memberikan sensasi adrenalin yang berbeda. Keberadaan penonton di pinggir jalan, ditambah dengan variasi kondisi jalan dan tikungan yang tersedia, dapat memberikan pengalaman yang dianggap lebih menantang dan memuaskan bagi para pengemudi muda yang haus akan pengakuan. "Kenapa sering dilakukan di jalan raya? Pertama experience-nya. Kita tahu bahwa yang namanya track drifting yang ada di Indonesia itu-itu saja kan, angka 0, angka 8, S, dan sebagainya, tetapi tidak ada satu perubahan karena keterbatasan trek. Kalau di jalan raya, khususnya di Pondok Indah, ini kan ada sorot lampu, ada penonton, kemudian ada trek yang berbeda-beda," terang Sony. Ia juga menambahkan bahwa pelaku aksi semacam ini cenderung berasal dari kalangan anak muda yang jam terbangnya masih rendah. Pengemudi yang lebih berpengalaman dan matang, menurut pandangannya, cenderung lebih bijak dan tidak lagi melakukan aksi berbahaya di tempat umum.
Alasan "malam hari sudah sepi" seringkali menjadi pembenaran klasik para pelaku drifting liar untuk menutupi tindakan mereka. Namun, Sony Susmana menegaskan bahwa anggapan ini sangat keliru. Jalan raya, bahkan di malam hari saat terlihat sepi, tetaplah sebuah area publik yang dinamis dan tidak dapat diprediksi. "Jadi dari sisi safety driving, sebaiknya (drift) tidak dilakukan di tempat umum di jalan raya, karena ada beberapa poin juga yang harus diperhatikan, yaitu pengguna jalan lain, kita nggak tahu kapan motor nongol, kapan ada truk, kapan ada penyeberang jalan dan sebagainya, karena namanya jalan raya merupakan tempat umum yang digunakan bersama tidak digunakan pribadi, sekalipun digunakan malam hari pada saat sepi, tetapi bahaya yang timbul dari mereka ini bisa terjadi kapan saja," tegasnya. Kehadiran kendaraan roda dua yang tiba-tiba muncul, truk besar yang melintas, pejalan kaki yang menyeberang, atau bahkan perubahan mendadak pada kondisi jalan, semuanya merupakan faktor risiko yang tidak dapat dikontrol dalam sebuah manuver drifting yang agresif.
Menanggapi maraknya aksi berbahaya ini, Sony Susmana memberikan saran yang tegas bagi para drifter muda yang memiliki keinginan untuk mengembangkan kemampuan mereka. Ia menekankan pentingnya untuk beralih ke trek resmi yang telah disediakan. Di sana, mereka dapat belajar dan berlatih di bawah pengawasan instruktur profesional, sehingga ilmu dan keterampilan mereka dapat berkembang secara optimal dan aman. "Ini yang harus diperhatikan buat drifter-drifter khususnya anak-anak muda yang masih berkembang, yang memang masih butuh pengalaman, jam terbang yang tinggi untuk melakukan pendalaman ilmu sebaiknya dilakukan di tempat semestinya di trek, dan dengan pendampingan instruktur misalnya," ungkap Sony. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran akan keselamatan dan tanggung jawab sebagai seorang pengemudi. Modal nekat di jalan umum tidak akan pernah bisa menggantikan pembelajaran yang terstruktur dan aman.
Video viral yang beredar luas di media sosial memperlihatkan dengan jelas aksi seorang pengemudi mobil sedan berwarna silver yang awalnya berhenti di lampu merah dekat Pondok Indah Mall (PIM) 3. Tak lama kemudian, mobil tersebut melaju dan melakukan manuver drifting sebanyak dua putaran di tengah-tengah simpang jalan. Setelah aksi membahayakan tersebut selesai, mobil itu langsung tancap gas meninggalkan lokasi kejadian. Aksi ini dilaporkan terjadi pada tanggal 3 Januari 2026.
Menyikapi laporan dan video viral tersebut, Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan bergerak cepat untuk mengusut kasus ini. Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Mujiyanto, menyatakan bahwa pihaknya akan mendalami dan menelusuri kegiatan drifting yang terjadi di Jalan Raya Pondok Indah, Kebayoran Baru. "Adanya video yang beredar di media sosial, ‘drifting’ di Pondok Indah, kami akan mendalami. Kemudian kami akan menelusuri kegiatan ‘drifting’ tersebut," ujar Kompol Mujiyanto pada Rabu.
Pihak kepolisian kini tengah berupaya keras untuk melacak identitas pengemudi mobil tersebut. Selain itu, mereka juga akan menganalisis video yang beredar untuk merekonstruksi kronologi kejadian secara detail dan mengidentifikasi potensi pelanggaran lalu lintas yang dilakukan. Kompol Mujiyanto menegaskan kembali bahwa aksi drifting di jalan umum sangat membahayakan pengguna jalan lain dan merupakan tindakan yang dilarang keras. Kegiatan semacam ini hanya diperbolehkan dilakukan di tempat-tempat khusus yang telah disediakan dan memiliki standar keamanan yang memadai, seperti fasilitas safety driving yang ada di Pusdik Lantas Polri, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. "Kalau aksi ‘drifting’ itu, kalau namanya aksi yang akan membahayakan orang lain ataupun pengendara lain. Itu sangat disayangkan. Intinya nggak sesuai pada tempatnya," tegas Kompol Mujiyanto, menekankan bahwa tindakan tersebut sangat tidak pantas dan membahayakan. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi semua pengemudi, terutama kaum muda, akan pentingnya keselamatan, kepatuhan terhadap aturan, dan kesadaran akan dampak tindakan mereka terhadap orang lain.

