Senja turun perlahan di balik pepohonan, menyapu sisa cahaya yang tertinggal di ufuk barat. Langit mulai kehilangan warna cerahnya, berganti dengan kelabu yang pekat, sementara seorang ayah duduk termenung sendirian di teras rumahnya yang sederhana. Di balik pintu kayu yang mulai dimakan usia, suara tawa tiga anaknya yang sedang bermain terdengar samar. Suara itu seharusnya menjadi melodi yang menenangkan, namun entah mengapa, justru terasa seperti duri yang menusuk batin. Ada kegelisahan yang menyesak, sebuah beban yang sudah berhari-hari bertengger di dadanya, membuat setiap tarikan napas terasa lebih berat dari biasanya.
Ia adalah seorang kepala keluarga yang memikul tanggung jawab atas tiga jiwa kecil yang sedang tumbuh. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar menyapa bumi, ia sudah beranjak pergi dengan membawa segenggam harapan. Ia menjemput rezeki dengan keringat yang bercucuran, menukar tenaga dengan rupiah yang tak seberapa. Namun, setiap sore saat ia melangkah pulang, yang dibawanya bukanlah rasa puas, melainkan hitungan-hitungan rumit di dalam kepala. Uang sekolah anak yang mulai menagih, stok beras yang menipis, tagihan listrik yang harus segera dibayar, hingga kebutuhan tak terduga yang selalu datang seperti tamu tak diundang. Baginya, roda kehidupan seolah berputar hanya untuk menguji kesabarannya; kebutuhan rumah tangga terasa seperti sumur tanpa dasar yang tidak pernah ada ujungnya.
Malam itu, setelah anak-anaknya terlelap dalam pelukan mimpi yang polos, ia duduk di sudut ruang tamu yang temaram. Dengan jemari yang kasar akibat kerja keras, ia membuka dompetnya. Hanya ada beberapa lembar uang yang tersisa, nilainya jauh dari cukup untuk menutupi kebutuhan esok hari. Ia menghela napas panjang, sebuah helaan yang terdengar seperti keputusasaan. Di dalam hatinya, deretan pertanyaan mulai bermunculan bak badai yang tak kunjung reda. "Apakah aku kurang bekerja keras?" bisiknya dalam hati. "Apakah rezekiku memang ditakdirkan sesempit ini?" Rasa iri yang manusiawi sempat menyelinap ketika ia membayangkan orang lain yang tampak begitu mudah menjalani hidup, sementara ia harus menghitung setiap rupiah sebelum berani membelanjakannya. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar, menghantui setiap sudut pikirannya hingga ia terjaga sampai dini hari.
Keesokan harinya, dengan niat untuk mencari ketenangan, ia memutuskan menemui seorang kiai alim yang tinggal di ujung desa. Kiai tersebut dikenal luas bukan hanya karena kedalaman ilmunya dalam agama, tetapi juga karena kebijaksanaan dan keadilannya dalam memandang persoalan hidup umat. Kepada sosok yang dihormati itu, ia tumpahkan seluruh kegelisahan yang selama ini ia pendam sendirian. Ia menceritakan bagaimana ia merasa lelah, bagaimana ia telah bekerja keras siang dan malam, namun hati kecilnya merasa semakin sempit, seolah dunia semakin lama semakin menyesakkan dada.
Sang kiai mendengarkan dengan saksama, wajahnya tenang meski matanya menatap tajam penuh empati. Setelah sang ayah selesai mencurahkan isi hatinya, kiai itu diam sejenak, membiarkan suasana hening menyelimuti ruangan. Lalu, dengan suara yang lembut namun tegas, ia bertanya, "Menurutmu, apa yang sebenarnya membuat seorang manusia mulia di mata Tuhannya?" Sang ayah terdiam, bingung harus menjawab apa. Ia mencoba menerka, "Apakah karena banyaknya harta yang ia kumpulkan, Yai?" Ia menggelengkan kepala. Kiai itu kembali bertanya, "Apakah karena rumahnya yang megah dan kedudukannya yang tinggi?" Sang ayah kembali menggeleng, menyadari bahwa jawaban-jawaban itu terasa hambar.
Kiai itu tersenyum, sebuah senyum yang meneduhkan. "Lalu mengapa engkau mengukur kebahagiaanmu dengan sesuatu yang memang tidak pernah Allah janjikan untuk sama rata?" tanyanya retoris. Sang ayah hanya mampu menundukkan kepala, merasa tertampar oleh kebenaran yang sederhana namun sering ia lupakan. Sang kiai kemudian mengutip sebuah pitutur luhur dari KH. Ahmad Rifa’i dalam kitab Abyanal Hawaij, Korasan 66, yang menjadi pegangan bagi banyak orang yang sedang mencari makna hidup:
Mukmin faqir sah iman syarat kapepekan
Kedik rizqine qona’ah kebatinan
Iku nyoto luwih luhur kaderajatan
Mungguh Allah wus kasebut ning Qur’an

Artinya, seorang mukmin yang hidup dalam kefakiran, namun tetap menjaga keabsahan imannya dan tetap teguh hatinya, adalah orang yang luar biasa. Meskipun rezekinya sedikit, jika ia memiliki qanaah atau rasa cukup dalam batinnya, maka di sisi Allah, derajatnya justru jauh lebih tinggi daripada mereka yang kaya namun lalai. "Faqir itu bukan berarti hina," kata sang kiai perlahan, menekankan setiap katanya. "Yang hina adalah ketika seseorang kehilangan Allah hanya karena terlalu sibuk mengejar dunia yang fana."
Sang kiai melanjutkan petuah tersebut dengan bait berikutnya:
Lamon netepi wajib tinggal maksiat
Mongko faqir adil luwih luhur derajat
Anapon faqir maksiat tan sholat
Mongko luwih hino tuwin kafir laknat
"Jika seseorang hidup dalam kesederhanaan, namun tetap menjalankan kewajiban salat dan menjauhi maksiat, maka kefakirannya tidak akan membuatnya rendah sedikit pun," ujar sang kiai. "Bahkan, ia bisa meraih derajat yang jauh lebih luhur. Namun, bagi mereka yang miskin lalu kehilangan arah, meninggalkan salat, dan justru terjerumus dalam kemaksiatan karena merasa putus asa, maka kemiskinan itu akan menjadi kehinaan yang nyata."
Kiai itu menatapnya dalam-dalam, memastikan setiap kata meresap ke dalam lubuk hati sang ayah. "Jangan pernah takut menjadi orang yang tidak memiliki banyak harta. Takutlah jika engkau memiliki banyak hal di dunia tetapi kehilangan rasa qanaah di dalam hati." Kalimat itu seperti anak panah yang tepat mengenai sasaran, mengetuk pintu hati yang selama ini terkunci oleh rasa kurang dan keluh kesah.
Selama ini, ia salah sangka. Ia mengira bahwa masalah terbesar dalam hidupnya adalah sedikitnya uang di dalam dompet. Ternyata, bukan itu masalah utamanya. Yang membuatnya sesak bukanlah kemiskinan itu sendiri, melainkan kebiasaannya membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih beruntung. Ia telah melupakan bahwa tawa anak-anaknya di ruang sebelah adalah rezeki yang tak ternilai harganya. Istri yang setia menunggunya pulang meski dengan tangan hampa adalah rezeki. Tubuh yang sehat dan masih mampu bekerja keras adalah rezeki. Bahkan, kesempatan untuk bersujud setiap hari di atas sajadah adalah rezeki yang jauh lebih mahal daripada emas dan perak yang bisa dibeli dengan uang.
Sang kiai kemudian memberikan nasihat penutup, "Berusahalah. Jangan pernah malas, karena bekerja adalah bentuk ibadah. Carilah rezeki yang halal, tunaikan kewajibanmu sebagai kepala keluarga, dan jauhilah segala bentuk maksiat. Namun, setelah semua ikhtiar maksimal itu engkau lakukan, serahkanlah hasilnya sepenuhnya kepada Allah. Tugasmu hanyalah berusaha dan berdoa, bukan menentukan berapa banyak Allah harus memberimu rezeki."
Ia mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca karena haru. Saat ia pulang, malam telah larut dan udara terasa dingin, namun hatinya justru terasa hangat. Ia membuka pintu rumah dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya. Di dalam kamar, tiga anaknya tertidur dengan pulas. Ia berdiri di ambang pintu, memandangi wajah mereka yang damai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa lapang dan lega. Uang di dompetnya memang belum bertambah, dan masalah hidupnya belum semuanya terselesaikan, namun ada sesuatu yang fundamental telah berubah: cara pandangannya terhadap hidup.
Ia tersenyum kecil di balik kegelapan malam. Mungkin Allah tidak sedang membuat hidupnya sempit, melainkan sedang mengajarkan sebuah pelajaran berharga bahwa luasnya rezeki tidak selalu diukur dari banyaknya nominal yang berada di tangan, tetapi dari lapangnya hati saat menerima segala ketetapan-Nya. Malam itu, ia tidak lagi menutup dompet dengan helaan napas kecewa. Sebaliknya, ia membuka sajadah, bersujud dengan penuh syukur. Di hadapan Allah, ia akhirnya memahami bahwa tidak semua orang yang memiliki sedikit adalah orang yang kekurangan, dan tidak semua orang yang memiliki banyak adalah orang yang kaya. Kekayaan yang paling sulit dicari bukanlah banyaknya harta, melainkan rasa cukup (qanaah) yang menetap kokoh di dalam hati. Ia akhirnya mengerti bahwa rezeki yang sesungguhnya bukanlah apa yang kita miliki, melainkan apa yang membuat kita tetap tegak berdiri dalam iman di tengah badai kehidupan yang tak menentu.
0 Comments