BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Aktor yang dikenal dengan paras rupawan dan aktingnya yang memukau, Ciccio Manassero, baru-baru ini membuat pengakuan yang mengejutkan sekaligus menggemaskan. Di tengah maraknya era digital yang serba canggih, Ciccio justru menyatakan dirinya sebagai pribadi yang gagap teknologi atau yang sering disapa "gaptek". Pengakuan ini muncul bukan tanpa alasan, melainkan didasari oleh pengalaman pribadi yang cukup memalukan namun berakhir dengan tawa. Ciccio mengaku bahwa ia cenderung tidak terlalu mengikuti perkembangan fitur-fitur digital terbaru yang muncul silih berganti, serta lebih memilih untuk mengabaikan inovasi teknologi yang ada di sekitarnya. Kepribadiannya yang santai dan cenderung klasik ini, membuatnya sedikit tertinggal dalam arus kemajuan teknologi yang begitu pesat.
Pengalaman paling memalukan sekaligus menghibur yang dialami Ciccio terjadi saat ia sedang menikmati momen santap siang bersama salah seorang rekan sesama aktornya, Jerome Kurnia. Cerita berawal ketika mereka hendak menyelesaikan pembayaran tagihan makanan dengan sistem pembagian biaya. Di sinilah Ciccio mulai merasakan kendala yang cukup signifikan terkait penggunaan sistem pembayaran non-tunai yang kini menjadi primadona, yaitu QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Jerome Kurnia, yang tampaknya lebih melek teknologi, menyarankan agar Ciccio menggunakan metode pemindaian kode QR untuk proses transfer dana yang dianggapnya lebih praktis dan efisien. Namun, alih-alih mengikuti saran tersebut dengan mudah, Ciccio justru melakukan sesuatu yang tak terduga, menunjukkan betapa ia benar-benar awam terhadap prosedur teknis penggunaan fitur tersebut dalam aplikasi ponselnya.
"Temenku Jerome waktu itu nawarin, aku kan mau transfer ke dia, kita makan bareng kan, pakai QRIS. Terus dia bilang, ‘scan aja QRIS’. Aku scan-nya dari kamera ponsel, bukan dari aplikasi m-banking, jadi gak bakal jadi lah," ungkap Ciccio Manassero dengan nada sedikit geli saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, pada hari Sabtu, 18 Juli 2026. Pengakuan ini sontak membuat rekan-rekannya yang mendengar terheran-heran sekaligus terhibur. Mereka tidak menyangka bahwa seorang aktor sepopuler Ciccio bisa mengalami kebingungan mendasar dalam menggunakan teknologi yang sudah umum digunakan oleh masyarakat luas. Ciccio, yang kini berusia 30 tahun, mencoba menjelaskan bahwa pemahaman terhadap teknologi baginya tidaklah datang secara spontan seperti kebanyakan orang di era digital saat ini. Ia merasa bahwa penggunaan teknologi seringkali membutuhkan pembelajaran yang lebih intens dan mendalam baginya.
Lebih lanjut, Ciccio merinci kebingungannya. Ia mengaku memang memiliki aplikasi mobile banking di ponselnya, namun kebiasaan lamanya adalah melakukan transaksi secara manual dengan mengetikkan nomor rekening dan jumlah yang ingin ditransfer. Ketika Jerome menyodorkan opsi pemindaian QRIS, Ciccio justru mengaitkannya dengan fungsi kamera biasa. "Ada, ada m-banking, tapi kan aku biasanya ketik nomornya saja berapa gitu. Ini dia kayak QR QR, aku scan-nya malah pakai kamera bukan dari m-banking, gak bisa gitu," tuturnya, menggambarkan ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas saat mencoba menggunakan fitur tersebut. Ia tidak menyadari bahwa untuk melakukan pembayaran QRIS, diperlukan akses melalui aplikasi mobile banking atau dompet digital yang memang telah terintegrasi dengan sistem pembayaran tersebut. Pengalaman ini menjadi bukti nyata betapa Ciccio masih terperangkap dalam pola pikir transaksi konvensional, meskipun ia hidup di era digital yang serba cepat.
Ketertarikan Ciccio pada teknologi juga terlihat dari preferensinya terhadap gawai. Aktor berdarah campuran Italia ini mengaku tidak memiliki ketertarikan untuk mengganti ponselnya dengan model-model terbaru yang terus bermunculan di pasaran. Baginya, kenyamanan adalah prioritas utama. Ia jauh lebih betah menggunakan ponsel yang menurutnya memiliki kesan klasik, tanpa embel-embel fitur tambahan yang terkadang membuatnya bingung. Hal ini menunjukkan bahwa Ciccio bukanlah tipe orang yang haus akan hal-hal baru, terutama yang berkaitan dengan teknologi. Ia lebih mengutamakan fungsionalitas yang ia pahami dan kuasai, daripada mengikuti tren yang mungkin akan membebani dirinya dengan kompleksitas yang tidak ia inginkan.
"Iya, aduh parah banget sih. Berarti lebih cuek aja sih kalau masalah teknologi," pungkasnya, mengakui bahwa ketidakpeduliannya terhadap perkembangan teknologi ini memang cukup parah. Namun, pengakuan ini justru menambah pesona Ciccio di mata penggemarnya. Sikapnya yang jujur dan apa adanya, serta pengalamannya yang relatable bagi sebagian orang yang juga merasa sedikit tertinggal dalam urusan teknologi, membuatnya semakin disukai. Di tengah gempuran informasi dan inovasi teknologi yang tak henti-hentinya, Ciccio Manassero memberikan pengingat bahwa tidak semua orang harus menjadi tech-savvy. Kenyamanan, pemahaman, dan adaptasi yang sesuai dengan diri sendiri adalah kunci. Pengalaman Ciccio dengan QRIS ini, meskipun memalukan baginya, justru menjadi cerita lucu yang menghangatkan dan menunjukkan sisi manusiawi dari seorang selebriti. Ia membuktikan bahwa kesuksesan dalam karier tidak selalu berbanding lurus dengan penguasaan teknologi terkini, dan hal itu bukanlah sebuah kekurangan, melainkan sebuah pilihan gaya hidup yang unik.
Lebih jauh lagi, pengalaman Ciccio ini juga dapat dilihat sebagai sebuah kritik halus terhadap desain antarmuka pengguna (UI) dan pengalaman pengguna (UX) dari beberapa aplikasi atau layanan digital. Meskipun QRIS dirancang untuk kemudahan, bagi pengguna yang benar-benar awam, tanpa panduan yang jelas, prosesnya bisa menjadi membingungkan. Ciccio, sebagai seorang individu yang mengaku gaptek, mungkin mewakili segmen pasar yang lebih luas yang membutuhkan edukasi yang lebih intensif dan antarmuka yang lebih intuitif. Perusahaan teknologi dan penyedia layanan pembayaran digital perlu terus berinovasi tidak hanya pada fitur, tetapi juga pada cara mereka mengkomunikasikan dan mengajarkan penggunaan produk mereka kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang mungkin tidak memiliki latar belakang teknologi yang kuat.
Pengakuan Ciccio juga menyoroti pentingnya literasi digital yang merata. Di era di mana transaksi digital menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, pemahaman dasar tentang cara kerja berbagai sistem pembayaran non-tunai seperti QRIS menjadi krusial. Hal ini tidak hanya untuk memudahkan individu dalam bertransaksi, tetapi juga untuk melindungi mereka dari potensi penipuan atau kesalahan yang mungkin terjadi akibat ketidakpahaman. Kampanye edukasi yang lebih masif dan mudah diakses, baik melalui media tradisional maupun digital, dapat membantu menjembatani kesenjangan literasi digital ini. Contohnya, video tutorial singkat yang menayangkan proses penggunaan QRIS dari awal hingga akhir, atau seminar dan lokakarya gratis yang diselenggarakan oleh pemerintah atau lembaga terkait, dapat menjadi solusi efektif.
Selain itu, fenomena "gaptek" yang dialami Ciccio Manassero juga bisa menjadi titik awal untuk diskusi lebih lanjut mengenai inklusivitas digital. Bagaimana kita bisa memastikan bahwa semua orang, tanpa memandang usia, latar belakang pendidikan, atau tingkat pemahaman teknologi, dapat merasakan manfaat dari kemajuan digital? Ciccio, dengan popularitasnya, memiliki platform yang kuat untuk menyuarakan isu ini. Pengalamannya dapat menginspirasi orang lain yang mungkin merasa malu untuk mengakui ketidaktahuan mereka tentang teknologi. Ia menunjukkan bahwa mengakui keterbatasan adalah langkah awal untuk belajar dan berkembang.
Mungkin saja, pengalaman Ciccio ini akan mendorongnya untuk mulai mempelajari lebih dalam tentang teknologi. Siapa tahu, di masa depan, ia justru akan menjadi duta literasi digital, menggunakan popularitasnya untuk mengajarkan orang lain tentang pentingnya adaptasi teknologi. Perjalanan Ciccio dari kebingungan QRIS hingga potensi menjadi advokat literasi digital adalah sebuah cerita yang menarik dan penuh potensi. Hingga saat ini, pengakuannya tetap menjadi sorotan, mengundang tawa sekaligus refleksi tentang bagaimana kita berinteraksi dengan dunia digital yang semakin kompleks. Kejujurannya adalah aset berharga, dan pengalamannya adalah pengingat bahwa teknologi, meskipun canggih, pada dasarnya diciptakan untuk melayani manusia, dan pemahaman yang baik adalah kunci untuk memanfaatkannya secara optimal.

