0

Mantan Bos PlayStation Ejek Steam Machine: Seperti Kembali ke Era PS4

Share

Di tengah euforia dan harga selangit di pasar sekunder, konsol terbaru besutan Valve, Steam Machine, justru menuai kritik pedas dari salah satu figur paling dihormati di industri game: Shuhei Yoshida. Mantan Presiden SIE Worldwide Studios di Sony dan juga mantan kepala divisi game independen di PlayStation ini secara terang-terangan melontarkan penilaian yang jauh dari kata positif, bahkan menyindir performa konsol tersebut dengan membandingkannya dengan era PlayStation 4.

Steam Machine, yang digadang-gadang sebagai langkah ambisius Valve untuk membawa ekosistem PC gaming ke ruang tamu dengan kemudahan konsol, memang telah ludes terjual di pasaran. Fenomena ini diperparah dengan harga unitnya di eBay yang melonjak gila-gilaan, menembus angka USD 3.000 (sekitar Rp 49 juta). Namun, popularitas di pasar tidak serta merta mencerminkan kepuasan pengguna, terutama bagi seorang veteran dengan standar setinggi Yoshida.

Sebagai seorang penikmat teknologi dan gamer sejati, Yoshida tidak ragu untuk ikut serta dalam gelombang pembeli awal Steam Machine, terlepas dari banderol harganya yang sangat tinggi, dimulai dari USD 1.049 (sekitar Rp 17,1 juta). Momen tersebut ia abadikan melalui unggahan di platform X (sebelumnya Twitter), menampilkan perangkat barunya yang bersanding manis dengan televisi miliknya. Namun, senyum antusiasme itu segera memudar setelah ia menghabiskan beberapa jam menjajal konsol tersebut.

Ulasan jujur Yoshida, yang sebagian besar jauh dari kata positif, dimulai dengan deskripsi singkat namun menusuk: "meh" – sebuah kata yang dalam konteks ini berarti mengecewakan atau biasa saja. Kata ‘meh’ yang singkat namun penuh makna tersebut, datang dari tokoh sekelas Yoshida yang telah menyaksikan evolusi industri game selama puluhan tahun, menjadi pukulan telak bagi reputasi Steam Machine. Ia bahkan tidak segan melontarkan sindiran tajam, mempertanyakan apakah dirinya sedang "kembali ke era PS4" – sebuah perbandingan yang tentu saja tidak diharapkan oleh konsol generasi baru yang mengklaim mampu bersaing di pasar modern.

Keluhan utama Yoshida selaras dengan poin yang telah disoroti oleh banyak reviewer teknologi dan komunitas gamer, yakni soal performa grafis. Ia merasa terganggu dengan rekomendasi sistem Steam Machine yang menjadikan resolusi 1080p sebagai pengaturan grafis bawaan (default) untuk sebagian besar game. Baginya, sebuah konsol baru dengan harga premium seharusnya tidak menjadikan resolusi yang identik dengan konsol generasi sebelumnya sebagai standar. Inilah yang secara langsung memicu sindiran pedasnya soal perbandingan dengan PlayStation 4, yang notabene merupakan konsol yang dirilis lebih dari satu dekade lalu.

Sebelumnya, Valve memang panen kritikan atas klaim awal mereka yang sangat ambisius. Mereka sesumbar bahwa Steam Machine mampu menjalankan game di resolusi 4K pada 60 frame per detik (fps) dengan bantuan teknologi FidelityFX Super Resolution (FSR) dari AMD. FSR sendiri adalah teknologi upscaling yang memungkinkan game dirender pada resolusi lebih rendah dan kemudian "diperbesar" secara cerdas ke resolusi yang lebih tinggi, seperti 4K, untuk meningkatkan performa tanpa mengorbankan terlalu banyak detail visual.

Namun, kenyataan di lapangan jauh panggang dari api. Target 4K/60fps tersebut, menurut banyak pengujian independen, hanya bisa dicapai jika pengaturan grafis game diturunkan ke tingkat paling rendah, mengorbankan kualitas visual secara signifikan. Bahkan, untuk beberapa game berat dan menuntut, Steam Machine tetap gagal menyentuh angka 4K/60fps yang dijanjikan, bahkan dengan FSR dan pengaturan terendah sekalipun. Hal ini menimbulkan kekecewaan besar di kalangan gamer yang berharap akan pengalaman PC gaming 4K yang mulus di ruang tamu mereka.

Fakta-fakta lapangan yang kontradiktif ini akhirnya memaksa Valve untuk secara diam-diam merevisi kalimat promosi mereka. Minggu lalu, klaim awal yang bombastis diganti menjadi lebih realistis: "Up to 4K gaming with FSR 4.1". Perubahan kecil pada frasa "Up to" (hingga) ini memiliki implikasi besar, secara implisit mengakui bahwa performa 4K penuh bukanlah jaminan, melainkan hanya target maksimal yang mungkin tercapai dalam kondisi tertentu, seperti dikutip detikINET dari Techspot, Jumat (3/7/2026). Revisi ini, meskipun dilakukan secara senyap, tidak luput dari perhatian para kritikus dan menunjukkan adanya kesenjangan antara janji pemasaran dan realitas produk.

Selain urusan performa layar yang menjadi sorotan utama, Yoshida juga mengeluhkan beberapa aspek lain yang memengaruhi pengalaman pengguna. Ia menyebut waktu booting sistem yang terasa lambat, sebuah hal yang bisa memecah imersi dan ekspektasi akan kecepatan sebuah konsol modern. Keluhan lain datang dari kualitas perangkat keras, khususnya stick analog pada Steam Controller yang terasa longgar. Dalam sebuah konsol dengan harga premium, detail kecil seperti kualitas kontroler ini sangat penting dan bisa menjadi penentu pengalaman bermain yang nyaman dan presisi.

Meskipun melontarkan banyak kritik tajam, Yoshida tetap memberikan beberapa pujian objektif, menunjukkan bahwa ia melakukan ulasan secara seimbang. Ia memuji antarmuka sistem (UI) yang mudah digunakan dan intuitif, sebuah aspek krusial yang menentukan seberapa mudah pengguna berinteraksi dengan konsol. Fitur ‘wake-up’ via controller, yang memungkinkan konsol menyala langsung dari jarak jauh hanya dengan menekan tombol pada kontroler, juga ia anggap sebagai nilai tambah yang praktis. Terakhir, opsi kustomisasi bodi konsol melalui "face plates" yang bisa diganti-ganti sesuai selera juga mendapatkan apresiasi, menunjukkan adanya perhatian Valve pada aspek personalisasi.

Pada akhirnya, Yoshida menyimpulkan bahwa ia akan tetap menyimpan konsol tersebut. Alasan utamanya adalah kemampuan Steam Machine untuk memainkan game Steam langsung dari ruang tamu, sebuah fitur yang ia nilai cukup berharga bagi seorang PC gamer yang ingin menikmati koleksi gamenya di layar televisi besar tanpa harus memindahkan PC atau ribet dengan setup yang kompleks.

Namun, ia menegaskan bahwa sangat sulit baginya untuk merekomendasikan Steam Machine kepada orang lain. Pertimbangan utama adalah harganya yang kontroversial, dimulai dari USD 1.049 (sekitar Rp 17,1 juta), yang menurutnya tidak sebanding dengan performa dan pengalaman yang ditawarkan. Bagi Yoshida, investasi sebesar itu seharusnya memberikan pengalaman yang jauh lebih superior, bukan malah mengingatkannya pada konsol generasi sebelumnya.

Ironisnya, meski mayoritas pengulas sepakat bahwa Steam Machine kurang bertenaga untuk harganya dan kualitasnya tidak sesuai ekspektasi, konsol ini tetap berstatus habis terjual di mana-mana. Fenomena ini menciptakan sebuah paradoks pasar yang membingungkan. Daya tarik merek Valve, eksklusivitas produk baru, dan mungkin juga rasa ingin tahu dari para penggemar PC gaming yang menginginkan solusi "konsol PC" tampaknya menjadi faktor pendorong utama di balik penjualan yang masif ini.

Jika ada pembeli yang nekat ingin memilikinya sekarang, mereka harus rela berurusan dengan para calo di eBay yang mematok harga selangit, mencapai USD 3.000 (sekitar Rp 49 juta) – dua hingga tiga kali lipat dari harga aslinya. Situasi ini menunjukkan bahwa permintaan untuk Steam Machine, meskipun dikelilingi oleh kritik, tetap tinggi, mungkin didorong oleh faktor FOMO (Fear of Missing Out) dan keinginan untuk menjadi bagian dari gelombang awal teknologi baru. Namun, ulasan tajam dari figur seperti Shuhei Yoshida menjadi pengingat penting bagi Valve dan calon pembeli akan adanya ekspektasi tinggi yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh Steam Machine.