0

5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

Share

Suasana duka menyelimuti Teheran saat peti jenazah mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, untuk pertama kalinya ditampilkan ke publik setelah insiden serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang merenggut nyawanya pada akhir Februari 2026 lalu. Kehadiran peti jenazah yang dibalut bendera kebesaran tersebut memicu gelombang emosi massa yang hadir, ditandai dengan tangisan histeris serta teriakan slogan-slogan keagamaan yang menggema di seluruh sudut ibu kota. Peristiwa ini menjadi simbol puncak ketegangan di kawasan Timur Tengah yang hingga kini masih berada dalam cengkeraman konflik berkepanjangan. Selain momen duka tersebut, berikut adalah rangkuman lima berita internasional yang paling menyita perhatian pembaca pada Jumat, 3 Juli 2026.

1. AS Ingatkan Iran soal Rencana Israel Bunuh Menlu dan Ketua Parlemen
Amerika Serikat dikabarkan telah mengirimkan peringatan tidak langsung kepada Iran mengenai rencana pembunuhan yang disusun oleh intelijen Israel. Target dari operasi tersebut tidak main-main, yakni Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dan Ketua Parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ancaman ini muncul di tengah berlangsungnya proses perundingan krusial antara Iran dan AS yang bertujuan untuk menghentikan perang yang telah meluluhlantakkan stabilitas regional.

Laporan yang dirilis oleh New York Times pada Kamis (2/7) mengutip pernyataan dari sejumlah pejabat Amerika, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun, yang memiliki akses terhadap informasi intelijen sensitif tersebut. Menurut laporan tersebut, AS tidak memberikan peringatan langsung ke Teheran, melainkan melalui perantara negara-negara di Timur Tengah yang diminta untuk segera menyampaikan pesan bahaya tersebut kepada pemerintah Iran. Langkah ini dinilai sebagai upaya Washington untuk mencegah eskalasi lebih lanjut yang bisa menggagalkan proses perdamaian yang sedang dirintis melalui jalur diplomasi di Doha, Qatar. Para analis menilai bahwa jika rencana pembunuhan ini berhasil dieksekusi oleh Israel, hal itu akan memicu pembalasan besar-besaran dari Iran yang berpotensi menarik seluruh kawasan ke dalam perang terbuka yang lebih luas.

2. Ketegangan di Selat Hormuz: Iran Murka Atas Kehadiran Jet Tempur dan Drone AS
Situasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah militer Iran melayangkan protes keras terhadap kehadiran pesawat militer Amerika Serikat yang terus-menerus melintas di atas jalur perairan vital tersebut. Selat Hormuz bukan sekadar perairan biasa; ini adalah jalur nadi bagi pasokan minyak dan gas global yang menjadi titik perselisihan utama antara Teheran dan Washington.

Militer Iran menyatakan bahwa manuver jet tempur dan drone pengintai milik AS merupakan bentuk provokasi yang secara langsung mengancam keamanan dan kedaulatan wilayah mereka. Dalam pernyataan resmi yang dilansir oleh Middle East Monitor pada Jumat (3/7/2026), otoritas militer Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam. Teheran memperingatkan bahwa mereka siap memberikan respons yang "cepat dan tegas" terhadap setiap bentuk campur tangan atau intrusi militer AS di wilayah perairan tersebut. Peningkatan aktivitas militer ini menciptakan kekhawatiran di pasar energi global, karena setiap gangguan kecil di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak dunia secara drastis.

3. Pertama Kali Sejak Perang, Kepala Garda Revolusi Iran Muncul ke Depan Publik
Dalam sebuah momen yang sangat mengejutkan bagi banyak pihak, Ahmad Vahidi, Kepala Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), akhirnya menampakkan diri di depan publik untuk pertama kalinya sejak dimulainya perang Timur Tengah pada Februari lalu. Kemunculan Vahidi terjadi di tengah prosesi penghormatan terakhir bagi mendiang Ayatollah Ali Khamenei di Teheran.

Berdasarkan laporan kantor berita AFP dan rekaman yang disiarkan oleh media lokal Fars, Vahidi terlihat berdiri di samping peti jenazah Khamenei, meletakkan tangannya di atas peti, dan memanjatkan doa dengan khidmat. Selama berbulan-bulan, keberadaan Vahidi menjadi misteri besar. Ia dikabarkan sengaja bersembunyi atau berpindah-pindah lokasi secara rahasia untuk menghindari target pembunuhan yang dilakukan oleh pihak lawan, mengingat posisinya sebagai komandan tertinggi Garda Revolusi yang sangat krusial dalam struktur pertahanan Iran. Kemunculannya kali ini dianggap sebagai pesan politik yang kuat kepada publik Iran bahwa struktur komando militer negara tersebut masih solid meskipun sedang dalam tekanan perang yang hebat.

4. AS Wanti-wanti Iran: Jangan Ada Perubahan di Selat Hormuz
Di sela-sela berakhirnya pembicaraan tidak langsung di Doha, Qatar, pihak Amerika Serikat memberikan pesan tegas kepada perwakilan Iran mengenai status quo di Selat Hormuz. Washington menegaskan penolakan keras terhadap segala bentuk perubahan sepihak yang dilakukan oleh Teheran di jalur strategis tersebut.

Menurut sumber yang dikutip oleh Al Arabiya, AS telah memberikan peringatan bahwa perubahan apa pun, baik itu dalam bentuk restriksi pelayaran, latihan militer yang mengganggu, atau pemasangan instalasi baru, akan dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan awal yang pernah dibuat kedua negara. Amerika Serikat menekankan bahwa jalur tersebut harus tetap terbuka dan bebas untuk navigasi internasional. Peringatan ini merupakan bagian dari strategi Washington untuk menekan Iran agar tidak memanfaatkan situasi perang untuk memperluas kendali atas jalur logistik energi dunia, yang jika dibiarkan, akan memberikan keuntungan taktis bagi Iran dalam negosiasi masa depan.

5. Suasana Haru Momen Peti Jenazah Ayatollah Khamenei Ditampilkan
Peti jenazah Ayatollah Ali Khamenei menjadi pusat perhatian dunia saat akhirnya dibuka untuk pertama kalinya di depan publik. Bagi masyarakat Iran, kematian Khamenei akibat serangan udara gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu adalah pukulan telak yang mengubah arah sejarah negara tersebut.

Di lokasi prosesi, suasana berubah menjadi sangat emosional. Para pelayat yang datang dari berbagai penjuru Iran tampak menangis histeris, beberapa di antaranya terlihat mencoba menyentuh peti jenazah tersebut sebagai bentuk penghormatan terakhir. Teriakan slogan-slogan keagamaan dan seruan keadilan menggema di tengah kerumunan massa yang memadati area tersebut. Penampilan jenazah ini seolah menjadi konfirmasi fisik atas duka mendalam yang dirasakan oleh pendukung rezim, sekaligus menjadi panggung bagi pidato-pidato pengobar semangat dari para tokoh pemimpin yang tersisa. Hingga hari ini, kematian Khamenei tetap menjadi sentimen utama yang menggerakkan retorika perlawanan Iran terhadap dominasi Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah, menciptakan ketidakpastian geopolitik yang mendalam bagi seluruh komunitas internasional yang kini tengah mengamati perkembangan situasi di Teheran dengan penuh kewaspadaan.