Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak ke titik nadir setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, secara terbuka menyatakan bahwa negaranya telah menetapkan Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran saat ini, sebagai target utama pembunuhan. Pernyataan provokatif ini memicu reaksi berantai dari Teheran, yang menegaskan tidak akan tinggal diam dan bersiap meluncurkan respons militer yang keras dan segera terhadap ancaman tersebut.
Konflik yang kian memanas ini bermula dari pernyataan Israel Katz melalui platform media sosial X dan laporan kantor berita Israel, Ynet, pada Senin (29/6/2026). Dalam pernyataannya, Katz menegaskan bahwa siapa pun yang ditunjuk oleh Teheran untuk menggantikan kepemimpinan sebelumnya dan terus menjalankan rencana penghancuran Israel, serta mengancam stabilitas global dan kawasan, akan menjadi target mutlak untuk dilenyapkan. Pernyataan ini secara eksplisit merujuk pada Mojtaba Khamenei, yang kini memegang tongkat estafet kekuasaan di Iran.
Sebagai balasan atas ancaman tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melayangkan peringatan tajam. Melalui akun X resminya, Araghchi menyatakan bahwa Iran tidak akan membiarkan ancaman tersebut berlalu tanpa konsekuensi. Ia menyebut bahwa jika pihak-pihak yang didukung oleh Amerika Serikat mengabaikan peringatan Iran, maka Teheran akan memberikan "pelajaran berharga." "Ancaman apa pun terhadap rakyat dan kepemimpinan kami akan dibalas dengan tanggapan keras dan segera," tulis Araghchi sebagaimana dilansir CNN.
Pernyataan Araghchi juga menyoroti keterlibatan Amerika Serikat, di mana ia menyebut Presiden AS Donald Trump telah berkomitmen untuk membungkam pihak-pihak yang ia sebut sebagai "hewan peliharaan" di Tel Aviv. Retorika ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya memandang Israel sebagai lawan langsung, tetapi juga menganggap Washington sebagai aktor yang memfasilitasi ancaman terhadap kedaulatan Iran.
Posisi Mojtaba Khamenei sendiri saat ini diselimuti misteri. Sejak dilantik pada awal Maret 2026, ia nyaris tidak pernah terlihat di depan publik. Mojtaba naik takhta setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara Israel pada akhir Februari 2026. Absennya Mojtaba dari sorotan publik memicu berbagai spekulasi mengenai kondisi kesehatannya. Berbagai laporan intelijen dan media menyatakan bahwa Mojtaba kemungkinan besar mengalami cedera serius dalam insiden pengeboman yang merenggut nyawa ayahnya tersebut.
Hingga saat ini, komunikasi resmi dari pihak kepemimpinan Iran dilakukan melalui pernyataan-pernyataan tertulis yang dibacakan oleh penyiar berita di lembaga penyiaran negara, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB). Ketidakhadiran fisik Mojtaba di depan publik ini sering kali dianggap sebagai upaya perlindungan keamanan tingkat tinggi, mengingat ancaman pembunuhan yang terus membayangi nyawanya.
Namun, spekulasi mengenai kemunculan publik Mojtaba kembali menguat menjelang rangkaian upacara pemakaman Ali Khamenei. Pemerintah Iran telah menjadwalkan prosesi pemakaman mantan pemimpin tertinggi tersebut mulai 4 Juli hingga 9 Juli 2026, yang akan diselenggarakan di berbagai kota besar di Iran dan Irak. Besarnya skala acara ini memicu spekulasi bahwa Mojtaba mungkin akan dipaksa muncul untuk menunjukkan legitimasi kepemimpinannya di tengah krisis yang melanda negara tersebut.
Situasi keamanan yang rapuh ini membuat banyak pengamat internasional khawatir akan meletusnya perang terbuka yang lebih luas. Israel, di bawah kepemimpinan Katz, tampaknya menerapkan strategi "tekanan maksimum" untuk melumpuhkan struktur komando Iran dengan menargetkan pimpinan tertingginya secara langsung. Di sisi lain, Iran berada di bawah tekanan internal dan eksternal untuk menunjukkan kekuatan militernya demi menjaga martabat dan eksistensi rezim.
Ancaman pembunuhan terhadap seorang pemimpin negara adalah langkah yang sangat jarang terjadi dalam diplomasi internasional modern dan merupakan eskalasi besar dalam doktrin pertahanan Israel. Langkah ini menempatkan komunitas internasional dalam posisi sulit, terutama negara-negara Barat yang berusaha menyeimbangkan dukungan mereka terhadap Israel dengan upaya pencegahan konflik regional yang bisa melumpuhkan ekonomi global, khususnya pasokan energi dari Teluk Persia.
Militer Iran, yang memiliki jaringan proksi luas di kawasan seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan berbagai milisi di Irak dan Suriah, diyakini telah disiagakan untuk merespons jika ancaman terhadap Mojtaba Khamenei benar-benar dieksekusi oleh Israel. Pengamat militer menilai bahwa respons Iran tidak akan lagi bersifat terbatas, melainkan serangan terukur yang ditujukan untuk melumpuhkan infrastruktur strategis di Israel.
Sementara itu, di Washington, pemerintahan Trump menghadapi tekanan untuk menengahi situasi ini, meskipun retorika yang disampaikan oleh pejabat Iran menunjukkan bahwa kepercayaan Teheran terhadap AS berada di titik terendah. Kehadiran kapal induk dan pengerahan jet tempur di pangkalan-pangkalan AS di sekitar Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir menjadi tanda bahwa AS bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Di tengah ketegangan yang mencekam ini, dunia menantikan apakah rangkaian upacara pemakaman Ali Khamenei pada 4 Juli mendatang akan menjadi panggung bagi Mojtaba Khamenei untuk tampil, atau justru menjadi titik picu bagi serangan yang lebih besar. Jika Mojtaba memutuskan untuk hadir, ia akan menjadi target paling nyata bagi intelijen Israel. Jika ia tetap bersembunyi, hal itu akan terus melemahkan citra kekuasaannya di mata rakyat Iran dan sekutu-sekutunya.
Krisis ini bukan sekadar perebutan kekuasaan antarindividu, melainkan pertarungan ideologis dan geopolitik yang telah berlangsung selama puluhan tahun antara Teheran dan Tel Aviv. Dengan ancaman pembunuhan yang kini sudah diumumkan secara terbuka ke publik, ruang untuk diplomasi menjadi semakin sempit. Dunia kini hanya bisa menunggu langkah apa yang akan diambil oleh kedua pihak, apakah akan terjadi eskalasi mematikan atau ada jalur belakang yang bisa meredam ketegangan sebelum terjadi pertumpahan darah yang lebih besar.
Pernyataan "tanggapan keras dan segera" dari Teheran harus dipandang sebagai doktrin pertahanan baru Iran yang tidak lagi mentoleransi pelanggaran kedaulatan di tingkat kepemimpinan tertinggi. Sejarah mencatat bahwa dalam konflik Timur Tengah, tindakan pembunuhan pemimpin sering kali memicu siklus balas dendam yang panjang dan merusak. Oleh karena itu, eskalasi saat ini dianggap sebagai salah satu ancaman keamanan global paling serius sepanjang tahun 2026.
Mata dunia kini tertuju pada Teheran, menunggu langkah apa yang akan diambil oleh Mojtaba Khamenei dan para petinggi militer Iran dalam menanggapi tantangan terbuka dari Menteri Pertahanan Israel. Setiap langkah yang salah dapat menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam pusaran perang besar yang dampaknya tidak terbayangkan bagi stabilitas politik dan ekonomi global.

