BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Aktris Davina Karamoy, yang dikenal luas berkat perannya dalam berbagai film dan sinetron layar kaca, baru-baru ini membagikan sebuah kenangan tak terlupakan dari masa remajanya, tepatnya saat ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Momen tersebut bukanlah tentang pencapaian akademis yang membanggakan atau kisah sukses di luar lingkungan sekolah, melainkan sebuah episode emosional yang diwarnai oleh patah hati pertama. Layaknya remaja pada umumnya, Davina tak luput dari pengalaman pedihnya kehilangan sosok kekasih yang sempat mengisi hari-harinya dengan warna dan tawa. Ia mengaku, momen putus cinta tersebut membuatnya menangis tersedu-sedu, meratapi kesedihan karena harus berpisah dengan pria yang pernah begitu berarti baginya. Namun, yang membuat cerita ini semakin menarik dan unik adalah respons tak terduga yang diberikan oleh ibunda Davina ketika melihat putrinya tengah dilanda kesedihan mendalam. Alih-alih memberikan pelukan hangat penuh kasih sayang atau kata-kata penyejuk hati yang lazim diberikan seorang ibu kepada anaknya yang sedang patah hati, sang ibunda justru memberikan reaksi yang sangat berbeda, bahkan terkesan tegas.
"Oh, mungkin pernah nangis karena waktu itu putus sama mantan dulu. Nangis tuh, mama kayak, ‘Ngapain cengeng sih elah? Emang kamu mau nikah besok?’," kenang Davina Karamoy dengan senyum tipis tersungging di bibirnya, saat ditemui awak media di kawasan Taman Mini, Jakarta Timur, pada hari Sabtu, 27 Juni 2026. Ucapan sang ibunda yang lugas dan sedikit menyentil itu seketika membuat Davina terdiam, terkejut dengan cara ibunya menanggapi kesedihannya. Dalam kebingungan dan sedikit rasa kecewa, ia hanya mampu menjawab dengan nada yang lirih, mengakui bahwa ia memang belum memiliki niat untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Lebih lanjut, ia menyadari bahwa statusnya sebagai seorang pelajar SMA pada saat itu tentu belum memungkinkan untuk memikirkan hal-hal sebesar pernikahan. " ‘Nggak juga sih Ma’," jawab Davina Karamoy menirukan percakapannya kala itu, dengan nada yang masih terdengar sedikit getir.
Bintang film yang baru-baru ini mencuri perhatian publik lewat perannya dalam film "Ipar Adalah Maut" itu, kemudian menceritakan lebih lanjut bagaimana ibundanya tidak membiarkannya berlarut-larut dalam kesedihan. Alih-alih memanjakan kesedihannya, sang ibunda justru memberikan nasihat yang mendorongnya untuk bangkit dan memanfaatkan masa mudanya dengan cara yang lebih produktif dan positif. "Ya udah santai aja, berkarier aja," tutur ibunda pada Davina Karamoy, memberikan arahan yang tegas namun penuh makna. Nasihat ini seolah menjadi cambuk semangat bagi Davina, membantunya untuk mengalihkan fokus dari kesedihan cinta monyet menjadi ambisi yang lebih besar dalam pengembangan diri dan kariernya.
Davina Karamoy mengungkapkan bahwa pola asuh yang diterapkan oleh ibundanya memang selalu cenderung santai dan sangat terbuka, sehingga hubungan di antara mereka lebih terasa seperti sahabat karib daripada sekadar ibu dan anak. Kedekatan dan keterbukaan inilah yang membentuk kepribadian Davina menjadi pribadi yang lebih kuat, tangguh, dan tidak mudah terombang-ambing oleh perasaan emosional sesaat. "Karena Mamaku tuh gimana ya kalau aku jelasin, Mamaku tuh kayak temen. Jadi curhatnya kayak gitu," jelas Davina, menekankan betapa berharganya hubungan yang ia miliki dengan ibundanya. Ia merasa beruntung memiliki figur ibu yang tidak hanya menjadi orang tua, tetapi juga menjadi teman terbaik yang selalu memberikan dukungan dengan cara yang unik, membantunya tumbuh menjadi wanita muda yang mandiri dan berdaya.
Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bagi Davina tentang bagaimana menghadapi kegagalan dan kesedihan, terutama dalam urusan percintaan di usia muda. Alih-alih membiarkan diri terpuruk, ia diajarkan untuk melihat setiap pengalaman, termasuk patah hati, sebagai bagian dari proses pendewasaan. Sikap ibundanya yang pragmatis namun penuh kasih ini membentuk mentalitas Davina yang kuat, membuatnya mampu bangkit dari keterpurukan dan fokus pada tujuan hidup yang lebih besar. Ia menyadari bahwa masa remaja adalah masa emas untuk mengeksplorasi diri, mengembangkan bakat, dan membangun fondasi karier yang kokoh.
Lebih jauh, Davina Karamoy menyoroti pentingnya komunikasi terbuka dalam keluarga. Hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan dan persahabatan antara orang tua dan anak memungkinkan terciptanya dialog yang jujur dan saling memahami. Ketika anak merasa nyaman untuk berbagi segala hal, termasuk kesedihan dan kegagalan, orang tua dapat memberikan bimbingan yang tepat tanpa terkesan menggurui. Dalam kasus Davina, cara ibundanya yang unik dalam merespons kesedihannya justru memberikan dampak positif yang lebih besar daripada sekadar hiburan semata. Nasihat tersebut membekas dan menjadi pengingat bahwa dalam hidup, selalu ada hal yang lebih penting untuk dikejar, dan patah hati bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah batu loncatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Kisah Davina ini juga dapat menjadi inspirasi bagi para orang tua di luar sana untuk mengadopsi pendekatan yang lebih santai namun tetap bijaksana dalam mendidik anak-anak mereka, terutama ketika anak memasuki usia remaja yang penuh gejolak emosi. Memberikan ruang bagi anak untuk berekspresi, namun juga mengarahkan mereka pada hal-hal yang lebih konstruktif, adalah kunci dalam membentuk generasi muda yang tangguh dan berdaya saing. Davina Karamoy, dengan segala pengalaman masa remajanya, kini telah menjelma menjadi seorang aktris muda yang kian bersinar, membuktikan bahwa patah hati di masa SMA, jika dihadapi dengan tepat, justru bisa menjadi modal berharga untuk kesuksesan di masa depan. Ia kini tidak hanya dikenal karena parasnya yang menawan dan bakat aktingnya yang mumpuni, tetapi juga karena ketangguhan mental dan kemandiriannya yang terbentuk sejak dini, berkat pola asuh yang unik dari ibundanya.

