0

Dari Tanah Sundoluhur: Mewariskan Cahaya, Menapak Jejak Para Ulama

Share

Pagi itu, halaman Masjid Jami’ Taufiqillah di Desa Sundoluhur, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, mendenyutkan suasana yang syahdu dan penuh hikmat. Di bawah naungan langit yang cerah, ibu-ibu berkerudung putih duduk berjejer rapi, sementara bapak-bapak berkopiah mengisi shaf dengan tertib. Para santri, yang menjadi pusat perhatian hari ini, berdiri tegak dengan samir tergantung di leher, menunggu dengan perasaan campur aduk antara bangga dan haru. Di atas panggung kehormatan, para kiai dan sesepuh duduk dengan wibawa yang menenangkan, menyiratkan bahwa apa yang sedang berlangsung di sini bukanlah sekadar seremonial rutin, melainkan sebuah peristiwa sejarah yang menyambungkan tiga dimensi waktu: mengenang perjuangan pendahulu, mensyukuri capaian masa kini, dan menyiapkan masa depan.

Perayaan Haflah Akhirus Sanah ke-50 ini menjadi bukti nyata keteguhan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Rifa’iyah dalam menjaga marwah pendidikan berbasis sanad. Dalam gemuruh takbir dan lantunan selawat yang membahana, prosesi wisuda dimulai. Satu per satu wisudawan dari jenjang Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga SMA Rifa’iyah dan Pondok Pesantren Miftahul Muhtadin melangkah dengan penuh keyakinan. Mereka adalah arsitek masa depan yang telah menuntaskan satu fase krusial dalam perjalanan intelektual dan spiritual mereka.

Untuk memahami mengapa acara ini begitu sakral bagi masyarakat Sundoluhur, kita harus kembali menelusuri akar sejarah yang tertanam jauh di bawah tanah desa ini. KH. Muhammad Abidun Zuhri, Lc., selaku pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Muhtadin sekaligus pembina yayasan, dengan suara yang bergetar namun tegas mengurai silsilah perjuangan para masyayikh. Pada tahun 1950, Kiai Djazuli merintis pondok pesantren di sini dengan kesederhanaan yang luar biasa. Lima belas tahun kemudian, pada 1965, di bawah kepemimpinan KH. Ali Zuhri—putra sekaligus penerus perjuangan Kiai Djazuli—berdirilah secara formal Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah. Lembaga ini pun menjadi wadah pendidikan formal yang kini telah memasuki usia emasnya.

"Niki mboten undanganipun panitia, tetapi undanganipun Simbah Kiai Djazuli," tutur KH. Abidun Zuhri di hadapan ribuan hadirin. Kalimat tersebut seolah menjadi pengingat bahwa kehadiran seluruh tamu undangan hari ini bukan sekadar pemenuhan formalitas, melainkan panggilan batin untuk menjemput keberkahan dari para pendahulu yang saleh. Sejak madrasah pertama didirikan pada 1970, ribuan alumni telah lahir dan tersebar ke berbagai pelosok negeri, membawa obor ilmu yang dinyalakan di tanah Sundoluhur ini.

Dari Tanah Sundoluhur: Mewariskan Cahaya, Menapak Jejak Para Ulama

Keistimewaan Rifa’iyah terletak pada sanad keilmuan yang terjaga. KH. Abidun Zuhri menekankan bahwa ilmu yang diajarkan bukanlah ilmu yang "berdiri sendiri," melainkan mata rantai emas yang bersambung hingga ke Syekh Haji Ahmad Rifa’i. Ilmu itu mengalir dari Kiai Djazuli, menyambung ke Mbah Abdul Manan Grobogan, Mbah Kiai Haji Abdul Malik, Mbah Bajuri Kretegan, hingga ke ulama-ulama besar di Makkah dan Mesir. Syekh Ahmad Rifa’i sendiri, sebagai pelopor, adalah sosok yang menimba ilmu selama 12 tahun di Timur Tengah, berguru kepada otoritas tertinggi seperti Syekh Ibrahim Al-Bajuri di Al-Azhar. Inilah yang disebut sebagai "sanad ilmiah," sebuah ikatan jiwa yang menjaga otentisitas agama dari infiltrasi pemahaman yang dangkal.

Dalam prosesi wisuda yang berlangsung khusyuk, nasihat-nasihat klasik dilantunkan kembali. Salah satunya adalah syair Jawa tentang lima sifat murid yang baik: senantiasa berbuat baik kepada guru, berperilaku santun, menghormati guru, menjaga amal saleh, dan ikhlas dalam melangkah. Nilai-nilai tasawuf yang mendalam ini ditanamkan agar para santri tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kedalaman batin. Perwakilan wisudawan, Sofia, mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam dengan sebuah ungkapan menyentuh, "Jika bukan karena guruku, maka saya tidak akan pernah mengenal Tuhanku."

Prestasi yang dicapai tahun ini pun sangat membanggakan dan menjadi bukti bahwa madrasah di pelosok desa mampu bersaing di level nasional. Beberapa alumni SMA Rifa’iyah berhasil menembus perguruan tinggi negeri ternama seperti Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Universitas Negeri Semarang (Unnes) melalui jalur prestasi. Bahkan, terdapat santri yang berhasil menghafal 30 juz Al-Qur’an. Tidak berhenti di situ, jejaring pendidikan yayasan ini telah menembus batas internasional dengan mengirimkan alumni untuk menimba ilmu di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Keberhasilan ini adalah buah dari sistem pendidikan yang mengedepankan keikhlasan dan nilai wakaf, sebagaimana yang dicontohkan oleh sistem pendidikan di Al-Azhar sendiri.

Puncak acara diisi dengan mauidah hasanah oleh Ketua PW Rifa’iyah Jawa Tengah, KH. Isrofi Mahfudz. Beliau memaparkan tiga mutiara hikmah yang sangat relevan. Pertama, mengenai kesalehan leluhur yang menjadi pelindung keturunan, merujuk pada kisah Nabi Khidir AS dalam Al-Qur’an. Kedua, hakikat hidup sebagai perlombaan amal. Hidup adalah ujian, dan yang dinilai oleh Allah bukanlah jabatan atau harta, melainkan ahsanu amala—amal yang paling benar secara syariat dan paling ikhlas. Ketiga, tentang pentingnya hati yang bersih. Beliau menceritakan kisah seorang sahabat yang dijamin masuk surga bukan karena ibadah sunnah yang melimpah, melainkan karena hatinya yang bersih dari rasa dengki, curang, dan dendam kepada sesama muslim.

Pesan KH. Isrofi sangatlah kuat: umat Islam boleh berbeda dalam hal-hal furu’iyah atau teknis perjuangan, tetapi tidak boleh bercerai-berai dalam tujuan utama. Beda dalam gerak langkah adalah dinamika, namun satu dalam semangat adalah keharusan. Acara yang ditutup dengan doa oleh Kiai Hamidun ini menjadi pengingat bagi setiap orang tua dan santri bahwa pendidikan bukanlah sekadar ijazah, melainkan warisan cahaya yang harus terus dijaga agar tidak padam.

Dari Tanah Sundoluhur: Mewariskan Cahaya, Menapak Jejak Para Ulama

Di bawah langit Sundoluhur, di tanah yang telah lama dibasahi keringat perjuangan para masyayikh, sebuah lilin baru telah dinyalakan melalui wisuda ke-50 ini. Keberadaan para wisudawan ini adalah harapan baru bagi umat. Seperti kutipan hikmah yang dibacakan, "Siapa yang menjadikan Allah sebagai pelindungnya, ia tidak akan sia-sia dan tidak akan kecewa." Dengan memegang teguh sanad ilmu dan akhlak yang diajarkan oleh para pendahulu, generasi ini diharapkan mampu membawa terang di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Keberhasilan yayasan dalam mempertahankan eksistensi selama lebih dari setengah abad menunjukkan bahwa nilai-nilai yang dibangun di atas keikhlasan dan sanad yang sahih memiliki daya tahan yang luar biasa. Haflah Akhirus Sanah ini bukan sekadar seremoni perpisahan, melainkan sebuah estafet perjuangan. Para santri yang kini telah menuntaskan pendidikan formalnya di madrasah, kini memikul tanggung jawab besar untuk membawa nilai-nilai Rifa’iyah ke dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka membawa serta doa para guru, keringat orang tua, dan berkah dari para masyayikh yang telah tiada.

Seiring berjalannya waktu, peran Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah di Sundoluhur semakin krusial. Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi yang seringkali mengikis nilai-nilai tradisional, keberadaan lembaga ini menjadi benteng pertahanan moral bagi masyarakat sekitar. Keberhasilan santri yang diterima di jurusan teknologi seperti Artificial Intelligence (Kecerdasan Buatan) membuktikan bahwa pendidikan pesantren tidaklah anti-perubahan. Justru, dengan berbekal iman dan sanad yang kokoh, para santri mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan jati diri sebagai seorang muslim yang bertauhid.

Pada akhirnya, sejarah panjang yang ditorehkan oleh Kiai Djazuli, dilanjutkan oleh KH. Ali Zuhri, dan kini dikawal oleh KH. Muhammad Abidun Zuhri, adalah bukti bahwa sebuah lembaga pendidikan akan besar bukan karena bangunan fisiknya, melainkan karena kekuatan doa dan ketulusan para pendidiknya. Haflah Akhirus Sanah ke-50 ini adalah monumen hidup dari sebuah perjuangan yang belum usai. Cahaya dari Sundoluhur ini akan terus berpijar, menuntun setiap langkah anak bangsa yang menapak jejak para ulama, menuju masa depan yang gemilang dan penuh berkah. Inilah warisan yang sesungguhnya—bukan sekadar ilmu yang dihafal, melainkan cahaya kebenaran yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.