Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni kini berada di titik nadir. Padahal, hanya dalam waktu singkat, kedua pemimpin yang sempat digadang-gadang sebagai sekutu ideologis terkuat di Barat ini telah berubah menjadi seteru yang saling serang di panggung internasional. Pergeseran dramatis ini menandai keretakan besar dalam hubungan diplomatik antara Washington dan Roma, yang kini diwarnai dengan tuduhan pribadi, manuver politik, hingga perselisihan strategis terkait keamanan global.
Pada awal kepemimpinan Trump di masa jabatan keduanya tahun 2025, atmosfer hubungan keduanya sangat hangat. Sebagai tokoh yang memimpin partai sayap kanan di Italia, Meloni memiliki banyak kesamaan visi dengan Trump, terutama dalam isu pembatasan migrasi ilegal dan penguatan nilai-nilai tradisional. Kedekatan ini berpuncak saat Meloni mengunjungi Trump di Mar-a-Lago sebelum pelantikan. Saat itu, Meloni dengan antusias menyebut hubungan mereka "melampaui ekspektasi" dan menjanjikan fondasi kerja sama yang solid antara Italia dan AS. Trump pun membalasnya dengan pujian yang melimpah, menyebut Meloni sebagai sosok yang "fantastis, luar biasa, dan cantik". Bahkan, Meloni menjadi satu-satunya pemimpin Eropa yang diundang secara khusus dalam pelantikan Trump, sebuah gestur yang menegaskan betapa eratnya kemitraan mereka saat itu.
Namun, bulan madu politik tersebut mulai retak ketika realitas geopolitik mulai mendikte langkah masing-masing pemimpin. Pemicu utama ketegangan adalah eskalasi konflik antara AS-Israel melawan Iran. Kebijakan luar negeri Trump yang agresif terhadap Iran tidak mendapatkan dukungan penuh dari Meloni. Salah satu momen krusial yang merusak hubungan adalah ketika Trump secara terbuka menyerang Paus Leo atas kritiknya terhadap eskalasi militer di Timur Tengah. Sebagai pemimpin negara yang menjadi pusat otoritas Katolik dunia, Meloni merasa perlu mengambil sikap tegas. Ia membela Paus Leo dan mengecam perilaku Trump sebagai tindakan yang tidak dapat diterima, sebuah langkah berani yang jarang dilakukan oleh sekutu AS di Eropa.
Ketegangan semakin memuncak ketika Meloni menolak memberikan izin penggunaan pangkalan militer Italia di Sisilia bagi pesawat tempur AS yang membawa amunisi untuk operasi militer di Iran. Meloni bersikeras bahwa Washington telah mengabaikan prosedur diplomatik dan keamanan nasional Italia. Keputusan ini membuat Trump berang. Presiden AS tersebut secara terbuka melabeli pemerintahan Meloni sebagai kegagalan karena tidak mau membantu kepentingan strategis Amerika. Di sisi lain, para pengamat politik, termasuk Francesco Galietti dari Policy Sonar, mencatat bahwa posisi Meloni sebenarnya merupakan langkah kalkulatif. Di tengah merosotnya popularitas Trump di mata publik Italia, Meloni mencoba menyelamatkan posisi politiknya di dalam negeri dengan menunjukkan sikap independen. Namun, langkah ini membawa risiko besar: Meloni terancam kehilangan narasi "sekutu utama Trump" yang selama ini menjadi salah satu pilar kekuatan politiknya menjelang pemilihan umum tahun depan.
Konflik yang awalnya bersifat strategis dan geopolitik ini akhirnya merosot menjadi drama personal yang memalukan. Perseteruan terbaru dipicu oleh klaim Trump dalam wawancara dengan stasiun televisi Italia, La7. Trump menuduh Meloni "mengemis" untuk mendapatkan foto bersama dirinya saat KTT G7 di Prancis. Dengan nada merendahkan, Trump mengklaim bahwa ia sebenarnya enggan melayani permintaan foto tersebut, namun terpaksa melakukannya karena merasa kasihan pada posisi Meloni yang sedang terpuruk secara popularitas.
Tanggapan Meloni tidak kalah tajam. Melalui sebuah video yang diunggah di platform X, Meloni dengan tegas membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai "pernyataan yang sepenuhnya dibuat-buat". Meloni menyatakan kekecewaannya yang mendalam, mempertanyakan mengapa seorang Presiden AS harus berperilaku destruktif terhadap sekutunya sendiri. Ia menegaskan bahwa Italia dan dirinya tidak pernah berada dalam posisi memohon kepada siapa pun. "Sangat disayangkan dia tidak memiliki tekad yang sama terhadap musuh-musuh Barat, terhadap musuh-musuh Amerika Serikat," sindir Meloni, sebuah kalimat yang menyiratkan bahwa Trump justru lebih lunak kepada musuh nyata dibandingkan kepada sekutu setia.
Tidak berhenti di situ, Trump kembali membalas di media sosial dengan mengulang narasi bahwa Meloni berulang kali memohon foto bersamanya. Ia mengaitkan klaim tersebut dengan menurunnya popularitas Meloni di Italia, yang menurut Trump disebabkan oleh penolakan Italia untuk mengikuti agenda AS dalam menangani ancaman nuklir Iran. Trump bahkan dengan arogan mengklaim bahwa Amerika adalah negara yang "melindungi" Italia, sebuah retorika yang bagi banyak warga Italia dianggap sebagai bentuk kesombongan imperialistik.
Meloni merespons serangan tersebut dengan lebih dingin namun tetap menohok. Ia menyarankan agar Trump berhenti mengurusi popularitas orang lain dan lebih fokus memperbaiki citranya sendiri di mata dunia. Meloni menegaskan bahwa popularitasnya di Italia bertahan bukan karena kedekatannya dengan Trump, melainkan karena kemampuannya membela kepentingan nasional Italia—termasuk keputusannya menutup akses pangkalan militer bagi AS. "Presiden Trump, serangan terus-menerus dan tidak beralasan ini tidak masuk akal," tulis Meloni melalui akun Facebook-nya. Ia secara tegas menyatakan bahwa persahabatan mereka di masa lalu tidak pernah menjadi instrumen untuk mendongkrak dukungan publiknya.
Situasi ini mencerminkan dinamika yang semakin rapuh dalam aliansi transatlantik. Ketika ego dua pemimpin populis berbenturan, kepentingan nasional sering kali dikorbankan demi drama politik di media sosial. Bagi Meloni, mempertahankan kedaulatan Italia di hadapan tuntutan Trump mungkin akan meningkatkan elektabilitasnya di kalangan nasionalis Italia, namun hal itu juga meninggalkan luka permanen dalam hubungan diplomatik kedua negara. Sementara bagi Trump, serangan terhadap Meloni mempertegas pola komunikasinya yang isolasionis, di mana ia tidak segan-segan mengucilkan sekutu yang tidak patuh.
Kini, dunia menyaksikan hubungan yang dulunya tampak sangat solid tersebut telah benar-benar hancur. Pertikaian ini bukan hanya tentang foto atau popularitas, melainkan tentang perbedaan mendasar dalam memandang peran negara di panggung global. Meloni telah memilih untuk berdiri tegak di atas prinsip kedaulatan, sementara Trump tetap bertahan dengan gaya kepemimpinan transaksionalnya yang menuntut kepatuhan mutlak. Di tengah ketidakpastian politik internasional, keretakan antara Roma dan Washington ini diprediksi akan terus memanas, membawa konsekuensi serius bagi stabilitas kebijakan luar negeri di kawasan Eropa dan Timur Tengah. Perselisihan ini menjadi pengingat bagi banyak pemimpin dunia bahwa dalam politik, kesamaan ideologi hanyalah permukaan, sementara kepentingan nasional yang saling bertabrakan akan selalu menjadi penentu utama siapa yang menjadi kawan dan siapa yang menjadi lawan.

