0

Shandy Sjariff Diprotes Anak Pertama Gara-gara Konten Kocak di Medsos

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Pesinetron Shandy Sjariff, yang dikenal luas berkat kiprahnya di dunia hiburan tanah air, rupanya tengah menghadapi dinamika keluarga yang unik terkait aktivitasnya di media sosial. Dikenal sebagai pribadi yang humoris dan gemar berbagi momen kesehariannya melalui berbagai konten menghibur di platform digital, Shandy justru kerap mendapatkan protes dari anak pertamanya, Madiva Putri, yang akrab disapa Diva. Kebiasaan Shandy dalam membuat konten, yang seringkali bernada kocak dan menghibur, ternyata tidak selalu disambut hangat oleh putri remajanya tersebut.

Shandy Sjariff, dalam sebuah kesempatan wawancara di Studio Pagi-pagi Ambyar Trans TV, yang berlokasi di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, pada Rabu (17/6/2026), mengungkapkan rasa terkejutnya melihat reaksi sang putri. "Kalau konten sih lebih banyak ke istri sama ke anak yang kecil. Kalau Diva justru agak-agak risih dia dengan konten-konten aku yang ada di sosial media. Ya namanya ABG mungkin malu atau apa gitu ya," ujar Shandy, menggambarkan kegelisahan Diva terhadap konten-konten yang diunggahnya. Shandy menduga, sikap Diva tersebut merupakan hal yang wajar bagi seorang remaja yang sedang memasuki masa pubertas, di mana isu citra diri dan penerimaan sosial menjadi sangat penting.

Lebih lanjut, Shandy menceritakan bagaimana ia beberapa kali berupaya mengajak seluruh anggota keluarganya untuk berpartisipasi dalam pembuatan konten. Ia mengakui bahwa sang istri dan anak bungsunya menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi, berbeda dengan Diva yang hingga kini masih menunjukkan keengganan untuk tampil di depan kamera. "Aku ajak, jadi ‘Udah kamu ikut bareng konten yuk, bikin konten sama Papa’, gitu. Terus pada tanya aku, ‘Ngapain?’ Ya udah diam aja pokoknya gitu. Eh ya mereka sih mau. Kalau istri sama anak aku yang kecil mau. Kalau Diva eh belum. Belum mau dia," ungkap Shandy dengan nada geli. Upaya ajakan Shandy ini, meskipun disambut baik oleh sebagian anggota keluarga, justru semakin mempertegas sikap Diva yang cenderung menjaga privasi.

Ketika ditanya secara langsung mengenai alasannya, Diva tidak sungkan menyampaikan perasaannya yang campur aduk. "Ya aku sebenarnya kayak malu sih kalau semisal aku ada di konten kayak gitu," ujar Diva dengan jujur, membenarkan dugaan sang ayah. Rasa malu ini, menurut Diva, muncul karena ia merasa belum siap atau belum nyaman untuk terekspos secara publik melalui konten-konten yang dibuat ayahnya. Sebagai seorang remaja, keinginan untuk memiliki kehidupan pribadi yang terpisah dari sorotan publik adalah hal yang lumrah.

Tak hanya sekadar merasa malu, Diva yang masih dalam fase remaja ini juga mengaku pernah secara langsung menyampaikan keberatannya kepada sang ayah terkait video-video yang diunggah Shandy ke media sosial. Pengalaman ini menjadi bukti betapa Diva peduli dengan citra sang ayah, sekaligus menunjukkan ketidaknyamanannya sendiri. "Aku bilang kayak, ‘Ih aku malu kalau semisal Papa buat video kayak gitu terus Papa posting di social media,’ gitu," kata Diva, menceritakan percakapannya dengan Shandy. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Diva memiliki kesadaran sosial yang cukup tinggi dan peduli terhadap persepsi orang lain terhadap keluarganya.

Meskipun telah menerima masukan dan masukan langsung dari putrinya, Shandy Sjariff rupanya belum sepenuhnya menghentikan aktivitasnya dalam membuat konten. Ia memiliki alasan tersendiri mengapa tetap melanjutkan kebiasaannya tersebut. Menanggapi hal ini, Diva berpendapat bahwa sang ayah tidak terlalu mempermasalahkan kritik yang dilontarkan olehnya. "Ya kalau bisa jangan lah konten-konten kayak gitu," ucap Diva, namun ia juga mengakui bahwa ayahnya tampaknya tidak terlalu terpengaruh oleh protesnya.

Shandy kemudian memberikan penjelasan kepada putrinya mengenai tujuan di balik pembuatan konten-konten tersebut. Ia menekankan bahwa konten yang dibuatnya bukan semata-mata untuk hiburan pribadi, melainkan juga memiliki tujuan strategis dalam meningkatkan eksposur dan visibilitas di media sosial. "Iya, tapi kan aku jelasin bahwa itu emang konten, ya untuk kita butuh exposure juga di sosial media. Dia sih mengerti cuman masih tetap aja, ‘Ya kalau bisa jangan lah konten-konten kayak gitu’," jelas Shandy, mencoba memberikan pemahaman kepada Diva mengenai pentingnya kehadiran di dunia digital bagi seorang figur publik. Ia berusaha meyakinkan Diva bahwa apa yang dilakukannya memiliki manfaat, meskipun ia juga tetap menghargai perasaan keberatan putrinya.

Meskipun Diva belum sepenuhnya mendukung aktivitas ayahnya di media sosial dan masih merasa risih, ia tetap memiliki pesan khusus yang ingin disampaikan kepada Shandy. Pesan ini menunjukkan adanya harapan dari Diva agar ayahnya dapat membuat konten yang lebih sesuai dengan preferensinya. "Papa tuh kalau bikin tuh yang benar yang normal gitu," ujar Diva, menyampaikan keinginannya. Pesan ini mencerminkan keinginan Diva untuk melihat ayahnya menampilkan sisi yang lebih "standar" atau "biasa" di media sosial, mungkin yang tidak terlalu menonjolkan kelucuan atau keeksentrikan yang menurutnya bisa menimbulkan rasa malu.

Shandy, sebagai ayah yang bijak, menanggapi permintaan putrinya dengan nada humor dan pemahaman yang mendalam. Ia menyadari bahwa apa yang dianggap "normal" oleh Diva mungkin justru akan membuat kontennya menjadi kurang menarik di mata publik. "Ya kali normal kan nggak menarik. Yang normal ya biasa aja, harus yang abnormal gitu loh baru menarik," tutup Shandy sambil tertawa, menyiratkan bahwa justru konten yang unik dan berbeda itulah yang seringkali mendapatkan perhatian lebih. Tawa Shandy ini menunjukkan bahwa ia memahami sudut pandang putrinya, namun juga memiliki keyakinan pada gayanya sendiri dalam berkreasi konten. Perbedaan pandangan ini, meskipun menciptakan sedikit ketegangan, justru menjadi bumbu dinamika keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang antara Shandy Sjariff dan putri remajanya, Diva. Hubungan ayah dan anak ini menunjukkan bagaimana komunikasi terbuka dan saling pengertian dapat membantu menavigasi perbedaan generasi dan preferensi dalam era digital yang terus berkembang.