Grand Theft Auto (GTA) 6 telah menjadi salah satu game yang paling dinantikan dalam sejarah industri hiburan digital. Setelah penantian panjang selama lebih dari satu dekade sejak perilisan GTA V pada tahun 2013, Rockstar Games akhirnya mengonfirmasi bahwa sekuelnya akan meluncur pada November 2026. Namun, bagi sebagian penggemar, penantian dua tahun lagi terasa terlalu lama. Salah satunya adalah seorang pendiri startup yang memutuskan untuk tidak lagi menunggu dan mengambil langkah radikal: membuat game tiruan GTA 6 versinya sendiri, dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Sosok di balik ambisi luar biasa ini adalah Ziwen Xu, pendiri startup Hyperecho. Xu, yang mungkin merasa frustrasi dengan jadwal rilis yang masih jauh, baru-baru ini mengumumkan rencananya yang berani untuk menciptakan GTA 6 versi kustomnya sendiri. Proyek ini bukan sekadar upaya iseng, melainkan demonstrasi inovasi yang memanfaatkan teknologi AI generatif paling canggih yang tersedia untuk publik. Ia menggunakan Claude 20x, model AI generatif terkemuka dari Anthropic, sebagai tulang punggung pengembangan game tiruannya. Metode yang ia gunakan ia sebut sebagai "vibe coding", sebuah pendekatan yang menunjukkan bagaimana AI dapat dilatih untuk menangkap esensi dan "vibe" dari sebuah game, lalu mereplikasi atau bahkan menginterpretasikannya dalam bentuk kode dan aset.
Proyek ambisius ini secara resmi dimulai pada 11 Juni. Sejak hari pertama, Xu telah secara konsisten membagikan pembaruan terbaru mengenai kemajuan proyeknya, memposting cuplikan video dan tangkapan layar di akun X (sebelumnya Twitter) miliknya. Lebih dari itu, ia juga telah mengunggah kodenya di GitHub, mengundang siapa pun yang tertarik untuk bergabung atau sekadar mengamati evolusi proyek ini. Langkah ini tidak hanya menunjukkan transparansi tetapi juga semangat kolaborasi dalam komunitas pengembang yang didorong oleh open-source.
Motivasi di balik proyek ini sangat jelas, seperti yang ia tulis dalam salah satu postingannya di X: "Targetnya: mengalahkan peluncuran GTA 6 yang sebenarnya. Ambisius, mungkin bodoh, tapi saya tetap akan melakukannya." Pernyataan ini mencerminkan semangat khas para inovator di dunia teknologi, di mana batasan-batasan sering kali ditantang, dan apa yang dianggap mustahil seringkali menjadi target berikutnya. Xu tidak hanya ingin membuat game, ia ingin berlomba dengan salah satu studio game terbesar di dunia, Rockstar Games, yang memiliki sumber daya tak terbatas dan tim ribuan orang.
Untuk memahami skala tantangan yang dihadapi Xu, penting untuk melihat konteks GTA 6 itu sendiri. Waralaba Grand Theft Auto telah lama menjadi tolok ukur dalam genre open-world, dikenal karena narasi yang mendalam, dunia yang imersif, kebebasan yang tak tertandingi, dan detail grafis yang memukau. Setiap iterasi baru selalu menjadi fenomena budaya, memecahkan rekor penjualan, dan mendefinisikan ulang apa yang mungkin dalam industri game. GTA 6 diharapkan akan melanjutkan tradisi ini, dengan janji grafis generasi baru, peta yang jauh lebih besar dan lebih dinamis, serta inovasi gameplay yang belum terungkap sepenuhnya. Spekulasi dan rumor seputar GTA 6 telah beredar selama bertahun-tahun, dengan berbagai bocoran yang semakin memicu antusiasme penggemar. Proyek ini melibatkan ribuan pengembang, desainer, penulis, seniman, dan insinyur yang bekerja bersama selama bertahun-tahun, dengan anggaran yang mungkin mencapai ratusan juta dolar. Melawan raksasa seperti itu dengan AI generatif dan satu individu adalah tantangan yang luar biasa.
Claude 20x yang digunakan oleh Xu adalah salah satu model bahasa besar (LLM) tercanggih saat ini. Kemampuannya melampaui sekadar menghasilkan teks; ia dapat memahami konteks yang kompleks, menulis kode dalam berbagai bahasa pemrograman, menghasilkan aset kreatif, dan bahkan melakukan penalaran yang canggih. Dalam konteks pengembangan game, AI seperti Claude 20x dapat digunakan untuk:
- Generasi Kode: Menulis skrip gameplay, logika objek, sistem fisika dasar.
- Pembuatan Aset: Menghasilkan model 3D sederhana, tekstur, atau bahkan konsep desain level berdasarkan deskripsi teks.
- Perilaku NPC: Mendesain algoritma untuk karakter non-pemain (NPC) agar bergerak, berinteraksi, dan merespons lingkungan secara realistis.
- Desain Dunia: Membuat struktur bangunan, tata letak jalan, atau elemen lingkungan lainnya.
- Narasi & Dialog: Menulis dialog karakter atau bahkan alur cerita dasar.
Dengan "vibe coding," Xu tampaknya memberikan AI deskripsi tingkat tinggi tentang bagaimana game itu harus "terasa" atau "berfungsi," dan membiarkan AI mengisi detailnya, mengulang proses hingga hasil yang diinginkan tercapai. Ini adalah bentuk pengembangan game yang sangat iteratif dan eksperimental.
Postingan yang diunggah Xu di X menyertakan cuplikan video singkat dari game tersebut, menunjukkan evolusi yang cepat dalam beberapa hari. Pada hari pertama proyek, sebagian besar cuplikan gameplay-nya masih sangat dasar. Yang terlihat hanyalah sebuah oval biru 3D yang bergerak dan melompat-lompat di dekat balok-balok abu-abu. Ini adalah titik awal yang khas untuk banyak proyek game indie, yang menunjukkan bahwa bahkan dengan AI canggih, fondasi awal masih memerlukan elemen-elemen dasar untuk dibangun. Namun, itu adalah bukti bahwa AI dapat dengan cepat menerjemahkan instruksi dasar menjadi representasi visual dan interaktif.
Lonjakan kemampuan yang signifikan terlihat pada hari kedua. Xu mengunggah video baru yang menunjukkan karakter yang bentuknya mulai mirip seperti manusia, lengkap dengan gerakan berlarian di lanskap perkotaan. Perubahan dari oval biru menjadi bentuk humanoid yang bergerak bebas di lingkungan yang mulai menyerupai kota adalah pencapaian yang mengesankan dalam waktu sesingkat itu. Ini menggarisbawahi potensi AI generatif untuk mempercepat proses prototyping dan iterasi desain game secara drastis. AI tidak hanya menghasilkan aset visual, tetapi juga logika pergerakan dan interaksi dengan lingkungan.
Namun, proyek ini tidak lepas dari tantangan dan momen-momen lucu yang menunjukkan batasan AI. Xu mengakui bahwa kemajuan tersebut masih jauh dari sempurna. "Agen AI membangun gedung pencakar langit di pusat kota LA, yang jadi masalah besar, karena (game) ini seharusnya di Florida," tulis Xu. Kejadian ini menyoroti salah satu kelemahan AI generatif: kadang-kadang "berhalusinasi" atau menghasilkan output yang secara logis tidak konsisten dengan instruksi awal, atau mengambil referensi dari data pelatihan yang tidak relevan. Dalam hal ini, AI mungkin mengambil referensi visual dari "kota besar" dan secara default mengarah ke Los Angeles, alih-alih lokasi yang diharapkan untuk GTA 6, yakni Leonida (fiksi Florida).
Selain tantangan geografis, Xu juga menghadapi kendala praktis lainnya. "Selain itu, saya telah menghabiskan 33% dari penggunaan mingguan 20x saya dalam satu hari. Jadi waktu terus berjalan," sambungnya. Ini adalah pengingat bahwa meskipun AI canggih dapat mempercepat pengembangan, penggunaan model-model seperti Claude 20x seringkali memerlukan sumber daya komputasi yang besar dan berbayar. Keterbatasan ini bisa menjadi faktor penentu dalam keberlanjutan proyek, mengingat ia berencana untuk mengalahkan rilis game AAA yang dikembangkan dengan anggaran tak terbatas.
Enam hari setelah proyek ini dimulai, game buatan Xu sudah terlihat jauh lebih ekspansif. Cuplikan terbaru menunjukkan lingkungan yang lebih kaya dengan karakter NPC (non-playable character) yang berjalan-jalan di jalanan, mobil-mobil yang bergerak di lalu lintas, dan bahkan fitur senjata yang terintegrasi. Ini adalah pencapaian signifikan yang menunjukkan bahwa AI mampu menghasilkan tidak hanya aset statis tetapi juga elemen dinamis yang penting untuk pengalaman open-world. Kehadiran NPC dan mobil menambahkan lapisan kehidupan pada dunia game, sementara senjata menunjukkan bahwa AI dapat diinstruksikan untuk menambahkan elemen gameplay inti yang diharapkan dari waralaba GTA.
Meskipun kemajuan yang dicapai Xu dalam waktu singkat sangat mengesankan, membandingkan proyek solo AI-nya dengan proyek raksasa Rockstar Games adalah perbandingan yang tidak adil. Rockstar memiliki ribuan talenta terbaik di industri, anggaran miliaran dolar, dan pengalaman puluhan tahun dalam menciptakan dunia game yang imersif dan detail. Setiap aspek dari GTA 6, mulai dari fisika mobil, AI karakter, narasi bercabang, desain suara, hingga detail visual terkecil, melalui proses pengembangan yang cermat dan berulang-ulang oleh tim ahli. Proyek Xu, di sisi lain, kemungkinan besar akan memiliki banyak bug, kurangnya polish, dan kedalaman narasi yang terbatas. Aspek-aspek seperti optimasi performa, stabilitas, dan pengalaman pengguna yang mulus adalah tantangan besar yang bahkan studio besar pun terkadang kesulitan mengatasinya.
Lebih jauh, ada juga potensi implikasi hukum terkait hak kekayaan intelektual. Meskipun proyek Xu mungkin hanya berfungsi sebagai demo teknologi atau eksperimen pribadi, membuat "tiruan" dari waralaba besar seperti GTA dapat menarik perhatian pemilik IP, Rockstar Games dan Take-Two Interactive. Namun, mengingat sifatnya yang tampaknya eksperimental dan didorong oleh AI, tujuan utamanya mungkin lebih kepada menunjukkan potensi teknologi daripada menciptakan produk komersial yang bersaing.
Proyek Ziwen Xu ini adalah studi kasus yang menarik tentang masa depan pengembangan game. Ini menunjukkan bagaimana AI generatif dapat mendemokratisasi penciptaan game, memungkinkan individu dengan sumber daya terbatas untuk membangun prototipe yang kompleks dalam waktu singkat. Ini juga membuka diskusi tentang peran AI dalam industri kreatif: apakah AI akan menjadi alat yang memberdayakan, ataukah akan menjadi kekuatan yang menggantikan tenaga kerja manusia? Xu, dengan ambisinya yang "ambisius, mungkin bodoh," telah memicu imajinasi banyak orang tentang apa yang mungkin terjadi di persimpangan antara kreativitas manusia dan kecerdasan buatan.
GTA 6 baru akan diluncurkan pada bulan November 2026, jadi Xu masih memiliki beberapa bulan, atau lebih tepatnya lebih dari dua tahun, untuk menyelesaikan proyek game-nya dan secara simbolis "mengalahkan" developer Rockstar Games. Pertanyaan besar yang masih belum terjawab adalah sejauh mana komitmen Xu untuk melanjutkan proyek game ini. Apakah ini hanya sebuah eksperimen singkat untuk menunjukkan kemampuan AI, ataukah ia benar-benar akan berupaya keras untuk menciptakan sebuah game yang layak disebut "GTA 6 tiruan" hingga batas kemampuannya? Hanya waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal yang pasti: proyek ini telah berhasil menarik perhatian dan menunjukkan bahwa dalam era AI, bahkan penantian terpanjang sekalipun bisa diisi dengan kreasi tak terduga.

