BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Virgil van Dijk, kapten tim nasional Belanda dan bek tangguh Liverpool, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan hydration breaks yang diterapkan FIFA di seluruh pertandingan Piala Dunia 2026. Menurut pemain berusia 35 tahun ini, jeda minum yang seharusnya bertujuan untuk menjaga kesehatan dan performa pemain di tengah cuaca panas, justru lebih terlihat sebagai sarana untuk mengakomodasi jeda iklan demi kepentingan komersial semata. Pernyataan ini disampaikan Van Dijk menyusul pertandingan Grup D antara Belanda melawan Jepang yang berakhir imbang 2-2 di Dallas Stadium, Texas, pada Senin (15/6/2026).
Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memang dikenal memiliki potensi cuaca yang sangat bervariasi, termasuk potensi suhu tinggi di beberapa kota penyelenggara. Menyadari hal ini, FIFA memutuskan untuk menerapkan hydration breaks di setiap babak pertandingan. Jeda selama tiga menit ini dirancang untuk memungkinkan para pemain dari kedua tim mengambil kesempatan untuk minum dan mencegah risiko kelelahan ekstrem serta dehidrasi yang bisa membahayakan kesehatan dan performa mereka di lapangan. Kebijakan ini berlaku untuk semua pertandingan, tanpa terkecuali, sebagai langkah preventif yang dianggap penting oleh otoritas sepak bola dunia.
Pertandingan antara Belanda dan Jepang sendiri berlangsung dengan tensi tinggi dan jual beli serangan yang menarik. Belanda berhasil unggul lebih dulu melalui sundulan Virgil van Dijk yang memanfaatkan kemelut di depan gawang. Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan lama ketika Keito Nakamura berhasil menyamakan kedudukan untuk Jepang. Di babak kedua, Crysencio Summerville kembali membawa "De Oranje" unggul, sebelum akhirnya Daichi Kamada mencetak gol penyeimbang di menit-menit akhir pertandingan, mengunci hasil imbang 2-2. Pertandingan ini menampilkan intensitas tinggi khas turnamen akbar, namun juga menjadi sorotan bagi Van Dijk terkait penerapan hydration breaks.
Virgil van Dijk secara spesifik menyoroti bahwa pada pertandingan melawan Jepang di Dallas Stadium, cuaca sebenarnya tidak separah yang dibayangkan. Ia bahkan menambahkan bahwa stadion tersebut dilengkapi dengan sistem pendingin udara (AC) yang canggih, yang seharusnya dapat membantu menjaga suhu lapangan tetap nyaman bagi para pemain. Kondisi inilah yang membuat Van Dijk merasa hydration breaks terasa kurang relevan dan bahkan berlebihan dalam konteks pertandingan tersebut. Ia merasa bahwa jeda minum tersebut tidak sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan fisiologis pemain di lapangan, melainkan ada motif lain yang mendasarinya.
Kritik utama Van Dijk tertuju pada dugaan bahwa hydration breaks lebih dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk menayangkan iklan oleh para pemegang hak siar. Ia mengamati bahwa setiap kali jeda minum diberlakukan, layar televisi seringkali beralih untuk menampilkan rangkaian iklan. Hal ini membuatnya berspekulasi bahwa tujuan utama dari diberlakukannya hydration breaks secara seragam di semua pertandingan bukanlah semata-mata untuk kesehatan pemain, melainkan juga sebagai strategi komersial untuk meningkatkan pendapatan dari sektor periklanan selama siaran berlangsung. Sindiran ini cukup kuat dan mengarah pada dugaan bahwa keputusan FIFA bisa jadi dipengaruhi oleh pertimbangan bisnis, bukan hanya aspek teknis dan medis pertandingan.
Lebih lanjut, Van Dijk berpendapat bahwa penerapan hydration breaks seharusnya dilakukan secara lebih fleksibel dan situasional. Ia menekankan bahwa jeda minum baru benar-benar diperlukan dan bermanfaat ketika kondisi cuaca di stadion memang terbukti sangat panas dan berpotensi membahayakan pemain. Menerapkannya secara seragam di setiap pertandingan, tanpa mempertimbangkan kondisi spesifik masing-masing lokasi dan waktu, dianggapnya kurang tepat sasaran. Hal ini bisa mengurangi esensi dari kebijakan tersebut dan justru menimbulkan pertanyaan tentang urgensinya.
"Jeda minum agak menarik, karena saya jelas menonton hampir semua pertandingan sampai hari ini, dan setiap kali ada jeda iklan sebentar… Tidak terlalu saya sukai," ujar Van Dijk, sebagaimana dikutip dari ESPN. Komentar ini menunjukkan ketidakpuasannya yang mendalam terhadap kebijakan tersebut. Ia tidak hanya merasa kebijakan itu kurang relevan dalam beberapa kasus, tetapi juga merasa bahwa pola penayangannya yang selalu beriringan dengan iklan menciptakan kesan yang kurang baik.
Van Dijk melanjutkan kritiknya dengan menyatakan bahwa kebijakan tersebut juga tidak memberikan pengalaman menonton yang ideal bagi para penggemar sepak bola. "Saya pikir bagi penonton netral di TV juga tidak bagus. Jika cuacanya sangat panas, tentu akan bagus untuk menayangkannya. Tapi menurut saya, kita harus melihatnya di setiap pertandingan secara terpisah," jelasnya. Ia berargumen bahwa jeda yang tiba-tiba dan terasa tidak perlu, terutama ketika cuaca tidak mendukung, dapat mengganggu alur pertandingan dan mengurangi kenikmatan bagi penonton. Ia menyarankan agar FIFA melakukan evaluasi yang lebih mendalam dan mempertimbangkan faktor-faktor spesifik seperti suhu udara, kelembaban, dan kondisi stadion sebelum memutuskan untuk mengaktifkan hydration breaks. Pendekatan yang lebih adaptif ini, menurut Van Dijk, akan membuat kebijakan tersebut lebih efektif dan sesuai dengan tujuan awalnya.
Pandangan Virgil van Dijk ini mencerminkan kekhawatiran dari perspektif pemain yang berada langsung di lapangan. Sebagai seorang profesional yang menuntut kondisi optimal untuk menampilkan performa terbaik, ia memiliki pemahaman mendalam tentang bagaimana faktor lingkungan dapat memengaruhi fisik dan mental. Kritiknya terhadap hydration breaks juga membuka diskusi lebih luas mengenai keseimbangan antara kebutuhan pemain, kepentingan komersial, dan integritas pertandingan sepak bola di level internasional.
Piala Dunia 2026 sendiri merupakan edisi pertama yang diikuti oleh 48 tim, menjanjikan format turnamen yang lebih besar dan potensi peningkatan pendapatan yang signifikan bagi FIFA. Dengan jumlah pertandingan yang lebih banyak dan cakupan geografis yang luas, isu-isu seperti hydration breaks dan dampaknya terhadap berbagai aspek pertandingan menjadi semakin relevan untuk dikaji. Apakah FIFA akan mempertimbangkan masukan dari pemain bintang seperti Van Dijk dan melakukan penyesuaian terhadap kebijakan ini, masih menjadi pertanyaan yang menarik untuk diikuti seiring berjalannya turnamen akbar ini.

