BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Aksi membela diri dan keluarga yang ditunjukkan oleh Betrand Peto, putra angkat dari presenter ternama Ruben Onsu, telah menarik perhatian publik luas. Melalui unggahan panjang di fitur Instagram Story yang beredar pada Sabtu, 13 Juni 2026, Betrand Peto dengan tegas menyuarakan perasaannya dan mengungkapkan situasi yang selama ini ia dan keluarganya hadapi. Pesan yang diduga kuat ditujukan kepada seorang wanita yang dipanggil "tante" tersebut, menjadi bukti nyata betapa Betrand Peto tidak tinggal diam melihat ayahnya terus menerus diserang dan difitnah. Ia meminta agar "tante" tersebut berhenti menyebarkan informasi yang dianggapnya tidak benar dan menyesatkan mengenai Ruben Onsu.
Dalam unggahan yang mengundang berbagai spekulasi dan simpati, Betrand Peto secara lugas menulis, "Tante, stop ajakin orang-orang untuk benci ayah. Stop sok-jagoan seolah punya rahasia." Kalimat ini menyiratkan adanya upaya sistematis untuk membentuk opini publik yang negatif terhadap Ruben Onsu, yang diklaim Betrand telah berlangsung cukup lama. Ia merasa perlu untuk bersuara karena telah melihat dan merasakan langsung dampak dari serangan-serangan tersebut, baik terhadap ayahnya maupun dirinya sendiri. Pilihan untuk akhirnya angkat bicara ini bukanlah tanpa alasan. Betrand mengaku bahwa selama ini ia memilih untuk bungkam demi menghormati keinginan Ruben Onsu. Sang ayah, yang dikenal memiliki prinsip kuat untuk tidak membalas serangan, tampaknya telah berulang kali meminta Betrand untuk bersabar dan tidak terpancing emosi. Namun, kesabaran itu ada batasnya, dan Betrand merasa bahwa kini saatnya ia menyuarakan kebenaran dari sudut pandangnya.
"Lupa? Banyak juga yang aku tahan-tahan dan tidak ceritakan," tulis Betrand, menyiratkan bahwa selama ini ia telah menelan banyak hal yang tidak pernah ia ungkapkan kepada publik. Ini menunjukkan beban emosional yang cukup berat yang ia pikul demi menjaga keharmonisan keluarga dan menghargai keputusan sang ayah. Ia merasa bahwa ada ketidakadilan yang ia saksikan, di mana ayahnya terus menerus menjadi sasaran empuk tanpa pernah memberikan perlawanan yang berarti. Pernyataan Betrand semakin menguatkan dugaan adanya pihak-pihak yang secara aktif berusaha menjatuhkan nama baik Ruben Onsu. Ia mengungkapkan, "Kalian selalu mengerahkan pendukung kalian untuk membenci ayah, katain ayah. Hampir dua tahun kalian selalu memastikan rezeki ayah." Frasa "memastikan rezeki ayah" ini bisa diartikan sebagai upaya untuk menghalangi atau merusak sumber penghasilan Ruben Onsu, sebuah tindakan yang sangat merugikan dan kejam.
Meskipun terus menerus dibanjiri tudingan dan fitnah, Betrand Peto menekankan bahwa Ruben Onsu tidak pernah membalas ataupun meladeni pihak-pihak yang menyerangnya. Sikap Ruben yang memilih untuk diam dan fokus pada karya serta keluarganya, justru tampaknya semakin membuat pihak penyerang merasa di atas angin. Namun, keteguhan hati Rubenlah yang menjadi panutan bagi Betrand. Ia melihat bagaimana ayahnya selalu berusaha untuk tetap tenang dan positif, meskipun diterpa badai. Di sinilah Betrand merasa perlu untuk "memasang badan", bukan hanya untuk membela ayahnya, tetapi juga untuk membuktikan bahwa ia tidak akan tinggal diam melihat orang yang ia sayangi diperlakukan tidak adil.
Salah satu pernyataan Betrand yang paling menyita perhatian publik adalah perbandingan perlakuan yang ia terima dari Ruben Onsu dengan perlakuan yang ia duga diterima dari "tante" yang ia maksud. "Selama saya sama ayah dari dulu, ayah tidak pernah tampar atau pukul saya. Tapi kalau tante?" tulisnya. Pernyataan ini sangat provokatif dan mengindikasikan adanya dugaan kekerasan atau perlakuan buruk yang diterima oleh "tante" tersebut, yang kemudian mungkin menjadi akar dari rasa dendam atau kebenciannya terhadap Ruben Onsu. Perbandingan ini secara tidak langsung membela karakter Ruben Onsu sebagai sosok ayah yang penyayang dan tidak pernah melakukan kekerasan fisik terhadap anaknya. Ini juga menjadi sindiran telak bahwa "tante" tersebut mungkin memiliki masalah pribadi yang seharusnya ia selesaikan, bukan dengan melampiaskannya pada keluarga Ruben.
Di akhir unggahannya, Betrand Peto melontarkan sindiran keras yang meminta pihak yang dimaksud untuk melakukan introspeksi diri. Ia mempertanyakan mengapa seseorang tidak bisa menerima teguran Tuhan dan justru terus menerus menyebarkan kebencian. "Kenapa gak terima sama teguran Tuhan? Yang katain ayah duluan siapa? Ayah seolah-olah hina di mata kalian, manusia yang tidak tau terima kasih," tegas Betrand. Kata-kata ini menunjukkan kekecewaan mendalam Betrand terhadap sikap "tante" tersebut. Ia melihat bahwa apa yang dilakukan oleh Ruben Onsu adalah sebuah kebaikan, namun justru dibalas dengan kebencian dan fitnah. Betrand merasa bahwa Ruben Onsu telah diperlakukan seperti manusia yang hina oleh orang-orang yang tidak tahu berterima kasih, padahal selama ini Ruben selalu berusaha memberikan yang terbaik dan tidak pernah berniat buruk kepada siapapun.
Keputusan Betrand Peto untuk bersuara ini tentu memiliki dampak yang signifikan. Hal ini tidak hanya memberikan dukungan emosional yang besar bagi Ruben Onsu dan keluarganya, tetapi juga membuka mata publik terhadap apa yang mungkin selama ini terjadi di balik layar kehidupan para figur publik. Banyak warganet yang memberikan dukungan penuh kepada Betrand, memuji keberaniannya dalam membela ayahnya. Mereka menganggap bahwa Betrand telah menunjukkan sikap ksatria dan bertanggung jawab sebagai seorang anak. Unggahan ini juga memicu diskusi luas tentang pentingnya menjaga nama baik keluarga, etika dalam berkomunikasi di media sosial, serta bagaimana menghadapi fitnah dan kebencian dengan cara yang bijaksana, meskipun terkadang diperlukan pembelaan yang tegas.
Kisah ini juga menyoroti sisi lain dari kehidupan seorang anak angkat yang memiliki hubungan sangat erat dengan orang tuanya. Betrand Peto, meskipun masih muda, telah menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi masalah keluarga. Keputusannya untuk akhirnya berbicara setelah sekian lama menahan diri, menunjukkan bahwa ada batas kesabaran dan ketika itu terlampaui, pembelaan diri dan keluarga adalah hal yang wajar dan perlu. Ia tidak ingin melihat ayahnya terus menerus difitnah dan dirusak reputasinya tanpa ada yang membela. Pesan yang ia sampaikan bukanlah sekadar luapan emosi, melainkan sebuah pernyataan kebenaran yang ia rasakan dan ia saksikan sendiri. Betrand Peto telah membuktikan bahwa ia bukan hanya sekadar anak angkat, tetapi juga seorang anggota keluarga yang setia dan berani, siap melindungi orang-orang yang ia cintai dari segala ancaman dan fitnah. Ia memberikan contoh nyata bahwa cinta keluarga adalah kekuatan terbesar yang dapat mengalahkan segala bentuk kebencian.

