0

Wardatina Mawa: Lebih Memilih Berjuang Sendiri Daripada Bergantung pada Nafkah dari Insanul Fahmi di Tengah Proses Perceraian

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di tengah badai perceraian yang tengah dihadapinya dengan Insanul Fahmi, selebgram Wardatina Mawa menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa. Alih-alih memfokuskan energinya pada tuntutan nafkah yang tertera dalam gugatan cerainya, Mawa memilih untuk menempatkan kepercayaan penuh pada kemampuan dan kerja kerasnya sendiri. Keputusan ini mencerminkan kemandirian dan kekuatan batin yang ia miliki, sebuah sikap yang patut diapresiasi di tengah gejolak emosi yang mungkin menyertainya. Meskipun dalam dokumen gugatan cerai secara legal tercantum permintaan nafkah sebesar Rp 25 juta per bulan, angka tersebut ternyata bukanlah prioritas utama Mawa dalam menjalani proses perpisahannya. Ia menegaskan bahwa fokus utamanya adalah pada perjuangan pribadi dan tidak ingin terlalu membebani diri dengan ekspektasi yang berlebihan terkait materi dari mantan suaminya.

"Aku gak tahu ya itu tahunya dari siapa sebenarnya. Cuman ya sudah, apa pun itu nggak apa-apa sih. Aku sih nggak berharap banyak ya. Jadi aku yang penting lebih pengin berjuang sendiri saja," ujar Wardatina Mawa dengan nada tegar saat ditemui di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 6 Juni 2026. Pernyataan ini bukan sekadar ungkapan sesaat, melainkan sebuah prinsip hidup yang ia pegang teguh. Baginya, kemandirian finansial adalah kunci untuk membangun masa depan yang stabil, terutama bagi dirinya dan buah hatinya. Ia tidak ingin terperangkap dalam ketergantungan yang bisa mengancam kebebasan dan kemandiriannya di kemudian hari.

Meskipun pihak kuasa hukum secara resmi mencantumkan nominal Rp 25 juta dalam gugatan cerai, Wardatina Mawa secara pribadi menegaskan bahwa ia tidak pernah secara sengaja menuntut nafkah dalam jumlah spesifik kepada Insanul Fahmi. Ia mengungkapkan bahwa sudah cukup lama ia tidak lagi memantau secara detail arus masuk keuangan dari pihak tergugat. Segala urusan terkait hal tersebut diserahkannya sepenuhnya kepada kesadaran dan itikad baik dari Insanul Fahmi. Sikap ini menunjukkan kedewasaan dan pemahaman bahwa hubungan pasca-perceraian, terutama yang melibatkan anak, membutuhkan pendekatan yang lebih bijaksana dan tidak harus selalu berpusat pada tuntutan finansial semata.

"Aku nggak pernah nuntut apa-apa. Gak pernah nuntut apa-apa sama sekali gak pernah. Dikasih ya alhamdulillah, gak dikasih juga aku gak pernah tahu notifikasi dari rekening tuh aku gak pernah lihat juga," tuturnya lebih lanjut. Sikap ini menegaskan bahwa Mawa tidak menjadikan nafkah sebagai alat untuk memanipulasi atau memeras mantan suaminya. Ia lebih mengutamakan kedamaian batin dan fokus pada aspek-aspek lain yang lebih penting dalam hidupnya. Baginya, rezeki datang dari berbagai arah, dan ia yakin bahwa dengan usaha kerasnya, ia akan mampu mencukupi kebutuhan diri dan anaknya.

Terkait dengan pemberian bulanan yang selama ini dikirimkan oleh Insanul Fahmi, Mawa mengakui bahwa nominal yang diterima sebenarnya belum sepenuhnya mencukupi untuk memenuhi seluruh kebutuhan sang buah hati. Namun, selebgram yang dikenal dengan gaya hidupnya yang menarik dan asal Medan ini, memilih untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut lebih jauh. Ia berpandangan bahwa setiap pemberian, sekecil apapun, patut disyukuri. Sikap rendah hati dan rasa syukur ini menjadi nilai tambah yang semakin memperkuat citra positifnya.

"Ya alhamdulillah ada. Aku nggak mau menjelek-jelekkan, cuman ya alhamdulillahlah, banyak disyukuri saja," ucapnya dengan senyum tipis. Pengakuan ini bukan berarti Mawa pasrah begitu saja, melainkan sebuah bentuk penghargaan terhadap apa yang sudah diberikan. Ia lebih memilih untuk fokus pada bagaimana ia dapat memaksimalkan sumber daya yang ada dan mencari peluang lain untuk meningkatkan pendapatannya. Inilah esensi dari kemandirian yang ia tunjukkan.

Lebih lanjut, Wardatina Mawa mengungkapkan bahwa saat ini ia lebih memprioritaskan perbaikan kesehatan mentalnya dan fokus menjalani rutinitas pekerjaannya sebagai seorang content creator. Untuk mencapai ketenangan batin, ia memutuskan untuk membatasi komunikasi langsung dengan Insanul Fahmi. Segala urusan terkait anak kini diserahkan melalui perantara asistennya di rumah. Pendekatan ini diambil demi menjaga kestabilan emosionalnya dan memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil tetap berorientasi pada kesejahteraan diri dan anaknya.

"Bulanan itu bukan untuk anak ya, maksudnya ya tetap-tetap untuk anak tapi menurut aku gak sampai nggak bisa untuk anak juga. Tapi ya gak apa-apa, it’s okay," pungkasnya, mengklarifikasi bahwa meskipun pemberian tersebut ditujukan untuk anak, ia menyadari keterbatasannya dan memilih untuk tidak menjadikannya sebagai satu-satunya sumber pendanaan. Pernyataan ini kembali menekankan bahwa Mawa memiliki pandangan yang realistis dan tidak menggantungkan harapan sepenuhnya pada pihak lain.

Keputusan Wardatina Mawa untuk lebih mengandalkan diri sendiri dalam menghadapi proses perceraian dan tantangan hidup adalah sebuah inspirasi. Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada tuntutan materi, tetapi pada ketangguhan mental, kemandirian, dan keyakinan pada kemampuan diri. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, Mawa memilih untuk menjadi nahkoda bagi kapalnya sendiri, berlayar menuju masa depan yang lebih cerah dengan bekal kerja keras dan semangat pantang menyerah. Ia membuktikan bahwa seorang wanita bisa menjadi kuat dan mandiri, bahkan di saat-saat terberat dalam hidupnya. Fokusnya pada pengembangan karir sebagai content creator juga menunjukkan visi jangka panjangnya untuk membangun stabilitas finansial yang kokoh, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk masa depan sang buah hati. Dengan membatasi interaksi langsung dengan mantan suami dan mendelegasikan urusan anak melalui asisten, Mawa secara cerdas menciptakan batasan yang sehat untuk melindungi kesehatan mentalnya, sebuah langkah krusial dalam proses penyembuhan dan pemulihan diri pasca-perceraian. Ia adalah contoh nyata bahwa perceraian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah babak baru yang penuh peluang untuk bertumbuh dan menjadi pribadi yang lebih kuat.