BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Giorgino Abraham, aktor yang namanya kian melambung berkat proyek serial terbarunya, kini menjadi pusat perhatian publik. Pemicu sorotan adalah kehadiran adegan-adegan dewasa dalam serial tersebut, yang tak pelak memunculkan berbagai stigma dan stereotip negatif di tengah masyarakat. Namun, alih-alih merasa terbebani atau khawatir, Giorgino Abraham justru menyikapinya dengan kepala dingin. Ia menegaskan bahwa stigma negatif yang mungkin melekat padanya sama sekali tidak membuatnya gentar. Baginya, melakoni adegan intim dalam sebuah produksi bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah bagian tak terpisahkan dari profesionalisme dan dedikasi yang ia miliki sebagai seorang aktor.
"Aku tidak pernah takut dicap ‘Oh ini Giorgino Abraham aktor yang memainkan adegan-adegan seperti itu’. Menurut aku itu menjadi bagian dari seorang aktor sih. Dan mungkin tidak banyak yang berani atau mau mengambil series seperti itu," ujar Giorgino Abraham dengan lugas saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat, 5 Juni 2026. Pernyataan ini mencerminkan keyakinan kuatnya dalam menjalani profesi akting, di mana ia memandang setiap adegan, terlepas dari sifatnya, sebagai tantangan yang harus dihadapi dengan integritas profesional. Ia menyadari bahwa tidak semua aktor memiliki keberanian atau kemauan yang sama untuk mengeksplorasi peran-peran yang mungkin dianggap kontroversial oleh sebagian kalangan.
Lebih jauh, aktor yang kini berusia 41 tahun ini menjelaskan bahwa keputusannya untuk mengambil sebuah proyek tidak semata-mata didasarkan pada keberadaan adegan dewasa. Ia memiliki kriteria yang cukup ketat dan matang sebelum akhirnya memberikan persetujuannya untuk terlibat dalam sebuah produksi. Ada banyak faktor yang dipertimbangkan, dan adegan dewasa hanyalah salah satunya, dan bahkan bukan yang utama. "Bukan berarti semua adegan yang ada gitunya pasti saya ambil, no. Esensi cerita itu penting buat saya, sutradaranya siapa, PH-nya siapa, lawan mainnya siapa, itu semua dulu penting, baru ‘Oke’," terangnya. Kriteria ini menunjukkan bahwa Giorgino Abraham adalah aktor yang cerdas dan selektif, ia tidak hanya mencari sensasi, tetapi lebih kepada kedalaman makna dan kualitas artistik sebuah karya.
Esensi cerita menjadi landasan utamanya. Ia meyakini bahwa sebuah adegan, meskipun intim, akan memiliki bobot dan makna yang lebih besar jika didukung oleh narasi yang kuat dan relevan. Tanpa esensi cerita yang memadai, adegan intim hanya akan menjadi sekadar tontonan tanpa substansi. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya tim produksi di balik layar. Kredibilitas sutradara, reputasi rumah produksi (PH), serta kualitas akting lawan main menjadi faktor penentu yang tak kalah penting. Kolaborasi yang baik dengan sutradara yang visioner, PH yang profesional, dan lawan main yang mumpuni akan sangat mempengaruhi kualitas akhir sebuah produksi, termasuk bagaimana adegan-adegan dewasa tersebut dieksekusi.
Aktor kelahiran tahun 1994 ini juga berusaha mengedukasi publik mengenai perbedaan antara apa yang terlihat di layar kaca dengan realitas di lokasi syuting. Ia menekankan adanya batasan-batasan tertentu serta penggunaan teknik khusus yang diterapkan untuk menjaga kenyamanan semua pemain yang terlibat. "Saya juga punya batasan. Apa yang dilihat di tayangan belum tentu kenyataannya seperti itu. It’s real but ada angle-angle trik kamera, yang mengelabui penonton seakan-akan seekstrem itu adegannya," jelasnya. Pernyataan ini sangat penting untuk mengklarifikasi persepsi publik. Adegan intim yang terlihat eksplisit di layar seringkali merupakan hasil dari manipulasi visual, pencahayaan, sudut pengambilan gambar, dan editing yang cermat. Teknik-teknik ini digunakan untuk menciptakan ilusi, bukan untuk menggambarkan realitas yang sebenarnya terjadi di balik layar.
Giorgino Abraham juga menegaskan bahwa ia memiliki batasan pribadi yang jelas. Ia tidak akan pernah melakukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman atau melanggar prinsip-prinsip moralnya. Batasan ini dijaga dengan ketat, dan ia percaya bahwa tim produksi yang profesional pun akan menghormati batasan tersebut. Penggunaan teknik sinematografi, seperti yang ia sebutkan, adalah alat yang sangat efektif untuk menciptakan kesan tanpa harus benar-benar mengeksploitasi para aktor. Ini adalah seni sinema, di mana ilusi dan realitas seringkali berjalin kelindan.
Meskipun menyadari adanya risiko pro dan kontra yang pasti akan muncul seiring dengan perilisan proyek semacam ini, Giorgino Abraham memilih untuk tetap fokus pada performa aktingnya. Ia sangat menghargai keputusan aktor lain yang mungkin enggan mengambil peran serupa karena alasan pribadi atau profesional. Namun, baginya, menjalankan tugas sesuai dengan kontrak yang telah disepakati adalah bentuk tanggung jawab profesi yang ia pegang teguh. " It’s okay, aku respect banget sama semua pemain yang tidak mau. Tapi ya saya di sini dibayar, saya di sini melakukan tugas saya sebagai seorang aktor," pungkasnya.
Pernyataan ini menunjukkan kematangan profesionalismenya. Ia melihat perannya sebagai sebuah pekerjaan yang harus diselesaikan dengan baik, sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. Ia tidak memandang rendah pilihan orang lain, tetapi ia juga tidak merasa bersalah atas pilihan yang telah ia buat. Fokusnya adalah pada penyampaian karakter dan cerita secara maksimal, dan jika itu melibatkan adegan intim, ia siap menjalankannya dengan profesionalisme dan batasan yang jelas. Ia menegaskan bahwa ia bekerja untuk mendapatkan bayaran, dan sebagai imbalannya, ia memberikan yang terbaik dari kemampuannya sebagai aktor.
Keberanian Giorgino Abraham dalam mengambil peran yang menantang ini tampaknya membuahkan hasil. Series "Love & 10 Million Dollars" yang dibintanginya bersama Davina Karamoy, Elina Joerg, dan Anthony Xie dilaporkan berhasil meraih kesuksesan besar. Series ini bahkan mampu menduduki peringkat trending di sejumlah negara, menunjukkan daya tarik dan resonansinya di pasar global. Kesuksesan ini tidak hanya terbatas pada popularitas semata, tetapi juga membawa seluruh tim produksi meraih penghargaan prestisius dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penghargaan ini menjadi bukti nyata bahwa kualitas akting dan keberanian dalam mengeksplorasi tema-tema yang mungkin dianggap sensitif dapat menghasilkan karya yang luar biasa dan diakui secara luas.
Pencapaian ini semakin memperkuat posisi Giorgino Abraham sebagai aktor yang tidak hanya berbakat tetapi juga berani mengambil risiko. Ia membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, profesionalisme yang tinggi, dan fokus pada kualitas cerita, adegan dewasa dapat menjadi elemen yang memperkaya narasi, bukan sekadar gimmick semata. Ia telah berhasil mendobrak stigma dan menunjukkan bahwa seorang aktor dapat menjelajahi berbagai jenis peran tanpa harus kehilangan integritas atau profesionalismenya. Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak aktor muda yang mungkin masih ragu untuk keluar dari zona nyaman mereka.

