0

Curhat Pilu Karyawan Meta Singapura Kena PHK Tanpa Aba-aba

Share

Dalam sekejap mata, dari seorang mentor yang berdedikasi menjadi mantan karyawan yang terhempas, begitulah kisah Gary Tay, seorang insinyur senior di Meta Singapura, yang mendadak harus menerima kenyataan pahit pemutusan hubungan kerja (PHK). Kisahnya, yang dibagikan melalui platform profesional LinkedIn, sontak viral dan menyentuh banyak hati, tidak hanya di kalangan pekerja teknologi tetapi juga masyarakat luas. Ironi pahit yang menyelimuti pemecatannya menjadi sorotan utama: hanya sehari setelah ia dengan sepenuh hati melatih rekan setimnya yang baru bergabung, ia justru menjadi salah satu dari ribuan karyawan yang harus angkat kaki dari raksasa teknologi tersebut.

Gary Tay, yang menjabat sebagai AdTech Business Support Engineer di Meta, menceritakan pengalamannya yang mengejutkan. Pada hari Selasa, ia masih disibukkan dengan tugas mulianya, membimbing seorang insinyur baru, memastikan bahwa semua pengetahuan dan pengalaman yang ia miliki selama bertahun-tahun di perusahaan dapat diturunkan dengan baik. Ia merasa telah mengajarkan segalanya, mempersiapkan sang rekan baru untuk tantangan di masa depan. Namun, keesokan harinya, pada hari Rabu yang tak terduga, nasibnya berbalik 180 derajat. "Hari ini, saya di-PHK," tulisnya dalam unggahan LinkedIn yang memilukan, seperti dikutip detikINET dari NDTV. Kejadian ini menjadi bagian dari gelombang PHK massal yang kembali digulirkan oleh Meta, berdampak pada sekitar 8.000 karyawan di seluruh dunia, termasuk sejumlah besar di kantor Singapura.

Kisah Gary semakin memilukan mengingat rekam jejaknya yang luar biasa di perusahaan. Ia telah mengabdi hampir satu dekade, tepatnya 9 tahun 9 bulan, di Meta yang sebelumnya dikenal sebagai Facebook. Sebuah durasi yang sangat jarang ditemukan di industri teknologi yang serba cepat dan dinamis. Gary bergabung dengan perusahaan di London sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah dan melanjutkan karirnya di Singapura, menunjukkan komitmen dan adaptabilitasnya yang tinggi. "Diterima kerja di London, diberhentikan di Singapura," tulisnya, menambahkan sentuhan personal pada narasi pahitnya. "Bekerja lebih lama dibandingkan 99,5% karyawan global saat ini. 99,9% lebih lama dari siapa pun di kantor APAC (Asia Pasifik)." Pernyataan ini bukan sekadar pamer, melainkan penekanan pada dedikasi dan loyalitas yang kini harus diakhiri dengan cara yang begitu mendadak dan tanpa peringatan.

Dalam unggahannya, Gary mengungkapkan rasa syukurnya karena memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari perjalanan Meta, atau Facebook, di masa-masa awal perkembangannya. Ia merasa bangga bisa menyaksikan dan berkontribusi pada pertumbuhan pesat perusahaan yang mengubah cara dunia berinteraksi. Pengalaman panjangnya di Meta bukan satu-satunya keunggulan yang ia miliki. Sebelum bergabung dengan Facebook, Gary juga pernah bekerja di raksasa teknologi lainnya, Microsoft. Ia menyebutkan bahwa hanya segelintir warga Singapura yang memiliki rekam jejak lebih dari 15 tahun sebagai insinyur di dua perusahaan teknologi terkemuka dunia, Meta dan Microsoft, sebuah pencapaian yang menggarisbawahi kapabilitas dan pengalamannya yang tak diragukan lagi.

Dedikasi Gary terhadap inovasi dan pengembangan diri juga sangat menonjol. Tahun ini, ia meluangkan waktu dan tenaganya untuk meningkatkan keterampilannya di bidang kecerdasan buatan (AI). Tidak hanya belajar, ia bahkan berhasil membangun sebuah sistem yang diklaim mampu mempercepat penyelesaian beban kerja timnya hingga 200-300%, sambil tetap mempertahankan kualitas layanan yang tinggi bagi klien-klien terbesar Meta. Sebuah bukti nyata bahwa ia adalah karyawan yang proaktif, berorientasi solusi, dan selalu berusaha memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Namun, ironisnya, inovasi yang ia kembangkan justru menjadi metafora pahit bagi nasibnya sendiri. "AI akan terus bertahan, tapi tampaknya manusia tidak," tulisnya, sebuah kalimat yang menggema kegelisahan banyak pekerja teknologi di seluruh dunia seiring dengan semakin masifnya otomatisasi dan adopsi AI yang mulai mengubah lanskap pekerjaan secara fundamental.

Pernyataan Gary tersebut bukan hanya sekadar keluhan pribadi, melainkan sebuah refleksi atas kekhawatiran yang lebih besar mengenai masa depan tenaga kerja manusia di tengah gelombang revolusi AI. Banyak yang bertanya-tanya, apakah kecerdasan buatan, yang seharusnya menjadi alat untuk membantu manusia, kini justru berbalik menjadi pesaing utama dalam mencari nafkah? PHK massal di Meta, yang salah satu alasannya disebut-sebut adalah restrukturisasi dan efisiensi, semakin memperkuat narasi bahwa perusahaan-perusahaan teknologi besar sedang mengevaluasi ulang kebutuhan mereka akan tenaga kerja manusia, mungkin dengan mempertimbangkan solusi otomatisasi yang lebih hemat biaya.

Unggahan Gary Tay dengan cepat menyebar dan menjadi viral di LinkedIn, memicu gelombang simpati dan dukungan dari ribuan profesional. Banyak yang merasa terhubung dengan kisahnya, baik karena pernah mengalami hal serupa, maupun karena memahami ketidakpastian yang kini menyelimuti industri teknologi. Kolom komentar dibanjiri dengan pesan-pesan yang mengharukan dan membangun semangat.

"Saya prihatin atas apa yang menimpa Anda dan semua orang yang kena PHK. Bekerja begitu lama di sebuah perusahaan pasti menumbuhkan rasa keterikatan kuat, tapi Meta memang sudah tak sama lagi sejak Sheryl Sandberg pergi. Semoga sukses untuk perjalanan karier Anda selanjutnya!" tulis salah satu pengguna, menyoroti perubahan budaya dan kepemimpinan di Meta yang mungkin berkontribusi pada keputusan-keputusan sulit ini. Komentar ini mengisyaratkan bahwa bagi sebagian karyawan lama, Meta yang sekarang terasa berbeda dari Meta yang mereka kenal dan cintai di masa lalu.

Pengguna lain menambahkan, "Sangat sedih mendengar kabar ini, Gary. Anda adalah seorang engineer yang luar biasa; perusahaan mana pun akan sangat beruntung memiliki Anda. Mengirimkan energi positif untukmu." Komentar ini tidak hanya menunjukkan empati, tetapi juga pengakuan atas kualitas dan kapabilitas Gary sebagai seorang profesional. Ini adalah pengingat bahwa meskipun perusahaan mungkin memutuskan hubungan, nilai dan bakat seorang individu tetap tidak berkurang.

Bahkan, mantan rekan kerjanya pun turut berkomentar, "Selalu menyenangkan bisa bekerja denganmu. Dengan bekal pengetahuan luar biasa yang kamu miliki, segalanya menjadi terasa lebih mudah. Sangat sedih melihatmu harus pergi. Semoga kita berkesempatan untuk bekerja sama lagi di masa depan." Pesan-pesan seperti ini tidak hanya memberikan dukungan emosional, tetapi juga menjadi semacam "referensi hidup" yang menggarisbawahi reputasi positif Gary di mata kolega-koleganya.

Kisah Gary Tay adalah cerminan dari fenomena yang lebih besar di industri teknologi global. Era "pekerjaan seumur hidup" di perusahaan besar, bahkan raksasa teknologi sekalipun, tampaknya semakin menjadi mitos. Krisis ekonomi global, inflasi, kenaikan suku bunga, dan perubahan strategi bisnis perusahaan telah memaksa banyak perusahaan untuk melakukan efisiensi besar-besaran, dan PHK menjadi salah satu jalan yang paling sering ditempuh. Bagi karyawan, khususnya mereka yang telah mengabdi lama, PHK mendadak seperti ini adalah pukulan telak yang tidak hanya berdampak pada finansial, tetapi juga pada identitas profesional dan kesejahteraan mental. Rasa kehilangan, ketidakpastian, dan bahkan pengkhianatan bisa menjadi emosi yang dominan.

Di sisi lain, kisah-kisah seperti Gary ini juga menyoroti peran penting platform seperti LinkedIn. Selain sebagai alat untuk mencari pekerjaan, LinkedIn kini juga berfungsi sebagai megafon bagi suara-suara yang terpinggirkan, sebuah forum universal di mana para profesional dapat berbagi pengalaman, mencari dukungan, dan membangun solidaritas di tengah tantangan. Reaksi masif terhadap unggahan Gary menunjukkan bahwa ada kebutuhan mendalam bagi para pekerja untuk merasa didengar dan divalidasi, terutama ketika mereka menghadapi situasi yang tidak adil atau sulit.

Peristiwa yang menimpa Gary Tay adalah pengingat pahit bahwa di era disrupsi teknologi dan ketidakpastian ekonomi, bahkan posisi di perusahaan teknologi paling bergengsi sekalipun tidak menjamin keamanan kerja. Loyalitas dan dedikasi panjang tidak selalu berbalas, dan kecepatan perubahan bisa mengalahkan stabilitas. Namun, kisah ini juga membawa pesan harapan dan ketangguhan. Dengan rekam jejak yang solid, pengalaman yang luas, dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru seperti AI, Gary Tay dan ribuan profesional lain yang mengalami nasib serupa, memiliki potensi untuk bangkit kembali dan menemukan peluang baru di lanskap industri yang terus berkembang. Pertanyaan besar yang tersisa adalah, bagaimana industri akan menyeimbangkan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan di masa depan?