0

Duh, Stasiun Luar Angkasa ISS Bocor Lagi

Share

Di tengah keheningan orbit Bumi, sebuah masalah lama kembali menghantui Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), laboratorium canggih yang telah menjadi rumah bagi astronaut dari berbagai negara selama puluhan tahun. Kabar terbaru yang mengejutkan menyebutkan bahwa ISS kembali mengalami kebocoran di salah satu segmen krusialnya, sebuah insiden berulang yang membuat para insinyur dan ilmuwan dari NASA dan Roscosmos, dua badan antariksa utama yang mengelola fasilitas ini, kembali dipusingkan mencari sumber dan solusi permanennya.

Kebocoran ini bukanlah fenomena baru. Selama lebih dari satu dekade terakhir, teknisi dari kedua badan antariksa raksasa tersebut telah memantau dengan cermat tingkat kebocoran yang berasal dari modul kecil di segmen Rusia, tepatnya di terowongan transfer yang mengarah ke port penghubung. Sumber utama dari kebocoran ini diyakini berasal dari retakan mikroskopis—celah super kecil yang ukurannya sangat sulit dideteksi dengan mata telanjang atau bahkan dengan peralatan standar, menjadikannya tantangan besar untuk ditemukan dan diperbaiki secara tuntas.

Pada awal tahun, tepatnya di bulan Januari, sempat ada secercah harapan. Setelah serangkaian inspeksi menyeluruh dan aplikasi bahan perekat khusus, NASA mengumumkan bahwa tekanan udara di segmen yang dikenal sebagai modul PrK ini telah mencapai konfigurasi stabil. Modul PrK sendiri adalah komponen vital yang berfungsi sebagai terowongan transfer, menghubungkan berbagai bagian stasiun, dan secara spesifik terhubung dengan Zvezda Service Module di segmen Rusia ISS. Pengumuman tersebut memberikan kesan bahwa masalah kebocoran, setidaknya untuk sementara, telah teratasi.

Namun, harapan itu kini kembali memudar. Hanya tiga minggu yang lalu, kebocoran ini terdeteksi lagi, memicu kekhawatiran baru di kalangan komunitas antariksa. Pada tanggal 1 Mei, setelah kosmonaut Rusia berhasil menurunkan kargo dari modul Progress 95, Roscosmos mencatat adanya penurunan tekanan udara yang signifikan—sekitar satu pon per hari—di modul PrK. Penurunan tekanan ini, meskipun tidak drastis, cukup untuk membunyikan alarm bagi para pengawas misi di Bumi.

Menanggapi situasi ini, juru bicara NASA, Josh Finch, memberikan keterangan resmi. "Roscosmos mengizinkan penurunan tekanan di terowongan transfer secara bertahap sambil memantau laju penurunannya," jelas Finch, seperti dikutip dari Ars Technica pada Senin (25/5/2026). Ia menambahkan bahwa area tersebut kini dijaga pada tekanan yang lebih rendah, dengan penambahan tekanan kecil sesuai kebutuhan untuk menjaga stabilitas. Finch juga menekankan bahwa hingga saat ini, tidak ada dampak pada operasi stasiun, dan NASA serta Roscosmos terus berkoordinasi erat mengenai langkah-langkah selanjutnya yang akan diambil.

Meskipun kebocoran ini dinyatakan tidak memiliki dampak signifikan pada keselamatan astronaut yang tinggal dan bekerja di ISS, serta tidak menimbulkan kekhawatiran langsung tentang kondisi struktural stasiun, masalah berulang ini kembali memicu pertanyaan serius tentang nasib jangka panjang ISS. Setiap insiden kebocoran, sekecil apapun, menjadi pengingat akan usia dan keausan yang dialami oleh laboratorium antariksa seberat 450 ton ini.

ISS dijadwalkan untuk pensiun pada tahun 2030, menandai berakhirnya hampir tiga dekade pengabdiannya di orbit Bumi. Selama puluhan tahun di luar angkasa, stasiun ini telah terpapar pada lingkungan yang sangat keras—radiasi kosmik, siklus termal ekstrem, dan dampak mikrometeorit yang tak terhindarkan—semuanya berkontribusi pada keausan material dan munculnya retakan-retakan kecil seperti yang kini menjadi masalah.

Namun, rencana pensiun ini menghadapi dilema. NASA dan Kongres Amerika Serikat saat ini sedang mempertimbangkan untuk memperpanjang misi ISS setidaknya hingga tahun 2032, atau bahkan lebih lama lagi. Pertimbangan ini muncul karena belum adanya alternatif yang siap untuk menggantikan ISS di orbit, baik dari segi kapasitas penelitian, infrastruktur, maupun platform kolaborasi internasional. ISS masih menjadi satu-satunya laboratorium mikro-gravitasi berawak yang tersedia, dan mengakhirinya tanpa pengganti akan menciptakan kekosongan besar dalam eksplorasi dan penelitian antariksa manusia.

Di saat yang bersamaan, panel penasihat keselamatan telah berulang kali memperingatkan tentang risiko yang semakin mengancam ISS seiring dengan mendekatnya masa pensiunnya. Peningkatan frekuensi masalah teknis, termasuk kebocoran udara yang terus berlanjut, adalah salah satu kekhawatiran utama. Semakin lama ISS beroperasi melampaui masa desainnya, semakin besar pula kemungkinan terjadinya kegagalan sistem yang lebih serius, yang berpotensi membahayakan kru dan misi secara keseluruhan.

Menemukan dan memperbaiki retakan mikroskopis di lingkungan luar angkasa adalah tugas yang sangat rumit. Insinyur harus mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari ekspansi dan kontraksi material akibat perubahan suhu ekstrem, getaran dari aktivitas stasiun, hingga dampak residu dari puing-puing antariksa mikro. Metode yang digunakan meliputi detektor ultrasonik, kamera inframerah, dan bahkan metode "bau" di mana kru akan mencoba mendeteksi bau aneh dari lokasi kebocoran yang mungkin menarik partikel-partikel kecil. Setelah lokasi diidentifikasi, perbaikan biasanya melibatkan penggunaan sealant khusus, tambalan, atau bahkan penguatan struktural. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh insiden terbaru ini, solusi-solusi tersebut terkadang hanya bersifat sementara.

Kolaborasi antara NASA dan Roscosmos dalam menghadapi masalah ini juga patut disoroti. Terlepas dari ketegangan geopolitik yang terjadi di Bumi, kedua badan antariksa ini terus bekerja sama secara erat untuk menjaga operasional ISS. Stasiun ini adalah simbol kerja sama internasional, dan keberlanjutan misinya bergantung pada koordinasi dan kepercayaan antara mitra-mitra global. Insiden kebocoran ini menjadi pengingat bahwa di luar angkasa, tantangan teknis melampaui batas-batas politik.

Masa depan ISS tetap menjadi topik diskusi yang intens. Pilihan untuk memperpanjang operasionalnya berarti mengakui nilai ilmiah dan strategis yang tak ternilai, namun juga menerima risiko yang terus meningkat. Investasi yang telah dikeluarkan untuk ISS sangat besar, dan memaksimalkan penggunaannya sebelum beralih ke generasi stasiun luar angkasa komersial berikutnya seperti Axiom Station, Starlab, atau Orbital Reef, tampaknya menjadi prioritas. Namun, stasiun-stasiun komersial ini masih dalam tahap pengembangan dan belum siap untuk mengambil alih sepenuhnya peran ISS dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan demikian, kebocoran yang berulang di ISS lebih dari sekadar masalah teknis. Ini adalah cerminan dari tantangan rekayasa luar angkasa di batas kemampuan manusia, dilema kebijakan dalam mengelola aset berharga yang menua, dan penanda waktu bagi era baru eksplorasi antariksa. NASA dan Roscosmos akan terus memantau, menganalisis, dan mencari solusi terbaik, sembari merencanakan transisi menuju masa depan di mana kehadiran manusia di orbit Bumi dapat terus berlanjut dengan aman dan produktif.

(vmp/afr)