BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Polemik antara rumah produksi HAS Pictures dan aktris Ratu Sofya semakin memanas. HAS Pictures telah resmi melayangkan somasi kepada Ratu Sofya terkait dugaan penolakan promosi film "Dosa Penebusan" atau yang juga dikenal dengan judul "Pengampunan". Permasalahan ini mencuat ke publik setelah Ratu Sofya secara terbuka mengungkapkan keberatannya terhadap adegan intim yang dianggapnya mengeksploitasi dan membuatnya tidak nyaman dalam film tersebut. Lebih lanjut, Ratu Sofya juga mengaku merasa dieksploitasi oleh keluarganya, yang menjadi alasan utama mengapa ia memutuskan untuk tidak mengikuti seluruh rangkaian kegiatan promosi film yang telah dijadwalkan.
Menanggapi pernyataan Ratu Sofya, kuasa hukum HAS Pictures, Takwa, dengan tegas menyatakan bahwa persoalan pribadi antara Ratu Sofya dan keluarganya berada di luar ranah kewenangan perusahaan produksi. "Artinya ketika ada masalah komunikasi, apa pun yang berkaitan terkait dengan hubungan keluarga, ayah-anak, ibu-anak. Tidak ada beban kewajiban kami untuk itu, tidak ada ranah kami untuk memasuki hal itu," ujar Takwa dalam keterangannya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada hari kemarin. Ia menekankan bahwa fokus HAS Pictures adalah pada pemenuhan kewajiban kontrak yang telah disepakati antara kedua belah pihak.
Takwa menjelaskan lebih lanjut bahwa pihak rumah produksi hanya meminta Ratu Sofya untuk memenuhi kewajiban profesionalnya yang telah tertuang dalam kontrak kerja sama film. HAS Pictures juga mengklaim telah memberikan kesempatan dan ruang dialog sebelumnya kepada Ratu Sofya untuk menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan sebelum langkah hukum diambil. Namun, melihat situasi yang terus berkembang, HAS Pictures tidak menutup kemungkinan untuk menempuh jalur hukum apabila ditemukan adanya unsur pidana dalam kasus ini. Meskipun demikian, saat ini HAS Pictures masih membuka pintu untuk penyelesaian secara musyawarah dan masih menunggu iktikad baik dari Ratu Sofya untuk menyelesaikan persoalan ini secara profesional dan sesuai dengan kesepakatan yang ada.
"Tapi untuk itu, kita akan lihat apakah masih ada iktikad baik dari seorang Safira Ratu Sofya terkait dengan apa yang diperjanjikan dalam film ini," tambah Takwa, menyiratkan bahwa upaya mediasi masih menjadi opsi utama sebelum eskalasi lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa HAS Pictures berkomitmen untuk menjaga profesionalisme dalam setiap tahapan produksi film, termasuk promosi.
Selain itu, Takwa juga secara tegas membantah tudingan adanya unsur pornografi baik dalam proses produksi maupun dalam penayangan film "Dosa Penebusan". Menurutnya, seluruh tahapan produksi film ini telah dilakukan dengan mengikuti kaidah dan aturan yang berlaku dalam industri perfilman Indonesia. "Jika berkaitan dengan hal-hal yang pornografi, dalam penayangan film nanti, bahkan dalam produksi film ini nanti, tidak ada yang berkaitan dengan pornografi. Karena, kami pun sadar dalam pembuatan film ini tentu harus mengikuti tata krama undang-undang yang telah ditetapkan terkait dengan perfilman," jelasnya dengan penuh keyakinan.
Takwa kembali menegaskan bahwa jika alasan persoalan keluarga dijadikan sebagai dalih utama untuk tidak memenuhi kewajiban profesionalnya terhadap rumah produksi, maka HAS Pictures akan serius mempertimbangkan langkah hukum lanjutan. Keputusan ini diambil bukan tanpa pertimbangan matang, melainkan untuk melindungi hak dan kepentingan seluruh pihak yang terlibat dalam produksi film, termasuk juga para investor yang telah mempercayakan dananya pada proyek ini. HAS Pictures berargumen bahwa kontrak kerja sama adalah sebuah perjanjian legal yang mengikat kedua belah pihak, dan kelalaian dalam memenuhinya dapat menimbulkan kerugian yang signifikan.
Pihak HAS Pictures juga sangat menyayangkan sikap Ratu Sofya yang dianggap tidak profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai salah satu pemeran utama. Mereka berpendapat bahwa setiap aktor dan aktris yang terlibat dalam sebuah proyek film memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk turut serta dalam upaya promosi guna mendongkrak popularitas dan kesuksesan film tersebut di pasaran. Penolakan Ratu Sofya untuk melakukan promosi dianggap sebagai bentuk pelanggaran kontrak yang merugikan.
Lebih lanjut, Takwa menjelaskan bahwa somasi yang dilayangkan bukan semata-mata untuk menjatuhkan nama baik Ratu Sofya, melainkan sebagai upaya terakhir untuk mengingatkan dan mendorong Ratu Sofya agar kembali pada komitmen profesionalnya. HAS Pictures berharap Ratu Sofya dapat memahami posisi perusahaan dan segera memberikan tanggapan yang konstruktif terhadap somasi tersebut.
Dalam konteks hukum, kontrak kerja sama antara rumah produksi dan talenta seni merupakan dasar hukum yang kuat. Apabila salah satu pihak ingkar janji atau melanggar ketentuan yang telah disepakati, maka pihak yang dirugikan berhak menempuh jalur hukum untuk mendapatkan ganti rugi atau menuntut pelaksanaan kewajiban. Dalam kasus ini, HAS Pictures merasa dirugikan oleh sikap Ratu Sofya yang dianggap tidak memenuhi kewajiban promosi film.
HAS Pictures juga tengah mengumpulkan bukti-bukti yang relevan terkait dugaan pelanggaran kontrak oleh Ratu Sofya. Bukti-bukti ini akan menjadi dasar kuat apabila kasus ini harus dibawa ke pengadilan. Tim hukum HAS Pictures akan meninjau kembali seluruh korespondensi, perjanjian tertulis, dan komunikasi yang terjadi antara pihak rumah produksi dan Ratu Sofya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap langkah hukum yang diambil telah didukung oleh fakta dan bukti yang memadai.
Keputusan untuk menempuh jalur hukum ini, menurut Takwa, merupakan langkah yang diambil dengan pertimbangan matang dan setelah berbagai upaya komunikasi sebelumnya tidak membuahkan hasil yang diharapkan. HAS Pictures ingin menunjukkan bahwa profesionalisme dalam industri hiburan harus selalu dijaga dan dilindungi. Mereka juga berharap kasus ini dapat menjadi pembelajaran bagi para pelaku industri seni peran lainnya mengenai pentingnya menepati janji dan kontrak kerja.
Meskipun demikian, HAS Pictures tetap membuka ruang dialog dan mediasi apabila Ratu Sofya menunjukkan itikad baik dan kesediaan untuk menyelesaikan permasalahan ini secara damai. "Kami selalu berharap yang terbaik, namun kami juga harus siap dengan segala kemungkinan. Jika memang tidak ada solusi lain, kami akan menempuh jalur hukum," pungkas Takwa. Keputusan akhir akan sangat bergantung pada respons dan sikap Ratu Sofya dalam beberapa waktu ke depan.

