Dalam sebuah manuver retorika yang tajam dan kontroversial, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menggunakan panggung diplomatik untuk menyerang rival politiknya, Joe Biden, dengan menyebutkan bahwa Presiden China, Xi Jinping, sepakat mengenai "kemunduran" Amerika Serikat di bawah pemerintahan pendahulunya tersebut. Pernyataan ini mencuat pasca-pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung pada Kamis (14/5/2026) malam, di mana kedua pemimpin negara dengan ekonomi terbesar di dunia ini mendiskusikan dinamika geopolitik yang tengah berubah drastis.
Trump, melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, mengklaim bahwa Xi Jinping secara elegan menggambarkan Amerika Serikat sebagai negara yang sedang terpuruk. Menurut Trump, deskripsi tersebut adalah cerminan langsung dari apa yang ia sebut sebagai "kerusakan luar biasa" selama empat tahun masa kepemimpinan "Sleepy Joe" Biden. Trump menegaskan bahwa dalam pandangannya, Xi Jinping 100 persen benar mengenai penilaian tersebut. Narasi ini bukan sekadar kritik kebijakan, melainkan upaya Trump untuk mengonsolidasikan legitimasi kekuasaannya dengan cara membandingkan keberhasilannya saat ini dengan apa yang ia anggap sebagai kegagalan total rezim Demokrat sebelumnya.
Dalam unggahannya, Trump merinci serangkaian isu domestik yang ia yakini telah melumpuhkan Amerika Serikat. Ia menuding kebijakan administratif Biden bertanggung jawab atas perbatasan yang terbuka lebar, beban pajak yang mencekik, hingga isu-isu sosial yang menurutnya merusak tatanan tradisional, seperti kebijakan DEI (Diversity, Equity, and Inclusion) dan partisipasi transgender dalam olahraga wanita. Trump juga menyoroti kejahatan yang merajalela dan kesepakatan perdagangan internasional yang dianggapnya merugikan kepentingan nasional Amerika. Dengan memposisikan isu-isu ini sebagai penyebab "kemunduran," Trump sedang membangun sebuah narasi bahwa Amerika di bawah kepemimpinannya saat ini sedang berada dalam fase kebangkitan atau resurgence.
Pertemuan ini menjadi sangat menarik karena terjadi di tengah kekhawatiran global mengenai "Jebakan Thucydides". Teori yang dipopulerkan oleh Graham Allison ini menyatakan bahwa ketika kekuatan yang sedang bangkit (dalam hal ini China) mengancam posisi kekuatan yang sudah mapan (Amerika Serikat), risiko perang terbuka menjadi sangat besar. Xi Jinping, dalam beberapa kesempatan sejak tahun 2021, memang sempat melontarkan retorika bahwa "Timur sedang bangkit dan Barat sedang menurun." Pernyataan Xi tersebut sering kali dianggap sebagai tantangan terbuka terhadap hegemoni Amerika Serikat pasca-Perang Dingin.
Meskipun Trump mengklaim bahwa Xi menyetujui pandangannya tentang kemunduran AS di era Biden, pihak Gedung Putih hingga saat ini belum memberikan klarifikasi atau konfirmasi resmi mengenai detail percakapan tersebut. Ketidakjelasan ini memunculkan spekulasi apakah Trump secara sepihak menginterpretasikan pernyataan Xi demi keuntungan politik domestik, atau apakah Xi memang sengaja melontarkan kalimat provokatif tersebut untuk memancing perpecahan internal di Amerika Serikat. Bagaimanapun, taktik Trump yang membawa-bawa "Sleepy Biden" dalam pembicaraan dengan pemimpin komunis China menunjukkan bahwa bagi Trump, politik luar negeri adalah perpanjangan dari pertarungan politik dalam negeri yang tidak pernah usai.
Lebih jauh, Trump dalam unggahannya menegaskan bahwa Xi Jinping tidak merujuk pada "kebangkitan luar biasa" yang diklaim Trump telah terjadi selama 16 bulan terakhir di bawah pemerintahannya. Trump secara spesifik menyebutkan keberhasilan operasi militer di Venezuela dan perang dengan Iran sebagai bukti nyata bahwa Amerika di bawah kendalinya kembali menjadi kekuatan yang ditakuti dan dihormati di kancah internasional. Klaim ini tentu saja menuai pro dan kontra, mengingat keterlibatan militer yang agresif sering kali dipandang oleh para ahli geopolitik sebagai pedang bermata dua yang dapat memicu ketidakstabilan regional yang lebih luas.
Ketegangan antara AS dan China sendiri telah menjadi narasi utama dalam politik global selama satu dekade terakhir. Perang dagang, persaingan teknologi, dan perebutan pengaruh di kawasan Indo-Pasifik membuat setiap pertemuan antara kepala negara menjadi sangat krusial. Ketika Trump memilih untuk membawa retorika "Sleepy Biden" ke dalam meja perundingan dengan Xi, ia sebenarnya sedang mencoba mengubah citra Amerika di mata China. Trump ingin Xi melihat bahwa Amerika di bawah kepemimpinannya adalah entitas yang berbeda, yang lebih tegas dan tidak lagi terikat pada kebijakan-kebijakan yang dianggapnya lemah oleh pemerintahan sebelumnya.
Namun, para analis kebijakan luar negeri memperingatkan bahwa penggunaan retorika populis dalam diplomasi dengan China dapat berisiko. Jika China merasa bahwa retorika Trump hanyalah sekadar "pertunjukan" untuk audiens domestik, mereka mungkin akan lebih berhati-hati dalam memberikan konsesi nyata. Sebaliknya, jika China melihat ini sebagai sinyal bahwa Trump benar-benar ingin memutus kebijakan era Biden secara total, maka Beijing mungkin akan menyesuaikan strategi mereka untuk menekan AS di sektor-sektor yang dianggap Trump sebagai kelemahan, seperti ketergantungan pada rantai pasok global.
Narasi "kemunduran Barat" yang dilontarkan Xi Jinping, di satu sisi, memang menjadi bahan bakar bagi Trump untuk mengklaim bahwa dirinya adalah "penyelamat" Amerika. Dalam logika Trump, dengan mengakui adanya kerusakan di masa lalu, ia memberikan alasan bagi rakyat Amerika untuk terus mendukung kebijakan-kebijakannya yang berani dan terkadang ekstrem. Ia membangun citra bahwa tanpa kehadirannya, Amerika akan benar-benar tenggelam dalam ketidakberdayaan. Ini adalah teknik komunikasi politik yang sangat efektif dalam basis pendukung Trump, di mana ia memposisikan dirinya sebagai satu-satunya orang yang mampu membalikkan tren penurunan tersebut.
Di sisi lain, publik internasional melihat dinamika ini dengan kekhawatiran. Pertemuan antara dua pemimpin yang sama-sama memiliki kecenderungan otoriter dalam gaya kepemimpinannya—meskipun dalam sistem politik yang sangat berbeda—sering kali berujung pada kesepakatan-kesepakatan tertutup yang tidak transparan. Fokus Trump yang terus-menerus pada "Sleepy Biden" menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya bisa move on dari persaingan politik tahun 2024. Hal ini bisa menjadi bumerang jika dalam jangka panjang kebijakan-kebijakan yang ia ambil tidak memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat Amerika, terlepas dari klaim "kebangkitan" yang ia suarakan.
Selain itu, penyebutan "transgender dalam olahraga wanita" dan isu-isu woke lainnya dalam konteks pembicaraan dengan pemimpin China yang sangat konservatif secara ideologis menunjukkan bahwa Trump ingin menyamakan persepsi bahwa "budaya liberal" adalah musuh bersama bagi stabilitas negara. Ini adalah pergeseran menarik di mana pemimpin AS mencari validasi ideologis dari pemimpin Partai Komunis China dalam isu-isu sosial tertentu, sebuah ironi yang jarang terjadi dalam sejarah diplomasi modern Amerika Serikat.
Sebagai kesimpulan, pertemuan Trump dan Xi Jinping yang dibalut dengan serangan terhadap Biden ini mencerminkan betapa terpolarisasinya politik Amerika saat ini. Trump tidak hanya menggunakan diplomasi sebagai alat untuk kepentingan nasional, tetapi juga sebagai alat untuk menjustifikasi kebijakan domestiknya dengan cara mendiskreditkan pendahulunya. Apakah narasi "kemunduran" ini benar-benar disepakati oleh Xi atau hanya sekadar interpretasi subjektif Trump, yang jelas adalah bahwa pesan ini ditujukan untuk audiens di Washington, bukan di Beijing. Dunia kini menanti, apakah langkah-langkah agresif Trump di Venezuela dan Iran, serta retorika tajamnya terhadap Biden, akan benar-benar mengembalikan kejayaan Amerika atau justru membawa dunia ke dalam ketegangan geopolitik yang lebih berbahaya di masa depan.
Dunia sedang berada di persimpangan jalan, dan dinamika antara Trump dan Xi Jinping akan menjadi salah satu faktor penentu stabilitas global. Dengan terus membawa isu internal ke ranah internasional, Trump telah menetapkan preseden baru dalam diplomasi: bahwa di era media sosial dan polarisasi ekstrem, batas antara kebijakan luar negeri dan kampanye politik domestik telah benar-benar hilang. Bagi masyarakat dunia, ini adalah pengingat bahwa keputusan besar di Washington sering kali dipengaruhi oleh pertarungan untuk memenangkan hati pemilih di dalam negeri, bahkan jika itu berarti harus menggunakan pemimpin negara lain sebagai "saksi" atas klaim-klaim politik tersebut.

