BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Komedian Dede Sunandar akhirnya angkat bicara mengenai kisruh rumah tangganya dengan sang istri, Karen Hertatum, yang sempat mencuat ke publik terkait isu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Dalam sebuah wawancara yang dilakukan di Gedung Trans TV, Jalan Kapten P Tendean, Mampang, Jakarta Selatan, pada Kamis (14/5/2026), Dede membenarkan adanya KDRT dan mengkonfirmasi bahwa dirinya telah mengembalikan sang istri ke rumah orang tuanya. Ia menyatakan tidak ada penyesalan atas apa yang telah terjadi dalam rumah tangganya.
"Gak ada yang harus disesali dengan apa yang terjadi. Tapi sudah ketemu juga sama istri aku tadi, sama Karen, maksudnya di rumahnya, sudah balikin lagi ke orang tua, dan itu benar-benar ada saksinya semuanya," ujar Dede Sunandar, dengan nada suara yang terdengar datar namun penuh penerimaan. Ia melanjutkan penjelasannya bahwa proses pengembalian Karen ke rumah orang tuanya berjalan dengan lancar dan pihak Karen pun menerima keputusan tersebut. Dede juga menegaskan bahwa komunikasi dengan keluarga Karen masih terjalin baik, bahkan terkait dengan pola asuh anak.
"Baik (komunikasi), parenting anak masih baik, terus Dede juga baik. Jadi, ya alhamdulillah baik-baik saja sih sebenarnya," sambung Dede. Ia menyadari bahwa kondisi rumah tangganya saat ini telah sampai pada titik ini, dan ia bersama Karen telah sepakat untuk berpisah. Keputusan ini diambil setelah melalui berbagai pertimbangan dan diskusi mendalam.
"Dia juga bilang dari omnya juga gak harus ada yang diperbaiki dari Dede, jadi sudah gak ada, sudah bulat juga Reren, Dede juga sudah bulat, sudah. Jadi kita jalan masing-masing, gedein anak bareng-bareng. Karena, kan anak gak ada bekasnya," papar Dede Sunandar, menekankan bahwa meskipun berpisah, mereka tetap berkomitmen untuk membesarkan anak-anak mereka bersama. Komitmen terhadap anak-anak menjadi prioritas utama di tengah badai perceraian ini.
Awal mula terkuaknya kekisruhan rumah tangga Dede Sunandar bermula dari pengakuan Karen Hertatum dalam sebuah podcast. Dalam podcast tersebut, Karen dengan berlinang air mata menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya selama 12 tahun pernikahannya, termasuk perihal KDRT. Sebagai ibu dari tiga orang anak, Karen tidak ragu untuk berbagi cerita mengenai perlakuan kasar yang pernah diterimanya, seperti dipukul dan dijambak saat bertengkar dengan Dede.
Dede tidak membantah atau menampik cerita yang disampaikan oleh istrinya. Ia menerima pengakuan tersebut, namun ia juga memiliki versi ceritanya sendiri sebagai alasan mengapa KDRT tersebut terjadi. Dede merasa bahwa tidak semua cerita yang disampaikan oleh Karen sepenuhnya akurat atau mencerminkan keseluruhan situasi. Ia berpendapat bahwa setiap konflik rumah tangga memiliki dinamika dan sudut pandang yang berbeda.
"Dede merasa perlu untuk memberikan klarifikasi bahwa ada sisi lain dari cerita yang belum sepenuhnya terungkap. Pernikahan yang sudah berjalan selama 12 tahun tentu memiliki pasang surutnya. Ada momen-momen bahagia, namun tidak bisa dipungkiri ada juga gesekan dan konflik yang dihadapi," ungkap Dede. Ia menambahkan bahwa keputusan untuk berpisah ini bukanlah hal yang mudah, namun menjadi jalan terbaik bagi kedua belah pihak untuk menemukan kedamaian masing-masing.
Dede Sunandar, yang dikenal melalui perannya dalam berbagai acara komedi, selalu berusaha untuk menjaga citra positif di mata publik. Namun, di balik layar kehidupannya, ia juga manusia biasa yang menghadapi persoalan rumah tangga yang kompleks. Isu KDRT yang mencuat ini tentu menjadi pukulan berat baginya, baik secara pribadi maupun profesional.
Namun, Dede menunjukkan sikap kedewasaan dalam menghadapi masalah ini. Keputusannya untuk mengembalikan istri ke orang tuanya dan menyepakati perpisahan menunjukkan bahwa ia tidak ingin memperpanjang masalah atau menciptakan drama yang lebih besar. Ia memilih untuk fokus pada penyelesaian yang damai dan bertanggung jawab.
Penting untuk dicatat bahwa dalam setiap perselisihan rumah tangga, kedua belah pihak biasanya memiliki narasi dan perspektif yang berbeda. Meskipun Karen telah membagikan pengalamannya yang menyakitkan, Dede juga merasa perlu untuk memberikan penjelasannya, meskipun ia tidak merinci secara mendalam apa saja ketidakakuratan dalam cerita istrinya. Hal ini mengindikasikan bahwa kompleksitas masalah rumah tangga seringkali tidak dapat dijelaskan secara sepihak.
Lebih lanjut, Dede menekankan bahwa perpisahan ini bukan berarti akhir dari segalanya. Komitmen untuk membesarkan anak-anak bersama tetap menjadi prioritas utama. Ini adalah bukti bahwa meskipun hubungan pernikahan berakhir, tanggung jawab sebagai orang tua tidak akan pernah berhenti. Dede dan Karen akan berusaha untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak-anak mereka, meskipun mereka tidak lagi hidup bersama.
Kasus Dede Sunandar dan Karen Hertatum ini sekali lagi mengingatkan kita akan kerentanan hubungan pernikahan dan pentingnya komunikasi yang sehat, kesabaran, dan saling pengertian. Ketika masalah KDRT muncul, hal tersebut seringkali menjadi puncak dari akumulasi masalah yang tidak terselesaikan. Tindakan KDRT, bagaimanapun alasannya, tidak dapat dibenarkan dan selalu menimbulkan luka mendalam bagi korban.
Dalam konteks ini, keputusan Dede untuk mengakui adanya KDRT dan memulangkan istrinya merupakan langkah awal yang penting dalam proses penyelesaian. Namun, untuk sepenuhnya memulihkan diri dari trauma dan membangun kembali kehidupan, proses yang lebih panjang dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk keluarga dan profesional, mungkin akan dibutuhkan.
Kisah Dede Sunandar ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi oleh figur publik ketika masalah pribadi mereka terekspos ke publik. Tekanan dari media dan publik dapat menambah beban emosional yang sudah ada. Oleh karena itu, penting bagi publik untuk memberikan ruang dan dukungan yang konstruktif, serta menghindari penghakiman yang berlebihan.
Meskipun Dede dan Karen sepakat untuk berpisah, harapan tetap ada bahwa mereka dapat menemukan jalan untuk menyelesaikan urusan mereka dengan baik dan fokus pada masa depan, terutama demi anak-anak mereka. Perpisahan ini, meskipun menyakitkan, bisa menjadi awal dari babak baru yang lebih tenang dan stabil bagi mereka masing-masing. Ke depannya, Dede Sunandar diharapkan dapat terus berkarya di dunia hiburan dengan semangat baru, sambil tetap menjalankan perannya sebagai ayah yang bertanggung jawab.
Proses perceraian ini tentu akan memakan waktu dan memerlukan serangkaian prosedur hukum. Namun, kesepakatan yang telah dicapai antara Dede dan Karen untuk berpisah secara damai merupakan langkah awal yang positif. Komitmen mereka untuk membesarkan anak-anak bersama menunjukkan kedewasaan dan tanggung jawab yang patut diapresiasi.
Pengalaman pahit yang dialami Karen Hertatum, seperti yang diceritakannya, juga menjadi pengingat penting bagi masyarakat tentang bahaya KDRT. Perlu adanya kesadaran yang lebih luas tentang pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan dalam rumah tangga. Dukungan terhadap korban KDRT dan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku adalah langkah krusial untuk mengatasi masalah ini.
Dalam situasi seperti ini, penting bagi kedua belah pihak untuk mencari dukungan emosional dan konseling jika diperlukan. Terapi pasangan atau konseling individu dapat membantu mereka memproses emosi, memahami akar permasalahan, dan mengembangkan strategi untuk bergerak maju. Keputusan untuk berpisah adalah sebuah akhir, namun juga bisa menjadi awal dari sebuah awal yang baru.
Dede Sunandar, sebagai seorang publik figur, diharapkan dapat menjadi contoh positif dalam menghadapi masalah rumah tangga. Sikapnya yang mengakui kesalahan dan berusaha menyelesaikan masalah dengan baik patut dihargai. Semoga ia dan Karen dapat menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam kehidupan mereka masing-masing, serta tetap menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak mereka.

