0

Cerita Betrand Peto Ikut dan Dokumentasikan Pengajian di Rumah Ruben Onsu

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Perjalanan spiritual Ruben Onsu usai memutuskan menjadi mualaf telah membawa dampak mendalam, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga yang ia cintai, terutama sang putra, Betrand Peto. Keputusan Ruben untuk lebih mendalami ajaran agama Islam tercermin dalam rutinitasnya yang kini sering diisi dengan kegiatan pengajian di kediamannya. Lebih dari sekadar kehadiran, Betrand Peto menunjukkan keterlibatan aktif dan penuh dedikasi dalam setiap acara keagamaan ini. Puncak dari keterlibatan emosional dan spiritualnya adalah inisiatif Betrand untuk membeli kamera khusus demi mendokumentasikan setiap momen berharga dari pengajian yang digelar sang ayah. Ia tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi mengambil peran sebagai seksi dokumentasi, sebuah peran yang ia jalani dengan penuh semangat dan rasa tanggung jawab.

"Tapi toplah, aku mulai belajar-belajarlah pelan-pelan," ujar Betrand Peto dengan nada optimis saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, pada Kamis (14/5/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi kesungguhannya dalam memahami dan beradaptasi dengan kegiatan spiritual baru keluarganya. Keputusan untuk berinvestasi pada kamera khusus bukan tanpa alasan. Betrand menjelaskan bahwa motivasi utamanya adalah untuk menghasilkan dokumentasi yang berkualitas tinggi. "Karena menurutku biar lebih bagus gambarnya, juga biar yang nonton juga puas dan lihatnya juga puas gitu," tuturnya, menunjukkan perhatiannya pada detail visual yang dapat memperkaya pengalaman bagi semua yang melihat rekaman tersebut. Ia berharap hasil dokumentasinya kelak dapat menjadi kenang-kenangan berharga dan sarana berbagi kebaikan.

Lebih jauh, Betrand mengungkapkan bahwa tindakan ini merupakan bentuk penghargaan dan balas budi atas segala yang telah diberikan oleh Ruben Onsu. "Ya haruslah karena kan Ayah juga effort buat aku atau apalagi karierku. Jadi aku juga harus effort untuk Ayah dan apa yang Ayah kerjakan, aku juga harus, kalau aku bisa bantu ya aku bantu," jelasnya dengan tulus. Dedikasi Betrand mencerminkan pemahaman mendalam akan pengorbanan dan dukungan yang selama ini ia terima dari sang ayah. Ia melihat keterlibatannya dalam pengajian sebagai salah satu cara untuk memberikan kembali energi positif dan dukungan moral kepada Ruben, menunjukkan bahwa kebersamaan dalam keluarga juga mencakup dukungan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk spiritual.

Adaptasi Betrand tidak hanya terbatas pada aspek teknis seperti dokumentasi, tetapi juga mencakup penyesuaian diri dalam lingkungan pengajian. Ia mengakui bahwa untuk dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan lebih nyaman dan khusyuk, ia rela meminta sarung kepada Ruben Onsu. "Iya, aku minta sarung sama Ayah kemarin karena kan untuk pengajian kayak gitu kan, enggak mungkin aku pakai celana lagi," katanya sambil tersenyum. Permintaan sederhana ini menunjukkan keinginan Betrand untuk sepenuhnya menyatu dengan suasana dan norma yang berlaku dalam acara keagamaan, sebuah langkah kecil namun signifikan dalam proses pendewasaan spiritualnya.

Dari setiap sesi pengajian yang ia hadiri, Betrand mengaku banyak mendapatkan pelajaran baru yang berharga. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para ulama yang hadir, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin selama ini menggelitik benaknya. "Jadi, aku tanya langsung gini-gini. Oh, jawaban dari Habibnya kayak, ‘Jangan ini ya’," ucapnya, mengilustrasikan interaksi yang membuka wawasan. Momen-momen ini menjadi sarana pembelajaran yang efektif, di mana ia bisa mendapatkan pencerahan langsung dari sumber yang terpercaya.

Pengalaman positif ini mendorong Betrand untuk menyampaikan harapannya kepada sang ayah. Ia mengungkapkan keinginannya agar Ruben Onsu lebih sering mengadakan pengajian di rumah. "Aku bilang sama Ayah, ‘Rajin, sering-seringnya ya ngadain pengajian di rumah biar nanti aku juga bisa ikut’," tukas Betrand Peto. Ungkapan ini bukan hanya sekadar permintaan biasa, melainkan refleksi dari rasa nyaman dan manfaat spiritual yang ia rasakan. Keinginan Betrand untuk terus belajar dan terlibat dalam kegiatan keagamaan bersama keluarganya menunjukkan kedalaman ikatan batin dan nilai-nilai yang ia pegang teguh.

Lebih dari sekadar serangkaian kegiatan keagamaan, pengajian di rumah Ruben Onsu telah menjadi sebuah ekosistem pembelajaran dan penguatan ikatan keluarga. Betrand Peto, dengan segala inisiatif dan kerendahan hatinya, menjadi bukti nyata bahwa generasi muda pun dapat menunjukkan ketertarikan dan keterlibatan yang mendalam dalam nilai-nilai spiritual. Keputusannya untuk mendokumentasikan momen-momen penting ini tidak hanya bertujuan untuk kenangan pribadi, tetapi juga sebagai upaya untuk menyebarkan kebaikan dan inspirasi. Ia ingin menunjukkan kepada khalayak luas bahwa kebahagiaan sejati dapat ditemukan dalam ketenangan hati dan kedekatan dengan Tuhan, sebuah pesan yang disampaikan melalui setiap rekaman video yang ia buat.

Dedikasi Betrand Peto dalam mendukung kegiatan keagamaan sang ayah juga dapat dilihat sebagai bentuk pengabdian anak kepada orang tua. Dalam budaya Indonesia, berbakti kepada orang tua adalah salah satu nilai luhur yang sangat dijunjung tinggi. Betrand tidak hanya sekadar hadir, tetapi ia mencari cara untuk berkontribusi secara aktif, menunjukkan bahwa ia ingin turut berperan dalam perjalanan spiritual sang ayah. Inisiatifnya dalam membeli kamera dan belajar teknik dokumentasi adalah manifestasi dari keinginan kuatnya untuk memberikan yang terbaik, serupa dengan apa yang telah dicurahkan Ruben Onsu untuk karier dan kehidupannya. Ini adalah siklus saling memberi dan menerima yang harmonis dalam keluarga.

Selain itu, keterlibatan Betrand dalam pengajian juga membawanya pada pemahaman yang lebih luas mengenai ajaran Islam. Ia kini lebih terbuka untuk bertanya, berdiskusi, dan belajar dari para kyai dan habib yang hadir. Hal ini sangat penting bagi perkembangan spiritualnya, terutama di usianya yang masih muda. Ia belajar tentang pentingnya nilai-nilai moral, etika, dan bagaimana mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini tidak hanya membangun pemahaman intelektual, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak mulia yang akan menjadi bekalnya di masa depan.

Keinginan Betrand agar pengajian sering diadakan di rumah juga mengindikasikan bahwa ia telah merasakan kenyamanan dan ketenangan dalam suasana keagamaan tersebut. Ia tidak lagi merasa asing atau canggung, melainkan menemukan bahwa momen-momen seperti ini adalah kesempatan berharga untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan mempererat hubungan dengan keluarga. Permintaan sarung yang ia sampaikan adalah simbol kesiapannya untuk berpartisipasi penuh, menunjukkan bahwa ia ingin menjadi bagian dari jamaah, bukan hanya sebagai pengamat. Ini adalah langkah positif yang patut diapresiasi, menunjukkan kematangan spiritual yang luar biasa untuk usianya.

Kisah Betrand Peto yang turut serta dan mendokumentasikan pengajian di rumah Ruben Onsu ini memberikan gambaran tentang bagaimana nilai-nilai spiritual dapat menguatkan ikatan keluarga. Ini juga menunjukkan bahwa setiap anggota keluarga memiliki peran dan kontribusi uniknya masing-masing dalam mendukung perjalanan spiritual satu sama lain. Semangat Betrand untuk belajar, berkontribusi, dan menyebarkan kebaikan melalui dokumentasinya adalah inspirasi bagi banyak orang, terutama generasi muda. Ia membuktikan bahwa kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang mulia, yaitu menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan keagamaan.

Dengan adanya inisiatif seperti ini, diharapkan semakin banyak keluarga yang terinspirasi untuk menjadikan rumah sebagai pusat kegiatan keagamaan yang positif. Pengajian bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga sarana untuk berbagi ilmu, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air dan agama. Betrand Peto, dengan segala ketulusan dan semangat mudanya, telah menjadi agen perubahan yang membawa pesan positif ini ke tengah masyarakat. Ia adalah contoh bagaimana generasi muda dapat menjadi penerus nilai-nilai luhur dan berkontribusi pada kebaikan bersama.

Lebih jauh, upaya Betrand dalam mendokumentasikan pengajian dapat menjadi arsip berharga bagi keluarga Ruben Onsu. Rekaman-rekaman tersebut kelak dapat menjadi pengingat akan momen-momen spiritual penting yang telah dilalui bersama, sebuah warisan berharga yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Melalui kamera yang ia pegang, Betrand tidak hanya merekam gambar, tetapi juga mengabadikan nilai-nilai, pembelajaran, dan kebersamaan yang telah terjalin. Ini adalah bentuk cinta dan penghormatan yang mendalam kepada keluarga dan ajaran agama.

Keterlibatan Betrand Peto dalam pengajian di rumah Ruben Onsu juga menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang terbuka terhadap perubahan dan pembelajaran. Keputusannya untuk belajar tentang Islam dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan mencerminkan kemauan untuk tumbuh dan berkembang secara spiritual. Ia tidak terjebak dalam zona nyaman, melainkan berani melangkah keluar untuk mencari pengetahuan dan pengalaman baru. Ini adalah sikap yang patut dicontoh oleh siapa pun yang ingin terus berkembang dalam kehidupan.

Pada akhirnya, cerita Betrand Peto yang ikut dan mendokumentasikan pengajian di rumah Ruben Onsu adalah kisah tentang cinta, dedikasi, dan pencarian makna spiritual. Ia adalah contoh nyata bagaimana anggota keluarga dapat saling mendukung dalam perjalanan keagamaan mereka. Melalui lensa kameranya, Betrand tidak hanya menangkap gambar, tetapi juga menangkap esensi kebaikan, ketulusan, dan kedekatan dengan Tuhan. Ini adalah bukti bahwa nilai-nilai spiritual dapat menguatkan ikatan keluarga dan memberikan inspirasi bagi banyak orang.