BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Betrand Peto, penyanyi muda yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga Ruben Onsu, menunjukkan sikap toleransi dan penghormatan yang luar biasa dengan turut serta dalam kegiatan pengajian yang rutin diadakan oleh ayah angkatnya. Keikutsertaan Betrand dalam acara keagamaan yang berbeda keyakinan dengannya ini bukan tanpa alasan. Remaja yang akrab disapa Onyo ini menegaskan bahwa motivasinya murni untuk menunjukkan dukungan dan menghargai apa yang dilakukan oleh Ruben Onsu. "Kalau untuk kayak gitu kan, kita hanya pengin tahu doang, pengin tahu untuk sama-sama menghargai karena, Ayah juga kan lagi berdoa," ujar Betrand saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).
Pernyataan Betrand ini menggarisbawahi pemahamannya yang mendalam tentang pentingnya saling menghormati antarumat beragama, sebuah nilai yang seharusnya tertanam kuat dalam kehidupan bermasyarakat. "Iya, meningkatkan toleransi yang di mana, kan sebenarnya itu udah bukan hal yang perlu diajarin lagi untuk saling menghormati sesama karena apalagi agama gitu," tuturnya lebih lanjut. Ia melihat bahwa pada dasarnya, setiap individu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk saling mendukung dan membangun keharmonisan. "Menurutku itu hal yang paling harus untuk kita hormatin karena, kan semua kita juga berdoa untuk Yang Maha Kuasa," imbuhnya, menunjukkan kedalaman pemikirannya dalam menyikapi perbedaan.
Lebih menarik lagi, Betrand tidak hanya pasif dalam partisipasinya. Ia bahkan kerap kali mengajukan diri untuk membantu dalam persiapan pengajian tersebut. "Malah aku bilang sama Ayah, ‘Sering-sering buat ngajiin, ngadain pengajian kayak gini, biar nanti aku juga bisa bantu-bantu di rumah, siapin ini, siapin itu,’" ungkap Betrand dengan antusias. Inisiatif ini menunjukkan betapa ia ingin menjadi bagian aktif dari kegiatan yang berarti bagi ayahnya, bahkan menawarkan bantuan tenaga dan waktu luangnya. Tentu saja, ketersediaannya juga bergantung pada jadwal kegiatannya yang padat sebagai seorang figur publik. "Tergantung aku ada di rumahnya jam berapa juga. Kan aku kadang syuting sampai malam," jelasnya, memberikan gambaran realistis tentang kesibukannya.
Dalam setiap keterlibatannya, Betrand berperan aktif dalam memastikan kenyamanan para tamu yang hadir. Ia tak segan membantu menyiapkan berbagai keperluan, mulai dari penyajian makanan hingga memastikan ketersediaan perlengkapan salat bagi para jamaah. "Siapin makanan, siapin buat mereka salat, kayak buat sajadah," ujar Betrand sambil tertawa kecil, mengakui sempat keliru menyebut mukena. Sikap rendah hati dan kesiapannya untuk melakukan tugas-tugas sederhana ini semakin menunjukkan ketulusan hatinya.
Meskipun terlibat aktif dalam pengajian, Betrand dengan tegas menegaskan bahwa ia tetap memegang teguh keyakinannya sebagai pemeluk Nasrani. Hal ini ia sampaikan untuk menghindari kesalahpahaman yang mungkin timbul di kalangan publik. "Gak perlu dipelajarin gimana. Karena aku juga tetap akan selalu percaya dengan agamaku juga kan. Menghargai," tegasnya. Sikap ini menjadi bukti bahwa toleransi bukan berarti meninggalkan keyakinan pribadi, melainkan kemampuan untuk hidup berdampingan dan saling menghormati perbedaan.
Betrand juga sempat mengungkapkan rasa terkejutnya ketika ditanya oleh awak media mengenai perannya sebagai "ketua" dalam kegiatan pengajian tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak memiliki ambisi atau klaim atas posisi apapun, melainkan murni ingin membantu dan mendukung ayahnya. Keterlibatannya lebih bersifat sukarela dan didorong oleh rasa kasih sayang serta keinginan untuk menjaga keharmonisan keluarga.
Kejadian ini mencerminkan betapa pentingnya nilai-nilai toleransi dan saling menghargai dalam masyarakat kita. Betrand Peto, sebagai seorang figur publik muda, memberikan contoh nyata tentang bagaimana perbedaan keyakinan dapat dijembatani dengan cinta, pengertian, dan kemauan untuk saling mendukung. Sikapnya ini tidak hanya menginspirasi para penggemarnya, tetapi juga memberikan pesan positif bagi seluruh lapisan masyarakat tentang indahnya hidup dalam keberagaman.
Ruben Onsu sendiri, sebagai sosok ayah yang bijaksana, tentu sangat menghargai dan bangga atas sikap Betrand. Ia tidak pernah memaksakan keyakinan kepada anak-anak angkatnya, melainkan selalu menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual yang universal. Pengajian yang rutin diadakan ini bisa jadi merupakan salah satu cara Ruben untuk mempererat tali silaturahmi dan berbagi kebaikan dengan lingkungan sekitarnya. Keikutsertaan Betrand menjadi bukti bahwa cinta dan kasih sayang dalam keluarga melampaui batas-batas keyakinan.
Lebih jauh lagi, Betrand menyadari bahwa kegiatan seperti pengajian ini memiliki makna spiritual yang mendalam bagi ayahnya. Dengan ikut serta, ia turut merasakan dan memahami pentingnya ritual keagamaan dalam kehidupan seseorang. Hal ini menunjukkan kedewasaan dan pemahaman Betrand yang tidak hanya melihat dari sisi seremonial, tetapi juga dari sisi esensi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ia melihat bahwa doa adalah sarana komunikasi manusia dengan Sang Pencipta, dan dalam hal ini, perbedaan metode atau keyakinan tidak mengurangi esensi dari tujuan yang sama, yaitu memohon ridho dan rahmat Tuhan.
Dalam konteks sosial yang semakin kompleks, sikap Betrand Peto ini patut diapresiasi. Ia membuktikan bahwa anak muda zaman sekarang mampu berpikir kritis dan memiliki pemahaman yang luas tentang pentingnya toleransi. Keinginannya untuk membantu bahkan dalam kegiatan yang berbeda keyakinan menunjukkan bahwa ia tidak terpaku pada dogma sempit, melainkan berani melangkah keluar dari zona nyaman demi kebaikan bersama dan keharmonisan keluarga.
Peran Betrand dalam pengajian ini juga dapat dilihat sebagai upaya untuk membangun jembatan komunikasi antarbudaya dan antaragama. Dengan kehadirannya, ia membuka ruang dialog dan pemahaman bagi orang-orang yang mungkin memiliki pandangan berbeda. Ia menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling belajar dan memperkaya diri.
Pada akhirnya, kisah Betrand Peto yang ikut terlibat dalam pengajian Ruben Onsu ini bukan sekadar berita hiburan, melainkan sebuah pelajaran berharga tentang makna toleransi, penghormatan, dan kasih sayang dalam sebuah keluarga. Ia adalah contoh nyata bagaimana generasi muda dapat menjadi agen perubahan positif, membangun masyarakat yang lebih harmonis dan penuh pengertian. Keberaniannya untuk melampaui perbedaan keyakinan demi mendukung orang yang dicintai adalah inspirasi yang patut kita jadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari. Ia membuktikan bahwa cinta sejati dan rasa hormat adalah bahasa universal yang mampu menyatukan perbedaan.

