Dalam lembaran Showalih halaman 137, KH. Ahmad Rifa’i, seorang ulama besar sekaligus pahlawan nasional yang dikenal dengan ketajaman pena dan keberanian spiritualnya, menuliskan sebuah bait yang mengguncang nurani. Bait ini bukan sekadar baris-baris puisi Jawa, melainkan diagnosa tajam terhadap patologi sosial-keagamaan yang mungkin masih kita idap hingga hari ini. Beliau menulis:
Tinemu kafir munafik mindo-mindo ulomo
Dasteran kulambi jubah laku dergomo
Syahadat ibadat ngarusak ing agomo
Wong dholim ditut kinasih ingupomo
Bait ini adalah sebuah cermin besar bagi siapa pun yang mengaku berjalan di jalan agama. KH. Ahmad Rifa’i, melalui karya-karyanya yang dikenal sebagai kitab-kitab Rifa’iyah, selalu menekankan bahwa agama bukanlah sekadar simbol atau formalitas. Beliau hidup di masa penjajahan Belanda di mana tantangan terbesar bagi umat Islam bukan hanya musuh dari luar, tetapi musuh dari dalam: kemunafikan yang bersembunyi di balik jubah kesalehan.
Topeng Kesalehan di Balik Simbol Keagamaan
Ungkapan “mindo-mindo ulomo” (seolah-olah ulama) merupakan kritik pedas terhadap fenomena "penjualan agama". Di era modern, fenomena ini sering kita kenal dengan istilah komodifikasi agama atau politisasi simbol. Seseorang mungkin dengan mudah mengenakan daster, jubah, sorban, atau atribut religius lainnya untuk membangun citra diri agar dihormati, diikuti, atau bahkan untuk melegitimasi kepentingan pribadi.
Namun, KH. Ahmad Rifa’i mengingatkan bahwa atribut-atribut tersebut hanyalah "bungkus". Jika isi di dalamnya—yaitu hati dan perilaku—tidak mencerminkan nilai-nilai luhur agama, maka sosok tersebut hanyalah seorang munafik. Bahaya terbesar dari sosok "seolah-olah ulama" ini adalah kemampuannya menipu masyarakat awam yang sering kali menilai kebenaran dari penampilan lahiriah. Dalam tradisi pemikiran KH. Ahmad Rifa’i, pakaian adalah pelengkap, sedangkan kemuliaan terletak pada kejujuran spiritual (ikhlas) dan integritas moral (akhlaqul karimah).
Ibadah yang Kehilangan Arah dan Ruh
Peringatan beliau yang berbunyi “syahadat ibadat ngarusak ing agomo” adalah sebuah paradoks yang sangat mendalam. Bagaimana mungkin seseorang yang bersyahadat dan beribadah justru dianggap merusak agama? Jawabannya terletak pada niat dan dampak dari ibadah tersebut.
Ketika syahadat hanya diucapkan di bibir namun tidak tercermin dalam ketaatan pada hukum Allah, dan ketika ibadah dijadikan alat untuk mencari pengaruh, kekuasaan, atau sekadar formalitas untuk menipu orang lain, maka ibadah tersebut telah kehilangan ruhnya. Ibadah yang tidak melahirkan kejujuran justru akan merusak citra agama di mata masyarakat luas. Ia menjadi alat untuk menjustifikasi kebatilan, sehingga orang lain yang melihatnya justru merasa benci atau antipati terhadap ajaran agama itu sendiri. Ini adalah bentuk kerusakan sistemik yang sangat dikhawatirkan oleh para ulama salaf.
Normalisasi Kezaliman dan Krisis Standar Moral
Baris terakhir dari bait tersebut, “wong dholim ditut kinasih ingupomo,” adalah kritik terhadap degradasi moral masyarakat. Ketika orang zalim justru diikuti, dipuja, dan dianggap sebagai panutan (kinasih), maka masyarakat tersebut sedang berada dalam titik nadir keruntuhan moral.
Dalam konteks kekinian, kita sering melihat tokoh-tokoh yang nyata-nyata melakukan kezaliman, baik dalam bentuk korupsi, penindasan, atau ketidakadilan sosial, namun tetap mendapatkan dukungan masif hanya karena ia mampu "memoles" dirinya dengan narasi agama atau simbol-simbol kesalehan. Masyarakat kehilangan kompas moralnya karena mereka lebih memilih popularitas dan citra daripada kebenaran yang substantif.

KH. Ahmad Rifa’i memperingatkan bahwa ketika kezaliman dinormalisasi dan dianggap lumrah—bahkan dicintai—maka saat itulah sebuah bangsa atau komunitas umat sedang menuju kehancuran. Beliau menekankan pentingnya bagi seorang mukmin untuk memiliki ketajaman mata batin dalam melihat mana yang benar-benar saleh dan mana yang sekadar berpura-pura.
Refleksi Diri di Tengah Hiruk Pikuk Citra
Kekuatan pesan KH. Ahmad Rifa’i terletak pada kemampuannya untuk memaksa pembacanya berhenti sejenak dari kesibukan menilai orang lain dan mulai bercermin pada diri sendiri. Apakah selama ini kita termasuk orang yang "mindo-mindo ulomo"? Apakah kita menampilkan diri jauh lebih saleh di media sosial atau di depan publik daripada kenyataan batin kita saat sedang sendirian?
Pertanyaan-pertanyaan ini bersifat personal dan sangat mengganggu kenyamanan. Namun, itulah fungsi dari nasihat ulama sejati. Beliau tidak ingin kita menjadi pengikut yang fanatik buta, melainkan pengikut yang kritis dan memiliki kesadaran tinggi. Agama seharusnya tidak menjadi rutinitas kosong. Agama adalah jalan hidup yang menuntut keselarasan antara apa yang kita katakan, apa yang kita tampilkan, dan apa yang tersembunyi di dalam palung hati kita yang paling dalam.
Menjaga Keutuhan Lahir dan Batin dalam Beragama
Pesan dari Showalih ini membawa kita pada kesimpulan penting tentang hakikat keberagamaan: integritas. Antara lahir dan batin harus selaras. Keilmuan yang didapat dari belajar agama harus melahirkan sikap adil. Ibadah yang dilakukan harus membuahkan keikhlasan yang menjauhkan diri dari sifat sombong dan manipulatif.
KH. Ahmad Rifa’i adalah sosok yang sangat konsisten dengan prinsipnya. Sepanjang hayatnya, beliau tidak pernah kompromi dengan penjajah dan selalu vokal terhadap ketidakadilan, meskipun beliau harus diasingkan. Keteguhan beliau adalah bukti bahwa ajaran yang beliau tuliskan bukan sekadar teori, melainkan pengalaman batin yang teruji oleh penderitaan.
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi oleh pencitraan, di mana algoritma media sosial sering kali lebih menghargai "tampilan" daripada "substansi", pesan ini menjadi sangat mendesak. Kita hidup di zaman di mana orang bisa membeli "label kesalehan" dengan sangat mudah. Namun, label tersebut tidak akan pernah bisa menipu Allah, dan pada akhirnya, akan tersingkap juga di hadapan manusia.
Penutup: Kembali ke Jalan Kejujuran
Sebagai penutup, mari kita renungkan kembali bahwa jalan agama adalah jalan kejujuran. Tidak ada tempat bagi kepura-puraan di hadapan Tuhan. Jika kita ingin memperbaiki diri, langkah pertama adalah mengakui bahwa di dalam diri kita masih ada potensi untuk menjadi "munafik" jika kita tidak terus-menerus memupuk keikhlasan.
Mari kita belajar untuk tidak mudah terbuai oleh jubah, gelar, atau retorika agama seseorang. Mari kita nilai seseorang berdasarkan buah dari perilakunya: apakah dia membawa keadilan, apakah dia membawa kedamaian, dan apakah dia membawa kita semakin dekat kepada Tuhan dengan cara yang jujur?
Semoga warisan pemikiran KH. Ahmad Rifa’i ini menjadi lentera bagi kita semua agar tidak tersesat dalam gemerlap simbol kesalehan yang semu. Menjadi saleh bukanlah tentang bagaimana orang lain melihat kita, melainkan tentang bagaimana Allah menilai kejujuran hati kita. Inilah inti dari pesan yang beliau titipkan dalam Showalih, sebuah pengingat abadi agar kita tetap menjaga kewarasan moral dan kejernihan spiritual di tengah hiruk-pikuk zaman yang penuh dengan kepalsuan ini.
Agama yang sejati akan melahirkan kemanusiaan yang sejati. Tanpa kemanusiaan dan kejujuran, agama hanyalah ritual mati yang kehilangan daya transformasinya. Mari kita jadikan pesan ini sebagai kompas agar langkah kita tetap berpijak pada bumi kebenaran, bukan di atas awan kepura-puraan yang kapan saja bisa runtuh.

