Jakarta – Ambisius NASA untuk mengembalikan manusia ke permukaan Bulan melalui misi Artemis III kembali menghadapi penundaan signifikan. Badan antariksa Amerika Serikat tersebut secara resmi mengumumkan pemindahan jadwal pendaratan Artemis III dari pertengahan tahun 2027 menjadi setidaknya akhir tahun 2027. Keputusan ini disampaikan oleh Administrator NASA, Jared Isaacman, pada akhir Februari, mengindikasikan adanya revisi mendalam terhadap lini masa program eksplorasi bulan yang sangat dinanti-nantikan ini.
Penundaan ini merupakan yang terbaru dalam serangkaian revisi jadwal untuk misi pendaratan berawak ke Bulan, yang awalnya ditargetkan pada tahun 2024. Isaacman mengakui bahwa strategi awal yang berfokus pada uji coba wahana pendarat di orbit rendah Bumi pada pertengahan tahun 2027 ternyata terlalu optimis. Realitas pengembangan teknologi dan tantangan operasional yang kompleks telah memaksa NASA untuk mengambil langkah mundur dan menetapkan garis waktu yang lebih realistis.
Program Artemis sendiri merupakan upaya NASA untuk mengembalikan manusia ke Bulan, membangun kehadiran jangka panjang di sana, dan pada akhirnya mempersiapkan misi berawak ke Mars. Misi Artemis III secara khusus sangat krusial karena akan menjadi pendaratan manusia pertama di Bulan sejak misi Apollo 17 pada tahun 1972, dan yang pertama melibatkan wanita serta orang kulit berwarna di permukaan Bulan. Keberhasilan misi ini bergantung pada kesiapan berbagai komponen kunci, termasuk roket Space Launch System (SLS) yang kuat, kapsul kru Orion, dan yang paling penting, Sistem Pendaratan Manusia (Human Landing System/HLS).
Sistem Pendaratan Manusia (HLS) adalah komponen paling kritis dan juga menjadi sumber utama penundaan. NASA telah menugaskan pengembangan HLS kepada dua raksasa swasta di industri antariksa: SpaceX milik Elon Musk dengan wahana Starship-nya, dan Blue Origin milik Jeff Bezos dengan Blue Moon. Rencana awal yang sangat ambisius menetapkan bahwa Starship milik SpaceX akan mengemban misi membawa astronaut Artemis III ke permukaan Bulan pada tahun 2027. Kemudian, pada tahun 2028, Starship juga akan digunakan untuk misi Artemis IV. Sementara itu, pada tahun 2030, giliran Blue Moon milik Blue Origin yang akan mengangkut astronaut untuk misi Artemis V. Pola pembagian tugas ini dirancang untuk mendorong kompetisi dan inovasi, sekaligus menyediakan redundansi dalam program HLS.
Namun, strategi yang diajukan oleh Isaacman, yang memfokuskan Artemis III pada uji coba orbit rendah Bumi untuk wahana pendarat pada pertengahan tahun depan, ternyata menghadapi tantangan besar. Meskipun ide untuk menguji komponen kunci secara bertahap di orbit rendah Bumi adalah pendekatan yang logis untuk mengurangi risiko, jadwal yang ditetapkan untuk uji coba tersebut terlalu ketat mengingat tingkat kemajuan aktual dari kedua wahana pendarat.
Selain hambatan teknis, masalah anggaran juga menjadi bayang-bayang yang mengancam kelancaran program Artemis. Pada hari Senin (27/4), Isaacman hadir di Capitol Hill untuk sidang anggaran di hadapan subkomite alokasi anggaran Komite Perdagangan, Kehakiman, dan Sains DPR. Dalam sidang tersebut, Isaacman secara gigih membela komitmen Gedung Putih terhadap NASA. Namun, ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa pemerintahan Trump berencana untuk memangkas 23% dari anggaran badan antariksa tersebut. Potongan anggaran sebesar itu tentu akan berdampak serius pada program-program ambisius seperti Artemis, yang membutuhkan pendanaan berkelanjutan dan besar. Meskipun Kongres siap untuk menentang keinginan Trump dan memperjuangkan anggaran yang lebih besar, ketidakpastian finansial ini menambah lapisan kompleksitas dalam perencanaan misi. Penundaan jadwal seringkali juga diakibatkan oleh fluktuasi anggaran, di mana proyek-proyek dapat melambat atau dihentikan sementara jika dana tidak tersedia sesuai kebutuhan.
Dalam sesi dengar pendapat di Capitol Hill tersebut, Isaacman mengonfirmasi bahwa baik Blue Origin maupun SpaceX telah meyakinkannya bahwa HLS mereka akan siap untuk pengujian pada akhir tahun 2027. Pernyataan ini, meskipun terdengar positif, perlu dicermati dengan seksama. Kata kunci di sini adalah "pengujian," bukan "siap untuk misi berawak." Proses sertifikasi untuk misi antariksa berawak sangat ketat dan membutuhkan serangkaian pengujian tanpa awak yang ekstensif, analisis data yang mendalam, dan demonstrasi kemampuan yang berulang untuk memastikan keselamatan astronaut.
Kesiapan wahana pendarat menjadi inti permasalahan. Mari kita telaah kondisi kedua penyedia HLS:
Untuk Blue Moon milik Blue Origin, tantangannya adalah kurangnya pengalaman operasional di orbit. Wahana ini belum pernah diuji tanpa awak di orbit. Ini adalah langkah fundamental yang harus dilalui sebelum wahana pendarat dapat dianggap siap untuk membawa manusia. Rencana awal menetapkan pengujian tanpa awak Blue Moon akan terjadi pada tahun 2030, yang berarti jadwalnya saat ini telah sangat dipercepat. Percepatan jadwal semacam ini, meskipun didorong oleh urgensi, seringkali membawa risiko teknis dan operasional yang lebih tinggi. Setiap anomali atau kegagalan dalam uji coba tanpa awak akan memerlukan investigasi menyeluruh dan perbaikan, yang pada gilirannya dapat menyebabkan penundaan lebih lanjut.
Di sisi lain, Starship milik SpaceX menghadapi masalah yang hampir berlawanan. Wahana ini telah diuji beberapa kali, bahkan dengan uji terbang ketinggian tinggi yang dramatis. Namun, hasil dari beberapa pengujian terakhir tidak selalu berjalan mulus. Terjadi beberapa ledakan pada wahana tersebut selama pengujian, meskipun keberhasilan baru-baru ini dalam pendaratan vertikal telah menunjukkan kemajuan signifikan. Meskipun demikian, Starship masih tertinggal dari jadwal yang sangat ketat yang ditetapkan oleh NASA.
Salah satu kemampuan paling krusial yang seharusnya telah ditunjukkan Starship tahun lalu adalah pengisian bahan bakar di luar angkasa. Namun, demonstrasi ini belum terwujud. Transfer propelan kriogenik skala besar antar Starship di orbit adalah kemampuan penting yang mutlak diperlukan untuk misi sistem pendaratan manusia Starship untuk Artemis III dan Artemis IV. Starship, dengan ukurannya yang masif, membutuhkan jumlah propelan yang sangat besar untuk mencapai Bulan, mendarat, dan kembali ke Bumi. Tanpa kemampuan untuk mengisi ulang bahan bakar di orbit Bumi, misi lunar tidak mungkin terlaksana.
Seorang juru bicara NASA menjelaskan pada tahun 2024 bahwa "uji transfer propelan adalah bagian dari serangkaian pengujian, bersama dengan tinjauan desain terperinci, yang akan memberikan data dan bukti kepada NASA untuk mensertifikasi wahana pendarat." Ia melanjutkan, "Setelah demonstrasi transfer propelan, NASA akan meninjau hasil pengujian dan mensertifikasi sistem wahana pendarat sebelum misi demonstrasi berawak untuk memastikan keselamatan astronot dan keberhasilan misi." Pernyataan ini menekankan betapa pentingnya transfer propelan, tidak hanya sebagai demonstrasi teknologi, tetapi sebagai prasyarat keamanan dan keberhasilan misi. Mengembangkan teknologi untuk mentransfer propelan yang sangat dingin (kriogenik) di lingkungan antariksa yang keras adalah tantangan teknis yang sangat kompleks, melibatkan masalah termal, manajemen cairan, dan keandalan sistem.
Selain itu, pada November tahun lalu, terjadi kebocoran dokumen internal SpaceX yang dilaporkan oleh Audrey Decker di Politico. Laporan tersebut secara gamblang mengungkapkan bahwa SpaceX sendiri belum siap mendarat di Bulan setidaknya hingga September 2028. Informasi internal ini memberikan gambaran yang lebih jujur tentang realitas jadwal pengembangan, yang seringkali lebih pesimis daripada pengumuman publik.
Sejarah penundaan misi pendaratan di Bulan dalam program Artemis sangat panjang dan berulang. Pendaratan di Bulan awalnya direncanakan terjadi pada tahun 2024. Kemudian, jadwal tersebut ditunda ke tahun 2025, lalu ke tahun 2026. Pada akhir tahun 2024, tanggal pertengahan 2027 disepakati sebagai target terbaru. Namun, bahkan tanggal itu pun kini telah bergeser lagi. Analisis yang diterbitkan hampir dua tahun lalu oleh Kantor Akuntabilitas Pemerintah (Government Accountability Office/GAO), sebuah badan pengawas independen di AS, telah menunjukkan bahwa misi pendaratan di Bulan kemungkinan besar akan ditunda hingga tahun 2028. Prediksi GAO ini kini terbukti akurat, menyoroti adanya kesenjangan antara target ambisius NASA dan realitas pengembangan teknologi yang kompleks.
Jika Artemis III ditunda lagi melampaui akhir 2027, bahkan target tahun 2028 mungkin menjadi tidak mungkin pula. Serangkaian penundaan yang terus-menerus tidak hanya menimbulkan keraguan terhadap kemampuan NASA dan mitranya untuk memenuhi janji, tetapi juga berpotensi memengaruhi dukungan publik dan politik terhadap program luar angkasa. Setiap penundaan menambah biaya, mengurangi momentum, dan meningkatkan risiko kehilangan talenta atau sumber daya.
Misi Artemis III adalah sebuah langkah monumental bagi umat manusia, menandai kembalinya ke Bulan dengan teknologi dan tujuan yang jauh lebih ambisius daripada era Apollo. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, NASA harus menyeimbangkan antara ambisi besar, tantangan teknis yang belum pernah terjadi sebelumnya, kendala anggaran, dan jadwal yang realistis. Penundaan hingga akhir 2027 adalah pengingat pahit akan kompleksitas eksplorasi antariksa dan janji yang belum terpenuhi. Hanya waktu yang akan menjawab apakah jadwal terbaru ini dapat dipertahankan, atau apakah kita akan menyaksikan penundaan lebih lanjut dalam perjalanan manusia kembali ke permukaan Bulan.
(ask/fay)

