Suasana haru dan penuh khidmat menyelimuti kediaman Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat (PP) Rifa’iyah, H. Saeful Arif, di Kesesi, Kabupaten Pekalongan, pada Sabtu (25/4/2026). Ratusan jemaah Rifa’iyah dari berbagai wilayah berkumpul sejak ba’da Subuh pukul 05.00 WIB untuk memberikan dukungan moral dan melepas keberangkatan sang tokoh menuju Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Momentum ini tidak hanya menjadi pelepasan formal seorang pejabat organisasi, melainkan cerminan eratnya ikatan persaudaraan dan spiritualitas di lingkungan warga Rifa’iyah.
Totalitas jemaah dalam mengantar keberangkatan H. Saeful Arif terlihat dari besarnya iring-iringan kendaraan yang disiapkan. Tercatat enam bus besar dan puluhan mobil pribadi memadati jalanan Kesesi menuju arah Boyolali. Antusiasme warga untuk mengantar hingga ke pintu gerbang asrama haji menunjukkan betapa figur H. Saeful Arif memiliki tempat istimewa di hati para jemaah. Kehadiran para pengiring ini adalah wujud nyata dari ukhuwah Islamiyah yang selama ini dipupuk dalam organisasi Rifa’iyah.
Dalam perjalanan haji kali ini, H. Saeful Arif menunaikan rukun Islam kelima untuk yang kedua kalinya. Ia berangkat didampingi oleh ibunda tercinta, Hj. Maskanah, dan sang istri, Eka Adisti. Uniknya, pihak keluarga telah berangkat mendahului rombongan pengiring pada Jumat (24/4) ba’da salat Jumat guna mematangkan persiapan administrasi dan fisik sebelum memasuki asrama. Langkah ini diambil agar saat rombongan pengiring tiba, beliau sudah dalam kondisi siap untuk prosesi karantina haji.

Sebelum meninggalkan kediamannya di Kesesi, H. Saeful Arif menyampaikan pesan menyentuh kepada ratusan jemaah yang hadir. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas panggilan Allah SWT untuk kembali ke Tanah Suci. "Ini adalah karunia luar biasa bisa kembali memenuhi panggilan Baitullah bersama orang-orang terkasih, ibu dan istri saya," ujarnya dengan penuh haru.
Lebih lanjut, H. Saeful Arif mengutip nasihat dari kitab karya Imam Nawawi tentang adab seorang musafir haji. Ia menekankan bahwa seseorang yang hendak menunaikan ibadah haji dianjurkan untuk melepaskan segala keterikatan urusan duniawi. "Imam Nawawi berpesan bahwa ketika hendak berangkat haji, sebaiknya urusan dunia ditinggalkan sementara waktu agar hati benar-benar fokus menghadap Allah. Oleh karena itu, saya memohon rida, menitipkan keluarga yang saya tinggalkan, dan memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh jemaah atas segala kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak," ungkapnya di hadapan para hadirin.
Prosesi pelepasan berlangsung sangat syahdu. Lantunan azan yang dikumandangkan oleh Ust. Abdul Rozak menggema, diikuti dengan kumandang talbiyah yang dipimpin langsung oleh Kyai Mudatsir Al-Hafidh. Suasana seketika menjadi hening dan penuh doa. Setelah prosesi di Kesesi selesai, rombongan bertolak menuju Kajen untuk bergabung dengan calon jemaah haji lainnya dari Kabupaten Pekalongan. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan secara beriringan menuju Asrama Haji Donohudan dan tiba di sana sekitar pukul 10.00 WIB.
Di depan gerbang Asrama Haji Donohudan, H. Saeful Arif bersama Hj. Maskanah dan Eka Adisti menyambut langsung kedatangan rombongan pengiring dari Kesesi. Pertemuan di lokasi tersebut diwarnai dengan obrolan hangat dan foto bersama sebagai kenang-kenangan. Meskipun waktu pertemuan singkat, momen tersebut sangat berkesan bagi para jemaah yang telah menempuh perjalanan jauh. Setelah serangkaian doa dipanjatkan, para jemaah melepas keberangkatan ketiganya dengan harapan besar agar beliau menjadi haji yang mabrur dan mabrurah.

Tradisi mengantar calon jemaah haji hingga ke titik keberangkatan memang telah menjadi budaya yang mengakar kuat di kalangan jemaah Rifa’iyah. Aktivitas ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan sebuah bentuk dukungan moral yang sangat berharga bagi calon jemaah. Perjalanan ibadah haji yang panjang dan melelahkan memerlukan ketenangan jiwa, dan doa dari sanak saudara serta jemaah menjadi bahan bakar spiritual yang utama.
Kebersamaan ini juga menjadi bukti nyata bagaimana organisasi Rifa’iyah berhasil menjaga nilai-nilai kegotongroyongan. Di tengah arus modernisasi, tradisi "mengantar hingga Donohudan" tetap bertahan karena adanya rasa saling memiliki antaranggota. Bagi generasi muda Rifa’iyah, peristiwa ini menjadi pelajaran penting tentang cara menghormati sesama dan menjaga silaturahmi. Mereka melihat bagaimana seorang pemimpin organisasi tetap rendah hati dan sangat menghargai dukungan komunitasnya.
Keberangkatan H. Saeful Arif ke Tanah Suci kali ini juga bertepatan dengan masa-masa sibuk organisasi, mengingat adanya agenda besar seperti Pelantikan dan Muskerwil PW Rifa’iyah Jawa Tengah yang akan digelar pada 26 April 2026. Meskipun sibuk dengan urusan organisasi, dedikasi beliau untuk menuntaskan rukun Islam ini menunjukkan keseimbangan antara tanggung jawab sosial dan kewajiban spiritual.
Bagi jemaah yang ditinggalkan, mereka mendoakan agar seluruh prosesi ibadah di Mekkah dan Madinah berjalan lancar. Harapannya, sekembalinya H. Saeful Arif nanti, semangat perjuangan di dalam organisasi Rifa’iyah akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan spiritualitas yang didapatkan dari Tanah Suci. Pelepasan ini sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh warga Rifa’iyah untuk senantiasa memperkuat barisan dan menjaga kerukunan, sebagaimana yang dicontohkan oleh tokoh-tokoh mereka.

Secara keseluruhan, peristiwa di Asrama Haji Donohudan ini menggambarkan potret keislaman yang santun dan kekeluargaan. Tidak ada sekat yang membatasi antara pemimpin dan jemaah; semuanya melebur dalam satu doa yang sama: mengharapkan ridha Allah SWT. Dengan berakhirnya prosesi pelepasan, rombongan pengiring pun kembali ke Kesesi dengan perasaan tenang, membawa harapan agar kelak mereka juga mendapatkan giliran untuk dipanggil ke Tanah Suci.
Momentum ini pun menjadi refleksi bagi masyarakat luas mengenai pentingnya menjaga silaturahmi sebelum menunaikan ibadah besar. Keikhlasan yang ditunjukkan oleh H. Saeful Arif dalam meminta maaf dan melepaskan urusan dunia, serta antusiasme jemaah dalam mengiringi, adalah esensi dari ibadah haji itu sendiri—yaitu kembali kepada Allah dengan hati yang bersih dan jiwa yang lapang. Semoga perjalanan beliau beserta keluarga diberkahi oleh Allah SWT dan kembali ke tanah air dengan membawa keberkahan bagi umat, khususnya bagi warga Rifa’iyah di seluruh Indonesia.

