Platform media sosial TikTok telah menjadi fenomena global, menjaring miliaran pengguna dengan algoritma yang adiktif dan konten yang serba cepat. Namun, di balik popularitas dan hiburan yang ditawarkannya, terdapat sisi gelap yang mengerikan: tren dan tantangan berbahaya yang, dalam banyak kasus, telah merenggut nyawa. Sembilan kasus tragis di bawah ini menjadi pengingat yang menyakitkan akan konsekuensi fatal dari mengejar sensasi viral tanpa mempertimbangkan risiko.
1. Tren Galaxy Gas: Euforia Semu Berujung Kematian
Tren "Galaxy Gas" mulai populer di media sosial pada tahun 2024, menarik banyak pengguna untuk membagikan video diri mereka menghirup tabung nitrous oxide, atau yang lebih dikenal sebagai "gas tawa," untuk mendapatkan efek euforia singkat. Gas ini bekerja dengan menggantikan oksigen dalam paru-paru, menyebabkan hipoksia sementara yang memicu perasaan pusing, ringan, dan euforia. Namun, bahaya yang mengintai di balik kesenangan sesaat ini sangatlah besar. Salah satu kasus yang menimbulkan kekhawatiran serius adalah kematian Kelly Rosenthal, seorang penduduk Nashville. Kelly secara terbuka berbicara tentang kecanduannya pada nitrous oxide beberapa bulan sebelum kematiannya. Pada 23 Juni, dirinya ditemukan tak bernyawa di apartemennya, dikelilingi oleh banyak tabung nitrous oxide, baik yang sudah terpakai maupun yang belum terpakai, berserakan di seluruh kamar tidurnya. Kematiannya menjadi bukti nyata betapa cepatnya penggunaan zat seperti nitrous oxide dapat berujung pada kecanduan parah dan, yang paling tragis, kematian akibat kekurangan oksigen atau komplikasi jantung yang tidak terduga. Para ahli kesehatan telah lama memperingatkan tentang risiko serius dari inhalasi gas ini, termasuk kerusakan otak permanen, kerusakan saraf, dan bahkan serangan jantung mendadak, terutama pada individu yang memiliki kondisi jantung yang mendasari.
2. NeeDoh Cube Challenge: Mainan Tak Berbahaya Menjadi Senjata Mematikan
Tren "NeeDoh cube challenge" menyebar luas di berbagai platform media sosial, termasuk TikTok dan YouTube. Dalam tantangan ini, pengguna bereksperimen dengan mainan NeeDoh, bola stres yang berisi gel, dengan memaparkannya pada suhu ekstrem. Meskipun awalnya terlihat seperti eksperimen yang tidak berbahaya, bahaya sebenarnya terletak pada tekanan internal yang menumpuk di dalam mainan saat dipanaskan atau didinginkan secara ekstrem, yang dapat menyebabkan ledakan tak terduga. Salah satu kasus paling serius terjadi pada Oktober 2025, ketika Scarlett Selby yang berusia tujuh tahun mengalami koma yang diinduksi secara medis setelah mainan tersebut meledak dan menutupi wajah serta dadanya dengan gel yang terbakar. Cairan panas atau dingin yang dilepaskan secara tiba-tiba dapat menyebabkan luka bakar serius. Kasus terbaru pada April 2026 menimpa seorang gadis berusia 10 tahun di Cleveland yang menderita luka bakar tingkat dua di tangan dan jarinya setelah mencoba tantangan yang sama. Produsen mainan ini tidak pernah merancang produk mereka untuk menahan perlakuan ekstrem tersebut, dan orang tua diingatkan untuk mengawasi anak-anak mereka agar tidak mengikuti tren berbahaya yang dapat menyebabkan cedera fisik yang parah dan trauma jangka panjang.
3. Korean Love Game: Manipulasi Online Berkedok Romansa
"Korean Love Game" adalah skema manipulasi daring yang berkedok sebagai tantangan di media sosial. Tren ini membangun ikatan romantis palsu selama 50 hari dengan serangkaian tantangan harian, dari yang biasa saja hingga yang ekstrem dan bahkan mengancam jiwa. Modus operandi ini memanfaatkan kerentanan psikologis dan emosional individu muda yang mencari koneksi atau validasi online. Pada 4 Februari 2026, sebuah tragedi mengguncang Ghaziabad, India, di mana tiga saudara perempuan berusia 16, 14, dan 12 tahun kehilangan nyawa setelah melompat dari lantai sembilan gedung apartemen mereka. Polisi menemukan kedua gadis itu dalam kondisi kritis sebelum dinyatakan meninggal di rumah sakit terdekat. Para penyelidik menemukan sebuah catatan di tempat kejadian yang menunjukkan keterikatan emosional yang kuat terhadap konten online bertema Korea, meskipun tidak ada aplikasi atau platform spesifik yang diidentifikasi. Kasus ini menyoroti bahaya manipulasi online dan "grooming" yang dapat dilakukan oleh predator digital, yang mengeksploitasi impian dan fantasi remaja untuk tujuan yang merusak, seringkali berujung pada tindakan ekstrem seperti bunuh diri. Penting bagi orang tua dan pendidik untuk mendiskusikan bahaya manipulasi online dan mendorong komunikasi terbuka tentang aktivitas digital anak-anak mereka.
4. Tren Chroming: Kesenangan Instan dengan Risiko Kematian Mendadak
Tren "Chroming" melibatkan praktik berbahaya menghirup uap bahan kimia dari produk rumah tangga sehari-hari, seperti propelan aerosol atau cat semprot, untuk mencapai efek mabuk atau euforia singkat. Bahan kimia ini sangat beracun dan dapat menyebabkan kerusakan organ yang parah, kerusakan otak, atau bahkan kematian mendadak. Tren ini dikaitkan dengan kematian Freddie Davis yang berusia 11 tahun. Freddie ditemukan tidak sadarkan diri di kamar tidurnya di Harold Hill, London timur, pada Januari 2026, setelah gagal bangun untuk sekolah. Dokter patologi, Liina Palm, menyebutkan penyebab kematian adalah menghirup propelan aerosol butana. Butana adalah gas yang sangat mudah terbakar dan beracun yang dapat menyebabkan aritmia jantung mendadak, yang dikenal sebagai "Sudden Sniffing Death Syndrome," bahkan pada percobaan pertama. Ibu Freddie, Roseanne, kemudian memperingatkan orang tua lain bahwa dia tidak akan lagi menyimpan aerosol di rumahnya, menyoroti betapa mudahnya anak-anak dapat mengakses zat berbahaya ini di lingkungan rumah tangga. Kampanye kesadaran sangat penting untuk mendidik remaja dan orang tua tentang bahaya inhalasi dan pentingnya menyimpan produk aerosol di luar jangkauan anak-anak.
5. Car Surfing: Sensasi Adrenalin yang Mengundang Maut
"Car Surfing" adalah tantangan lain yang viral dan sangat berbahaya. Tren ini melibatkan individu yang berdiri di atas, diseret, atau menempelkan benda ke mobil yang sedang bergerak. Tantangan ini secara inheren sangat berisiko, karena peserta tidak memiliki perlindungan atau kendali saat kendaraan bergerak dengan kecepatan tinggi. Kehilangan keseimbangan sesaat atau manuver mendadak oleh pengemudi dapat menyebabkan kecelakaan fatal. Satu kasus fatal terjadi pada 1 Juni 2025, di Bethlehem Township, Pennsylvania, ketika seorang anak laki-laki berusia 17 tahun meninggal dunia selama salah satu aksi tersebut. Menurut pihak berwenang, ia sedang menaiki meja terbalik yang ditarik oleh kendaraan yang bergerak ketika pengemudi mempercepat laju kendaraannya, menyebabkan ia terlempar ke mobil yang sedang parkir. Kematiannya menjadi pengingat yang menyedihkan tentang bahaya ekstrem dari Car Surfing, yang bukan hanya membahayakan nyawa peserta, tetapi juga pengemudi dan orang lain di jalan. Tindakan ini juga ilegal dan dapat berujung pada tuntutan pidana serius bagi mereka yang terlibat.
6. Subway Surfing: Berpacu dengan Maut di Atas Kereta
Tren "Subway Surfing" tak kalah mengerikannya dari Car Surfing. Tantangan ini menempatkan pengguna di atas kereta yang sedang bergerak, seringkali melaju dengan kecepatan tinggi melalui terowongan yang gelap dan sempit. Risiko yang terlibat sangat besar: jatuh dari kereta yang bergerak, menabrak rintangan di terowongan (seperti tiang atau kabel listrik bertegangan tinggi), atau tersengat listrik dari rel. Tragedi terjadi pada 8 Oktober 2025, di Kota New York, saat dua gadis, berusia 12 dan 13 tahun, ditemukan tidak sadarkan diri di stasiun kereta bawah tanah Marcy Avenue setelah menaiki bagian atas kereta tujuan Brooklyn. Petugas medis menyatakan mereka tidak bernyawa di tempat kejadian. Kematian mereka menyoroti daya tarik berbahaya dari sensasi adrenalin yang dipicu oleh tren ini, terutama di kalangan remaja yang mungkin tidak sepenuhnya memahami risiko fatal yang terlibat. Otoritas transportasi umum secara teratur mengeluarkan peringatan keras terhadap praktik ini, menekankan bahwa tidak ada "likes" atau popularitas online yang sebanding dengan risiko kehilangan nyawa.
7. Blackout Challenge: Tantangan Tersedak yang Mengancam Hidup
"Blackout Challenge," yang juga dikenal sebagai "choking game" atau "pass-out challenge," adalah tren yang telah ada jauh sebelum TikTok, tetapi platform ini memberikan dorongan baru pada penyebarannya. Tantangan ini mendorong individu untuk dengan sengaja mencekik diri sendiri atau membatasi aliran oksigen ke otak sampai mereka pingsan, untuk merasakan "sensasi" atau "euforia" singkat. Namun, praktik ini sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kerusakan otak permanen atau kematian dalam hitungan detik. Seorang gadis bernama JackLynn Blackwell yang berusia 9 tahun, meninggal dunia pada 3 Februari 2026, setelah mencoba blackout challenge di rumahnya di Texas. Menurut keluarganya, dia sebelumnya telah melihat video seseorang melakukan tindakan tersebut dan telah diperingatkan untuk tidak mencobanya. Ayahnya, Curtis Blackwell, menemukannya tidak sadarkan diri di garasi dengan tali melilit lehernya. Kisah JackLynn adalah pengingat yang pedih tentang bagaimana rasa ingin tahu anak-anak, ditambah dengan paparan konten berbahaya di media sosial, dapat berujung pada konsekuensi yang tidak dapat dibatalkan, bahkan setelah menerima peringatan.
8. Devil Trend (AI Manipulation): Interaksi AI yang Menjebak Jiwa Rentan
"Devil Trend" adalah tren yang melibatkan interaksi dengan kecerdasan buatan (AI) yang "sarat emosi," di mana pengguna bertukar pikiran atau menerima "tantangan" dari AI. Meskipun beberapa peserta menganggapnya sebagai bentuk introspeksi atau humor gelap, konten tersebut dapat menjadi gangguan psikologis yang signifikan, terutama bagi pengguna yang rentan. Tren ini berpotensi mengeksploitasi kelemahan mental seseorang, mendorong pikiran negatif atau bahkan memanipulasi mereka untuk melakukan tindakan merugikan. Sebuah kasus yang menimbulkan kekhawatiran melibatkan Claire Tracy, seorang mahasiswa Universitas Rice berusia 19 tahun, yang ditemukan tak bernyawa di tempat tinggalnya di luar kampus pada Desember 2025. Pemeriksa medis kemudian mengkonfirmasi penyebab kematiannya sebagai asfiksia karena penggantian oksigen oleh helium, yang berarti dia bunuh diri. Sehari sebelum kejadian tersebut, Tracy telah memposting video yang berpartisipasi dalam "devil trend." Meskipun hubungan langsung antara tren dan kematiannya masih diselidiki, kasus ini menyoroti bahaya interaksi AI tanpa pengawasan, terutama ketika AI dirancang untuk memanipulasi emosi atau ketika individu yang rentan mencari validasi atau bimbingan dari sumber non-manusia.
9. Kick Door Challenge: Aksi Vandalisme yang Berujung pada Kematian Hewan Peliharaan
"Kick Door Challenge" adalah tren vandalisme yang melibatkan individu menendang pintu depan rumah orang lain. Meskipun tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan reaksi atau sekadar membuat video viral, tindakan ini dapat memiliki konsekuensi yang jauh lebih serius daripada sekadar kerusakan properti. Remaja bernama Jerald Lucas, alias Trey, ditangkap setelah melakukan tren TikTok menendang pintu depan sebuah rumah pada Desember 2025. Saat itu, pemilik rumah, Dissany Cid, tidak ada di tempat, tetapi anjingnya berada di dalam. Salah satu anjingnya, seekor Yorkshire Terrier bernama Spookie, melarikan diri melalui pintu yang rusak. Anjing ini ketakutan dan kehilangan arah, lalu berlari ke jalan hingga akhirnya ditemukan tak bernyawa setelah tertabrak mobil. Kasus ini menunjukkan bagaimana tindakan yang dianggap "prank" atau "tantangan" oleh beberapa orang dapat memiliki dampak yang menghancurkan dan tidak terduga pada kehidupan orang lain, termasuk hewan peliharaan yang tidak bersalah. Selain kerusakan properti dan risiko hukum, tren ini juga mengajarkan kurangnya rasa hormat terhadap properti dan kesejahteraan makhluk hidup.
Kesembilan tren ini menggarisbawahi realitas suram bahwa di era digital, pencarian sensasi dan validasi online dapat datang dengan harga yang sangat mahal. Media sosial, meskipun merupakan alat yang kuat untuk koneksi dan kreativitas, juga dapat menjadi wadah penyebaran konten berbahaya yang mengeksploitasi rasa ingin tahu, tekanan teman sebaya, dan kerentanan psikologis. Penting bagi platform media sosial untuk meningkatkan upaya moderasi konten, bagi orang tua untuk secara aktif mengawasi dan mendiskusikan aktivitas online anak-anak mereka, dan bagi setiap individu untuk mempertimbangkan risiko nyata di balik setiap tren viral sebelum berpartisipasi. Nyawa yang hilang dalam pencarian ketenaran sesaat adalah pengingat tragis bahwa keselamatan dan kesejahteraan harus selalu menjadi prioritas utama di atas segalanya.

