BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Perjalanan mengejutkan Sunderland di Liga Inggris, yang sempat membuat mereka dijuluki kuda hitam dan mengancam papan atas klasemen, kini tampaknya menemui titik akhir yang mengecewakan. The Black Cats, yang di awal musim menampilkan performa impresif dan membuat banyak pihak berspekulasi tentang potensi mereka merangsek ke zona Eropa, kini justru terlihat kedodoran dan melorot jauh dari performa terbaiknya, bahkan terperosok di antara tim-tim papan tengah.
Memasuki pekan ke-20 hingga 20-an, Sunderland sempat menduduki posisi yang sangat menjanjikan, bertengger di peringkat keenam atau ketujuh klasemen sementara. Posisi ini memberikan harapan besar bagi para penggemar untuk melihat tim kesayangan mereka bersaing memperebutkan tiket ke kompetisi Eropa musim depan. Namun, seiring berjalannya waktu dan mendekati akhir musim, performa Sunderland mengalami penurunan drastis. Granit Xhaka, yang seharusnya menjadi jangkar dan motor serangan tim, bersama rekan-rekannya, tidak mampu mempertahankan momentum positif tersebut. Perlahan tapi pasti, mereka terus melorot di tabel klasemen, mengikis harapan yang sempat terbang tinggi.
Puncak kekecewaan para pendukung Sunderland terjadi pada pertandingan teranyar melawan Nottingham Forest, tim yang notabene berada di papan bawah klasemen. Di hadapan publik sendiri pada Sabtu (25/4) dini hari WIB, Sunderland dihantam telak dengan skor 0-5. Kekalahan ini bukan hanya sekadar angka, tetapi juga pukulan telak bagi mental tim dan bukti nyata dari penurunan performa yang signifikan. Ironisnya, dalam pertandingan tersebut, Sunderland sebenarnya mencatatkan penguasaan bola yang lebih dominan, mencapai 61% berbanding 39% milik Forest. Statistik ini semakin memperjelas betapa efisiennya Nottingham Forest dalam memanfaatkan peluang yang ada, sementara Sunderland justru kesulitan menembus pertahanan lawan.
Bencana bagi Sunderland bermula di menit ke-17 melalui gol bunuh diri yang dicetak oleh bek mereka sendiri, Trai Hume. Gol yang datang di awal pertandingan ini seolah menjadi pertanda buruk dan meruntuhkan mentalitas tim secara keseluruhan. Gol bunuh diri tersebut menjadi pemicu bagi lini pertahanan Sunderland untuk semakin rapuh. Dalam kurun waktu kurang dari 20 menit setelah gol pembuka tersebut, pertahanan The Black Cats benar-benar babak belur. Nottingham Forest dengan kejam memanfaatkan setiap celah dan kesalahan yang dibuat oleh tuan rumah.
Rentetan gol tim tamu tak terhentikan. Chris Wood membuka keran gol Forest di menit ke-31, disusul oleh Morgan Gibbs-White di menit ke-34, dan Igor Jesus yang menggenapi pesta gol timnya di menit ke-37. Babak pertama pun berakhir dengan skor yang mencemaskan bagi Sunderland, tertinggal empat gol tanpa balas. Keadaan ini membuat pertandingan seolah sudah selesai sebelum babak kedua dimulai.
Di babak kedua, situasi tidak banyak berubah. Meskipun Sunderland berusaha bangkit, usaha mereka belum membuahkan hasil yang berarti. Elliot Anderson bahkan sempat menambah pundi-pundi gol untuk tim tamu, semakin mempertegas dominasi Nottingham Forest dalam pertandingan tersebut. Kualitas peluang Sunderland, yang diukur dengan metrik Expected Goals (xG), sepanjang laga hanya mencapai 0.70. Angka ini menunjukkan betapa minimnya ancaman berbahaya yang mampu diciptakan oleh Sunderland ke gawang lawan, meskipun mereka menguasai bola lebih banyak.
Menanggapi kekalahan telak ini, manajer Sunderland, Regis Le Bris, mengungkapkan rasa sakit dan kekecewaannya yang mendalam. "Menyakitkan. Sangat menyakitkan untuk kebobolan kekalahan besar di kandang seperti ini begitu cepat di babak pertama, karena pertandingan sudah berakhir setelah 45 menit. Tertinggal 4-0 di babak pertama sulit dijelaskan," ujarnya kepada BBC. Le Bris mengakui bahwa timnya tidak mampu memberikan penjelasan yang memuaskan atas performa buruk tersebut.
"Kami memiliki berbagai penjelasan. Apakah itu secara individu? Apakah itu secara kolektif? Apakah itu secara taktik? Pada akhirnya, ini tentang standar kami. Ketika Anda tidak berada di level yang seharusnya, liga ini sangat menuntut dan Anda akan dihukum," tambahnya, menekankan bahwa penurunan standar permainan menjadi akar masalah utama. Ia menyadari bahwa Liga Inggris merupakan kompetisi yang sangat ketat, dan setiap kesalahan sekecil apapun akan berakibat fatal.
Saat ini, Sunderland menempati peringkat ke-11 klasemen dengan total 46 poin dari 34 pertandingan yang telah dilakoni. Meskipun secara matematis harapan untuk mendekati peringkat ketujuh atau keenam, yang berpotensi memberikan jatah ke kompetisi UEFA Conference League dan Liga Europa musim depan, masih ada, namun persaingan di papan atas semakin sengit. Lima tim yang berada di atas mereka memiliki keunggulan poin yang cukup signifikan, membuat tugas Sunderland untuk mengejar ketertinggalan menjadi semakin berat.
Performa yang tidak konsisten di paruh kedua musim ini menjadi catatan penting bagi Sunderland. Dari tim yang diprediksi menjadi kejutan besar, mereka kini harus berjuang keras untuk mempertahankan posisi di papan tengah klasemen. Para penggemar tentu berharap bahwa tim kesayangan mereka dapat segera bangkit dari keterpurukan ini dan menampilkan performa yang lebih baik di sisa pertandingan musim ini, serta belajar dari kesalahan yang telah terjadi untuk musim depan. Kejutan Sunderland di awal musim tampaknya telah berakhir, digantikan oleh kenyataan pahit tentang tantangan berat yang dihadapi tim di kompetisi sepak bola paling kompetitif di dunia.

