Dalam upaya strategis meningkatkan kapasitas literasi digital dan kemampuan jurnalistik di kalangan generasi muda, Pimpinan Daerah AMRI dan HIMMAH Kabupaten Wonosobo sukses menggelar Pelatihan Jurnalistik pada Rabu, 22 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di Dewani View Resto and Caffe, Wonosobo ini menjadi momentum penting bagi organisasi dalam mencetak kader-kader yang tidak hanya cakap dalam berorganisasi, tetapi juga mahir dalam mengelola informasi di era disrupsi digital. Pelatihan yang dimulai sejak pukul 08.30 hingga 12.00 WIB ini berhasil menarik perhatian sekitar 40 peserta yang antusias untuk mempertajam kemampuan menulis dan manajemen media.
Mengusung tema besar "Bangun Kelembagaan, Wujudkan Persatuan", pelatihan ini bukan sekadar ajang belajar menulis biasa. Tema tersebut dipilih sebagai refleksi mendalam mengenai peran krusial media sebagai pilar penyatu organisasi masyarakat yang adaptif, moderat, dan memiliki daya saing tinggi di tengah derasnya arus informasi. Di era di mana setiap individu adalah produsen berita, AMRI dan HIMMAH memandang perlu adanya standarisasi kualitas informasi agar pesan-pesan organisasi dapat tersampaikan dengan etika dan akurasi yang tinggi.
Dukungan nyata terhadap inisiatif ini terlihat dari kehadiran sejumlah tokoh penting daerah. Kepala Kesbangpol Kabupaten Wonosobo hadir untuk memberikan arahan mengenai kebijakan literasi media di tingkat daerah, didampingi oleh Wakil Ketua DPRD Wonosobo, Mugi Sugeng. Kehadiran para pemangku kebijakan ini menegaskan bahwa pemerintah daerah sangat mengapresiasi upaya organisasi kemasyarakatan dalam memperkuat kapasitas kader melalui jalur pendidikan non-formal seperti pelatihan jurnalistik. Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem komunikasi yang sehat antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi keagamaan.
Dalam sambutannya, Kepala Kesbangpol Wonosobo memberikan peringatan keras sekaligus edukasi mengenai tanggung jawab bermedia sosial. Beliau menyoroti maraknya penyebaran informasi yang tidak valid atau hoaks yang berpotensi memecah belah persatuan. "Setiap kader adalah penyaring informasi. Jangan sampai kita menjadi agen penyebar hoaks. Kehati-hatian dan verifikasi adalah kunci dalam setiap unggahan yang kita buat," tegasnya. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh peserta agar setiap kata yang dirangkai harus dipertanggungjawabkan baik secara hukum maupun moral.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Wonosobo, Mugi Sugeng, menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga pemerintah dan kelompok masyarakat dalam menjaga kondusivitas daerah melalui narasi yang positif. Menurutnya, media yang dikelola dengan profesional akan menjadi instrumen efektif dalam mendukung keberhasilan otonomi daerah. "Media yang kuat dan berintegritas adalah mitra pemerintah dalam mengawal transparansi dan membangun opini publik yang sehat. Pelatihan ini adalah langkah konkret menuju masyarakat yang cerdas informasi," ujar Mugi.
Sebagai narasumber utama, panitia menghadirkan para pakar dari Komunitas Jurnalis Wonosobo (KJW). Komunitas ini dikenal sebagai wadah bagi jurnalis lintas platform, mulai dari media cetak, elektronik, hingga media daring. Dalam sesi materi, para jurnalis KJW membedah secara mendalam teknik penulisan berita yang memenuhi kaidah 5W+1H, gaya bahasa jurnalistik yang enak dibaca, hingga strategi mencari sudut pandang (angle) berita yang menarik dari kegiatan-kegiatan organisasi.
Tidak hanya teknis penulisan, peserta juga diberikan wawasan mengenai teknik verifikasi berita atau fact-checking untuk membedakan fakta dan opini. Mengingat target peserta adalah kader AMRI dan HIMMAH, materi juga diarahkan pada cara membangun narasi dakwah yang kreatif namun tetap berpegang pada fakta lapangan. Hal ini bertujuan agar media organisasi tidak hanya sekadar menjadi papan pengumuman kegiatan, melainkan menjadi media yang memberikan edukasi dan inspirasi bagi masyarakat luas.
Satu nilai filosofis yang menjadi ruh dalam pelatihan ini adalah semangat produktivitas yang diwariskan oleh ulama besar, KH. Ahmad Rifa’i. Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat produktif dalam menghasilkan karya tulis, bahkan di tengah situasi perjuangan yang sulit pada masanya. Semangat beliau dalam menggunakan tulisan sebagai sarana dakwah, perjuangan, dan pencerahan umat menjadi landasan moral bagi para kader. Para peserta didorong untuk menjadikan semangat KH. Ahmad Rifa’i sebagai bahan bakar dalam berkarya, bahwa menulis adalah bentuk jihad intelektual yang sangat relevan di era modern.
Sesi praktik langsung menjadi bagian yang paling dinanti. Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk menyusun draf berita berdasarkan simulasi kegiatan. Para mentor dari KJW mendampingi setiap kelompok, memberikan koreksi secara langsung, dan memberikan masukan konstruktif terkait diksi serta struktur kalimat yang digunakan. Interaksi dua arah ini membuat suasana pelatihan menjadi sangat dinamis dan aplikatif. Banyak peserta yang sebelumnya merasa kesulitan dalam menulis, kini mulai menemukan ritme dan percaya diri untuk menuangkan ide ke dalam tulisan.

Selain aspek teknis, pelatihan ini juga menyentuh strategi membangun kader yang produktif. Produktivitas dalam menulis tidak hanya ditentukan oleh bakat, melainkan oleh konsistensi dan manajemen waktu yang baik. Panitia memberikan tips bagaimana membangun ekosistem di internal AMRI dan HIMMAH agar kader-kadernya saling memotivasi untuk terus menulis. Dengan adanya dukungan dari komunitas, diharapkan akan lahir kontributor-kontributor baru yang mampu mengisi kanal berita organisasi dengan konten yang berkualitas secara berkelanjutan.
Kegiatan ini ditutup dengan komitmen bersama untuk terus menjaga kualitas literasi di lingkungan internal. Pelatihan ini hanyalah langkah awal dari rangkaian pengembangan kapasitas kader yang lebih luas. AMRI dan HIMMAH Wonosobo berencana untuk menindaklanjuti kegiatan ini dengan pembentukan tim media yang lebih terstruktur, yang akan bertugas mendokumentasikan dan mempublikasikan seluruh kegiatan organisasi dengan standar jurnalistik yang baik.
Harapannya, melalui pelatihan ini, kader AMRI dan HIMMAH Wonosobo dapat bertransformasi menjadi agen informasi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Mereka diharapkan mampu membentengi masyarakat dari paparan informasi yang menyesatkan, sekaligus menjadi motor penggerak literasi di lingkungan sekitarnya. Dengan berbekal keterampilan jurnalistik yang mumpuni, suara dan pemikiran kader akan memiliki jangkauan yang lebih luas, sehingga misi organisasi dalam memberikan manfaat bagi umat dapat tercapai dengan lebih efektif.
Keberhasilan acara ini menjadi bukti bahwa sinergi antara organisasi kemasyarakatan dan profesional media mampu memberikan dampak nyata dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia. Di masa depan, peran media akan semakin vital dalam menentukan arah opini publik. Oleh karena itu, investasi dalam bentuk pelatihan seperti ini merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi dan diteruskan, tidak hanya di Wonosobo, tetapi juga di seluruh cabang organisasi di berbagai daerah lainnya. Dengan kader yang melek media dan berintegritas, masa depan organisasi yang lebih kuat dan bersatu bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang sedang dibangun hari demi hari.
Penulis: Yusril Mahendra
Kontributor: Achmad Furqon Kamil
Editor: Yusril Mahendra

